Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Asyifa mana bun?"


Kalimat itu yang selalu Raihan tanyakan setiap pagi dan pertama kali ia tanyakan saat sadar, tanpa Raihan sadari sedikit demi sedikit ia mulai bergantung pada Asyifa, rasanya hambar bila bangun tanpa alarm suci istrinya.


"Asyifa jaga rumah nak, kemarin juga kesehatannya menurun, tapi tadi bilang mau ke sini." Ucap bunda yang selalu menemani Raihan.


Raihan sadar 2 hari setelah operasi yaitu 4 hari yang lalu, selama 6 hari Raihan sudah melakukan cuci darah sekali dan besok adalah yang kedua kalinya.


Di sisi lain keadaan Asyifa sudah benar benar pulih buktinya hari ini sudah diperbolehkan pulang, sekarang Asyifa dan umi sedang beres beres, sejak awal umi selalu di sisi putrinya sedangkan abi harus mengurus kantor tapi malam harinya tidur di RS. Rencananya Asyifa mau menjenguk suaminya yang dirawat di sebelah kamarnya, ya kamar inap Asyifa dan Raihan bersebelahan.


"Humaira nggak mau pulang dulu? Besok pagi ke rumah sakit lagi, ini udah mau magrib istirahat di rumah dulu ya..." Tanya umi kepada putri bungsunya.


"Nggak umi langsung ke mas Raihan aja."


"Ya udah umi paham kok yang rindu suami."


"Umi... jangan goda Humaira..." rengek Asyifa, ia khawatir kepada suaminya walaupun bunda sering ke kamarnya dan memberi tahu keadaan Raihan tapi Asyifa belum puas kalau tidak melihatnya langsung.


"Hhhhhh pipinya merah." Ucap umi melihat pipi Asyifa yang tidak tertutup cadar.


"Udah umi... oh iya umi jadi ikut abi ke solo?" Mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, kan kamu tau abi nggak mau pergi kalo nggak sama umi." Asyifa tersenyum, usia tidak memudarkan keromantisan orang tuanya, dari dulu hingga sekarang abi dan uminya sangat romantis, serbuk serbuk cinta seakan menebar sempurna di hati beliau, dari abi yang tidak akan pergi kalau tidak bersama umi membuat umi jadi bergantung kepada abi, umi jadi tidak bisa tidur kalau tidak bersama abi, umi rela menunggu abi lembur sampai tengah malam, kalau sudah bertemu ya tidur tidak ada maksud lain.


"Ya udah umi, ini barang sudah rapi kita ke mas Raihan sekarang ya umi."


"Iya ayo abi juga udah di jalan." Asyifa dan umi segera memakai kembali cadar mereka.


Satu wanita dan satu gadis itu keluar menuju kamar Raihan, Gadis? Ya kalian masih ingatkah kalau Asyifa masih gadis.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... eh Asyifa sama bu Aini, silahkan masuk."


"Gimana keadaan nak Raihan?."


"Alhamdulillah baik umi."


"Alhamdulillah... tuh istrimu dari tadi pengen cepet cepet kesini rindu kayaknya." Umi kembali menggoda Asyifa, yang di goda hanya menundukkan kepalanya sedangkan Raihan menatap ke Asyifa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Benar bu? Raihan juga baru aja nanya di mana Asyifa, wah wah mereka sama sama rindu berat kayaknya." Sambung bunda ikut menggoda anak dan menantunya.


"Humaira malah nunduk di situ katanya mau ketemu nak Raihan ini udah di depan mata malah diem deketin situ, umi sama bunda mau ke kantin dulu ya." Pergi di ikuti bunda, umi dan bunda sengaja memberi ruang kepada pasangan itu.


"I_iya umi." Asyifa berjalan nunduk menghampiri Raihan.


"Gi_gimana mas keadaannya?"


"Udah mendingan, dari mana aja kamu? Job banyak?" Tanya Raihan, dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Syifa kurang enak badan mas."


"Pegal pagal ya? Nggak bisa jalan? Kelamaan sih pasti uangnya banyak tuh." Kalian pasti tau maksud dari omongan Raihan menuju ke arah mana.


"Eng_enggak mas."


"Kalo iya juga nggak papa." Kata Raihan acuh.


Dengan sabar Asyifa menghadapi omongan omongan Raihan yang sangat tidak bisa di terima Asyifa, tapi Asyifa tetap sabar, tenang, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.


Keheningan mulai hadir di antara mereka, Asyifa yang duduk di samping ranjang Raihan menunduk memainkan ujung jilbabnya sedangkan Raihan memejamkan mata meruntuki ucapnya, entah mengapa setiap melihat Asyifa emosinya naik mengingat perjodohan ini, Raihan masih belum menerima apa yang terjadi pada dirinya.


Keaaaakkk


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... abi ayah."


"Asyifa udah sehat?" Tanya ayah.


"Alhamdulillah sudah ayah."


"Nak Raihan gimana?" Berganti abi yang bertanya tentang keadaan Raihan.


"Alhamdulillah udah mendingan bi."


" Alhamdulillah... umi mana?" Abi tanya tak melihat keberadaan istri tercinta.


"Umi sama bunda ke kantin abi, ayah." Jawab Syifa.


Kreaakkk


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Loh ayah sama pak Abdul sudah di sini." Mencium tangan suaminya begitu juga umi.


"Iya tadi ketemu di lobi."


"Umi yuk." Ajak abi.


"Mau kemana pak? Baru juga sampai, Adzan magrib juga baru berkumandang."


"Mau ke masjid sekalian pamit pulang, habis isya mau ke solo soalnya." Abi membantu bunda membawa tas.


"Ouhhh, ya sudah saya ikut ke masjid, bunda ikut apa di sini?"


"Bunda di sini aja yah, temenin Raihan."

__ADS_1


"Bunda, biar Asyifa yang jaga mas Raihan." Ucap Syifa.


"Kamu aja ya terus pulang istirahat besok kesini lagi."


"Asyifa nggak papa bunda, bunda sama ayah yang harus istirahat, bunda kan belum pulang dari mas Raihan di operasi." Kekeh Syifa.


"Iya bunda, biar Syifa yang jaga Raihan, Raihan juga kangen sama istri Raihan." Bullshit!


"Ya sudah bunda sama ayah pulang ya, besok bunda kesini pagi pagi sama bawa makanan kesukaan kalian berdua." Akhirnya bunda mengalah.


"Pamit dulu ya nak, cepat sembuh." Pamit abi.


"Iya bi"


"Umi pergi ya titip Asyifa nak Raihan."


"Iya umi."


"Kita pulang, kalau ada apa apa hubungi kita."


"Iya yah."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Mas Asyifa sholat dulu." Ucap Syifa setelah kedua orangtuanya dan mertuanya meninggalkan ruangan.


"Hemm..." Asyifa memasuki kamar mandi untuk mensucikan diri sedangkan Raihan tetap di ranjang melakukan hormat waktu.


Sholat hormat waktu atau li hurmatil-waqt artinya shalat untuk menghormati datangnya waktu sholat. Ini dilakukan ketika datang waktu sholat, namun seorang muslim tidak memenuhi syarat-syarat sah-nya sholat fardhu. Seperti orang yang tidak punya air untuk bersuci, dan juga tidak ada debu untuk ia bertayammum. Atau juga ia bisa bertayammum/berwudhu, tapi sayangnya sholatnya tidak bisa menghadap kiblat, dan ruku serta sujudnya tidak sempurna, seperti Raihan yang tangannya tertutup infus yang tidak bisa terbasuh air jadi wudhunya tidak sah.


Ketika ada seorang muslim dalam keadaan seperti ini, (dalam madzhab al-Syafiiyah) ia tetap wajib sholat untuk menghormati waktu dengan keadaan yang ia bisa walaupun tanpa thaharah, tapi nanti ia wajib juga mengqadah sholatnya itu. Karena itu ini dinamakan sholat li hurmatil-waqt, karena memang kewajiban sholat fardhunya tidak gugur.


Setelah melaksanakan kewajiban seorang muslim Asyifa menyuapi Raihan dengan telaten, tidak ada penolakan dari Raihan karna Raihan sadar ia sulit makan tanpa bantuan seseorang.


Raihan tertidur setelah sholat isya sedangkan Asyifa masih sibuk dengan dzikirnya.


🍃


Raihan terbangun dari tidurnya karna merasakan kering di tenggorokannya, ia melihat jam yang menggantung di dinding, pukul 1 dini hari mata Raihan mulai menelusuri setiap sudut ruangan mencari Asyifa tapi tidak menemukannya, tak sengaja matanya melihat kain berwarna hijau army seperti gamis yang di pakai Asyifa tadi, dengan perlahan Raihan melihat ke arah bawah dan menemukan istrinya tertidur di sana tanpa alas apapun, Raihan merasa kasihan tapi juga bingung membangunkannya bagaimana, ia takut Asyifa salah faham dan berharap lebih dengannya.


Raihan mengambil gelas yang ada di nakas dan mengguyurkan air tepat di wajah Asyifa.


"Astagfirullah."


"Eh kena ya... haus gue eh malah tumpah." Asyifa segera bangkit mengisi gelas kosong tadi dan di berikan kepada Raihan.


"Tidur di sofa, jangan GR gue nggak mau ada suster atau dokter yang berpikiran buruk ke gue." Ucap Raihan setelah menenggak habis minumnya.

__ADS_1


"Iya mas." Asyifa berjalan menuju sofa dengan perasaan senang, walaupun alasan Raihan karna itu entah kenapa sudah membuatnya senang, jujur Asyifa kedinginan tidur di lantai yang dinginnya langsung menusuk ke tulangnya, Asyifa merebahkan badannya dan mulai memasuki mimpinya begitupun dengan Raihan yang kembali tertidur.


__ADS_2