
"Tidak ada masalah yang serius hanya saja nona Asyifa terlalu banyak pikirkan, saya permisi."
"Iya dok terimakasih." Azzam sedikit menundukkan badannya.
"Sama sama, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Azzam menatap Raihan tajam, lalu masuk ke ruangan Asyifa, oh iya sejak dipindahkan ke kamar Asyifa melepas cadarnya, awalnya Syifa menolak tapi karena penjelasan umi akhirnya Asyifa mau.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Humaira mikirin apa?" Tanya Azzam lembut.
"Enggak bang."
"Kalo ada hal yang mengganjal ceritakan ke abang, telinga abang selalu siap mendengar curhatan curhatan Humaira." Azzam ikut duduk di ranjang Syifa.
"Makasih bang selalu ada buat Humaira." Syifa bahagia mempunyai abang seperti Azzam.
"Iya sama sama, kaya sama siapa aja sih." Tangan Azzam terulur mengelus puncak kepala Syifa.
"Apa ini? Surat dari si brengsek itu?" Tanya Raihan melihat kertas yang di genggaman Syifa.
"Iya bang."
"Ouhhh jadi kamu mimisan gara gara mikirin dia, udah ngga usah di pikir, Humaira tenang ada abang, besok kalo udah sembuh kamu ikut abang, ngga usah sama dia." Azzam mulai terbawa emosi.
"Ngga bang, Humaira sama mas Raihan aja." Syifa menunduk.
"Kenapa Ra? Dia udah jahat sama kamu... apa surat ini, apa dia ngancem kamu?." Azzam merebut surat itu.
"Ngga bang." Syifa semakin menunduk dalam mengetahui Azzam membaca surah Raihan.
"Bulshit Ra, jangan percaya." Azzam di buat eneg membaca surah itu.
__ADS_1
"Humaira percaya bang." Ucap Asyifa dengan suara yang teramat kecil.
"Ra... Dengerin abang, dia udah jahat sama kamu, perlakuan dia ke kamu udah bener bener kelewat, abang malah senang kalau kalian pisah." Asyifa langsung mendongak menatap abangnya.
"Ngga bang, Humaira ngga mau." Syifa menggeleng.
"Kenapa? Apa yang kamu harepin ke dia Ra? Pisah ya... biar abang yang ngurus semuanya." Bujuk Azzam.
"Perbuatan halal yang di benci Allah adalah perceraian, Humaira ngga mau di benci Allah bang, Wanita yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga, Syifa pengen masuk surga bang, meskipun mas Raihan udah jahat sama Humaira tapi itu semua bisa di perbaiki dan Humaira yakin abang bukan tukang sihir yang memisahkan mas Raihan dengan Humaira." Ucapan Asyifa membuat Azzam bungkam, ia sadar sudah kelewat, ini masalah rumah tangga adiknya ngga sepantasnya Azzam mencampuri urusan mereka.
Shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, "Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga."(HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan)
Perceraian itu hanya diperintahkan oleh setan dan tukang sihir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Mereka belajar dari keduanya sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya." (QS. Al-Baqarah: 102)
Azzam mengambil nafas panjang
"Abang minta maaf, abang terlalu kecewa sama perbuatan suami kamu, abang ngga ikhlas kamu si perlakuan seperti itu, adik abang bener bener sholeha, ngga pendendam, selalu memaafkan, abang tau ini berarti buat kamu tapi abang yakin kalo Humaira bisa melewati ini semua, abang selalu dukung pilihan yang Humaira ambil, ya udah sekarang istirahat ngga usah di fikiran, besok ngomong baik baik sama Raihan ya." Syifa menegang ia tidak yakin besok sanggup bertatap muka dengan suaminya.
"Iya bang, insyaallah." Asyifa mulai merebahkan badannya.
Syifa mulai mengucapkan doa doa sebelum tidur, seperti pesan rasulullah.
Rasulullah SAAW berpesan kepada Siti Fatimah az-Zahra (as), putri tercintanya: "Hai Fatimah, jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:
1.Sebelum mengkhatamkan Al-Qur'an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di Hari Akhir
3. Sebelum para Muslim meridhaimu
4. Sebelum kau laksanakan Haji dan Umrah
Empat perkara itu bisa di ganti dengan:
1. Al ikhlas 3x
__ADS_1
2. Bismillaahir rahmaanir rahiim, Allaahumma shallii 'alaa Muhammad wa aali Muhammad (3x)
3. Astaghfirullaahal 'adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, dzul jalaali wal ikram wa atuubu ilaih (3x)
4. Bismillaahir rahmaanir rahiim, SubhanAllaahi alhamdulillaahi walaa ilaaha illa Allahu wAllaahu akbar (3x)
Sedangkan Azzam keluar menghampiri Raihan.
"Bang..." Ucap Raihan melihat Azzam duduk di sampingnya, sedari tadi ia mendengar semua pembicaraan mereka, Raihan dibuat terkagum kagum dengan Asyifa.
"Abang kasih kamu kesempatan satu kali, jangan sia sia kan kepercayaan yang abang kasih, awas kalo abang tau kamu sakiti Humaira lagi." Ucap Azzam tanpa menatap Raihan, pandangannya lurus.
Mata Raihan berbinar.
"Makasih bang makasih, Raihan janji bakal bahagiain Syifa, Raihan janji." Menggenggam erat tangga Azzam.
"Iya, abang juga minta maaf, sampai hancur mukamu lebam lebam, mending kamu pulang dulu istirahat, obatin lukanya, besok Humaira mau ngomong sama kamu." Azzam melihat Raihan iba, mukanya yang memar memar, bajunya lusuh, rambut acak acakan.
"Bener bang Syifa mau ngomong sama Raihan?." Tanya Raihan ngga percaya.
"Sebenarnya abang ngga yakin tapi abang usahain." Menepuk paha Raihan.
"Sekali lagi makasih bang, Raihan mau pulang dulu mau persiapan, ketemu istri harus ganteng."
"Iya udah sama."
"Raihan pamit, titip Syifa mulai besok Raihan yang jaga." Senyum Raihan tidak luntur.
"Aminnn."
"Ya udah bang Assalamualaikum.." dengan langkah riang Raihan pergi dari rumah sakit.
"Waalaikumsalam." Azzam ikut senang lihat kesungguhan Raihan, semoga rumah tangga adiknya bisa seperti rumah tangga orang tuanya, Harmonis.
Azzam bangkit dari duduknya, kembali masuk ke ruangan Syifa, ia berniat sholat tahajut terlebih dahulu baru melanjutkan tidurnya.
__ADS_1