
Mobil Daihatsu Sirion melaju dengan gagah diatas aspal, udara segar di pagi hati masuk melalui jendela mobil yang dibiarkan terbuka, suara murottal mengalun merdu membuat adem hati bagi siapapun yang mendengarnya.
"Tenang yang." Ucap Raihan mengetahui kegelisahan istrinya.
"Abang kalau udah marah susah mas." Lirih Syifa.
"Insyaallah abang ngerti kok, tenang percaya sama mas." Raihan menggenggam tangan Syifa erat.
Sekarang mereka sedang di perjalanan menuju rumah mertua Raihan tepatnya orangtua Syifa, niatnya mereka akan sarapan bersama disana sambil meminta maaf karena kemarin tidak bisa datang ke resepsi Azzam.
"Syifa pengen nangis mas." Syifa menoleh dengan mata berkaca kaca, ia tau betul bagaimana abangnya, Azzam tipe orang yang sangat jarang marah tapi sekali marah bisa beberapa minggu, marahnya bukan yang marah marah terus maki maki bukan tapi marahnya lebih ke tidak memperdulikan keberadaannya, ngomong sekenanya saja walaupun mereka sudah maafan satu atau dua hari setelah kejadian, ketidak perdulian Azzam masih berlanjut, cukup dua kali saja Syifa mengalami itu.
"Jangan dong kan ada mas, Syifa nggak percaya sama mas?"
"Percaya..." wanita itu dengan lesu menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya.
"Tenang biar mas yang ngomong nanti, siap siap bentar lagi sampai." Mobil yang ditumpangi mereka sudah memasuki perumahan.
"Kok cepet mas."
"Syifa aja yang kebanyakan bengong." Raihan memarkirkan mobilnya di samping mobil Azzam.
"Tenang oke."
"Bismillah..." Syifa mengangguk.
Pasutri itu berjalan beriringan menuju pintu masuk yang terbuka lebar.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Humaira." Abi berjalan cepat menghampiri putrinya.
"Kamu nggak papa nak?" Ucap abi khawatir.
__ADS_1
"Alhamdulillah bi Humaira nggak papa, buktinya sekarang ada didepan abi." Syifa mencium punggung tangan abinya diikuti oleh Raihan.
"Ayok masuk, semuanya udah ada di meja makan, ayo nak Raihan." Abi mempersilahkan masuk.
"Iya bi." Raihan mengangguk dan mempersilahkan agar abi terlebih dahulu.
Mereka bertiga masuk langsung menuju ke meja makan, Syifa melirik suaminya yang saat itu juga tengah menatapnya, Raihan mengangguk sebagai isyarat jika semua akan baik baik saja.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Humaira, nak Raihan." Umi menghampiri mereka, Azzam hanya menatapnya datar sedangkan Husna hanya diam karena ia bingung harus berbuat apa, sebenarnya ia ingin menyapa sahabatnya itu tetapi melihat keadaan suaminya membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kalian kemana aja sih sampai nggak dateng tadi malam?" Syifa mencium punggung tangan umi dan langsung memeluknya.
"Maaf umi Humaira sama mas Raihan nggak bisa datang." Ucap Syifa di pelukan sang umi.
"Nikahan siapa sih nggak penting juga." Sindir Azzam, dengan cepat Husna mengelus bahu suaminya agar tak terbawa emosi, semalaman suaminya itu uring uringan karena adik semata wayangnya tak datang tanpa alasan.
"Kita sarapan dulu habis itu kalian berdua ceritakan yang sebenarnya." Abi duduk diikuti dengan umi.
"Kami siapin ini dulu." Raihan dan Asyifa berjalan menuju dapur.
"Mas." Lirih hampir tak terdengar.
"Suttttt... Nggak papa, nanti kita ceritain yang sebenarnya pasti abang ngerti." Raihan memeluk istrinya sebentar lalu mengambil piring untuk menaruh lauk yang tadi sempat mereka beli.
Raihan membawa nampan menuju ruang makan diikuti Syifa dibelakangnya, para istri melayani suami masing masing setelah itu mereka menyantap hidangan dalam diam, Azzam sama sekali tidak melirik Humaira ataupun Raihan, ia hanya fokus kepada makanannya.
Setelah makan Raihan habis ia merogoh kantong jasnya, sebuah vitamin ia keluarkan dari dalam kantong itu, dengan telaten Raihan menggerus vitamin itu dengan sendok makan.
"Obat apa nak?" Tanya umi.
__ADS_1
"Vitamin Syifa umi." Raihan melarutkan vitamin itu dengan air lalu menyodorkannya didepan mulut Asyifa.
"Aaaa..." Syifa membuka mulutnya.
"Sekarang ceritakan yang sebenarnya nak Raihan." Titah abi.
"Sebelumnya Raihan minta maaf kemarin nggak bisa datang di resepsinya bang Azzam karena memang keadaannya yang tidak memungkinkan, Raihan juga minta maaf kalau menyembunyikan ini dari umi sama bang Azzam, sebenarnya alasan waktu Raihan izin pulang dulu itu karena Syifa mimisan, Raihan panik karena mimisannya nggak berhenti berhenti akhirnya Raihan langsung bawa Syifa ke rumah sakit takut terjadi hal yang sama sekali tidak kita inginkan, setelah diperiksa Alhamdulillah tidak ada hal yang serius, Syifa hanya kelelahan butuh istirahat, setelah infusnya habis kita langsung pulang, niatnya tadi malam mau datang tapi Syifa demam tinggi, jadi kita nggak jadi datang, sekali lagi Raihan sama Syifa minta maaf bang." Jelas Rangga.
"innalillahi wainnailaihi rojiun, kamu nggak papa nak? Sekarang apa yang dirasain?" Tanya umi khawatir.
"Humaira nggak papa umi."
Azzam bangkit dari duduknya berjalan menuju sang adik tercinta.
"Kenapa nggak bilang ke abang kalau sakit sih Ra..." Azzam memeluk Syifa.
"Sekarang jadi abang yang merasa bersalah, bisa bisanya abang adain pesta disaat adik abang sakit."
"Nggak papa bang, nggak ada yang tau kalau Humaira bakal sakit kemarin jadi abang sama sekali nggak salah, lagian Humaira nggak papa kan udah ada perawat pribadi hehehe..." canda Syifa diakhir kalimatnya.
"Maaf ya Han udah sempet nuduh yang nggak nggak." Azzam menepuk bahu Raihan.
"Iya bang nggak papa, Raihan juga minta maaf."
"Gimana Ra perawat pribadi? Perlu tuker tambah?" Tanya Azzam menggoda Raihan.
"Nggak!." Ucap Raihan spontan membuat semua orang di meja makan tertawa.
"Udah jadi bucinnya Humaira nih."
"Bentar lagi juga abang jadi bucinnya teh Husna." Ucap Raihan tak mau kalah.
"Nggak masalah kan istri abang." Jawab Azzam santai tanpa sadar membuat pipi Husna merona.
__ADS_1
"Kakak ipar malu malu tuh bang." Syifa menggoda sahabatnya yang sekarang menjadi kakak iparnya.
"Dia mah malu malu terus Ra, di ajak ngomong abang cuma ngangguk ngangguk, geleng geleng, tapi abang suka, gemes gitu jadinya." Husna semakin menunduk malu mendengar ucapan suaminya, ia kan belum terbiasa dengan lawan jenis jadinya masih canggung.