Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Syifa ganti baju ini ya." Raihan menyodorkan paper bag yang tadi di bawakan pak Dedi.


"Di rumah aja ya mas." Tolak Syifa, pasalnya sekarang mereka sedang di bandara.


Alhamdulillah, atas ridho Allah Raihan, Asyifa, keluarga besar dan juga bi Rumi dapat berkunjung ke Baitullah, menjadi tamu Allah SWT dengan menjalankan ibadah umrah bukan dengan cara meninggal walaupun sama sama menggunakan pakaian putih tanpa jahitan kecuali untuk muslimah.


Menjadi tamu Allah SWT dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, menjalankan ibadah haji atau umrah dan mengunjungi rumah Allah SWT, Baitullah, Ka’bah Al-Musyarafah. Kedua, dengan cara meninggal. 


Raihan juga menepati ucapannya untuk mengajak istrinya jalan jalan 5 hari di Arab, waktu yang lumayan singkat itu di gunakan Raihan dan Asyifa dengan sebaik baiknya, mereka menginap di salah satu hotel yang berada di Jeddah Waterfront.


Area yang dapat menampung 120.000 orang dan memiliki tempat parkir untuk 3.000 mobil juga dilengkapi dengan banyak fasilitas termasuk 100 kamar mandi, restoran, outlet ritel, hotel, akuarium, pusat budaya, air mancur menari, taman mekar, air mancur, kios, pengisian daya telepon stasiun, taman bermain anak-anak, 3 pantai yang terdapat pulau pulau buatan berbentuk bulan sabit dan fasilitas untuk para penyandang cacat, karena melihat lengkapnya fasilitas itu Raihan memilih menginap di kawasan Jeddah Waterfront.


Syifa menyempatkan berkunjung ke universitas dan bertemu teman teman semasa kuliah S2, mereka juga mengunjungi King Abdullah Sports City, juga dijuluki The Shining Jewel, dalam bahasa Arab atau The Jewel, adalah stadion multi guna dan kota olahraga yang terletak 30 kilometer utara Jeddah, Arab Saudi.


"Sekarang aja ayo mas anter ke toilet, saya tinggal dulu pak." Raihan mendorong kedua bahu Syifa pelan setelah berpamitan dengan pak Dedi.


Syifa yang digiring Raihan hanya pasrah mengikuti.


"Nih mas tunggu di sini." Raihan kembali menyodorkan paper bag setelah mengambil sepasang celana dan baju.


"Titip tas ya mas." Syifa menukar paper bag dengan tasnya.


Syifa menatap gaun yang ada di dalam paper bag dengan bingung, gaun? Kenapa gaun? Kenapa mas Raihan suruh Syifa pakai ini? Ada acara apa? Aisss... Syifa jadi pusing, badannya juga lelah setelah perjalanan jauh.


Syifa keluar menghampiri Raihan yang tengah berdiri menyender di tembok memainkan Hp, di lengannya terdapat baju yang ia kenakan tadi sebelum menggantinya tak lupa tas Syifa yang menggantung di lehernya.


"Maaf ya mas Syifa titipin tas, Syifa pikir mas ngga ganti." Syifa merasa tidak enak karena merepotkan suaminya.


Raihan menengok.


"Cantik, pas di Syifa, nih..." Raihan menyerahkan bajunya.


"Syifa minta maaf ya mas." Ucap Asyifa sambil melipat baju Raihan.


"Ngga usah minta maaf mas ngga papa kok, tas segini mah sama sekali ngga merepotkan, udah yuk." Raihan mengambil tangan Syifa untuk ia gandeng.


"Mas tas Syifa."


"Eh iya, nih tukeran." Raihan menukar paper bag dengan tas.


Sepasang suami istri itu pergi menuju tempat supir mereka menunggu, setelah itu mereka langsung pergi ketempat tujuan mereka yang pasti bukan rumah Raihan dan Asyifa.


"Mau kemana sih mas?" Syifa benar benar penasaran.


"Dengerin mas ya... Jangan dipotong." Raihan memposisikan dirinya menghadap Syifa.


Syifa mengangguk.


"Kita pergi ke rumah teh Husna _"


"O_." Ucapnya Syifa terhenti.


"Jangan potong yang..." Syifa menyengir dibalik niqob.


"Afwan mas hehehe..." kan Raihan jadi ngga bisa serius karena tingkah Syifa.

__ADS_1


"Teh Husna mau nikah sama abang." Mata Syifa membulat.


"Jangan potong lagi..."


"Ngga bisa mas Syifa terlanjur penasaran, kok bisa? Bukan bang Azzam kan?." Tanya Syifa, sekarang posisi Syifa sudah menghadap Raihan.


"Bang Azzam."


"Kok bisa? Kok ngga bilang Syifa dulu...? kok mas ngga bilang Syifa? Cerita dong masss..." Tanya Syifa bertubi tubi.


"Mas ceritain tapi jangan dipotong, kalo Syifa potong mas ngga mau cerita." Syifa mengangguk cepat.


"Harusnya hari ini Husna nikah sama bang Rizky yang juga kakak kelas bang Azzam, tapi takdir berkehendak lain, bang Rizky dua hari yang lalu di panggil sama Allah, karena kecelakaan beruntut, _"


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..." Raihan menatap Syifa datar.


"Eh cuma Istirja mas... lanjut ya..." Syifa menatap memohon kepada Raihan.


Raihan tersenyum tipis.


"Terus bang Azzam tau dan bilang ke abi kalau siap menggantikan posisi bang Rizky sebagai calon suaminya teh Husna, setelah abi bilang ke ayahnya teh Husna dan keluarga Alhamdulillah di terima, abang, abi, umi langsung ngurus surat surat sama yang lainnya. Mas baru di kasih tau semalem pas Syifa udah tidur, mas ngga tega baguninya, seharian tadi mas ngga dapet momen yang pas buat bicara masalah ini jadi baru bilang sekarang, maaf ya..." Raihan menggenggam tangan Syifa.


"Syifa ngga mimpi kan mas?" Tanya Syifa.


"Ini nyata istriku..." Ucap Raihan dengan senyum tipisnya.


"Mas jangan gombal dulu, Syifa masih shock ini." Syifa menyandarkan punggungnya.


"Aisss..." Raihan menjawil pipi Syifa.


Tok tok tok


Kaca pintu sebelum Syifa di ketuk, Syifa menengok lalu langsung membukanya.


"Bang... abang beneran mau nikah?" Tanya Syifa.


"Iya, doain ya..."


"Sama Husna? Eh teh Husna? Sahabat Humaira?" Tanya Syifa lagi.


"Iya." Jawab Azzam disertai anggukan.


Syifa berhambur ke pelukan Azzam.


"Selamat ya bang... Humaira ikut seneng, emang kalo jodoh ngga kemana ya bang." Mata Asyifa berkaca kaca.


"Heemmm..." Azzam hanya membalas dengan deheman, lidahnya mulai kelu.


"Jadi imam yang baik ya bang buat sahabat Humaira, semoga lancar menjadi keluarga yang samawa, Humaira selalu dukung abang." Suara Syifa bergetar, cairan bening mulai keluar dari pelupuk matanya.


"Insyaallah... Aminn ya Ra, makasih banyak." Syifa mengangguk di pelukan sang abang.


"Udah ayo masuk." Ucap abi.


Syifa melepaskan pelukanya.

__ADS_1


"Bismillah, semangat." Syifa mengapalkan tangannya.


"Semangat." Balas Azzam melakukan yang sama.


Serangkaian acara pernikahan Azzam sudah di mulai, sepanjang acara Azzam selalu melafalkan kalimat kalimat Dzikir, meminta kelancaran acara yang insyaallah sekali seumur hidup Azzam dan juga Husna, hingga akhirnya sang istri keluar dari persembunyiannya, mempelai wanita tampak anggun dengan kebaya putih yang dipadukan dengan jilbab lebar dan juga niqob.


Di sisi lain Syifa tidak berhenti memutihkan air mata, ia terharu dengan pemandangan di depannya, abangnya yang sering gangguin Syifa akhirnya nikah juga.


"Udah yang, udah ya... minum dulu." Raihan menyodorkan minuman gelas.


"Makasih mas."


"Kalo udah tenang kita ke sana." Ucap Raihan yang selalu di samping Syifa.


Syifa menarik dan menghembuskan nafas panjang, ia berusaha menenangkan diri.


"Syifa udah ngga papa mas, yuk kesana, Syifa udah ngga sabar ketemu kakak ipar." Syifa bangkit dari duduknya, Raihan ikut bangkit lalu merangkul pinggang istrinya posesif.


Siapapun yang melihat pengantin baru ini pasti gemas, keduanya sama sama malu malu, bahkan sempat ada acara tarik ulur saat mempelai wanita akan mencium tangan mempelai pria, karena itu adalah sentuhan pertama mereka.


"Teh Husnaaaa..." Syifa melambaikan tangannya.


"Ifa."


"Uluh uluh jadi kakak ipar Syifa niee..." Syifa menggoda Husna, yang di goda hanya menunduk malu.


"Gemes taungga sih teh."


"Apa sih Fa... panggilnya biasa aja."


"Sebagai adik ipar yang baik harus sopan sama kakak ipar."


"Panggil Husna aja ngga papa iya kan bang." Husna menengok ke Azzam yang baru berbicara dengan Raihan dengan ragu.


"Humaira panggil teh Husna aja dek biar lebih sopan kan sekarang Husna istri abang." Ucap Azzam.


"Aisss manisnya... abang adek mas manggilnya hehehe." Syifa terkekeh pelan.


"Udah ih yang gangguinnya nanti aja antrinya banyak tuh." Raihan menunjukkan belakangnya.


"Ya udah selamat buat abang dan teteh ku... semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin, nanti ngobrol lagi sekarang gantian sama yang lain, Humaira sama mas Raihan mau ke dalem dulu." Ucap Asyifa yang di dalamnya mengandung doa untuk pengantin baru ini.


Doa tersebut merupakan cuplikan hadis riwayat Abu Hurairah tentang bacaan apa yang dilantunkan Rasulullah ketika beliau hendak mendoakan pengantin baru.


أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ , وَبَارَكَ عَلَيْكَ , وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْر


Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.”


Hadis tersebut diriwayat Ahmad dan Imam Empat. Kualitas hadis sahih menurut Tirmiz, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.


"Makasih doanya Ra."


"Iya bang."


"Raihan masuk dulu bang, teh, mata Syifa udah mulai sayu harus istirahat." Ucap Raihan.

__ADS_1


__ADS_2