Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"SYIFA... SYIFA... INI MAS SYIFA... JAWAB MAS..."



Suara Raihan menggema di seluruh penjuru, kaki Raihan tidak berhenti melangkah dalam tempo cepat, ia menelisik ke setiap sudut.



"SYIFA... MAS MINTA MAAF, JAWAB PANGGILAN MAS SYIFA..." Raihan terus berlari terseok seok tanpa arah, seluas mata memandang yang di lihat hanyalah pepohonan, entah apa yang membawanya kemari yang ia perduli hanyalah Syifa, meskipun ia tidak yakin yang di caranya ada disini.



"ASYIFA... DIMANA KAMU... JAWAB SYIFA... MAS MENYESAL... Syifa mas minta maaf..." Raihan terjatuh, nafasnya tidak teratur, dadanya mulai sesak.



"SYIFA... JANGAN TINGGALIN MAS SYIFAAA...." bayangan siksaan Syifa sekelebat muncul, Raihan bangkit, ia tidak boleh lengah, Syifa menunggunya ia yakin itu.



"Syifa..." Ucap Raihan lirih, ia melihat wanita sedang duduk di bangku, ia berfikir sejenak, di tengah hutan gini ada bangku?



Wanita itu mulai bangkit dari duduknya.


"SYIFA...." wanita itu menengok lantas tersenyum meski tertutup niqob, wajahnya tidak jelas, karena keadaan malam hanya cahaya bulan yang menyinari, Syifa! Itu Syifa! Raihan yakin, ia mempercepat larinya.



Syifa mulai mengambil langkah menjauh.


"Tunggu mas Syifa." Raihan berhasil mencekal pergelangan tangan Syifa.


"Mau kemana?" Tanya Raihan lembut.



"Syifa mau pulang mas."



"Pulang sama mas ya..."

__ADS_1



"Syifa sama mas udah beda."



"Kamu ngomong apa sih, kita sama Syifa, mas minta maaf jangan pergi ya..."



"Syifa udah maafin semua sebelum mas minta maaf tapi Syifa harus pergi, mas ngga perlu khawatir Syifa selalu sama mas, Syifa selalu ada disini di tubuh mas, mas jangan sedih mas kuat mas ngga boleh lemah, Syifa ngga mau lihat mas lemah, jaga kesehatan jaga Syifa di tubuh mas, pokoknya nanti mas harus anter Syifa sambil senyum, Syifa pengen tenang mas." Air mata Raihan pecah, ia tidak sanggup lagi.



"Ngga, kamu ngga boleh pergi!." Menggenggam erat tangga Asyifa.



"Syifa harus pergi mas."



"Mas bilang ngga ya ngga! Ingat mas ini suamimu patuhi ucapan mas Syifa... hiks jangan pergi... Mas belum menebus kesalahan mas, hiks bantu mas jadi lebih baik Syifa hiks tuntun mas hiks jangan pergi..." ini kali pertama Raihan nangis karena seorang wanita, Raihan menangis setelah sekian lama ia menjadi sosok yang keras.




"Ng_ngga ngga boleh Syifa.... jangan tinggalkan mas... mas butuh kamu... " tangga Raihan berusaha mencekalĀ  Syifa tapi tidak bisa, tubuh Syifa seperti bayangan yang tidak bisa di gapai, lidah Raihan kelu.



"Syifa... mas mohonn... kembali Syifa... Syifa... sini kembali sama mas, pulang sama mas Syifa... hiks Syifa... kembali Syifa stop hiks jangan maju... mas mohon Syifa... hiks." Raihan tidak bisa berbuat apa apa lagi, Asyifa semakin jauh, ini akhir yang tidak di inginkan Raihan.



"Mas harus bahagia..." Ucap Asyifa sebelum hilang di dalam cahaya.



"BAHAGIA MAS SAMA KAMU SYIFA.... hiks."


__ADS_1


šŸƒ



"SYIFA...." Raihan terbangun dari tidurnya.


"Alhamdulillah... cuma mimpi..." Raihan mencekal kering yang membanjiri dahinya, ia melihat sekeliling, rumah sakit?



Sayup sayup Raihan mendengar keributan di sampingnya.



"Sus ambilkan alat pacu." Kemudian salah satu suster menyingkap tirai mengambil alat pacu jantung Defibrilator di tengah tengah antara ranjang Raihan dan pasien di sampingnya, dengan penasaran Raihan mengintip dari celah tirai yang dibuka suster, tubuh Raihan bergetar, matanya menangkap wajah istrinya di sana, dengan cepat ia mencopot selang infus yang menancap di tangannya.



Raihan membuka tirai itu dengan tidak sabar membuat suster dan dokter yang menangani Asyifa terlonjak kaget, bilang kalo yang di depannya ini bukan Syifanya.


"Syifa... bangun Syifa... jangan tinggalkan mas... mas mohon... jangan lagi Syifa..."



"Tenang tuan, kami sedang bekerja semampu kami, jangan membuat konsentrasi kita buyar." Ucap salah satu suster menarik Raihan menjauh, tubuh Asyifa terguncang karena beberapa kali di tempelkan alat pacu.



"Dok lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya dok." Ucap Raihan lirih.



"Kami sedang berusaha tuan."



"Syifa... bangun... Maafkan suamimu yang bodoh ini... jangan pergi... kamu belom memberikan hukuman buat mas Syifa... pukul mas Syifa... caci mas... jangan tinggalkan mas Syifa! Dengar kalo kamu berani ninggalin mas mas ngga segan segan hukum kamu, bangun Syifa! Bangun! Bangun...." Raihan terduduk di lantai mengamati istrinya yang sedang di tangani dokter, ia tidak sanggup melihat istrinya seperti ini.... ini salahnya, semua yang terjadi pada Asyifa itu salahnya, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri... bagaimana orang tuanya? Mertuanya? Iparnya? Apa yang ia akan katakan kepada mereka... ayahnya pasti kecewa kepalanya, Raihan berdoa kepada Allah, ia meminta kesembuhan untuk istrinya, selamatkan istri hamba ya Allah....



TITTTTT......


__ADS_1



__ADS_2