
Raihan membuka pintu samping kemudi dengan pelan, sebisa mungkin ia tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan putri tidurnya.
Dengan pelan Raihan mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
"Enghh..." lenguh Syifa.
"Suuutttttt..." Raihan menghentikan pergerakannya.
Asyifa mencari posisi nyaman di gendongan Raihan, ia menyembunyikan mukanya di ketiak suaminya, dengan langkah perlahan Raihan memasuki rumah yang sebelumnya sudah ia buka lebar, mulai dari pintu rumah hingga pintu kamar.
Dengan pelan, penuh kehati hatian ia membaringkan istrinya, Raihan membuka niqob Syifa sebelum kembali ke mobil untuk mengambil barang mereka dan memastikan semua akses masuk telah terkunci.
Raihan duduk di samping Syifa, matanya fokus menatap wajah ayu istrinya, Raihan merasa ia adalah orang yang paling tidak bersyukur atas apa yang di berikan Allah, ia adalah orang yang paling bodoh karena menyia nyiakan perempuan sesholeha ini, perempuan yang selalu ikhlas menerima apapun yang ia lakukan, perempuan yang sabar menghadapi sifatnya yang astagfirullah.
Raihan bergerak menyelimuti Syifa, namun sayangnya pergerakannya membangunkan sang empu.
Asyifa mengerjap, hal pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya yang kini juga menatapnya, tangan Syifa meraba dimana ia tidur, perasaan takut mulai menghampirinya, sedetik kemudian Syifa bangkit.
"Ma_maaf Syifa ngga tau, maaf." Syifa beringsut turun dari ranjang, tubuhnya mulai bergetar bayang bayang masa lalu mulai menghampirinya.
Raihan mengernyit.
"Yang..." panggil Raihan pelan.
"Maaf, Syifa minta maaf, bi_biar Syifa ganti." Asyifa mengambil satu bantal untuk ia lepas satunya, kata maaf tidak berhenti keluar dari bibirnya.
Raihan terpaku, ia ingat!
"Syifa..." Raihan mendekati istrinya.
"Ampun mas, Syifa minta maaf, ma_af, Syifa ganti semuanya." Tubuh Syifa bergetar hebat menahan takut dan tangis.
"Syifa cepat ngga lam_bat, maaf." Asyifa tetap berusaha membuka sarung bantal.
Mungkin senang yang dulu Raihan rasakan tapi sekarang tidak, hatinya hancur melihat Istrinya seperti ini dan semua itu salahnya, dengan cepat Raihan menarik Syifa dalam pelukan dan membawanya tidur.
"Sayang... tenang, Syifa ngga salah, jangan minta maaf, mas yang salah hiks, mas yang salah, Syifa hiks berhak atas kasur ini, mas minta maaf, maaf Syifa... hiks maaf..." Air mata Raihan tumpah tanpa di komando.
"Maaf Syifa minta maaf." Asyifa masih mengucapkan kata itu, tangannya saling bertautan menggenggam erat di antara badannya dan suaminya.
Raihan menangkup wajah Syafiya.
"Ngga sayang... kamu ngga salah, mas yang salah hiks, jangan takut... mas minta maaf..." Ucap Raihan lirih tepat di depan wajah Asyifa.
__ADS_1
Syifa sudah tidak mengucapkan permohonan maaf, Raihan menyatukan dahi keduanya.
"Tenang sayang... mas ngga akan melukai Syifa, mas minta maaf ya..." Syifa mengangguk di tengah tengah sesenggukannya.
"Di buka ya jilbabnya." Syifa kembali mengangguk.
Tangan Raihan bergetar membuat jilbab istrinya, ini kali pertama Raihan akan melihat istrinya itu tanpa jilbab, Syifa sedikit bangkit memudarkan Raihan melepas jilbab itu.
"subhanallah... cantik! Lebih cantik kalo ngga ada air mata ini." Raihan menghapus sisa air mata di pipi Syifa.
"M_mas juga." Tangan Asyifa terulur menghapus air mata Raihan, mereka bertatap beberapa detik.
"Sekarang tidur ya..., udah malem." Raihan mengecup dahi istrinya lama.
"Mas mau ikut cara Syifa dulu." Raihan memposisikan dirinya terlentang lalu tangannya memegang jempol kiri, Raihan memejamkan mata.
"Udah sekarang kita tidur." Raihan menarik Syifa kedalam pelukannya.
Tubuh Asyifa kaku di dalam dekapan sang suami, Raihan terkekeh.
"Santai sayang..." pelukan itu semakin erat, Syifa menyembunyikan wajahnya di ketiak Raihan, mengendus menghirup aroma yang menenangkannya, menggesek gesekan hidungnya.
"Geli yang..." bahu Raihan bergerak.
"Eh, ngga papa geli geli enak, sini lagi sini." Raihan semakin melebarkan ketiaknya, tanpa pikir panjang Syifa langsung mendekat, wajah Raihan tepat di rambu istrinya sedangkan satu kaki Raihan menimpa Syifa.
"Nyaman..." tanpa di sadari Syifa mengangguk.
Menurut Asyifa ketiak suami adalah tempat ternyaman setelah pelukan umi, Syifa menyukai aromanya, tidak ada aroma kecut melainkan aroma mint yang segar dan manis, membuatnya betah berlama lama disana.
Malam ini mereka sama sama tertidur pulas, mereka sama sekali tidak berpindah posisi hingga pagi, mata Raihan yang pertama terbuka, ia melirik ke jam yang menggantung di tembok, pukul 03.07
Benar yang dikatakan istrinya, walaupun ia sedang di tengah tengah mimpi tetapi mimpi itu berhenti seketika seperti ada dorongan yang membuat Raihan membuka mata.
Syifa menggeliat pelan, ia mendongak menatap Raihan.
"Assalamualaikum..." Raihan tersenyum.
"Waalaikumsalam mas." Syifa membalas senyuman itu lalu beranjak duduk.
"Bener yang, mas bisa bangun sendiri." Senyum Raihan semakin lebar.
"Alhamdulillah..."
__ADS_1
"Alhamdulillah... mas mau ke kamar mandi dulu." Raihan bangkit ke kamar mandi.
Seperti niat Raihan dari awal, ia bangun untuk melaksanakan sunah, setelah sholat Raihan menunggu Asyifa keluar dari kamar mandi.
Kreekkk...
"Yang sini sini..." Tangan Raihan melambai.
"Kenapa mas?" Syifa menghampiri suaminya.
"Sini duduk, mas mau baca Al Quran biar Syifa juga dapet rahmat, Syifa mau surah apa?" Tanya Raihan.
Hati Syifa menghangat, pagi pagi sudah di buat melting, dari dulu Syifa yakin kalo suaminya ini sosok yang baik, orang yang bisa memboyongnya menuju surga, buktinya secara tidak langsung sekarang Raihan mengajak Syifa selangkah lebih dekat dengan surga.
Allah berfirman, “Apabila dibacakan Alquran, perhatikanlah dan diamlah, maka kalian akan mendapatkan rahmat.” (QS. al-A’raf: 204).
Allah juga berfirman, "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka melakukan tadabbur terhadap ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (QS. Shad: 29)
Dua ayat diatas membuktikan bahwa memperhatikan Alquran adalah amal besar. Karena diantara tujuan diturunkannya Al Quran adalah untuk direnungi setiap ayatnya. Mereka yang melakukan tadabbur, akan mendapat janji akan dirahmati oleh Allah. Dan yang dimaksud mendengarkan di sini adalah memperhatikan dan mentadabburi Alquran.
Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga suka mendengarkan Alquran yang dibacakan oleh para sahabat. Seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh Ibnu Mas’ud, “Silahkan baca al-Quran!”
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ya Rasulullah, saya membaca Alquran di depan Anda, padahal Alquran diturunkan kepada Anda?!”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku senang mendengarkan Alquran dari bacaan orang lain.”
Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan surat an-Nisa sampai ayat 41, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis di penghujung ayat itu. (HR. Bukhari 4583).
"Syifa pengen suruh Al Waqi'ah mas, surah yang sering dibaca nabi saat sholat subuh." Raihan mengangguk.
"Ini mas dulu yang baca, kalo besok Syifa udah selesai setiap pertengahan tahajud sama subuh kita sambung ayat." Ucap Raihan sambil mencari keberadaan surah yang akan iya baca.
Dari Jabir bin Samurah, ia mengatakan: “Rasulullah melakukan shalat-shalat (wajib) seperti shalat yang kalian lakukan sekarang ini, akan tetapi terkadang beliau meringankannya, shalat beliau lebih ringan daripada shalat kalian. Dan terkadang dalam shalat Fajar (subuh), beliau membaca surah Al-Waqi’ah dan surah-surah yang semisalnya. (HR Ahmad V/104)
__ADS_1