Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Maaf bang nggak bisa."


"Nikahan abang sendiri loh Han."


"Maaf bang maaf banget."


"Humaira mana biar abang yang ngomong."


"Syifa lagi nggak bisa di ganggu bang, maaf."


"Urusan apasih sampai kalian nggak dateng?.Gue ini abangnya kandung istri lu, gue nikah sekali seumur hidup tapi kalian nggak dateng?, parah lu Han."


"Sekali lagi maaf bang, Raihan tutup telponnya Assalamualaikum..."


" Terserah kalian! Waalaikumsalam..."


Tut


Raihan menghembuskan nafas panjang lalu ia kembali masuk kedalam kamar.


"Gimana mas?"


"Udah nggak papa yang penting Syifa istirahat biar demamnya turun." Raihan membalik kompres yang ada di dahi istrinya.


"Mas nggak bilang kalau Syifa sakit kan?."


"Enggak, kalau pernikahannya udah selesai baru kita ceritain, itukan maunya Syifa?." Syifa mengangguk sebagai jawabannya.


"Sekarang istirahat." Raihan mengelus puncak kepala istrinya.


Ting tong


Ting tong


Suara bel terdengar membuat Syifa kembali membuka matanya.


"Mas lihat dulu, kamu istirahat jangan kemana mana." Raihan beranjak mengecek siapa orang yang datang bertamu ke rumahnya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... bunda, ayah." Raihan langsung menyalami tangan orangtuanya.


"Silahkan yah,bun." Raihan mempersilahkan masuk.


"Menantu bunda mana?" Tanya bunda tidak melihat keberadaan istri dari anaknya.


"Dikamar bun_" ucapan Raihan terputus.


"Ya Allah... jadi menantu bunda nggak kamu bolehin ke acara abangnya sendiri? Bunda habis dari sana katanya kamu sama Syifa cuma waktu akat setelah itu pulang, jangan gitu lah Han, ini pernikahan abangnya loh." Bunda menatap garang anaknya.

__ADS_1


"Istri Raihan sakit tadi juga sempat mimisan terus Raihan bawa kerumah sakit Alhamdulillah cuma kelelahan, tadinya mau ke sana malam ini eh Syifa malah demam." Jelas Raihan.


"Menantu bunda sakit?." Bunda langsung beranjak menuju kamar anaknya meninggalkan Raihan bersama suaminya.


"Keluarga Syifa sudah tau?" Tanya ayah.


"Belum yah, Syifa yang minat takutnya malah jadi berantakan."


"Besok bilang ke mereka jelasin yang sebenarnya takutnya mereka mikir yang nggak nggak sama kamu dan menantu ayah."


"Iya yah." Raihan mengangguk setuju.


"Syifa tidur, pucat loh mukanya apa nggak dibawa kerumah sakit aja? Takutnya ada yang serius." Bunda kembali bergabung dengan Raihan dan ayah.


"Syifa nggak mau bun, besok kalau demamnya belum turun Raihan paksa kerumah sakit."


"Ya udah besok biar bibi kesini beres beres rumah sekarang kamu juga istirahat, eh iya kamu udah makan malam?" Tanya Bunda.


"Udah bun tadi kebetulan ada sate ayam lewat." Bunda mengangguk.


"Ya udah yuk bun pulang mereka biar istirahat." Ayah bangkit dari duduknya.


"Jaga menantu bunda, jangan sampai yang dulu dulu terulang lagi, awas kamu." Ucap bunda dengan ancaman.


"Iya bun, Raihan jagain istri Raihan."


"Ya udah bunda sama ayah pamit dulu." Raihan langsung mencium tangan kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Asyifa nampan tertidur pulas, dengan pelan Raihan mendekat lalu menyentuh dahi istrinya, alhamdulillah panasnya sudah turun, selepas ashar tadi panas Syifa mencapai 39°C, tubuhnya berkeringat dingin dan menggigil, untungnya setelah minum obat keadaan istrinya mulai membaik.


Drettt drettt


Handphone Raihan bergetar.


📞 Abi call


Dengan ragu Raihan mengangkatnya.


"Assalamualaikum bi..."


"Waalaikumsalam... Han kamu dimana? Disini pada nyari kalian loh, Humaira juga di telpon nggak diangkat angkat." Ucap abi dari seberang sana.


"Maaf bi, Raihan sama Syifa nggam bisa kesana."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Emm... ada urusan bi."


"Jujur sama abi ada apa?" Tanya abi tegas.


"Raihan jujur tapi abi jangan panik."


"Iya ada apa?"


"Syifa sakit bi, alasan yang sebenarnya kenapa tadi Raihan pamit pulang dulu karena Syifa mimisan, udah Raihan bawa kerumah sakit katanya hanya kecapekan jadi Raihan bawa pulang dan sekarang demam, abi nggak usah khawatir ada Raihan yang jaga Syifa, percaya sama Raihan bi." Jelas Raihan.


"Huhhhh..." abi menghembuskan nafas panjang.


"Ya udah abi percaya sama kamu."


"Iya bi terimakasih."


"Titip putri abi ya nak, kalau besok udah sehat bawa ke rumah kita sarapan bersama."


"Insyaallah bi."


"Ya udah abi tutup dulu, Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Raihan meletakkan handphonenya di nakas lalu masuk kedalam kamar mandi.


Malam ini Raihan benar benar menjadi suami siaga, ia beberapakali terbangun mengecek keadaan istrinya dan membasahi kompres yang mulai mengering.


Seperti sekarang Raihan sedang menatap wajah ayu sang istri sambil memegang perut bagian atasnya dimana ginjal Syifa berada di tubuhnya, ia benar benar merasa manusia paling buruk yang tega menyakiti wanita setulus istrinya.


Asy-syifa' adalah salah satu nama lain dari Al-quran yang berarti obat atau penyembuh, seperti namanya bagi Raihan istrinya adalah obat yang dikirim oleh Allah untuknya, bukan hanya ginjal tapi Syifa juga menyembuhkannya dari kemaksiatan, betapa beruntungnya seorang Raihan Zakhi Askar, betapa baiknya Allah memberikan salah satu bidadarinya kepada pria sepertinya, karena itu mulai sekarang ia bertekat akan menjaga bidadarinya dengan semampu yang ia bisa, Raihan bangkit ia ingin melakukan sunah di sepertiga malam.


"Mas Syifa ikut..." suara Syifa membuat Raihan berbalik mendekat, dengan mata sayu Syifa berusaha bangkit.


"Syifa istirahatlah dulu ya." Raihan mencegah Syifa duduk.


"Bawa Syifa ke surga bersamamu mas, Syifa udah nggak papa kok."


"subhanallah, ayo mas bantu." Raihan membopong tubuh Syifa menuju kamar mandi.


"Mas siapin peralatannya dulu." Raihan kembali keluar menyiapkan mukena untuk istrinya, sarung, koko dan peci untungnya serta sajadah untuk keduanya, Syifa berjalan pelan keluar kamar mandi lalu memakai mukena yang disiapkan suaminya, sedangkan Raihan berganti ke kamar mandi mengambil Wudhu.


Setelah sholat Raihan membawa Syifa berbaring dengan pahanya yang menjadi bantalan, Raihan mengelus kepala istrinya sambil membaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali.


"Besok pagi kalau Syifa kuat kita diminta sarapan di rumah abi, tadi malam abi telpon dan mas nggak bisa bohong dari abi jadinya mas bilang kalau Syifa sakit."


"Terus respon abi gimana mas?" Syifa mendongak menatap wajah suaminya dari bawah.


"Abi percaya kalau suamimu ini bisa menjaga putrinya ini." Raihan mencubit ujung hidung Asyifa.

__ADS_1


"Besok habis sarapan Syifa ikut mas ke kantor, nggak nerima penolakan." Ucap Raihan tak terbantahkan.


__ADS_2