Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Mas Raihan..." Raihan yakin seratus persen bahwa yang di hadapannya adalah istrinya.



"Jangan pergi dari mas Syifa... mas ngga bisa tanpa Syifa..." Raihan langsung memeluk istrinya, Syifa yang ada di pelukan Raihan menegang masih ada rasa takut di hatinya.



"Maaf ma_mas." Ucap Asyifa, Raihan yang mengetahui istrinya sedang ketakutan pun mempererat pelukannya.



"Jangan takut, tenang ya... mas ngga bakal nyakitin Syifa lagi, karena mas sayang sama Syifa, Humairanya mas." Ucap Raihan tulus, di akhiri kecupan di puncak kepala Syifa, tangannya mengelus punggung bergetar istrinya.



Tangis Asyifa pecah, Raihan bingung, apa yang ia harus lakukan? Apakah istrinya masih takut dengannya?



"Sayang... Jangan nangis, mas ngga mau lihat kamu nangis, udah cukup selama ini kamu nangis karena mas, mas minta maaf ya... Jangan takut, percaya sama mas." Sedetik kemudian Raihan merasakan Asyifa membalas pelukannya.



Kalian tau seberapa bagaimana Raihan? Ia sangat sangat sangat sangat sangat sangat bahagia, hatinya lega.



"Tenang ya... Humaira Jangan nangis, sampai basah baju mas." Mendengar ucapan Raihan, Asyifa langsung melepaskan pelukannya dan mengelap hem Raihan yang basah akibat air matanya dengan ujung jilbabnya.



"Ma_maaf mas maaf, Syifa ngga sengaja, maaf." Tangis Syifa berhenti ampak sekali wajah ketakutannya, ia terus mengelap hem suaminya, Raihan tak menyangka respon Syifa akan begini.



"Bukan gitu maksud mas sayang, mas ngga masalah kalo baju mas basah semua yang penting Syifa ngga nangis lagi, mas ngga mau kamu nangis, jangan takut oke." Raihan menggenggam tangan Syifa dan menatapnya dalam.



Raihan kembali bingung karena Syifa kembali nangis sambil menunduk.



"Kenapa? Mas ngga papa kok, mas ngga marah, jangan takut..." Raihan kembali mendekap istrinya.



"Syi_Syifa bahagia mas hiks." Ucap Asyifa ditengah tengah tangisnya.



"Alhamdulillah... Tenang dulu terus kita bicara." Raihan mengelus punggung istrinya, Raihan tersenyum ucapan sesederhana ini bisa membuat istrinya bahagia, itu membuktikan bahwa Asyifa orangnya sederhana dan ngga neko neko, tak lama ia melepaskan pelukannya karena ia rasa istrinya sudah sedikit tenang.


"Nih minum dulu." Menyodorkan gelas yang tentunya berisi air.



"Makasih mas." Mengembangkan gelas yang telah ia minum hingga tandas.



"Sebelumnya mas minta maaf ya, mas emang salah, kesalahan mas sangat sangat besar sama Syifa, mas minta maaf, mas janji ngga bakal ngulangi lagi, mas udah sadar kalo mas sayang sama Syifa mas ngga bisa hidup tanpa Syifa, mas bener bener minta maaf, ngga se harusnya mas limpahin kekecewaan mas atas perjodohan ini sama kamu, mas tarik lagi ucapan mas, mas sama sekali ngga kecewa mas sekarang malah sangat sangat bahagia dan bersyukur bisa bersama Syifa, bidadari dunia dan insyaallah bidadari Surga mas, mas berterimakasih atas semua pengorbanan kamu, atas semua ketulusan kamu, semua yang telah kamu berikan kepada mas, mas juga berterimakasih sama kamu, karena kamu mau bertahan dengan suami yang tak tanggung jawab seperti mas, mas berterimakasih Humaira." Mata Raihan lurus menatap manik coklat Syifa, ia berusaha meyakinkan istrinya atas semua ucapannya, Raihan mengakhiri ucapannya dan mengecup tangan Syifa yang di genggamnya.



Air mata Asyifa kembali lolos, ia juga sangat sangat sangat bahagia, ia telah menang, perjuangannya selama ini tidak sia sia.



"Jangan nangis..." tangan Raihan terulur menghapus air mata Syifa.



"Alhamdulillah ya Allah... Terimakasih... Terimakasih ya Allah... Syifa bahagia mas." Ucap Asyifa, senyumnya terbit dan tangannya menghapus sisa air matanya.



Raihan membalas senyum Asyifa membuat Asyifa kembali nangis, ia sangat bahagia melihat senyum suaminya.



"Kenapa nangis lagi sayang...? Ada yang sakit?" Tanya Raihan khawatir.



Syifa menggeleng.


"Syifa seneng lihat senyum mas." Ucap Asyifa sambil menunduk menyembunyikan mukanya, ia malu.



"Uluh uluh... gemesnya... mulai sekarang senyum mas buat kamu ya." Raihan mengelus puncak kepala Syifa.



"Makasih mas." Ucap Asyifa.



"Ngapain terimakasih? Ini Kan hak kamu sayang... semua yang ada di diri mas itu punya kamu, begitu sebaliknya." Ucap Raihan membuat Asyifa semakin malu.


"Jangan nunduk dong." Raihan mengangkat dagu istrinya.



"Malu mas." Cicit Syifa membuat Raihan terkekeh.


__ADS_1


Cup



Raihan mengecup dahi Asyifa, Syifa bahagia.... sekali matanya kembali berkaca kaca, silahkan bilang Syifa lebay, Syifa tidak perduli karena baginya ini adalah kebahagiaan yang teramat besar, momen momen yang amat ia nantikan kini telah ia lakukan, rasanya seperti ia habis memenangkan sebuah peperangan besar, ia yakin setelah apa yang ia alami pasti Allah menyiapkan kebahagiaan kebahagiaan kepada dirinya.



Seperti dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,



فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا



“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)



Ayat ini pun diulang setelah itu,



إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا



“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)



Allah Ta’ala juga berfirman,



سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا



“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)



Jangan sampai kalian meragukannya, Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya."



Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,



وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ



“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).” Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.




"Jangan nangis sayang..." Syifa menggeleng dan tersenyum.


"Kita mulai dari awal ya..." Ucap Raihan penuh harap.



"Iya mas." Syifa mengangguk mantap.



Raihan semakin tersenyum lebar dan memeluk Syifa.


"Makasih Humaira..."



"Sama sama mas." Syifa membalas pelukan Raihan.



"Mas tadi pagi udah dandan rapi rapi loh udah ganteng banget eh tapi malah kaumnya ngga ada, mas juga beli bunga lo... bentar mas ambilin dulu." Raihan berlalu keluar kamar mengambil bunga yang ia tinggalkan di kursi depan, untung tidak ada yang ngambil atau buang bunga itu.



"Nih buat bidadari mas." Menyerahkan ke Syifa.



"Makasih mas bunganya cantik." Syifa tersenyum cerah.



"Cantikan wanita mas, eh gadis mas maksudnya." Syifa terdiam, ia tak mau berharap terlebih dahulu, sakit kalau nyatanya hanya dia yang terlalu berharap.


"Eh kok gadis mas sedih." Ucap Raihan membuat Asyifa sedikit berharap.



"Gadis mas?" Tanya Asyifa.



"Iya, Syifa gadis mas, mulai sekarang Syifa gadis mas titik ngga ada bantahan." Senyum Syifa kembali terbit.


"Eh iya, kemarin mas nyesel biarin Wildan lihat wajah cantik Syifa, mas panik kamu pingsan dan mimisan jadi mas langsung suruh Wildan bawa kamu, mas ngga ikut karena mas kecewa waktu itu mas pikir bang Azzam laki laki lain mas takut kalo kamu berpaling, tapi sekarang mas yakin kamu ngga bakal berpaling dari mas, maafin mas ya... dan mulai sekarang mas ngga akan biarin orang yang bukan mahrammu melihat wajah cantik istri mas, enak saja mas aja baru menikmatinya." Ucap Raihan panjang lebar.


__ADS_1


"Iya mas..." Syifa hanya bisa bilang itu, ia tak tau harus merespon apa ia juga sedikit malu dengan ucap suaminya.



Setelah obrolan panjang mereka Raihan menyuapi Asyifa, ini sudah masuk jam makan siang waktunya Syifa minum obat, Asyifa menerima dengan senang hati setiap suapan Raihan, seperti ada manis manisnya, ada asin asinnya, ada guruh guruhnya bukan seperti sarapan tadi, rasanya hambar.



"Oke selesai sekarang minum obat." Raihan memberi Syifa satu kapsul dan air putih.



"Mas_" ucapan Asyifa terpotong.



"Minum ya... biar cepet sembuh, kamu pasti pengen cepet pulang kan." Ucap Raihan, ia mengira kalau Asyifa tidak mau minum obat.



"Bukan mas tap_" ucapan Asyifa kembali terhenti.



"Ngga pait kok beneran." Syifa menghela nafas, ia meminum air lalu memasukkan obat ke mulutnya.


"Nah... ngga pait kan." Ucap Raihan tersenyum.



Disisi lain Asyifa mati matian melunakkan kapsul yang ada di mulutnya, pait pasti pait tapi ia takut Raihan marah jika ia memuntahkannya, masih ada rasa takut di hati Syifa, bagaimana jika suaminya kembali seperti dulu kalau ia berbuat kesalahan.



"RAIHAN.... SYIFA NGGA BISA MINUM OBAT...." teriak bunda memasuki kamar dengan yang lain.



"Apa?" Raihan kaget.


"Muntahkan Syifa." Raihan mendongakkan dagu istrinya dan memaksa Syifa membuka mulutnya.



"Udah habis mas." Ucap Asyifa, Raihan masih bisa melihat bubuk bubuk obat yang menempel di dalam mulut istrinya.



"Minum yang." Raihan menyodorkan gelas.


"Pasti pahit itu, maaf ya... biar ngga pait pakek apa ya..." Raihan panik melihat sekeliling, pandangannya menangkap pisang yang ada di meja.


"Nih nih makan pisan biar ngga pait, aduhhhhh gimana sih... maafin mas ya mas ngga tau, pasti pahit." Raihan menyuapi Asyifa pisang.


"Lihat" Raihan kembali mendongakkan dagu Syifa melihat isi mulutnya.


"Masih pahit?" Asyifa menggeleng.


"Maaf ya padahal tadi Syifa mau bilang kan tapi mas potong terus." Raihan benar benar merasa bersalah.



"Ngga papa mas kan mas ngga tau." Ucap Asyifa dengan senyum manisnya.



"Mas bener bener minta maaf, pasti pahit banget itu... untung ada bunda, udah ngga pahit kan?" Tanya Raihan untuk kesekian kalinya.



"Cerewet sekali kamu Raihan." Ucap bunda.



"Namanya juga panik bunda..."















*



Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho: 


https://rumaysho.com/639-yakinlah-di-balik-kesulitan-ada-kemudahan-yang-begitu-dekat.html

__ADS_1




__ADS_2