
Kini Asyifa sedang di pindahkan ke kamar inap, kalian pasti pikir masa gara gara di gituin langsung mau mati ternyata setelah di periksa Asyifa kelelahan, mengonsumsi makanan yang tidak seimbang dan menderita pneumonia salah satu (kemungkinan) efek samping dari mendonorkan ginjal.
Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang mengakibatkan peradangan pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Pada penderita pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru (alveoli) akan meradang dan dipenuhi cairan atau nanah. Akibatnya, penderita mengalami sesak napas, batuk berdahak, demam, atau menggigil.
Raihan yang mengetahui itu langsung teringat kejadian tadi malam dimana Asyifa batuk batuk, bukannya membantu ia malah marah marah dan menyuruh Syifa keluar kamar yang berakhir tidur di sofa ruang keluarga, tak sampai situ paginya Raihan tidak menyentuh makanan yang telah di buat istrinya itu dan melontarkan cacian.
"Ngga sudi gw makan makanan yang ngga higienis kaya gini, jangan jangan ada virusnya lagi, kalo penyakitan jangan ngajak ngajak."
Pneumonia bisa disembuhkan dengan mengonsumsi obat obat tertentu berupa antibiotik yang harus di konsumsi sampai habis.
Selain itu dokter mengatakan kalau Asyifa mengalami tekanan batin yang membuat pesikisnya terganggu, di tandai dengan Asyifa yang entah tiba tiba air matanya menetes, kepalanya menggeleng hingga igauan igauan maaf.
Ayah, bunda serta Azzam sudah mengatahui perbuatan Raihan dari cctv yang berada di rumah Raihan dengan bantuan Wildan, karena itu saat keluar dari ICU langsung mendapat bogeman dari Azzam dan ayah juga tamparan dari bunda.
Tak lama kemudian abi dan umi datang, lalu Raihan di suruh menjelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi, Raihan pun menceritakan kejadian dari awal mereka menikah sampai sekarang tanpa ada yang di tutupi, Raihan meminta maaf terutama kepada orangtua Syifa ia berjanji tidak akan mengulangi lagi, tangisan umi, abi dan bunda pecah mendengar pengakuan Raihan, Azzam kembali memukul Raihan dengan membabi buta tak lupa dengan makian yang ia lontarkan, siapa yang mau adiknya di perlakukan seperti itu?
Tidak ada yang mencegah Azzam jangankan mencegah melihat saja mereka enggan, mereka semua benar benar kecewa dengan Raihan, bunda Rahma bersimpuh di hadapan umi Aini meminta maaf atas kelakuan bejat anaknya.
Tadi Asyifa sempat sadar, ia histeris melihat Raihan berdiri di sampingnya, tidak ada yang bisa menenangkan Syifa, kata maaf yang selalu ia katakan, Asyifa juga terjatuh dari ranjang karena menghindari Raihan yang mendekat.
"Ma_maaf mas, ampun Sy_syifa salah ma_ma_maaf maafin Syifa ampun sakit mas maaf..." kata itu yang diulang ulang Syifa.
Hingga dokter datang dan menyuntikkan obat bius.
Raihan menyesal, bingung, takut semua menjadi satu, ia menyesal atas semua yang ia lakukan, ia bingung harus berbuat apa ia juga takut Asyifa akan pergi darinya apa lagi dengan ancaman Azzam akan mengambil alih Asyifa, Raihan ingin meminta maaf kepada istrinya tapi bagaimana... melihat wajah saja sudah histeris, sebegitu menyeramkan ia dimata Syifa.
Raihan menoleh merasakan bahunya di tepuk, ia langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Abii..." Ucap Raihan lirih.
"Jujur nak abi kecewa sama kamu, ini diluar dugaan abi, setau abi Humaira bahagia dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat aneh tapi sebenarnya... Hahaha... abi bahkan tidak pernah membentaknya." Abi tertawa hambar.
"Maafkan Raihan abi, maaf... Raihan janji bakal berubah, Raihan janji bakal membahagiakan Syifa maaf abi." Raihan menggenggam dan menciumi tangan ayah mertuanya.
"Minta maaflah pada Humaira, semua sudah terjadi dan mungkin ini cobaan bagi rumah tangga kalian, abi sama umi terserah keputusan Humaira, tunjukkan kalau kamu benar benar serius dengan ucapanmu." Abi dan umi tidak akan mengurusi rumah tangga anaknya, ia yakin anak dan menantunya bisa memperbaiki hubungan mereka sendiri, mungkin adanya permasalahan ini bisa memperkuat rumah tangga mereka, ia hanya sedikit kecewa mengetahui apa yang terjadi pada anak perempuannya, abi telah memaafkannya, Allah saja maha pemaaf.
Raihan mendatangi tempat informasi rumah sakit meminta kertas dan meminjam pulpen, ia berharap apa yang ia kini lakukan membuahkan hasil.
Disisi lain Asyifa sudah kembali sadar, dengan takut ia memandang sekeliling ruangan, ia bernafas lega karena tidak ada seseorang yang ia hindari, disini hanya ada umi, abang dan mertuanya.
"Humaira..."
"Minum dulu sayang." Umi menyodorkan gelas yang tentu saja berisi air.
"Makasih umi."
"Apa yang kamu rasain? Ada yang sakit?" Tanya Azzam.
"Enggak bang, alhamdulillah ngga papa, kan Humaira udah bilang kalo semua akan baik baik saja." Ucap Syifa dengan senyumnya.
"Besok kalo pulang kerumah aja sama abang ya." Tanya Azzam tapi terkesan memerintah.
__ADS_1
"Abang... ngga sekarang!" Ucap umi mengingatkan.
"Abang sayang sama Humaira." Azzam memeluk Syifa.
"Humaira juga sayang sama abang." Membalas pelukan Abangnya.
Bunda dan ayah melihat mereka dengan tatapan sendu, harga diri mereka benar benar hancur, jika akhirnya adalah perpisahan mereka tidak akan meminta Asyifa untuk tetap bertahan dengan anak mereka yang kejam itu, mereka sadar Asyifa tak pantas dengan Raihan.
____________________________________
Cerai or bertahan?
Happy ending or sad ending?
__ADS_1