Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

Dengan langkah cepat Asyifa berjalan menuju kamar, ia lupa belum sempat menyetrika baju yang akan di pakai sang suami, kemaren Raihan selalu mengikutinya kemanapun ia berada dari nyuci baju, jemur baju, masak, beres beres bawaan yang kemarin di bawa ke rumah sakit, intinya seharian Raihan tidak membiarkan Syifa jauh darinya, sampai sampai mau sholat saja Syifa di suruh menemaninya di kamar.



"Mass..." Syifa mencari cari keberadaan suaminya.



Kreaakkk...



"Eh Syifa." Raihan masuk menenteng kemeja berwarna merah marun.



"Dari mana mas?"



"Nih nyetrika." Raihan menaruh kemejanya di ranjang.



"Ini udah di setrika? Mas nyetrika sendiri?" Tanya Syifa.



"Iya, gimana mas bisa kan?" Ucap Raihan bangga.



"Iya bagus." Kenapa Syifa bilang bagus, karena ngga mungkin Syifa bilang rapi karena itu jauh dari kata rapi, apalagi tadi pas bawa di tenteng udah ngga berbentuk jadinya, tapi Syifa tetap menghargai perjuangan suaminya.


"Kenapa mas ngga bilang Syifa?"



"Kan Syifa masak pasti repot jadi kita bagi tugas lagian gini doang mah kecil celananya kan udah di setrika." Raihan menyatukan jari kelingking dan ibu jari.



"Syifa ngga repot kok."



"Tapi mas yang ngerasa ngerepotin Syifa, udah ya mas mau mandi dulu." Raihan mengecup dahi Asyifa lalu masuk ke kamar mandi.



Setelah kepergian Raihan Syifa duduk di ranjang melihat kemeja marun suaminya, jika di pakai ini akan sangat terlihat lipatan lipatan di setiap sisinya, Syifa tidak mau suaminya menanggung malu memakai kemeja yang lecek seperti ini, dan Allah itu suka keindahan, berantakan bukan bagian dari keindahan.



Seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah:



إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ



"Sesungguhnya Allah itu indah, menyukai keindahan" [H.R. Muslim, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ]



Dari hadits ini, kita tentu paham bahwa keindahan itu dicintai oleh Allah. Allah menyukai bila hamba-Nya berpenampilan rapi, indah, dan bersih sebagaimana kandungan hadits tersebut.



Syifa membawa baju itu untuk di setrika ulang, ia melakukannya dengan cepat jangan sampai suaminya selesai mandi baru ia selesai, Syifa takut Raihan tersinggung.



"Aduh ini panas lagi bajunya... kipas..." Asyifa mengambil kipas tangan di laci.


"Bismillah... semoga bisa." Syifa dengan telaten melambaikan kipasnya dengan kecepatan penuh, di rumah tidak ada kipas adanya AC ada kipas mini tapi di mobil.



"YANG..." teriak Raihan dari kamar mandi.



"I_iya mas." Syifa meraba kemeja itu.


"Alhamdulillah..." Ucap Syifa mengetahui kemeja itu sudah dingin.


__ADS_1


"Tolong ambilin handuk ya..."



"Sekali sama bajunya ngga?" Tanya Syifa.



"Iya boleh." Asyifa sedikit mengubah lipatan kemeja agar suaminya tidak curiga.



"Ini mas." Ucap Syifa di depan pintu.



"Makasih..." Raihan menyembulkan kepalanya dan tersenyum manis ke Syifa.



"Sama sama, Syifa tunggu di meja makan ya mas."



"Iya pangeran akan cepat putri." Raihan menutup pintu.



"Ngga usah cepet cepet mas."



"Pangeran tidak akan membiarkan tuan putri menunggu lama jadi tunggu sebentar."



"Terserah pangeran aja lah." Oke Syifa harus terbiasa dengan suaminya yang keras kepala.



Bruakk



"MASSS..." teriak Syifa mendengar gubrakan dari dalam sana.




Syifa tinggal memindahkan makanan ke piring karena ia sudah memasak tinggal di hidangkan.



"Yang... mas ngga nyangka loh setrikaan mas se rapi ini." Raihan turun dengan langkah lebar, tanggal kiri menenteng tas kerjanya, tangan kanannya membawa map, Hp juga dasi, dan di kepalanya terdapat jas yang menggantung. Jas dikepala? Kenapa ngga di taruh pundak? Oke terserah husband nya Syifa.



Asyifa membalas ucapan Raihan dengan senyumnya.


"Berarti besok besok mas aja yang nyetrika." Ucap Raihan sambil duduk di meja makan.



Reflek Syifa langsung menggeleng, bisa dua kali kerja ini.


"Jangan mas!."



"Kenapa? Kan mas mau bantu kamu." Raihan memusatkan perhatian pada Asyifa.



"Itu... itu kan tugas Syifa, Syifa yang ngerjain, kalo mas yang ngerjain Syifa ngapain? Lagian kan mas udah cape di kantor, segini?" Syifa menyodorkan piring yang sudah terisi nasi.



Raihan mengangguk.


"Tapi jangan capek capek."



"Ngga capek kok, kalo diem terus itu malah capek, bosen lagi, silahkan mas." Syifa menaruh piring di depan Raihan, lalu mengambil makanan untuknya sendiri.



"Kalo bosen ya jalan jalan ke luar sama bunda atau umi, kalo ngga sama temen Syifa asal jangan sama laki laki."

__ADS_1



"Ngga mau, masa suaminya capek capek kerja istrinya capek buang uang, Syifa jalan jalan sama mas aja nunggu libur ngga papa kok." Syifa duduk di samping Raihan, seperti kata Raihan kemarin, suaminya itu ngga mau jauh darinya walaupun hanya sebatas meja, enak sebelahan katanya.



"Istri siapa sih." Raihan mencubit pelan pipi Syifa.



"Makan mas." Ucap Asyifa mengalihkan Raihan, ia merasa pipinya memanas hanya karena perlakuan kecil suaminya.



Raihan terkekeh lalu memulai makanya, mereka makan dalam diam, mulutnya aja yang diam tapi mereka selalu aktif membuat jomblo meronta ronta, entah Raihan menyuapi istrinya, Raihan yang membuka mulutnya menanti suapan dari sang istri, tangan Raihan juga aktif mengusap ujung bibir dan mencubit pipi istrinya gemas, memainkan bulu mata Asyifa, menoel dagu, Syifa yang terganggu lantas menari tangan itu untuk ia apit di ketiaknya, Raihan terkekeh pelan, ia menarik tangannya lalu ia taruh di pundak kiri Syifa, sesampainya di situ tangan Raihan kembali aktif, memainkan telinga Syifa, menusuk nusuk pipi Syifa, memilin milin rambut Syifa, Syifa yang di perlukan seperti itu menjadi kesal sekaligus senang, ia menggenggam tangan suaminya yang ada di pundaknya, setiap Raihan akan menggerakkan tangan, Syifa mengeratkan genggamnya.



Keisengan Raihan tidak berhenti di situ, ia kembali menggoda Syifa saat istrinya itu memasangkan dasi di lehernya, Raihan melepas ikatan rambut Syifa dan memainkannya, ia juga memainkan kedua pipi istrinya seakan akan itu squishy.



"Zaujati... Zauji kerja dulu ya..." Ucap Raihan akan berangkat ke kantor.



Syifa mengernyit bingung lalu tertawa.


"Kenapa?" Tanya Raihan yang sekarang ganti dirinya yang bingung.



"Mas tadi bilang istriku... suamiku kerja dulu ya... Berarti mas punya suami dong hehehe..." Syifa terkekeh di akhir ucapnya.



"Eh mas mau bilang istriku... suamimu kerja dulu ya... gitu, tapi emang salah ya?" Tanya Raihan.



"Kurang tepat mas, dari kata Zauj artinya suami, kalo Zauji suamiku, kalo suamimu itu Zaujak, eh maaf mas bukannya Syifa mau menggurui." Ucap Asyifa sadar atas ucapannya.



"Ngga papa, kita saling belajar, saling melengkapi jangan sampai berpikiran seperti itu ya..." Raihan mengelus puncak kepala Syifa yang terlalu jilbab, sekarang mereka berada di teras rumah.


Asyifa mengangguk.


"Yaudah Zaujak pergi dulu ya Zaujati..." Raihan mengecup puncak kepala Syifa dengan sayang.



Asyifa mencium tangan suaminya ta'dzim.


"Hati hati Zauji..." Ucap Asyifa malu malu membuat Raihan gemas menarik sang istri ke dalam pelukannya.



"Gemes banget sih, ya udah mas berangkat Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..."





Zauj = Suami


Zauji = Suamiku


Zaujak = Suamimu


Zaujuh = Suaminya



Zaujah = Istri


Zaujati = Istriku


Zaujatak = Istrimu


Zaujatuh = Istrinya


__ADS_1



__ADS_2