
Sakit yang paling sakit adalah sakitnya sakratul maut, tak satupun bagai tubuh yang terbebas dari sakit, sakit yang teramat dahsyat.
Bahkan ketika roh Rasulullah sampai di pusat perut, Rasulullah berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”
Menjelang akhir hayat beliau bermunajat, "Ya Allah, ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut." Demikian doa itu Nabi ucapkan hingga tiga kali. Padahal, telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan sosok teladan dan rahmat bagi alam semesta saja mengucapkan seperti itu, bagaimana dengan kita umatnya? Bagaimana dengan sholat yang masih kita tunda? Bagaimana dengan Al quran yang masih kita anggurkan tanpa kita sentuh hingga berdebu? Bagaimana dengan kesalahan kesalahan yang sengaja ataupun tidak kita sengaja perbuat? Bagaimana dengan sifat tercela yang ada dalam diri kita?
Astaghfirullah hal adzim...
Kita tak sadar jika bertambahnya detik membuat kita lebih dekat dengan maut, nanti saja, nanti saja hingga tak sadar maut didepan kita, siapa yang harus disalahkan jika bukan diri kita sendiri?
Astaghfirullah hal adzim.
Rasa sakit sakratul maut berbeda-beda pada setiap orang, pernah Rasulullah SAW bersabda, "Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutra. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang terkoyak?"
Seperti dikisahkan Al-Hasan, beliau juga pernah menyinggung soal kematian. "Sakitnya (sakaratul maut) sama dengan 300 tusukan pedang," sabda beliau.
Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim AS akan dicabut, Allah SWT berfirman kepada Ibrahim AS, "Bagaimana engkau merasakan kematian?"
Beliau menjawab, ''Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik."
"Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu," demikian firman-Nya.
Tentang sakaratul maut pula, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata 'Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak.'"
Bagaimanapun, kematian semestinya tak perlu terlalu ditakuti. Justru, kehidupan setelah kematian itulah yang patut direnungkan lebih dalam.
Hari akhir lebih berat dari dunia.
Banyak orang yang ingin dihidupkan kembali hanya untuk beriman kepada Allah, mereka telah mengalami begitu beratnya kehidupan setelah kematian, bagaimana dengan kita yang masih menyibukkan diri dengan masalah duniawi, bagaimana kita ingin menyelesaikan masalah duniawi jika kita masih saja mengesampingkan sang pemilik segalanya?
Seperti HAM dan kewajiban yang saling berikatan, dalam logikanya HAM tidak akan terpenuhi jika kita tidak melakukan kewajiban, begitupula dengan masalah yang kita hadapi, kita berusaha menyelesaikan masalah hingga melupakan alasan kita mengapa diciptakan, kita sibuk mengejar titipan-Nya hingga melupakan siapa yang menitipkannya.
“Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi.”
“Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Semoga kita semua selalu berada dalam lindungannya, semoga Allah mengampuni segala doa yang kita perbuat dan melindungi kita dari azab api neraka.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik mulai detik ini dan seterusnya.
__ADS_1
Aamiin...
🌸
Seorang pria mendorong pelan sebuah kursi roda, raut kelegaan terpancar di mukanya, senyuman tak pernah tertinggal dari bibirnya.
Tangan pria itu terulur mendorong sebuah pintu bercat putih, jantungnya terpacu cepat tak sabar bertemu dengan kedua malaikat yang ia nanti nantikan.
Selama dua hari ia menahan diri untuk tidak bertemu dengan kedua malaikat kecilnya karena ingin menunggu bidadarinya pulih dan ikut bersamanya bertemu dengan malaikat kecil mereka.
Selama dua hari pula ia terngiang ngiang wajah dan tangisan kedua malaikatnya, betapa bahagianya kali pertama ia menerima sang putri didalam gendongannya, air matanya tak bisa terbendung saat tangan mungil itu menerpa wajahnya seakan itu salam perkenalan dari kedua anaknya, dan sekarang ia akan bertemu mereka lagi untuk kedua kalinya.
"Assalamualaikum putra putri abah... abah bawa ummah loh nak, lihat ummah nangis nak, nanti diketawain abang sama abek loh ummah..." pria itu berjongkok disamping kursi roda sang istri.
"Ummah pengen gendong tapi belum bisa nak." Tangan Asyifa menyentuh kaca inkubator dimana anaknya berada, terdapat beberapa selang dan alat di tubuh ringkih kedua anak tak berdosa itu.
"Abah curang kemarin udah gendong kalian."
"Ummah kemarin pingsan sih bikin kita khawatir ya nak, abang sampai nangis kejer." Raihan teringat saat proses operasi selesai ia di panggil kedalam untuk melantunkan adzan di telinga kedua anaknya sebelum beberapa alat dipasang, baru saja masuk sudah di suguhkan tangisan kencang sang putra, dokter berkata tadinya putranya itu tak mau menangis tapi tepat saat kesadaran istrinya menghilang bayi laki laki itu langsung menangis kencang, sepertinya memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang ibu.
Atas izin Allah Asyifa dan kedua anaknya selamat, kabar gembira bagi Raihan dan keluarga, meski rahim Asyifa harus diangkat akibat pendarahan hebat kemarin.
"Abang... ini ummah abang..." ucap Asyifa melihat mata kecil sang anak terbuka.
"Alis abang tipis mirip ummah kalo alis adek lebih lebat mirip abah."
"Tapi bibir abang tebel mirip abah, adek tipis terus mungil mirip ummah."
"Hidungnya kok mirip abah semua, ummah yang paling pesek di rumah dong."
"Ih adek senyum." Putri mereka tersenyum didalam tidurnya, mungkin anaknya itu pura pura tidur padahal mendengar obrolan abah dan ummahnya.
Sedari tadi sang abang sibuk menatap kedua orangtuanya bergantian, sepertinya ia sedang berusaha untuk mengingat orangtuanya adalah yang ada di depannya ini, hahaha... sangat mengemaskan.
"Terimakasih ummah." Ucap Raihan.
"Sudah berapa kali abah bilang gitu? Bosen ummah dengernya."
"Abah belum bosen ngomong terimakasih, terimakasih ya ummah." Raihan menatap lekat mata istrinya, Syifa yang ditatap seperti itu menundukkan kepala malu.
"Ummah udah ada anak dua masih malu malu meong, gemas deh." Raihan menoel pipi sang istri.
__ADS_1
"Udah ah bah di lihatin abang, malu." Syifa salting.
"Abang pengen ikut godain ummah ya bang, tunggu gede ya bang nanti kita godain ummah sama sama, abang belom pernah lihat pipi ummah merah kan bang, hahaha... lucu, kira kira adek kayak ummah enggak ya..." Raihan mengalihkan perhatian ke putrinya.
"Ih senyum lagi, kayak ngerti aja dek."
"Sholeh Sholeha nak."
"Aamiin ummah, bilang Aamiin gitu nak." Syifa tersenyum lembut melihat Raihan yang nampak semangat mengajak anaknya berbicara.
"Namanya siapa bah?" Tanya Asyifa.
"Ummah ada usulan nama?" Tanya Raihan balik.
"Enggak, ummah belum mikir nama eh udah lahir aja."
Raihan tersenyum.
"Abah kasih nama ya."
"Iya bah, Silahkan."
"Yang ganteng yang suka lirik lirik ini namanya Athallah shakeel Adicandra, kalau yang cantik suka senyum senyum ini namanya Athalia Shakila Adikirana, pangilnya abang Andra sama adek Ana."
"Ummah suka bah."
"Abah lebih suka ummahnya anak anak abah." Raihan mengerling.
"Is abah mah." Syifa memukul pelan lengan suaminya.
"Hahaha..." Raihan tertawa menerima pukulan manja dari sang istri.
Raihan berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjaga bidadari disampingnya ini, ia akan berusaha selalu menghadirkan senyum di bibir manisnya, ia tak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, ia akan menebus kesalahan yang dulu ia perbuat.
Ini bukan akhir dari kisah Asyifa Khumairoh Irta, melainkan ini awal kisah Asyifa yang penuh kebahagiaan, saatnya ia menikmati hasil dari apa yang ia perbuat dimasa lalu, kerikil pasti ada tapi dengan berbekal pengalaman dimasa lalu membuat Asyifa lebih mudah menyingkirkan kerikil dimasa yang akan datang tentunya bersama suami dan kedua anak mereka.
END
Cerita ini resmi selesai, tak ada ekstra part ataupun sequel.
Nisrina 'Ulya Syafiya
__ADS_1
Bangsri, 22-09-2020