Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

Seorang wanita tengah terduduk di atas ranjang, matanya fokus ke satu obyek di depannya, jarinya menari nari diatas Gorilla glass, otaknya berputar merangkai sebuah alur epic yang ia harap dapat menyihir para pembaca, walaupun hanya sebatas vote yang ia dapatkan tetapi ia tetap berusaha memberikan yang terbaik, wanita itu berfikir mungkin yang hanya sekedar membaca kurang puas dengan karyanya jadi ia menganggap itu sebuah penilaian atas pencapaiannya, atas waktu, atas pikiran yang ia korbankan untuk menghasilkan sebuah karya yang masih belum bisa dikatakan sempurna, bahkan jauh dari kata itu.


Setiap orang memiliki pendapatnya masing masing, semua orang memiliki pemikirannya masing masing jadi ia tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai karyanya, karena rasa suka itu relatif, ia hanya bisa berusaha memberikan yang terbaik agar tidak mengecewakan para pembaca yang dengan senang hati memberikan vote untuknya.


"Assalamualaikum... serius amat." Ucap seseorang memasuki kamar.


"Waalaikumsalam mas." Jawab perempuan itu tanpa menoleh.


"Ngapain sih yang bukannya istirahat malah mainan Hp." Raihan menaruh kantong plastik berukuran kecil di atas nakas lalu duduk disamping istrinya.


"Bentar ya mas tinggal Syifa baca ulang siapa tau ada typo." Mata Syifa meneliti kata satu persatu.


Raihan terdiam sambil membaca apa yang ditulis istrinya.


"Typo yang." Ucap Raihan melihat kesalahan dalam ketikan sang istri.


"Ah iya." Syifa membenarkan ketikannya.


"Selesai, tiba tiba Syifa mood nulis mas pas baca komentar komentar, gatel tangannya pengen nulis."


"Syifa mah emang gitu, sampai lupa dunia nyata, padahal mas lihat yang vote nggak ada setengahnya bahkan sepertinya aja nggak tapi tetep aja buat, coba deh update sebulan sekali kayaknya cocok sama vote yang mereka kasih." Raihan beranjak ke lemari.


"Kalau nunggu vote banyak mah 10 tahun juga nggak bakal tamat mas ceritanya, Syifa nggak terlalu berharap banyak, masih ada orang orang yang buat Syifa semangat, buat apa mikirin yang lain, yang penting Syifa tetap produktif, kalo mikirin ini itu Syifa nggak akan nerbitin 7 buku mas yang ada ngeluh mulu ke pembaca, bukannya cerita tapi isinya curhat, percuma paling yang ngerespon satu dua." Asyifa meletakkan Handphonenya.


"Iya deh mas lemah kalau masalah ginian."


"Syifa juga lemah kalau nonton transformers."

__ADS_1


"Hahaha... itu bukti kalau kita saling melengkapi, oh iya Syifa udah sholat Dhuha?" Raihan kembali mendekati Syifa setelah mengganti kaosnya.


"Sudah mas." Asyifa mengangguk.


"Kalau udah Syifa pakai ini ya." Raihan mengambil benda didalam kantong plastik lalu menyerahkan kepada Asyifa.


Raut wajah Syifa berubah saat melihat benda itu, sebegitu inginkah suaminya berubah status? Ia takut jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan sang suami, bahkan ia tidak merasakan tanda tandanya.


"Sekarang mas?"


"Iya, filing mas kuat yang, dicoba dulu ya." Raihan meyakinkan istrinya.


"Iya mas, tapi kalau nggak Syifa minta maaf ya mas." Ucap Asyifa sedih.


"Bukan salah Syifa, kalau emang belum berarti memang kehendak Allah." Tangan Raihan terulur mengelus puncak kepala Asyifa.


Dengan was was Asyifa mencoba alat yang diberikan suaminya, ia tidak sampai fikir menjurus ke sana karena tidak ada tanda tanda yang jelas soal itu, pertama tama Asyifa membaca semua tulisan yang ada sebelum menggunakannya.


Setelah sudah Syifa keluar dari kamar mandi menghampiri Raihan yang sedang duduk diatas sajadah, matanya terpejam, tangan aktif memutar tasbih, badannya sedikit bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Gimana yang?" Tanya Raihan saat menyadari Asyifa duduk disampingnya.


"Syifa belum lihat hasilnya mas." Asyifa langsung memberikan alat itu kepada Raihan, biarlah suaminya yang mengetahui terlebih dahulu.


"Bismillahirrahmanirrahim..." perlahan Raihan melihat benda pipih ditanganinya.


"Alhamdulillah..." Raihan bangkit berdiri menghadap kiblat, tangannya terangkat melakukan

__ADS_1


takbiratul ihram, setelah itu sujud lalu duduk untuk mengucapkan salam.


"Bener dugaan mas yang." Ucap Raihan setelah melakukan sujud syukur.


"Syifa hamil mas?" Tanya Syifa pelan.


"Iya, akan ada jagoan dan princes ditengah tengah kita." Raihan mengangguk semangat.


"Alhamdulillah..." reflek Asyifa memegangi perutnya, mata Syifa mulai mengembun.


"Sepertinya kita memiliki ikatan batin yang kuat nak." Raihan ikut mengelus perut istrinya, Syifa tak henti hentinya mengucapkan syukur.


"Mas kok tau Syifa hamil?"


"Tadi pagi Syifa muntah muntah padahal kita sampai rumah semalam Syifa udah mendingan, fikiran mas langsung mengarah ke hamil, mas punya keyakinan kalau itu benar jadi mas mau membuktikannya." Jelas Raihan.


Syifa tersenyum lembut.


"Syifa malah nggak sadar mas, Syifa fikir masuk angin, ternyata ada dedek."


"Makasih ya yang." Tangan Raihan berpindah ke pipi Asyifa.


"Udah jadi tugas Syifa mas memberikan keturunan, Syifa juga terimakasih tanpa mas Syifa nggak akan bisa jadi ummah." Asyifa mengambil tangan Raihan yang di pipinya lalu menciumnya.


"Mulai sekarang Syifa nggak boleh sendirian, hari senin selasa kalau mas kerja Syifa di tempat abi, rabu kamis ditempat ayah, hari jumat ke kantor sama mas, hari sabtu minggunya sama mas." Raihan mulai menunjukkan sifat protektifnya.


"Kandungan Syifa masih muda mas jadi dirumah aja nggak papa, insyaallah aman."

__ADS_1


"Mas nggak mau ambil resiko, soalnya mas tau kalau Syifa dirumah nggak akan pernah bisa diem." Raihan menarik hidung Asyifa pelan.


__ADS_2