Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Mandi udah, gosok gigi udah, cukur rambut udah, sekarang pake baju apa ya...?" Seorang pria berdiri di depan lemari mengetuk telunjuknya ke dagu menyatakan bahwa ia sedang bingung, akhirnya pilihannya jatuh pada celana jeans dan Hem hitam.



"Wahhh pesona seorang Raihan emang tidak bisa di duakan, klepek klepek ini pasti Syifa." Raihan melihat pantulan dirinya di cermin.



"Syifa mas datang..." Raihan pergi saat di rasa penampilannya sudah perfect.



Dari semalam Raihan tidak berhenti senyum, ia memikirkan harmonisnya berumah tangga dengan Syifa hingga tadi malam pun di mimpinya ada Syifa, bahagianya... belum lagi ada anak anaknya kelak.



Raihan mampir dulu ke toko bunga, ia membeli bunga bangkai eh bukan bunga kamboja eh bukan bunga tuju rupa eh bukan lagi bunga sepatu, ih apaan sih Author garing maap maap:v



Raihan membeli sebuket bunga mawar putih.


"Nih neng kembaliannya ambil aja." Menyodorkan uang 50 ribu tiga.



"uangnya kurang 25 ribu kak." Ucap mba mba penjual bunga.



"Loh kurang... nih neng kembalinya ambil aja." Menyodorkan uang 100 ribu dengan cengar cengir.



"Makasih kak." Mba mba itu sedikit membungkukkan badannya.



"Sama sama." Raihan pun keluar dari toko bunga itu sambil senyum senyum sendiri.



"Nanti ngasihnya gimana ya... berlutut terus bilang 'Syifa sayang, mas minta maaf ya...' eh jangan jangan udah biasa, buka pintu langsung lempar ke dia sambil bilang 'Syifa... mas datang...' jangan ngga sopan, alay, terus gimana?" Tanya Raihan dengan dirinya sendiri.



"Aihhh Syifa... apa yang kau lakukan kepada ku, hingga membuat ku seperti ABG yang sedang jatuh cinta... kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu...." Ucap Raihan dramatis.



Tak lama mobil yang dikendarai Raihan sampai juga di rumah sakit, dengan semangat 45 Raihan menuju ke ruangan istrinya.



Sampai di depan ruangan Raihan tidak melihat siapapun, ia melihat duduk di kursi menunggu di perintahkan masuk, kalau ia masuk takutnya tiba tiba Syifa kembali histeris.



Satu jam berlalu, tidak ada tanda tanda akan kehidupan di ruangan itu, sejak tadi Raihan mondar mandir tidak jelas, satu jam bagaikan sehari buat Raihan apa lagi jantungnya berdetak lebih cepat membayangkan respon Syifa nantinya, tak lama seorang suster datang membuka ruang itu kemudian satu suster lagi datang mendorong keranjang berisi seprei, kurang bantal juga selimut.



"Buat apa sus?" Tanya Raihan.



"Ruangannya mau di tempati pak." Jawab suster.



"Loh kamar ini kan di tempati istri saya sus." Raihan kaget.



"Kamar ini kosong sejak dua jam yang lalu pak, kabarnya pasien dipindahkan." Jelas suster.



"Jangan bercanda sus." Raihan memasuki ruang itu mengecek keberadaan istrinya.



Kosong, benar di kamar ini tidak ada siapapun.


"Siapa yang memindahkan?" Tanya Raihan panik.

__ADS_1



"Saya kurang tau pak, silahkan ke tempat informasi saja." Tanpa babibu Raihan langsung berlari meninggalkan dua suster dan juga buket bunganya, sekarang yang lebih penting adalah keberadaan istrinya jangan sampai istrinya di bawa pergi jauh darinya.



"Mba, pasien atas nama Asyifa Khumairoh Irta di pindahkan ke mana?" Tanya Raihan to the point.



"Sebentar pak saya cek dulu." Raihan menunggu dengan tidak sabar, tangannya mengetuk ngetuk meja.


"Di sini tidak tertera di pindahkan dimana hanya di pindahkan dari ruang VIP 3A bertanda tangan ibu Rahma." Ucap suster yang menjaga di situ.



Ibu Rahma?



"Terimakasih sus." Raihan mencoba menghubungi bundanya.



Panggilan pertama tidak terjawab.


Panggilan ke dua kembali tidak terjawab.


Panggilan ke tiga tetap tidak terjawab.



Raihan memutuskan untuk pergi kerumah orangtuanya, Raihan mematung melihat ke empat ban mobilnya kempes.



"Sial..." Raihan berlari ke jalan, ia tidak menemukan taxi adanya hanya ojek online, tanpa pikir panjang Raihan menghampiri abang itu.



"Bang anterin saya ke perumahan Siliwangi." Raihan langsung mendudukkan diri di jok motor matic abang itu.




"Udah bang buruan, gw bayar dua kali lipat." Tanpa perlawanan abang itu menghidupkan motornya, ia tidak bisa melawan jika urusannya dengan uang.



Setelah sampai Raihan langsung masuk rumah, sangking paniknya hingga ia lupa membayar ojek.



"ASSALAMUALAIKUM... BUNDA..." teriakan Raihan menggema di seluruh penjuru.



"Apa?" Bunda menatap datar Raihan.



"Syifa dimana bun?" Tanya Raihan to the point.



"Apa urusanmu?"



"Jelas urusan Raihan bunda, karena Syifa istri Raihan."



"Ouhhh istri kamu? Hahaha setelah apa yang kamu lakuin ke Syifa kamu bilang dia istri kamu?" Bunda menatap sinis ke Raihan.



"Dimana Syifa bunda... Raihan pengen ketemu..." suara Raihan melemas.



"Kalo udah ketemu mau kamu apain ha? Belum puas kamu? Dimana hati nurani mu Raihan... Dimana? Bunda bener bener ngga percaya punya anak berhati iblis kaya kamu, kamu mikir ngga sih? Percuma bunda sekolahin kamu tinggi tinggi kalo ujung ujung gini, kamu tau seberapa malunya ayah, mau ditaruh mana muka beliau? Tatap bunda Raihan!." Bunda mengeluarkan semua unek uneknya, Raihan tidak berani menatap mata bundanya yang berkaca kaca.


__ADS_1


"Maaf, Raihan minta maaf, Raihan salah, Raihan mau perbaiki semuanya bunda, Rai_" ucapan Raihan terpotong.



"Bohong! Apa yang kamu biang semua bohong! Bahkan kamu udah bohong sama Allah, kamu janji di hadapan banyak orang, kamu ucapin ijab kabul tapi nyatanya mana? Mana? Dasar orang munafik! Ingkar!." Nada bunda meninggi.



"Maaf bunda, Raihan nyesel, ngga bakal ngulang kesalahan itu, beri Raihan kesempatan lagi bunga, Raihan janji bakal bahagiain Syifa, Raihan janji, Raihan nyesel bunda, Raihan baru sadar kalo Raihan ngga bisa hidup tanpa Syifa, Raihan sayang Syifa bunda... satu kesempatan lagi." Raihan berlutut di depan bunda.



"Apa jaminannya?"



"Kalo Raihan nyakitin Syifa lagi, Raihan rela menerima semua hukuman bunda, Raihan rela di asingkan, Raihan rela di cabut semua fisilitas, Raihan rela bunda... satu kesempatan lagi."



"VIP 4A."



"Apa bun?" Tanya Raihan tidak paham.



"VIP 4A." Ulang bunda lalu pergi meninggalkan Raihan.



Raihan diam memikirkan ucapan bunda, VIP 4A? Apa maksudnya dari ucapan bunda? VIP 4A... Jangan jangan...



Raihan langsung berlari keluar rumah, ia melihat abang ojek online masih disana.



"Bang ke rumah sakit lagi." Raihan sudah duduk.



"Tap_" ucapan abang itu terpotong lagi.



"Gw bayar 4 kali lipat, buruan!" wah.. tawaran yang menggiurkan.



Di sepanjang jalan Raihan marah marah tidak jelas, ia mengomeli apapun yang menghambat jalannya, hingga lampu merah pun juga menjadi sasarannya.



"Bang makasih, nih ambil semuanya." Raihan memberikan semua uang yang ada di sakunya lalu berjalan memasuki rumah sakit, dandanannya yang semula perfect sekarang menjadi acak acakan.



"Alhamdulillah rejeki anak sholeh." Abang itu bersyukur mendapat 400ribu dari Raihan.



Raihan berlarian kesana kemari, ia bingung dimana ruangannya, panik membuat ia tidak bisa berfikir jernih.



"Aisss dimana sih..." gerutu Raihan, ia beberapa kali melewati tempat informasi tapi tak terlintas sedikitpun di pikirannya untuk bertanya.



Setelah sekian lama akhirnya ia menemukan ruangan itu tepat berada di depan ruangan lama Syifa, di kursipun masih ada buket bunganya, Raihan masuk begitu saja, yang ia lihat hanyalah seorang wanita berniqob menundukkan kepalanya.



"Syifa..." Panggil Raihan membuat wanita itu menengok.



"Mas Raihan..."



__ADS_1


__ADS_2