Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

Raihan mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru mencari keberadaan mertuanya.


"Umi..." Raihan memanggil pelan Umi yang sedang berbicara dengan Ummah, tidak sopan emang tapi ini darurat.


"Ya Han?" Tanya umi.


"Raihan sama Syifa mau pamit pulang dulu." Pamit Raihan.


"Loh kok pulang kan masih lama selesai acaranya, ngga mau lihat dulu nikahan abangnya?" Tanya ummah.


"Maaf ummah tapi memang harus pulang dulu." Jawab Raihan lembut.


"Humaira mana nak?"


"Sudah di mobil mi, ya udah Raihan pamit umi, ummah, Assalamualaikum..." Raihan menyalami tangan kedua wanita baya di depannya itu.


"Waalaikumsalam... nanti malam di usahakan datang ya..."


"Insyaallah ummah." Raihan sedikit membungkukkan badannya lalu pergi dengan sedikit berlari menuju mobil.


"Gimana yang udah berhenti darahnya?" Tanya Raihan khawatir melihat istrinya.


"Belum mas." Syifa masih mendongakkan kepalanya.


"Kita kerumah sakit sekarang." Raihan langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


"Ngga usah mas sebentar lagi juga udah berhenti." Tolak Syifa.


"Harus yang, wajah Syifa juga pucat gitu."


"Ngga usah mas Syifa ngga papa kok."


"Jangan membantah Asyifa!." Ucap Raihan tegas membuat Syifa bungkam seketika, Raihan sedang panik sekarang tidak bisa diajak berdebat.


Raihan membelokkan mobilnya memasuki pelataran rumah sakit, dengan cepat Raihan mengantongi cadar istrinya lalu menggendong Syifa kedalam.


"Sembunyikan wajahmu." Syifa langsung menyelipkan wajahnya di ketiak Raihan.


"Dokter... Suster..." Raihan langsung menuju ke UGD dan disambut oleh dokter perempuan yang sedang jaga.


"Dok istri saya dok." Raihan panik.


Dokter itu langsung menyuruh raihan mengikutinya.


"Silakan baringkan disini pak dan bapak silahkan keluar."


Tanpa babibu Raihan langsung keluar setelah meletakkan Syifa, yang terpenting istrinya cepat ditangani tidak ada gunanya ia protes untuk tetap menunggu istrinya didalam.


Raihan mondar mandir tidak jelas, ia takut terjadi hal serius dengan istrinya, jongkok, berdiri, mondar mandir, jongkok, berdiri, mondar mandir, jongkok lagi hanya itu yang dilakukan Raihan tetapi jangan salah karena terjadi peperangan hebat didalam otaknya tentang kemungkinan besar yang terjadi pada istrinya, gagal ginjal mungkin? Astagfirullah... jangan sampai itu terjadi, batinnya juga tak berhenti untuk memanjakan doa meminta kesembuhan untuk istrinya.


Kreaakkk.


"Bagaimana dok?" Dengan cepat Raihan menghampiri dokter yang menangani Syifa.


"Pasien hanya kelelahan, emm... saya rasa ada yang berbeda pada tubuh pasien, apa hanya memiliki satu ginjal?" Tanya dokter itu dengan hati hati.


"Iya dok istri saya hanya memiliki satu ginjal saja."

__ADS_1


Dokter itu mengangguk.


"Sudah saya periksa tidak masalah, kebetulan saya spesialis dalam, besar kemungkinan pasien tetap bisa seperti sediakala hanya perlu menjaga asupan makan, melakukan diet makan sehat, banyak minum air putih, rutin berolahraga, insyaallah akan baik baik saja, pasien boleh pulang setelah membayar administrasi dan menebus vitaminnya." Raihan menghembuskan nafas lega.


"Baik dok terimakasih banyak, saya urus administrasinya terlebih dahulu, permisi." Raihan langsung pergi mengurus semua yang perlu diurus dan tak lupa menebus vitamin Syifa.


Raihan kembali dengan membawa kursi roda, ia menghampiri Asyifa yang sedang bercengkrama dengan dokter dan beberapa suster.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Yuk pulang." Raihan merogoh kantongnya mengambil cadar istrinya, memakaikannya dan menuntut Syifa duduk di kursi roda, untung UGD sepi jadi hanya dokter dan 3 suster yang melihat wajah ayu Syifa.


"Kami pamit dok, sus, terimakasih."


"Iya pak terimakasih kembali semoga istrinya lekas sembuh."


"Aamiin dok, kami permisi Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Raihan mulai mendorong kursi roda yang diduduki Syifa menjauh.


Raihan langsung membawa Syifa pulang, sebelum sampai rumah Raihan mampir dulu membeli bubur ayam untuk makan siang mereka berdua, saat mereka pulang waktunya makan karena keadaan Syifa yang tidak memungkinkan jadinya mereka belum sempat makan.


Raihan menuntun pelan Syifa memasuki rumah hingga memasuki kamar.


"Syifa bersih bersih badan dulu mas mau ambilin barang barang dimobil." Syifa mengangguk sebagai jawaban.


Raihan mengusap puncak kepala Syifa dengan sayang setelah itu baru kembali ke mobil mangambil barang barang mereka saat di mekkah.


Bukannya menurut Syifa malah membersihkan kamar yang sedikit berdebu karena tidak ada yang menempati beberapa minggu ini, begitupula dengan seisi rumah mereka, Syifa mulai dari membersihkan tempat tidur, menyingkirkan debu debu yang menempel di atas meja nakas juga benda benda yang ada setelah itu baru menyapu bersih ruangan.


"Cuma bersihin kamar mas banyak debu ngga nyaman kalo dibuat istirahat." Syifa tetap melanjutkan aktivitas nyapunya.


"Ya udah habis ini bersih bersih terus istirahat."


"Iya mas." Syifa menyimpan sapu, mengambil baju lalu memasuki kamar mandi.


Raihan kembali menuju mobil mengambil beberapa barang yang masih tertinggal, didalam kamar mandi Syifa kembali membersihkan ruangan itu sebelum mandi, oke seperti sifat keras kepala seorang Asyifa muncul.


"JANGAN LAMA LAMA MANDINYA YANG..." teriak Raihan dari luar, tak tau saja apa yang dilakukan istrinya didalam, memang seorang perempuan apalagi sudah berkeluarga pasti sangat mementingkan keadaan rumahnya, apalagi ini sudah ditinggal dalam waktu yang cukup lama jadi Syifa tidak bisa membiarkannya terbengkalai begitu saja.


"IYA MAS." Syifa mempercepat geraknya.


Tak lama Syifa keluar bertepatan dengan Raihan masuk ke kamar membawa nampan berisi bubur yang tadi mereka beli juga minum.


"Makan dulu yang, minum vitamin baru istirahat." Raihan menaruh nampan di nakas sampai tempat tidur, dengan senang hati Syifa menghampiri suaminya.


"Mas suapin apa makan sendiri?" Tanya Raihan.


"Makan sendiri aja, mas juga makan."


"Tapi maunya mas suapin kamu, aaa..." Raihan menyodorkan sendok bersih bubur ayam di depan mulut Istrinya.


"Gitu tadi ngapain nanya." Ucap Syifa cemberut lalu menerima siapa dari sang suami.


"Hahaha... sengaja siapa tau emang Syifa pengen disuapin mas." Raihan juga memasukkan makanan kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Ditelan yang... mas aja udah suapan ketiga Syifa satu suap belum habis habis."


"Mas laper kan." Syifa memincingkan matanya.


"Kok tau sih hahaha... nih aaa..." Raihan kembali menyodorkan sendok ke mulut Syifa.


Mereka melanjutkan makan hingga dua kotak bubur itu tersapu bersih masuk kedalam perut keduanya.


"Nih vitaminnya, tadinya vitamin ini bentuknya pil tapi mas minta dijadiin puyer makanya tadi lama." Raihan mengambil vitamin di saku celananya.


"Makasih mas."


"Iya, mas mandi dulu ya, gerah." Raihan bangkit mengambil handuk.


"Habis minum vitamin langsung istirahat." Ucap Raihan sebelum memasuki kamar mandi.


Bukan Asyifa jika dia tidak keras kepala, ia membawa nampan menuju dapur dan mencuci semua piring dan beberapa barang yang kotor.


Raihan kaget tidak melihat Syifa dikamar lantas ia keluar mencari keberadaan istrinya.


"Gemes banget istri siapa sih ini..." Syifa tersentak kaget saat membersihkan area kompor.


"Udah dibilangin suruh istirahat kok malah bersih bersih, sholehanya... besok lagi turutin perkataan suamimu ya..." Ucap Raihan geregetan, ia menggiring Syifa memuju wastafel untuk mencuci tangan Syifa lalu diangkat kedalam gendongannya memuju kamar.


"Sekarang tidur ya istri solehanya mas." Raihan menurunkan Syifa dirajang.


"Tapi rumah kotor mas barang barang juga belum diberesin."


"Biar mas yang beresin Syifa tidur aja." Ucap Raihan membaringkan tubuh Syifa lalu mulai membuka salah satu koper.


Raihan merasa ada yang  menatapnya pun menengok bertepatan dengan menutupnya mata seseorang, Raihan mengehela nafas panjang lalu menghampiri istrinya.


"Tidur yang..." Raihan berbaring disamping istrinya lalu memeluk Syifa erat.


"Mas..."


"Hemm?"


"Jangan bilang abi atau umi ya mas kalo Syifa sakit, takutnya acara bang Azzam berantakan." Syifa mendongak menatap sang suami.


"Iya... sekarang yang penting Syifa istirahat biar pulihnya cepet." Raihan mencium lama puncak kepala Syifa.


"Makasih mas..."


"Sudah tugas mas sebagai suami kamu."


"Syifa sayang sama mas." Syifa mencium rahang suaminya dengan cepat lalu menyembunyikan mukanya di ketiak Raihan.


"Mas lebih sayang sama Syifa." Raihan tidak bisa menyembunyikan senyumnya, ia bahagia mendengar penuturan sang istri.


Kalau mendengar cerita Raihan merawat istrinya saat sakit jadi ingat kisah khalifah Utsman bin Affan ra. yang tidak ikut pergi perang Badr karena harus merawat sang istri yang sedang sakit, bedanya hanya peperangan saja, kasih sayang dan kesabaran ada pada keduanya.


Ruqayah mendapatkan kesedihan karena anaknya yang baru saja menginjak usia setahun meninggal dunia. Abdullah yang merupakan putra Utsman bin Affan dan Ruqayah meninggal karena wajahnya tiba-tiba dipatuk oleh seekor ayam jantan hingga meninggal, Ruqayah terserang demam yang hebat.


Baru beberapa hari Ruqayah sakit, Utsman mendengar panggilan jihad agar berangkat menuju Perang Badar. Ia ingin berangkat untuk mengikuti perang itu, tetapi Rasulullah menyuruhnya agar tetap di rumah untuk mengurusi dan merawat istrinya. Ibnu Hisyam berkata, "Utsman bin Affan tidak ikut dalam Perang Badar karena ia harus merawat istrinya, Ruqayah." Rasulullah pun mencatatkan peran Utsman di Badar dengan tindakannya itu. Utsman bertanya kepada Rasulullah, "Apa aku mendapat pahala, wahai Rasulullah?" beliau menjawab," Ya kau pun mendapatkan pahalanya perang Badar,"


Semakin lama, penyakit Ruqayah bertambah parah. Dia terus berjuang melawannya. Sementara itu Utsman dengan sabar dan seia tetap berada di sisinya melayani hingga putri Rasulullah ini menghembuskan napas terakhir dalam keadaan ridho dan diridhoi.

__ADS_1


Menurut Az Zuhri, Ruqayah meninggal dunia akibat dari penyakit campak. Ketika Ruqayah dimakamkan Zaid membawa berita gembira tentang kemenangan dalam perang Badar. Saat itu Utsman masih berada di makam istrinya dan belum beranjak. 


__ADS_2