
Assalamualaikum...
maaf baru up, authornya baru selesai PAT
makasih yang nunggu cerita ini up, langsung up 3.
"Ouhhh jadi yang ngerencanain ini bunda." Raihan menatap bunda dengan wajah kesalnya.
"Iya kenapa? Mau apa? Makanya jadi orang jangan kejam, ngga punya hati, kayak gini aja baru panggil sayang sayang kemenantu bunda dulu kemana?, yang bunda lakuin ini ngga seberapa sama yang kamu lakuin ke Syifa, sumpah bunda bener bener kesel sama kamu Raihan, bunda ngga habis pikir sama kelakuan kamu, untung mertua kamu berhati malaikat kalo bunda yang ada di posisi umi udah ndekem kemu di penjara." Bunda kembali memarahi anak semata wayangnya itu.
"Maaf bun..." Raihan hanya bisa berkata maaf karena dia tidak punya alasan untuk membela dirinya yang memang bersalah.
Kalo Raihan berani bilang yang dilakukan ini cuma bercanda udah ditebas dia dari kemarin.
"Udah jeng..." umi mengelus bahu besannya.
"Tuh lihat kamu bahkan dibela umi, isss tambah kesel bunda." Bunda menatap Raihan nyalang.
"Jangan ada dendam di antara kita 'Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat' HR Muslim. kita mulai dari awal, saya beserta keluarga sudah memaafkan nak Raihan, semoga saja nak Raihan bisa menepati janjinya." Ucap abi.
"Raihan janji, Raihan bakal menerima semua konsekuensinya kalau Raihan melanggar." Raihan benar benar yakin dengan janjinya.
"Saya atas nama keluarga meminta maaf sebesar besarnya kepada keluarga pak Abdul dan khususnya kepada nak Syifa atas kelakuan Raihan." Ucap Ayah entah untuk yang ke berapa ia meminta maaf.
"Saya sudah bilang, kami sekeluarga sudah memaafkannya, kita kembali seperti semula, yang lalu biarlah berlalu kita ambil hikmahnya saja, tidak ada manusia yang sempurna begitu pula dengan saya, Humaira juga pasti memaafkan nak Raihan, Iya kan?" Semua orang menatap Syifa membuatnya menunduk malu.
"I_iya Syifa udah maafin mas Raihan kok." Ucap Asyifa masih mempertahankan posisinya.
"Makasih Syifa, jadi tambah sayang..." Raihan merangkul istrinya.
Cup
Satu kecupan di berikan Raihan di puncak kepala Syifa, membuat sang empunya menyembunyikan muka di dada bidang Raihan.
"Makasih abi, umi, ayah, bunda, bang Azzam." Raihan tersenyum lebar.
Tok tok tok
Pintu ruangan Asyifa di ketuk dari luar, Ayah yang paling dekat dengan pintu pun membukanya.
Sedangkan Raihan membenarkan posisi jilbab dan niqob istrinya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Nak Wildan, duduk nak." Ayah mempersilahkan Wildan duduk.
"Terimakasih pak." Wildan duduk.
"Bagaimana keadaan bu Asyifa?" Tanyanya.
"Alhamdulillah sudah membaik." Raihan yang menjawab.
__ADS_1
"Alhamdulillah... saya minta maaf bu karena telah melihat apa yang seharusnya tidak saya lihat." Wildan meminta maaf karena telah melihat wajah Asyifa.
"Tidak papa mas, keadaannya darurat." Ucap Asyifa memahami keadaan kemaren.
Wildan mengangguk.
"Maaf saya tidak bisa lama lama karena anak dan istri saya menunggu di mobil, ini titipan pak Indra." Memberikan amplop coklat.
"Kenapa tidak di ajak masuk?" Tanya umi.
"Anak saya rewel bu takutnya mengganggu, ya sudah saya permisi." pamit Wildan.
"Titip salam buat istrinya."
"Akan saya sampaikan, Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Ayah membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
"Ayah punya tiket umroh buat 8 orang, niatnya pengen ngajak keluarga pak Abdul umroh bersama, waktunya bulan depan." Menaruh tiket itu diatas meja.
"Alhamdulillah..." Ucap mereka bersama.
"Tiketnya masih satu jadi nak Azzam harus cepat cepat nyari gandengan halal nih." Goda ayah ke Azzam.
"Doakan ya om dalam waktu dekat ini saya mau khitbah seseorang." Ucap Azzam malu malu.
"Wahhhh siapa?" Tanya bunda.
"Ada Humaira tan nanti saja." Ucap Azzam menggoda adiknya.
"Surprise oke." Azzam menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.
"Azzam pamit dulu mau ada meeting."
"Abi sama umi juga mau pulang ya nak."
"Iya bi biar Raihan yang jaga Syifa, Ayah sama bunda juga pulang aja istirahat."
"Ngga nanti menantu bunda kamu apa apain lagi." Tolak bunda.
"Percaya sama Raihan bun." Ucap Raihan meyakinkan.
"Iya bun kita pulang saja biarkan mereka berdua." Ucap Ayah.
"Ya udah." Bunda pasrah jika ayah sudah berbicara.
"Udah bawa baju?"
"Udah bun lengkap, alat mandi juga ada, makanan juga ada di mobil." Ucap Raihan semangat, ia senang persiapannya tidak sia sia.
"Ya udah kita pamit ya nak."
"Assalamualaikum..." Abi, umi, ayah dan bunda pergi meninggalkan rumah sakit.
"Waalaikumsalam..."
"Misi ya..." Azzam naik ke atas kursi mengambil kamera yang berada di atas AC.
__ADS_1
"Lah berarti kalian lihat dong yang kita lakuin." Ucap Raihan.
"Bukan hanya lihat tapi denger." Azzam mengambil Hpnya di nakas samping ranjang Syifa.
"Ya udah abang pergi dulu, Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Yahhh malu dong yang, tapi ngga papa biar mereka tau sebarapa tulusnya mas." Raihan tersenyum yang langsung di balas oleh Syifa.
"Mas mau sholat dulu ya."
"Iya mas."
"Di buka aja biar ngga engap." Raihan membuka niqob istrinya.
"Nah cantiknya kelihatan padahal kamu ngga pakek pensil alis tapi alisnya udah tebel bulu matanya juga lentik, hidung mancung yang mungil, bibirnya juga pink padahal ngga pakek lipstick atau semacamnya, is tambah nyesel mas baru menikmatinya sekarang." Jari jari Raihan meraba wajah istrinya.
"Udah mas malu." Syifa tertunduk dalam.
"Hahaha ya udah mas ke sholat ya kamu hormat waktu aja."
"Iya mas." Raihan mengelus pipi Syifa lalu pergi ke kamar mandi.
Syifa terus saja menatap suaminya, dari keluarga kamar mandi sampai sekarang suaminya sedang sholat dzuhur, Syifa sudah melakukan hormat waktunya saat Raihan sedang mandi.
Asyifa fokus melihat Raihan yang sedang sholat, ia membayangkan menggelar sajadah di belakang sajadah suaminya, mengikuti setiap gerakannya, mengamini setiap doanya, sangat membahagiakan, Syifa tidak sabar untuk itu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... eh." Syifa kembali dari lamunannya.
"Mikirin apa sih kok lihat mas sampai ngga kedip." Raihan duduk di ranjang.
"Ngga papa mas." Jawab Syifa dengan cengirannya.
"Mas boleh tidur sini?" Tanya Raihan membuat Asyifa bingung.
"Ha?"
"Mas boleh tidur di ranjang ini sama Syifa?" Tanya Raihan lebih jelas.
Dengan wajah memerah Syifa mengangguk, Raihan memposisikan dirinya lalu menarik Syifa tidur di pelukannya.
"Nyaman... andai saja dari dulu kaya gini, maafin mas ya, mas nyesel pakek banget." Raihan merasa nyaman meskipun tubuh Syifa kaku di pelukannya.
"Syifa ngga suka kalo mas selalu minta maaf, kan Syifa udah maafin mas." Ucap Asyifa pelan terkesan lirih.
"Iya iya... sekarang istirahat, tenang rileks ngga usah tegang gini hahaha." Raihan mengelus punggung istrinya, ia pikir akan membuat Syifa rileks.
"Syifa ngga biasa kaya gini." Cicit Syifa semakin menyembunyikan mukanya di ketiak Raihan untung Raihan udah wangi.
"Nanti lama lama terbiasa kok." Raihan menahan geli akibat gesekan hidung Syifa di ketiaknya, sekuat tenaga ia menahan karena tidak ingin merusak momen romantis ini.
__ADS_1