
"Mas beneran ini mau nganter abang?" Tanya Syifa entah yang ke berapa kali.
"Iya sayang... isss ngga percaya banget sih, buktinya mobil abang di depan tuh." Raihan mencubit pipi Syifa yang tertutup cadar.
"Syifa kok masih ngga percaya yah... eh inikan perumahan yang sama sama rumah Husna, apaan sih Syifa, maksud Syifa rumah Husna juga di sini." Syifa menggaruk kepalanya merasa bingung sendiri dengan omongannya.
Raihan senang melihat istrinya mulai banyak bicara, tidak seperti di rumah sakit yang selalu dia yang mencari bahan obrolan.
"Kita lihat aja ya..." Raihan menarik tangan Syifa untuk digenggam.
"Lah lah ini kan komplek Husna, rumah Husna di ujung." Syifa menatap fokus ke mobil abangnya.
"Mas mobil abang berhenti di depan rumah Husna." Syifa menunjuk dengan girang.
"Syifa seneng banget kalo yang mau di khitbah abang itu Husna." Syifa menggenggam erat tangan Raihan.
Raihan memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Azzam, Raihan melepaskan genggaman Syifa lalu menangkup wajah cantik istrinya.
Cup
Raihan mengecup dahi Asyifa.
"Mas juga seneng banget melihat istri mas senang." Syifa menunduk malu, senyumnya mengembang di balik cadar.
Tok tok tok
Pintu Raihan di ketok dari luar, membuat Raihan memutuskan fokusnya pada Asyifa.
"Lihat kondisi dong, abang gugup setengah mati kalian malah enak enakan di mobil." Gerutu Azzam kepada Syifa dan Raihan yang baru keluar dari mobil.
"Udah ayo masuk." Abi mendahului masuk ke dalam rumah Husna.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... pak Abdul bu Aini... mari masuk." Bu Indah mempersilahkan abi dan umi masuk.
"Assalamualaikum ummah..."
"Waalaikumsalam Syifa, ummah belom sempet jenguk eh udah sampai sini aja." Bu Indah memeluk Syifa.
"Syifa ngga papa ummah."
"Ya udah yuk masuk Syifa, nak Azzam sama emmm siapa ih ummah lupa nama suamimu."
__ADS_1
"Raihan tante." Raihan memperkenalkan diri.
"Ah iya nak Raihan, panggil ummah aja biar kaya Syifa sama nak Azzam, mari masuk." Mereka lalu duduk bergabung dengan umi, abi dan pak Dani.
Mereka berbincang bincang dulu sebelum masuk ke intinya, tak lama Husna datang membawa nampan berisi 8 gelas teh manis.
Sedari tadi Syifa gencar menggoda abangnya, iya mengkode kode Azzam ke Husna dengan sorot matanya, saat Azzam tidak sengaja menatap Husna, Syifa langsung berdehem membuat Azzam yang sudah pucat melotot ke arah adiknya itu, hingga Azzam mengkode ke Raihan untuk menghentikan aksi Syifa.
Raihan yang paham mengangkat tangannya menoleh Syifa ke arahnya lalu menggeleng sedangkan Syifa malah cekikikan.
"Abang lucu mas." Bisik Syifa ke Raihan.
"Jangan gitu ah kasian abang tuh."
"Iya maaf, tapi bener lucu." Syifa kembali terkekeh pelan.
🌸
Mereka kini sedang menikmati makan siang di kediaman mertua Raihan.
"Ngga papa bang, belom jodoh abang, Humaira masih punya temen yang jomblo banyak kok, yang di arab juga ada." Suara Syifa memecah lamunan Azzam.
"Abang ngga papa kok Ra, abang cuma pengen jus mangga Humaira." Azzam mengalihkan ke jus mangga yang tinggal sekotak di depan Syifa.
Mereka yang menyaksikan adegan itu hanya tersenyum, suasana yang canggung kini di tengah tengah mereka pasca pak Dani mengucapkan permohonan maaf tidak bisa menerima niat baik Azzam.
"Sebelumnya saya dan keluarga minta maaf sebesar besarnya, bukannya saya memberi harapan palsu karena tidak menjelaskannya kemarin, tapi saya pikir lebih baik di bicarakan secara kekeluargaan seperti ini, saya sama sekali tidak meragukan nak Azzam tetapi Husna em... Husna sudah lebih dulu di khitbah seseorang dan kami menerimanya, acara pernikahan juga sudah kami bicarakan, jadi saya mohon maaf sebesar besarnya tidak bisa menerima khitbah nak Azzam, semoga kejadian ini sama sekali tidak membuat hubungan silaturahmi kita merenggang, untuk nak Azzam, mungkin jodoh nak Azzam bukan putri abah, jarang berkecil hati di luar sana banyak yang lebih dari putri abah." Kira kira itu yang di ucapkan pak Dani.
"Makasih." Senyum Azzam mulai terbit, tangannya terulur menerima jus dari Syifa.
"Dari kejadian ini kita ambil hikmahnya saja, manusia hanya bisa berencana dan Allah yang memutuskan, seperti Humaira dan nak Raihan, mereka melalui semua ini dengan izin Allah, kata kata yang ringan di ucapkan tetapi memiliki arti yang teramat dalam tak sedangkan pengucapannya. Segala sesuatu di dunia ini bahkan di Alam semesta ini tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya, abi yakin Allah pasti memberikan yang terbaik kepada hambanya, ikhlas, lapangkan hati abang." Abi mengelus bahu Azzam.
"Insyaallah Azzam ikhlas bi."
"Alhamdulillah... sekarang pada istirahat, bersih bersih badan juga." Umi mulai membereskan meja makan.
"Biar Syifa yang nyuci mi."
"umi aja, Humaira istirahat gih, jangan capek capek." Umi menolak tawaran Syifa.
"Ngga papa umi, sama sekali ngga capek." Syifa kekeh ingin mencuci piring.
__ADS_1
"Jangan keras kepala Ra." Azzam memperingati.
"Ngga papa bang." Bukan Syifa jika tidak keras kepala.
"Nak Raihan pegangi istrimu." Titah umi.
Raihan langsung memeluk Syifa dari belakang, posisinya sekarang Syifa berdiri sedangkan Raihan duduk.
"Biar Azzam bawain mi." Azzam membawa tumpukan piring ke dapur.
"Yah yah yah... Humaira aja umi..." Syifa berusaha melepaskan pelukan Raihan.
"Syifa..." Raihan angkat bicara.
"Iya." Syifa mengalah.
"Kan bener abi bilang kalo istrimu ini keras kepala." Abi menggeleng pelan.
"Abi bilang apa ke mas Raihan?" Tanya Syifa.
"Bilang fakta tentang kamu." Ucap abi santai.
"Ih abi mah gitu..." rengek Asyifa.
"Nah kan manja juga."
"Abi... ih." Syifa cemberut, Raihan terkekeh masih dengan posisi memeluk istrinya.
"Udah ah abi mau istirahat dari pada di sini panas lihat kalian." Abi beranjak.
"UMI... DI TUNGGU ABI DI KAMAR." Ucap abi sedikit berteriak.
Raihan paham apa yang di maksud abi.
"Panas kenapa mas?" Tanya Syifa menoleh ke Raihan.
"Abi pengen peluk umi kaya kita." Ucapan Raihan membuat Asyifa sadar posisi mereka saat ini, membuat pipinya langsung memanas.
__ADS_1