Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Assalamualaikum...."



"Waalaikumsalam"



"Abi dari mana saja?" Tanya umi.



"Dari depan, gimana nak? Ada yang sakit?" Tanya abi mendekat ke Asyifa.



"Alhamdulillah bi, ngga ada yang sakit." Jawab Asyifa.



"Alhamdulillah... ada yang mau ketemu sama kamu."



"Siapa bi?"



"Umi tolong panggil ya orangnya di luar." Umi langsung beranjak menjalankan perintah suaminya sedangkan abi duduk di sofa mengajak besarnya berbicara.



"Assalamualaikum umi..." Ucap seseorang itu, dari suaranya sepertinya Asyifa kenal.



"Waalaikumsalam... nak Husna ya... udah lama ngga ketemu tambah cantik aja ayo mari masuk." Umi mempersilahkan wanita itu masuk.



"Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..."



Husna menyalami bunda dan menangkup kan tangannya untuk ayah lalu berjalan menghampiri Syifa.



"Bang." Kembali menangkupkan tangannya.



"Ifa..." Dengan riang Husna menghampiri Asyifa dengan tangan yang terbuka lebar.



"Nana..." Syifa pun membalas pelukan Husna.


"Tau dari mana aku disini?"



"Niatnya kesini mau jenguk temen eh pas mau pulang ketemu abi katanya kamu dirawat jadi sekalian mampir sampai ngga bawa apa apa kesini."



"Ouhh..." Syifa manggut manggut



"Ifa gitu ya mentang mentang udah kuliah di Arab Nana di lupain sampai nikah juga ngga di undang." Rajuk Husna.



"Siapa bilang lupa, Nana aja yang di hubungi ngga bisa, udah Ifa spam berkali kali tetep ngga nyaut." Ucap Asyifa.


__ADS_1


"Hehehe HP Nana kecopetan jadi ganti baru deh."



"Nah kan gitu bilangnya Ifa yang lupa." Gantian Asyifa yang merajuk.



"Iya deh maaf, gimana keadaannya Fa?"



"Alhamdulillah baik Na, kamu sendiri gimana, udah ada gandeng belom?"



"Alhamdulillah baik, belom ada yang cocok Fa."



"Kalah ya sama Syifa." Kata umi ikut nimbrung.



"Ifa nya aja tante yang kecepatan buktinya abang sampai di langkahin." Bela Husna



"Tau dari mana abang di langkahin?" Tanya Azzam.



"Ngga ada istri abang di sini eh tapi suaminya Ifa juga ngga ada ya."



"Raihan lagi ada urunan." Ucap umi, Husna hanya ber oh ria.



Husna Salsabila, sahabat Asyifa dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas Husna dan Asyifa juga satu pondok pesantren, jadi mereka sudah dekat dengan keluarga masing masing, mereka berpisah karena Asyifa yang mau nerusin kuliah sedangkan Husna ngabdi di pondok, Husna juga bercadar seperti Asyifa.




"Bang jaga pandangan." Tegur umi.



"Iya umi, maaf."



"Khitbah aja bang langsung kalo yakin." Ucap Asyifa.



"Abang pikir dulu." Ucap Azzam menunduk salah tingkah.



"Siapa yang di khitbah?" Tanya abi menghampiri Asyifa dan Azzam yang duduk di kursi samping ranjang.



"Itu bi abang dari tadi lirik lirik Nana terus." Adu Asyifa.



"Apa sih Ra..." sambar Azzam.



"Sholat istiqoroh bang, kalo mantep bilang ke abi." Menepuk bahu putranya.



"Iya bi."


__ADS_1


"Humaira ini ada titipan dari nak Raihan." Abi menyodorkan kertas yang terlipat.



"Ma_mas Raihan..." Asyifa mulai tidak tenang, pandangan awas menatap pintu.



"Tenang nak, suamimu ngga bakal masuk kalo kamu ngga ngasih izin dia masuk, ini simpan dulu tenangkan dirimu baca kalau kamu udah siap, abi taruh sini." Menyelipkan surat itu di bawah bantal Syifa.



Pandang Syifa masih tetap awas melihat ke sekeliling, bunda beranjak dari duduknya menghampiri menantunya.



"Nak... maafin bunda Syifa, maaf bunda ngga bisa didik anak bunda, maaf bunda ngga menyadari perlakuan kejam anak bunda ke kamu sayang, maafin bunda hiks." Ucap bunda menunduk sambil menggenggam tangan menantunya.



"Bunda ngga salah, Syifa ngga papa kok, Syifa kuat bunda tenang aja."



"Bunda semakin merasa bersalah nak, hiks bunda malu sama kamu, kamu baik banget sama keluarga bunda tap_tapi balesan anak bunda... hiks maafin bunda." Asyifa membawa ibu mertuanya kedalam pelukannya.



"Bunda ngga perlu malu, keluarga bunda keluarga Syifa juga, Syifa ngga perlu balasan bunda, Syifa ngga butuh, yang Syifa butuh kan semangat dari bunda, doa dari bunda bukan permintaan maaf ataupun air mata, bunda jangan sedih ini ngga salah bunda, Allah sayang Syifa makanya Allah nguji Syifa, udah ya bunda Syifa ngga mau lihat bunda nangis." Jelas Syifa sambil mengusap punggung bergetar mertuanya.



"Syifa ayah sama bunda pulang dulu ya besok kesini lagi." Ayah melihat bunda seperti itu tidak tega dan membawanya pulang.



"Iya yah."



Ayah berpamitan dengan semua yang ada di ruangan itu lalu pergi dengan memapah bunda, Raihan yang sedari tadi duduk di kursi tunggu depan ruang Asyifa menghampiri orangtuanya.



"Bunda kenapa yah?" Tanya Raihan yang tidak di gubris.


"Raihan bantu bun." Memegang pundak bunda.



"Jangan sentuh saya!." Ucap bunda tanpa melihat lawan bicaranya dan menepis tangan Raihan.



"Udah biarin orang ngga tau diri ini bun, kita pergi saja." Ucap Ayah.



Raihan mematung mendengar ucapan orangtuanya, tapi ia sadar ia memang tidak tau diri, tak lama kemudian abi dan umi keluar.



"Kami pulang dulu nak."



"Iya bi."



"Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..." menyalimi mertuanya



Raihan bersyukur mendapatkan mertua seperti abi dan umi, ia semakin merasa bersalah, ralat ia semakin salah karena telah menyakiti putri mereka, Raihan berjanji jika ia akan memperbaiki semuanya, ia tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, yang ia pikirkan sekarang bagaimana Asyifa tidak takut lagi kepalanya dan untuk kedepannya biarlah ia pikirkan nanti.


__ADS_1



__ADS_2