
"Mas Syifa beli sate dulu ya, abang abangnya udah didepan." Syifa berbisik pelan di telinga suaminya.
"Iya... mas ngumpulin nyawa dulu ya nanti nyusul." Ucap Raihan serak, sekarang pukul setengah 9 malam, selepas sholat isya tadi Raihan langsung tidur karena kelelahan.
"Makasih mas." Dengan pelan Syifa beranjak dari ranjang mengambil hijab beserta niqobnya, tak lupa beberapa lembar uang Syifa ambil sebelum keluar dari kamar.
Sepertinya menu makan malam kali ini adalah sate, Syifa tidak sempat masak makan malam karena ia dan suami pulang dari kantor maghrib, terlebih suaminya tidak memperbolehkan ia masak seorang diri tanpa ditemani, sedangkan suaminya itu tertidur pulas.
Syifa membeli tiga porsi sate lengkap dengan lontong, maklum ibu hamil makannya banyak apalagi anak kembar, satu porsi untuk dirinya sendiri, satu porsi untuk kedua anaknya dan terakhir satu porsi untuk sang suami, makanan sudah Syifa tata rapi di meja tapi mengapa suaminya belum keluar dari kamar juga.
"Mas... Astagfirullah, suami siapa sih ini." Syifa menghampiri suaminya yang masih tertidur pulas diatas ranjang.
"Mas bangun, makan malam dulu mas." Bumil itu menggoyang goyangkan lengan suaminya.
"Mas... bangun Syifa udah laper tau mas."
"Hemmm..." guman Raihan.
"Abah bangun adek udah laper." Syifa semakin mengguncang lengan Raihan.
"Iya abah bangun nak." Raihan mengucek matanya.
"Giliran dipanggil anaknya bangun." Sindir Syifa.
"Ummah makan dulu abah mau ke kamar mandi." Raihan bangkit duduk di ranjang.
"Nggak papa Syifa makan dulu?"
"Nggak papa." Raihan mengelus lembut kepala Asyifa.
"Nggak deh nunggu mas aja." Tolak Syifa.
"Makan dulu aja sana, mas tau Syifa udah laper banget kan."
"Ya udah mas cepet ya."
"Iya..." Raihan memencet hidung Syifa sekilas.
Tanpa babibu lagi Asyifa langsung menuju meja makan untuk memakan makanannya, ini bukan kali pertama untuknya makan terlebih dahulu tanpa menunggu sang suami, Raihan sendiri memaklumi bahwa istrinya memang sedang sangat lapar.
Satu porsi lontong sate sudah masuk sempurna didalam perut Syifa mungkin juga didalam perut kedua janin yang ia kandung, tapi batang hidung suaminya belum muncul juga.
"Hufff kalo mas Raihan masih tidur Syifa habisin semua sate ini." Syifa kembali beranjak menuju kamar.
"Mas..." panggil Syifa tidak melihat keberadaan Raihan.
Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi.
"Mas..."
Tok tok tok
__ADS_1
"BENTAR YANG MULES..." teriak Raihan dari dalam.
"KALO UDAH LANGSUNG KE MEJA MAKAN YA..."
"IYAAA."
Asyifa kembali kemeja makan melanjutkan makanannya.
"Kok pusing ya..." Syifa memegangi kepalanya.
"Kecapekan mungkin." Wanita itu meneruskan makanannya dengan cepat karena ingin cepat cepat istirahat.
"Assalamualaikum..." Raihan datang dan ikut bergabung dengan Syifa.
"Waalaikumsalam mas." Dengan telaten Syifa menyiapkan satu porsi lontong sate untuk Raihan.
"Silakan mas."
"Terimakasih ummah." Raihan menerimanya dengan senang hati.
"Daging apa nih yang?" Tanya Raihan.
"Nggak tau mas, Syifa nggak terlalu bisa bedain daging, Syifa juga lupa tanya ini daging apa tadi." Syifa melanjutkan makanannya yang kira kira tinggal dua suap.
"Nggak ada tulisannya?"
"Syifa nggak keluar dari gerbang jadi nggak tau tulisan depannya."
Asyifa bangkit setelah menyelesaikan makanannya, ia berniat membuatkan teh hangat untuk sang suami.
🌸
Pukul setengah duabelas malam calon abah dan ummah masih terjaga didepan televisi ruang keluarga, mereka baru saja menyelesaikan film transformers 7 atas permintaan si calon ummah, sebagai calon abah yang baik pasti menurutinya.
"Sekarang kita tidur ya udah malem."
"Iya, Syifa beresin ini dulu." Belum sempat tangan Syifa menggapai gelas Raihan sudah mencegahnya.
"Biar mas aja Syifa ke kamar gih istirahat, kaki Syifa udah bengkak gitu." Raihan segera membersihkan gelas dan piring bekas mereka.
"Terimakasih mas, Syifa tunggu dikamar ya."
"Iya." Syifa dan Raihan sama sama bangkit, bedanya Syifa ke kamar sedangkan Raihan ke dapur.
Setelah mencuci bersih gelas beserta kawan kawannya Raihan kembali ke ruang keluarga untuk mematikan televisi dan beberapa lampu.
Disisi lain Syifa sudah terduduk di lantai kamar mandi seraya memegangi perutnya, air berwarna merah kental mulai merembes dari pangkal pahanya, rintihan demi rintihan keluar dari mulut wanita itu, berkali kali memanggil nama suaminya namun hasilnya nihil, dengan tangan gemetar ia mengambil botol shampo lalu ia lempar ke pintu, berharap dapat menimbulkan suara keras yang dapat membawa suaminya kesini.
"Auhhh... massshhh... mas Raihannh tholong auhhh..." Tangan gemetar Syifa kembali terulur mengambil botol kaca lalu ia lempar ke kaca yang menggantung dibalik pintu.
PYARRR...
__ADS_1
Raihan yang akan membuka pintu kamar langsung kaget dan buru buru masuk kedalam.
"Syifa..." Raihan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.
"YANG... SYIFA DIDALAM?"
Ceklek ceklek
Raihan berusaha membuka pintu kamar mandi yang terkunci.
"Masshhh tolong..." rintih Syifa dari dalam, perutnya seperti dicabik cabik, kepalanya berkunang kunang.
"Mas dobrak Syifa jangan didepan pintu." Raihan mengambil ancang ancang mendobrak pintu.
Bruakk
Dalam sekali dorong pintu itu terbuka, Raihan menghampiri istrinya tanpa menghiraukan pecah beling yang sempat terinjak olehnya.
"Kenapa bisa gini, kita kerumah sakit sekarang." Raihan langsung membawa Syifa kedalam gendongannya.
Setiap lantai yang dipijat Raihan pasti terdapat cap telapak kaki Raihan berwarna merah, pria itu tak memperdulikan rasa sakit kakinya, yang dipikirkannya hanyalah keselamatan sang istri dan kedua anaknya.
Setelah memasukkan istri dalam mobil dengan cepat Raihan berlari membuka garasi mobil dan pagar rumah, pria itu mengumpat mengapa ia dulu mendisain rumahnya ada pintu garasi dan pagar.
"Kenapa atuh den?" Tanya mamang satpam melihat Raihan seperti kesetanan.
"Istri saya pendarahan mang, tolong tutup rumah dan pagar saya ya mang, kuncinya mamang bawa saja, terimakasih mang " Raihan berlari memasuki mobil dan segera menancap gas menuju rumah sakit.
"Sakit masshhh..." rintihan Syifa memenuhi mobil.
"Sabar yang mas juga nggak tau harus gimana." Raihan panik bukan main, ia semakin mempercepat laju mobilnya, ini adalah kali pertama Raihan mengendarai mobil secepat ini.
"Shakittt..."
"Tahan sebentar lagi, jangan sampai Syifa tutup mata, mas yakin Syifa kuat, bertahan demi orang orang yang sayang sama Syifa." Dada Raihan bergemuruh.
"Utamakan keselamatan mereka berdua mashhh."
"Kalian bertiga pasti selamat, jangan ngomong yang enggak enggak yang... jangan buat mas semakin khawatir." Fikiran Raihan melayang kemana mana.
"Astaghfirullahal ladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaihi..." Syifa memejamkan mata berusaha berdamai dengan rasa sakitnya.
Syifa menggenggam erat kursi yang didudukinya, ia baru sadar sekarang ia tak mengenakkan hijab, dengan menahan sakit yang teramat di perutnya ia menggapai hijab yang berada di kursi tengah.
"Ngapain yang? Duduk yang tenang, sebentar lagi sampai." Raihan berusaha fokus, jalan yang biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit kini ia tempuh dalam waktu 15 menit, tinggal belok mereka akan sampai dirumah sakit.
"Am_ auhhh... ambil kerudung mas." Syifa tetap berusaha mengambil hujab nya dan hap dapat, ia langsung memakai hijab itu.
"Sampai yang, tahan sebentar." Raihan keluar dari mobil berlari membuka pintu dimana Syifa berada dan segera membawanya kedalam.
Hamba harap ini hanyalah mimpi ya Allah... bangunkan hamba secepatnya, hamba tak kuasa lagi ya Allah.
__ADS_1