Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamualaikum..."



Sayup sayup Raihan mendengar salam dari arah pintu.



Tok tok tok



Dengan pelan Raihan turun dari ranjang.


"Hussss bobo lagi ya..." Raihan mengelus pipi Syifa karena merasakan pergerakan pada Syifa.



Tok tok tok



Raihan berjalan kearah pintu lalu membukanya.


"Eh bang Azzam, masuk bang."



"Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..."



"Pantes lama bukanya molor ternyata." Sindir Azzam.



"Hehehe ngantuk bang." Raihan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Astagfirullah udah jam 4, Raihan ke masjid dulu ya bang, titip istri Raihan." Pamit Raihan.



"Adek gw ini, udah sana keburu sore."



"Hahaha iya bang, assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..." Raihan keluar menuju parkiran terlebih dahulu, niatnya mau mengambil maju, ia akan mandi sebelum menunaikan ibadah sholat 5 waktu.



Raihan mengerutkan keningnya, ia melihat ke 4 ban mobilnya kembali seperti semula.


"Ck bunda." Raihan menggelengkan kepalanya, Raihan mengambil alat mandi beserta baju gantinya lalu pergi menuju masjid.



Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang pencipta Raihan kembali ke mobil menaruh pakaian kotornya dan membawa barang barang yang perlu di bawa ke ruangan.



"Raihan..."



"Eh abi." Raihan menyalami tangan ayah mertuanya.



"Dari mana Han?"



"Dari masjid bi, ini mau balik ke kamar lagi, abi sama siapa kesini?"



"Sendirian, ini mau nganterin makan malam." Abi mengatakan rantang yang dibawanya.



"Kok repot repot bi."



"Sama sekali ngga repot."



"Ya udah ayo bi kedalam." Raihan mempersilahkan abi untuk berjalan lebih dulu.



"Emm.. bi Raihan pengen tau tentang Syifa lebih dalam."



"Tentang apa?"



"Tentang kebiasaan Syifa, yang Syifa suka, dan mungkin makanan kesukaan Syifa."



Abi merangkul bahu Raihan.


"Humaira itu sifatnya sulit di tebak, dia keras kepala, sering ngalah kalo sama abangnya, kalo ada masalah di pendem sendiri dan akhirnya demam, dia bilangnya ngga mau nambah beban orang lain, pikirannya dewasa kadang juga suka manja, Humaira ngga suka di ledekin, kalo kesel tuh mukanya langsung merah, kalo makanan dia lebih suka makanan rumahan." Jelas abi.



"Syifa manja bi?" Raihan penasaran, ia tidak pernah melihat istrinya itu manja, ya iyalah orang takut sama Raihan mana berani manja.



Abi mengangguk.


"Sering Humaira tiba tiba dateng ke abi kalo ngga ke umi sama abangnya minta di bacain surah Ar Rahman, kadang surah Al Kahfi pokoknya yang dia pengenin, kalo abangnya lagi libur minta jalan jalan, dulu pas habis pulang dari kuliah dia minta tidur sama abi umi, minta di suapin, kangen katanya." Mendengar itu Raihan menganga.



Mereka hanyut dalam obrolan hingga tidak menyadari sudah berada di depan ruangan Syifa.



"Assalamualaikum..." Raihan membuka pintunya.



"Waalaikumsalam..."



Raihan melihat Azzam memegang piring yang berisi makanan dan Syifa yang menutup mulutnya, Raihan juga melihat wajah Asyifa yang memerah.



"Eh abi." Azzam meletakkan piring dan menghampiri abinya.



"Abang ditunggu umi mau minta tolong nganter makanan eh udah di sini aja."



"Hehehe habis dari kantor langsung kesini bi."



"Humaira kamu apain?" Tanya abi ke Azzam.



"Ngga abang apa apain bi, cuma di suruh makan tapi ngga mau."



"Humaira masih kenyang bi." Cicit Syifa.

__ADS_1



"Tapikan harus banyak makan biar pulihnya cepet." Ucap Azzam.



"Kamu tuh bang, jangan di paksa kasintuh adeknya, Humaira gimana nak?" Abi menghampiri Syifa.



"Alhamdulillah bi udah mendingan."



"Alhamdulillah... tu abi bawain buah yang udah umi potong di rantang paling atas nanti dimana sama nak Raihan ya..." Abi mengusap puncak kepala Syifa.



"makasih bi."



"Ya udah abi pulang dulu umi di rumah sendirian." Pamit abi.



"Iya, hati hati di jalan ya bi."



"Iya, bang pulang sekarang apa nanti?"



"Nanti bi, abang mau ke kamar mandi dulu."



"Ya udah abi pulang ya Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..." Setelah abi keluar Azzam masuk ke dalam kamar mandi.



"Syifa udah hormat waktu?" Tanya Raihan.



"Udah mas."



Raihan mengangguk lalu mengambil rantang yang berisi buah.



"Makan buah ya." Tanya Raihan tapi berkesan perintah.



Syifa menatap Raihan sebentar lalu mengangguk.



"Aaa... mas suapin." Raihan menyodorkan apel. yang sudah tertusuk garpu.



Suap demi suap di terima Syifa.


"Lagi ya." Raihan kembali menyodorkan buah.



Asyifa melihat rantang yang tadinya terisi penuh sekarang tinggal setengah.



"Tadi nolak makan bilangnya kenyang, ternyata pengen di suapin suami toh, enak ya sekarang bisa manja manjaan sama suami." Ucap Azzam yang baru keluar dari kamar mandi.



Muka Syifa memerah, ia menatap Abangnya kesal.



"Mukanya." Azzam meraup muka Syifa, Raihan terkekeh melihat muka Syifa yang terkesan lucu baginya.


"Udah abang mau pulang dulu." Azzam memakai jasnya.



"Makasih bang, hati hati di jalan." Ucap Raihan.



"Iya Assalamualaikum..."



"Waalaikumsalam..." Raihan menutup pintu setelah mengantarkan Azzam ke depan.



"Buahnya udah belum?" Tanya Raihan.



"Udah mas." Asyifa bernafas lega, perutnya penuh sedari tadi ia menunggu pertanyaan itu dari Raihan.



"Mau ganti baju?" Syifa mengangguk ragu.


"Di sini apa di kamar mandi?" Tanya Raihan lagi.



"Di kamar mandi mas." Mendengar itu Raihan membuka tas yang isinya baju Syifa.



"Pakek yang kancingnya sampai bawah ya biar ngga sulit makenya." Raihan menyiapkan peralatan Syifa.



Setelah semua siap di kamar mandi Raihan kembali menghampiri Asyifa.



"Pegang infusnya." Raihan menyerahkan infus lalu menggendong Syifa.



"Ma_mas Syifa bisa jalan sendiri."



"Udah ngga papa." Raihan membawa Syifa ke kamar mandi.


"Mas bantu ya." Raihan menawarkan diri.



"Ng_ngga usah mas." Jawab Syifa gugup.



"Bisa sendiri?" Syifa mengangguk yakin


"Ya udah mas wudhu dulu terus ke luar, nanti kalau butuh sesuatu panggil mas."



"Iya mas makasih." Raihan tersenyum mengelus puncak kepala Syifa.



"Ngga perlu makasih, Syifa udah tanggung jawab mas." Raihan memulai wudhunya, ini sudah masuk waktu maghrib.


"Mas keluar." Raihan meninggalkan Syifa.



Syifa tersenyum lalu memulai mandinya, dengan hati hati Syifa membuat satu persatu pakaian yang dikenakannya hingga ia menemukan sesuatu di salah satu pakaiannya.

__ADS_1



"Mas.." Syifa memanggil Raihan ragu.



"Iya kenapa yang?" Tanya Raihan dari balik pintu.



"Mas udah sholat?"



"Belum ini mau Sholat, baru pake sarung."



"Syifa minta tolong ambilin tas Syifa ya mas."



"Tasnya berat yang susah kalo di bawa ke kamar mandi, kamu mau ambil apa biar mas ambilin?" Pertanyaan Raihan tidak di jawab oleh Syifa.


"Yang... mau apa?" panggil Raihan



"Emm... pem_pembalut mas." Ucap Syifa pelan.



"Ouhhhh bentar." Tanpa babibu Raihan mengambilkan barang yang diminta Syifa.


"Buka pintunya yang." Ucap Raihan berada di depan pintu kamar mandi.



Syifa membuka pintu sedikit dan menjulurkan tangannya.


"Makasih mas." Syifa kembali menutup pintu dan melanjutkan mandinya, jujur Syifa malu dengan Raihan.



Kreakkk.



Raihan menghampiri Asyifa yang berada di ambang pintu, Raihan menuntut Syifa menuju ranjang.



"Makan ya habis itu minum obat." Raihan mengambil piring yang tadi di letakkan Azzam di nakas.


"Aaa..." lagi lagi Syifa tidak bisa menolak, ia masih takut dengan Raihan.



Satu suap, dua suap, hingga suapan ke 9 Syifa masih bisa menelan, tapi suapan ke 10 Syifa hampir memuntahkannya.



"Kenapa yang?" Tanya Raihan hawatir.



"Kenyang mas." Jawab Syifa menunduk.



"Ya udah nih minum obatnya." Raihan melarutkan obat Syifa di sendok.


"Gini kan?" Tanya Raihan.



"Iya." Syifa mengangguk.



"Bismillah..." Raihan langsung menyodorkan gelas setelah obat itu masuk ke dalam mulut istrinya.


"Pait?" Tanya Raihan.



"Ngga mas."



"Mau sesuatu?" Syifa menggeleng.



"Mas makan malam aja."



"Ya udah mas makan ya." Raihan melangkah ke sofa.


"Abi ngga bawain sendok ya..." Raihan mencari cari sendok.


"Pakek ini aja lah." Raihan mengambil sendok bekas Syifa.



"Jangan mas itu bekas Syifa." Cegah Syifa.



"Ngga papa." Raihan memulai makanya.



Asyifa bahagia, ia sangat bahagia, sangat sangat bahagia, ia menatap Raihan dalam diam, matanya tak lepas dari Raihan, ia memperhatikan suaminya yang masih menggunakan sarung dan koko, ke ketampanan lelaki itu bertambah berkali kali lipat, sehabis makan Raihan melaksanakan Sholat isya setelah itu baru menghampiri Asyifa.



"Syifa pengen denger surah apa?" Tanya Raihan yang sekarang sudah duduk manis di samping Syifa.



Pertanyaan Raihan membuat Asyifa bingung tapi ia tetap menjawabnya.


"Ar Rahman mas."



"Di hp Syifa ada aplikasi Al quran kan, mas pinjem ya, mas mau bacain buat Syifa." Raihan meraih Hp istrinya lalu mengotak atik mencari aplikasi yang ia maksud.



"Nah ketemu, mas mulai ya..."



أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ



بسم الله الرحمن الرحيم  



Syifa menitihkan air mata, ia terharu mendengar suara merdu suaminya, ini kali kedua Syifa mendengarnya, yang pertama saat pernikahan mereka dulu.



"Loh loh kok nangis." Raihan menghentikan bacaannya.



Syifa menggeleng lalu tersenyum.


"Syifa terharu, suara mas indah." Syifa menunduk malu.



"Ih kamu itu, mulai sekarang jangan sungkan kalo kamu pengen mendengarkan suara mas." Syifa mengangguk.


"Mas lanjutin ya." Raihan melanjutkan bacaannya.



Mata Asyifa terpejam terbawa suara Raihan yang mengalun indah di telinganya.


__ADS_1


__ADS_2