Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Assalamualaikum... bumil datang."


"Waalaikumsalam..."


"Kamu hamil Han?" Tanya pria paruh baya saat Raihan mencium punggung tangannya.


"Nggak Raihan lah yah." Raihan memutar bola matanya malas.


"Raihan." Wanita paruh baya muncul dari arah dapur.


"Bunda." Raihan jalan melewati ayah kearah bundanya.


"Ini bun dari Syifa." Setelah mencium punggung tangan sang bunda Raihan menyerahkan rantang yang dibawanya.


"La menantu bunda mana?" Bunda mencari cari Syifa.


"Di mobil bun jagain anak Raihan yang ada di perutnya." Jawab Raihan.


"Ha?" Bunda dan Ayah sama sama bingung.


"Masyaallah..." Bunda menyerahkan rantang kepada Raihan lalu langsung pergi keluar.


"Kenapa sih Han?" Tanya ayah yang belum mengerti.


"Ayah mau dapet cucu." Ucap Raihan sebelum beranjak ke dapur meletakkan rantang.


"Raihan! Kamu ya bikin ayah bingung, to the point kan bisa, menunda kebahagiaan ayah." Gerutu ayah langsung keluar menyusul sang istri.


Sedangkan Raihan terkekeh geli melihat respon kedua orangtuanya, setelah menaruh rantang ia keluar.


Hati Raihan menghangat melihat pemandangan di hadapannya, istri dan bundanya saling berpelukan sedangkan ayah mengelus kepala Asyifa sayang.


"Berpelukannya udah yuk, Raihan sama bumil mau langsung pamit."


"Ck ngerusak suasana aja." Decak bunda.


"Hehehe besok lagi bun, hari rabu sama kamis Syifa disini kok, ini mau ke rumah abi terus ke rumah sakit mau cek kandungan." Jelas Raihan.


"Ya udah hati hati ya, jagain istrimu bener bener, Syifa kalo suamimu macem macem bilang ke bunda." Bunda mengelus kepala menantunya.


"Iya bun."


"Jadi suami siaga, kalo ada apa apa sama calon cucu pertama ayah awas kamu." Ancam ayah.


"Iya yah, Raihan ini bapaknya mana tega Raihan macam macam sama anak sendiri, Raihan pamit ya yah, bun." Raihan mencium punggung tangan orangtuanya.


"Syifa pamit yah, bun." Syifa melakukan hal sama yang Raihan lakukan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Pasutri itu masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanannya, hari ini mereka akan mengecek keadaan calon anak mereka, tapi sebelumnya mereka kerumah orangtua terlebih dahulu untuk memberitahu keberadaan janin didalam perut Syifa.


Rumah ayah dan abi satu jalur dengan rumah sakit jadi tidak perlu puter balik, alurnya rumah Raihan dahulu kemudian rumah ayah baru rumah Abi, kalau lurus lagi kantor Raihan setelah itu rumah sakit, jarak rumah Raihan dengan rumah sakit sekitar 45 menit kalau tidak macet.


Kedatangan Raihan dan Asyifa langsung disambut oleh kedua orang Syifa, kebetulan abi dan umi sedang membersihkan taman depan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Bi." Raihan mencium punggung tangan mertuanya diikuti Syifa.


"Umi."


"Gimana kemarin jalan jalan di Bandung?" Tanya abi.


"Alhamdulillah bi dapet oleh oleh cucu buat abi sama umi." Jawab Raihan dengan senyumnya.


"Cucu apa? Kue?" Tanya umi bingung.


"Cucu di rahim Syifa mi." Ucap Raihan, Syifa hanya menunduk malu.


"Masyaallah... selamat nak." Umi langsung memeluk anaknya, dan memberikan rentetan larangan larangan ibu hamil.


"Wahhh abi mau jadi eyang Han?" Abi berbinar.


"Iya bi."


"Alhamdulillah... udah tua ya abi ternyata mau punya cucu."

__ADS_1


"Hehehe... masih seger kok bi."


"Kamu bisa aja, baca surat Yusuf kalau hamil laki laki sama surah Maryam kalau hamil perempuan, sekarang kan belum tau jenis kelaminnya dibaca dua duanya, semoga anak laki laki kalian tampan dan soleh seperti Nabi Yusuf, kalau perempuan cantik dan soleha seperti Siti Maryam ibunda Nabi Isa."


"Iya bi terimakasih banyak, insyaallah Raihan laksanakan."


"Anak abi udah mau jadi umi, sehat sehat ya nak." Abi memeluk sang anak.


"Iya bi." Syifa membalas pelukan sang abi.


"Ya udah abi, umi Raihan sama Syifa langsung, mau ke rumah sakit cek kandungan." Pamit Raihan.


"Mas rantangnya masih di mobil." Ucap Asyifa mengingatkan.


"Ah iya, mas ambil dulu." Raihan kembali ke mobil mengambil rantang yang dimaksud istrinya.


"Sering sering kesini ya nak."


"Iya umi, kata mas Raihan hari senin sama selasa Humaira kesini."


"Bagus kalau gitu biar ada yang jagain sama biar umi nggak sendirian dirumah." Ucap abi.


"Iya bi."


"Yang ini rantangnya." Raihan menyerahkan rantang kepada Syifa.


"Umi ini lauk tadi pagi Humaira masak." Syifa menyerahkan rantang kepada umi.


"Makasih ya nak, baru aja umi bilang kalau kangen masakan Humaira." Umi menerima rantang dengan senang hati.


"Ya udah kita pamit ya abi, umi." Raihan kembali pamit.


"Iya hati hati, kabarin abi kalau ada apa apa."


"Iya bi."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Mereka pergi setelah mencium punggung tangan abi dan umi.


"Bu Asyifa harus benar benar menjaga tekanan darahnya, karena ini hamil pertama dan melihat ginjal ibu yang tidak sempurna membuat kemungkinan besar mengalami darah tinggi, jangan sampai tekanan darahnya mencapai 140/90 mmHg, karena itu sangat berbahaya bagi ibu dan janin.


Takutnya mengalami keguguran, aliran darah ke plasenta juga dapat terganggu bahkan dapat mengalami kerusakan organ.


Saya sarankan ibu melakukan aktivitas fisik yang ringan ringan saja, bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali ya pak bu, olahraga teratur asal jangan sampai kelelahan, konsumsi makanan bergizi seimbang dan harus rutin cek up." Ucap bu dokter sambil menulis vitamin untuk Asyifa.


"Ada yang kurang jelas pak bu?."


"Tidak dok, terimakasih banyak." Jawab Syifa.


"Sama sama bu, ini vitaminnya bisa ditebus di apotik mana saja." Dokter menyerahkan kertas di hadapan Syifa.


"Sekali lagi terimakasih dok, kami permisi." Raihan mengantongi kertas itu lalu bangkit diikuti Syifa.


"Permisi dok."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Sepasang suami istri itu berjalan beriringan keluar dari ruangan serba putih, mereka pergi ke tempat dimana mobil mereka diperkirakan.


"Beli vitamin di apotik deket rumah aja ya yang."


"Iya mas, disini pasti ramai."


"Nggak nyangka mas bakal jadi abah bentar lagi." Raihan tersenyum tipis menatap lurus kedepan, tangannya berada di pinggang sang istri.


"Syifa juga nggak nyangka mas, maaf ya mas kalau kedepannya Syifa bakal sering nyusahin mas."


"Ini nih yang mas nggak suka, Syifa itu tanggung jawab mas, sama sekali nggak ngerepotin, jangan berpikir seperti itu yang, is Syifa mah bikin mood mas anjlok aja." Raihan melepaskan tangannya dari pinggang Syifa.


"Hahaha... maaf mas, Syifa sayang mas Raihan." Wanita itu melingkarkan tangannya ke lengan Raihan.


"Mas juga sayang Syifa."


"Lebih sayang Syifa."


"Lebih sayang mas." Perdebatan manja pasutri dimulai.

__ADS_1


"Lebih Syifa."


"Lebih mas."


"Syifa lebih lebih lebih."


"Mas lebih lebih lebih lebih lebih."


"Ya udah Syifa sayang sama dedek."


"Mas juga sayang dedek, banget malah."


"Syifa lebih sayang Allah."


"Mas juga lebih sayang Allah."


"Mas mah ikut ikut Syifa."


"Syifa yang ikut ikut mas."


"Isss..." Asyifa menjauh dari Raihan, wajah kesalnya tersembunyi dibalik niqob.


"Hahaha... bercanda sayang." Raihan menarik Syifa mendekat, wanita itu memalingkan wajahnya.


"Iya iya Syifa lebih sayang."


"Emang." Jawab Asyifa kesal.


"Bumil ngambek nihhh..." Raihan menoel pipi istrinya, ingatkan mereka masih berada di kawasan rumah sakit.


"Nggak."


"Enggak apa enggak." Raihan semakin gencar menggoda istrinya.


"Mas ih bikin Syifa kesel, hiks..." Asyifa menubruk dan bersembunyi di dada Raihan.


"Eh eh kok nangis, masuk mobil yuk." Raihan membawa istrinya memasuki mobil, untung saja mereka sudah berada di parkiran, jika masih di dalam rumah sakit apa kata mereka?


"Jangan nangis dong yang." Raihan mengusap air mata Asyifa.


"Mas hiks yang bikin Syifa kesel, Syifa nggak suka hiks di godain." Tangan Asyifa terulur menghapus air matanya sendiri.


"Iya maaf ya, mas godain Syifa, mas bikin Syifa kesel, tapi mas nggak bisa janji kalau nggak bikin Syifa kesel lagi." Raihan menyodorkan tisu.


"Tuh kan... hiks mas mah hiks gitu..." Syifa memukul mukul lengan Raihan pelan.


"Hahaha mas usahain ya, habisnya gemes kalo lihat Syifa kesel tapi nangisnya itu loh yang bikin nyesel akhirnya." Raihan mencium sekilas kening Syifa lalu menutup pintu dan berjalan mengitari mobil untuk masuk ke bagian kemudi.


"Kita langsung ya nggak usah mampir mampir." Raihan mulai menghidupkan mobilnya.


"Iya." Jawab Syifa parau.


"Kalau ada kata yang lebih dari Cinta, mas mau ngomong itu ke Syifa, karena mas sangat mencintai Syifa." Ucap Raihan tanpa menoleh.


"Harusnya Syifa yang ngomong gitu, kan Syifa yang lebih cinta mas." Celetuk Syifa.


"Ya udah ngomong sekarang, anggap aja mas nggak ngomong tadi." Raihan mengalah, kalau istrinya nangis lagi kan berabe.


"Nggak mau, tanpa Syifa ngomong harusnya mas udah tau." Syifa memalingkan mukanya ke sisi kiri.


"Ya udah nggak usah ngomong." Sabar Raihan, jadi gini yang dirasakan istrinya tadi.


"Tapi pengen ngomong."


"Tadi bilangnya nggak mau."


"Nggak mau tapi mau mas..."


"Gimana? Mau apa enggak?"


"Nggak tau."


"Kok nggak tau sih yang."


"Iya, nggak tau antara mau sama nggak mau."


"Dek kok lama lama abah yang kesel sama umah sih." Adu Raihan ke anaknya yang masih didalam kandungan sang istri.


"Hahaha... dek kita berhasil bales abah, skor sama satu satu." Asyifa mengelus perutnya.


"Dasar."

__ADS_1


__ADS_2