
"Assalamualaikum" Asyifa dan Raihan memasuki bangunan yang tak jauh megah dari rumah Raihan.
"Waalaikumsalam... masuk den, non, nyonya dan tuan ada di kamar." Sambut bi Rumi, Raihan tersenyum dan menarik langkah menuju kamar orang tuanya.
"Bibi apa kabar?" Tanya Asyifa.
"Alhamdulillah baik non, non sendiri gimana?"
"Alhamdulillah Syifa juga baik bi, Syifa minta tolong ya bi tatain, yang di tempat makan ini buat bibi, masakan Syifa loh bi, bibi belum pernah kan nyobain masakan Syifa." Menyerahkan rantang dan kotak makan kepada bi Rumi.
"Wah pasti enak non, makasih makanannya ya non bibi coba langsung."
"Kembali kasih bi, Syifa ke kamar dulu ya bi mau lihat keadaan bunda." Pamit Syifa.
Asyifa berjalan menuju kamar mertuanya, langkah Asyifa terhenti melihat foto foto yang menggantung rapi di dinding tangga, Asyifa menyunggingkan senyumnya melihat foto pernikahannya, ia baru sadar saat melihat mempelai pria yang terlihat sangat bahagia di foto itu ternyata suaminya itu memiliki bakat berakting, sangat terlihat natural, andai saja itu benar benar terjadi betapa bahagianya Asyifa, setelah puas melihat foto foto itu Asyifa kembali menarik langkahnya yang sempat tertunda.
"Assalamualaikum..." salam Syifa memasuki kamar dan menyalami kedua mertuanya.
"Waalaikumsalam..."
"Bunda gimana keadaannya?" Asyifa berlutut disamping ranjang yang digunakan ibu mertuanya berbaring.
"Alhamdulillah nggak papa nak cuma keseleo aja, sini duduk atas." Bunda penepuk tempat disampingnya.
"Disini aja bun udah nyaman." Tolak Syifa halus.
"Kamu kok nggak pernah main ke sini sih kan bunda kangen." Bunda menggenggam tangan menantunya.
__ADS_1
"Maaf Syifa belum sempat main kesini bun." Hanya itu yang Asyifa katakan tanpa ada penjelasan, karena Asyifa tak mau berbohong.
"Bunda kenapa bisa jadi gini?" Raihan angkat suara.
"Tadi sehabis masak bunda mau mandi pas di kamar mandi kepleset tumpahan sabun cair." Jelas bunda.
"Berarti bunda sama ayah belom sarapan?" Tanya Syifa.
"Belum." Ayah menggeleng.
"Ya udah sekarang sarapan yuk, istri Raihan tadi masak rendang." Di hati Asyifa seperti ada bunga yang bertebaran mendengar pengakuan Raihan, dengan cepat Asyifa kembali sadar kalau itu hanya skenario yang di mainkan suaminya.
"Wah ayah udah lama penasaran sama rendang buatan istrimu kata besan enak banget." Ucap ayah berbinar.
"Kalian makan gih bunda makan di kamar aja."
"Boleh yah." Raihan menyetujui.
"Syifa siapkan dulu." Asyifa berlalu keluar mengambil lauk pauk dan alat makan di bantu bi Rumi.
Makanan telah rapi tertata di meja yang ada di kamar, Syifa mengambilkan makan dan minum dari dispenser yang ada di kamar, Syifa sambut baik oleh bunda.
"Makasih nak." Mengelus lengan menantunya.
"Auhhhh..." Ringis Syifa.
"Kenapa nak?" Tanya bunda khawatir membuat Raihan dan ayah mengengok.
__ADS_1
Mata Asyifa tak sengaja bertubrukan dengan mata Raihan yang menatapnya tajam, Asyifa paham arti tatapan itu.
"Nggak papa bunda, Syifa mau ke kamar mandi dulu." Izin Syifa.
"Ya udah kita tunggu." Ucap Ayah.
"Nggak usah yah kebetulan Syifa tadi udah sarapan di rumah mas Raihan yang belum, ayah, bunda sama mas Raihan makan saja." Syifa tidak berbohong karena sebelum tidur tadi dia sempat makan roti.
"Iya yah makannya banyak istri Raihan." Canda Raihan.
"Hahaha nggak papa biar sehat terus bisa kasih ayah cucu cepat." Ayah menaik turunkan alisnya menggoda.
"Iya bunda nggak sabar pengen gendong cucu." Tinpal Bunda.
"Syifa permisi." Asyifa menunduk lalu berlalu memasuki kamar mandi.
"Kita beruntung Asyifa jadi bagian keluarga kita." Ucap bunda setelah kepergian Asyifa.
"Iya bun, ayah beruntung memiliki menantu Asyifa udah sholeha, sopan, berpendidikan lagi." Ayah setuju dengan ucapan bunda.
Raihan tersenyum sinis betapa pintarnya ***** itu mempengaruhi orang tuanya, bermuka dua, untung saja dia tidak terpengaruh, berpendidikan katanya? Paling tamatan SMA.
"Sekarang kita sarapan, bukan sarapan sih hampir siang ini, Raihan udah laper." mereka mulai menyantap makanan dengan lahap.
Gimana gimana?
Sebenarnya aku nggak tega nulisnya, gimanapun juga aku perempuan, bukan maksud mau gimana gimana disini aku gambarkan Asyifa wanita yang kuat yang taat kepada suaminya dan pastinya taat pada Allah, bukan wanita yang lemah yang nyerah gitu aja, tenang pasti Asyifa bahagia, kalau bukan di dunia ya di akhirat.
__ADS_1
Semoga suka:)