
"Iya bunda, nanti Syifa sampaikan ke umi."
"Bun nanti biar Raihan jemput." Sambar Raihan.
"Ngga! Ini khusus ukhti, akhi dilarang ikut." Ucap bunda dari seberang sana.
"Mumpung libur bun... masa Raihan di rumah sendirian."
"Kok kamu libur? Ini hari selasa loh bukan minggu."
"Ngga ada kerjaan bun hehehe jadi nemenin istri di rumah."
"Maunya kamu itu, ya udah ikut ngga papa tapi bawain belanjaan loh ya..."
"Iya... demi bidadari bidadari Raihan apasih yang engga."
"Syifa, kamu kasih makan suamimu apa kok sekarang jadi gini?." Tanya bunda.
"Dikasih kasih sayang yang berlimpah bun." Bukan Syifa yang menjawab melainkan Raihan.
"Mas ih..." tegur Syifa yang dibalas cengiran Raihan.
"Hehehe... Alhamdulillah kalo gitu, kangen bunda sama Raihan kecil yang jail, ya udah bunda tutup dulu mau siap siap, jangan lupa bilang ke umi."
"Iya bunda."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Tut
Bunda memutuskan panggilan.
"Langsung telpon umi yang." Perintah Raihan langsung di turuti Syifa.
"Assalamualaikum umi..." Ucap Asyifa dan Raihan bersama.
"Waalaikumsalam... kompak banget sih."
"Hehehe ini mas Raihan mau ngomong umi."
"Lah kok mas, Syifa aja."
"Mas aja ya..." bujuk Syifa.
"Mas ngga tau mau ngomong apa."
"Ngomong kaya yang bunda ngomong tadi."
"Siapa yang mau ngomong ini?" Tanya umi menghentikan perdebatan anak dan menantunya.
"Mas Raihan umi..." Ucap Asyifa cepat.
"Ya udah..., umi bunda ngajak belanja persiapan umroh siang ini umi bisa? Nanti Raihan jemput." Akhirnya Raihan mengalah.
"Ngomong gini aja pakai debat dulu... umi kira mau ngomong kalo Humaira udah isi." Kata kata umi membuat Syifa malu.
"Hehehe doain ya umi." Jawab Raihan yang membuat Syifa semakin malu.
"Doa umi ngga pernah absen buat anak anak umi."
__ADS_1
"Makasih mi..."
"Iya, umi izin abi dulu ya nanti umi hubungi lagi."
"Iya mi."
"Humaira mana kok ngga ada suaranya?"
"Ngumpet mi malu dia... auhhh..." di akhiri rintihan karena pinggang Raihan menjadi sasaran empuk cubitan Syifa.
"Ada ada aja ya udah secepatnya umi hubungi."
"Iya umi, Raihan tutup dulu Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Tut
"Nakal ya cubit cubit." Raihan mencubit kedua pipi Syifa.
"Kendor pipi Syifa mas..." Syifa menyedot pipinya kedalam membuat bibirnya mengerucut.
Cup
"Udah ayo siap siap kita ke rumah bunda dulu, oh iya sekalian beli perlengkapan liburan."
"Siapa yang mau liburan?"
"Mas mau ngajak Syifa liburan setelah umroh, tapi cuma 5 hari, nanti Syifa kasih tunjuk tempat tempat yang pernah Syifa datangi sekalian honeymoon." Raihan mengedipkan sebelah matanya genit.
"Udah ayo siap siap mas manasin mobil dulu." Raihan menggenggam tangan Syifa sekilas lalu beranjak keluar rumah.
Asyifa masih setia dengan duduknya, ujung bibirnya melengkung tidak bisa dikondisikan.
"JANGAN SENYUM SENYUM SENDIRI... KALO KETERUSAN MAS NGGA TANGGU LO YA... CEPET SIAP SIAP." Teriak Raihan dari luar.
"Ha? Astagfirullah..." Syifa tersentak kaget lalu pergi menuju kamar dengan berlari kecil, jadi malu kan dia kepergok senyum senyum baper.
Di sisi lain Raihan sedang terkekeh geli menyaksikan tingkah laku istrinya, ia sedari tadi mengintip dari balik jendela.
🍁
"Mas mau beli koko?" Tanya Syifa.
Sekarang Syifa, Raihan, umi dan bunda sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan, mereka akan melaksanakan umroh selasa depan jadi mulai dari sekarang mereka sudah mulai mengemasi barang barang yang mereka bawa.
"Ngga deh di rumah masih ada yang baru ngga pernah mas pakai." Tolak Raihan.
"Sarung?"
"Emm... Putih polos aja mas belom ada." Syifa mengangguk lalu memilih milih sarung untuk Raihan.
"Mas mau beli apa lagi?" Tak butuh waktu lama Syifa sudah menentukan pilihan sarung mana yang akan ia beli.
"Kayaknya ngga ada lagi, insyaallah mas udah ada semua, kalo Syifa mau beli apa?" Giliran Raihan yang tanya Syifa.
__ADS_1
"Syifa juga ngga ada yang mau di beli, paling obat obatan sama minyak angin sih yang buat jaga jaga disana."
"Eh iya sini mas mau beliin Syifa trening buat olahraga kalo kaosnya pakai kaos mas aja." Raihan menarik Syifa ke deretan khusus pakaian olahraga.
"Ukuran Syifa apa?" Raihan mulai memilah milah celana yang cocok untuk istrinya.
"Ngga usah deh mas kan masih ada celana bahan." Tolak Syifa halus.
"Ngga papa, mas pengen beliin buat kamu, nih bagus warnanya." Raihan mengangkat trening berwarna Army polet putih di sisi kanan dan kiri.
"Ini ya, mas juga punya warna ini nanti kita coupel-lan." Ucap Raihan dengan senyum sumringah yang membuat Syifa tak kuasa menolaknya.
"Ya udah yuk cari bunda sama umi." Raihan membawa tangan Syifa untuk melingkari lengannya, mereka berjalan beriringan sambil mengedarkan pandangan mencari umi dan bunda.
"RAIHAN..." Teriak bunda sambil melambaikan tangannya.
"Sudah bun?" Tanya Raihan yang kini sudah didepan bunda.
"Sudah yuk bayar, ayah, pak Abdul sama nak Azzam udah nunggu di resto depan." Ajak bunda.
"Sekalian sama Raihan umi." Raihan berniat membayar belanjaan umi dan bunda.
"Umi aja nak." Cegah umi.
"Ngga papa jeng sekali kali." Ucap bunda.
"Makasih nak."
"Iya umi, sama Raihan ini anak umi juga." Hati Syifa menghangat mendengar ucapan suaminya, tangannya terulur mengelus punggung tegap Raihan.
Mereka mulai meninggalkan toko menuju basement dimana mobil Raihan terparkir, Raihan dan Asyifa berjalan dibelakang umi dan bunda, tangan mereka bertautan sambil membawa tas belanjaan, bisa dibayangkan? Tanya kiri Raihan menggenggam tangan kanan Syifa dan di dalam genggaman tangan mereka terdapat handle tas belanjaan.
"Obatnya gimana?" Tanya Raihan.
"Nanti aja pas pulang mampir apotik mas, kasihan abi, ayah sama abang nunggu."
"Iya deh."
"Syifa suka koleksi apa?" Tanya Raihan.
"Syifa ngga punya koleksi koleksi barang, Syifa lebih suka beli buku abang juga jadi kita buat kaya perpustakaan mini gitu dibuka buat umum di kelola sama temennya abang yang emang Bibliophile." Jelas Syifa.
Bibliophile merupakan istilah untuk seseorang yang benar-benar mencintai buku baik itu membacanya dan mengoleksinya. Akan tetapi dia tidak berobsesi berlebihan sebab kecintaannya tersebut terbilang wajar.
Misalnya mengoleksi, membaca, dan merawat bukunya yang sudah dianggap sebagai seorang sahabat karib. Ataupun mendirikan perpustakaan pribadinya dan rela mengeluarkan sejumlah uang demi buku favoritnya.
"Alhamdulillah..."
"Kalo mas?" Tanya Syifa sambil menoleh ke Raihan.
"Mas juga ngga suka koleksi barang, hisabnya berat." Ucap Raihan, Syifa mengangguk membenarkan.
QS.At- Taubah 35
"(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri.., Maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
QS.Al-baqarah195
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
Karna sesungguh nya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Muhasabah untuk diri sendiri... juga untuk pembaca terkasih... saya rasa dua ayat diatas sudah sangat jelas memberitahu kita akan beratnya hisa akhir kelak, jangan ragu untuk berbagi, berbagi itu indah, berbagi tidak akan menurunkan derajat anda bahkan malah menaikkannya.
#berbagiituindah
__ADS_1