Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Wasim."



"Berarti Raihan wasim dong hehehe..." Raihan terkekeh, Syifa yang gemas lantas memukul pelan tangan Raihan.



"Mas ihh..."



"Syifa ihh..." Raihan menirukan ucapan serta gaya Syifa.



Malam ini di manfaatkan Raihan untuk mengenal lebih dekat dengan sang istri, ia ingin mengetahui semua yang ia belum ketahui, Raihan dan Asyifa duduk berhadap hadapan di atas ranjang, Raihan memulai obrolan mengenai kuliah Syifa, pria itu meminta Syifa mentranslate ucapnya kedalam bahasa arab hingga kini ia tanya bahasa arabnya tampan.



"Masss..." rengek Syifa mulai kesal, ingat ia tidak suka di ledek.



"Syifaaa..." tapi sayangnya Raihan masih ingin menggoda Syifa.



Muka Syifa memerah menahan kesal, jika ini abangnya sudah habis dengan cubitan mautnya.



"Hahahaha... afwan, afwan mas wasim minta maaf ya..." Raihan mencubit pipi Syifa gemas.



"Syifa boleh cubit mas ngga sih? Syifa ngga suka diledek..." rengek Syifa.



"Hahaha.... cubit sini." Raihan menyerahkan tangannya, ia kembali tertawa.



"Ihhhhhhh......" Syifa mencubit tangan Raihan dengan cubitan kecil.



"Aissss...." Raihan mengelus bekas cubitan Syifa.



"Makanya mas jangan kaya abang suka ngeledek Syifa, malu tau mas..." Syifa mengerucutkan bibirnya, tangannya menarik dan mengelus tangan Raihan.



"Habisnya kamu lucu sih, mas rela dicubit asal bisa lihat muka kesal Syifa." Raihan mengapit pipi Syifa dengan satu tangannya lalu di goyangkan ke kanan dan ke kiri.



"Tau ah..." Syifa merebahkan badannya.

__ADS_1



Raihan tersenyum lebar, ia senang sedikit demi sedikit Syifa sudah tidak kaku kepadanya.


"Udah ah pindah topik, kenapa Syifa ambil jurusan sastra? Suka nulis?." Syifa mengangguk, ia masih sedikit kesal dengan Raihan.


"Ceritain ke mas dari awal sampai akhir." Raihan memancing Syifa.



"Syifa suka baca cerita cerita gitu habis itu halu, buat alur sendiri sampai akhirnya Syifa iseng buat cerita di salah satu aplikasi novel online, lama kelamaan jadi suka nulis, terus abang tau kalo Syifa nulis, abang baca cerita Syifa eh Syifa diledekin karena cerita Syifa kan berbau roman, kesel tau mas masa abang ngikutin gaya yang ada di cerita, terus abi sama umi tau Syifa di panggil deh, abi nawarin buat S2, Syifa mau dong tapi maunya di Arab sekalian memperdalam ilmu agama awalnya umi ngga ngebolehin tapi akhirnya boleh." Cerita Syifa sambil tiduran sedangkan Raihan duduk menopang dagunya.



Setelah 3 tahun mondok Syifa melanjutkan ke jenjang perkuliahan, Syifa mengambil S1 bidang dakwah, setelah itu ia melanjutkan S2 di Universitas Raja Abdul Aziz.



"Mas mau baca dong..." Raihan penasaran dengan cerita Syifa.



"Di ruang keluarga kan ada tumpukan novel nah itu novel Syifa."



"Dimana? Mas kok ngga pernah lihat."



"Di belakang bingkai foto hehehe... Syifa umpetin." Syifa memperlihatkan deretan giginya.




"Sebelum nikah 50% masukke tabungan 50% masuk ke panti tapi semenjak nikah 75%masuk ke panti yang 25%ke tabungan, Syifa takut kalo nyimpen uang banyak nanti malah seakan akan ngga butuh nafkah dari mas, ngga papa kan mas kalo Syifa masih suka buat cerita?" Syifa menatap Raihan takut.



"Ngga papa dong, tapi kalo Syifa butuh sesuatu bilang ke mas ya, uang Syifa di simpan aja." Raihan mengelus tangan Syifa.



"Iya mas." Syifa mengangguk.



"Syifa belajar roman dari mana? Syifa pernah deket sama cowo?" Tanya Raihan menyelidiki, meskipun ia tidak yakin.



"Eh engga..." Syifa merubah posisi menjadi duduk.


"Syifa kan udah bilang kalo Syifa suka baca jadi terinspirasi terus lihat umi abi, orang orang disekitar Syifa kadang bisa buat inspirasi, Syifa ngga pernah deket sama cowo selain saudara, Syifa juga ngga pernah suka sama cowo apalagi pacaran eh lebih tepatnya jaga hati, kalo mulai ada benih sedikit aja Syifa langsung buang jauh jauh, Syifa langsung inget batasan biar ngga mengikut sertakan perasaan, lagian menurut Syifa pacaran itu sama aja mencuri kalo ngga durhaka, mencuri kalo sampai ke jenjang pernikahan karena belum sah sudah melakukan selayaknya seorang yang sudah sah dan jika selesai di tengah jalan kita durhaka kepada pasangan kita kelak, jadi mas jangan berpikir yang ngga ngga, apa mungkin mas yang pernah deket perempuan.... hayo..." sekarang berganti Syifa yang menyelidiki ke Raihan.



"Ngga! Mas ngga mau ngasih bidadari mas berkas, ayah juga ngga ngasih mas pacaran, dari awal mas di wanti wanti jangan sampai pacaran, sekedar teman boleh ngga lebih, mas di tuntut belajar belajar belajar, mas ngga dikasih fasilitas mewah sebelum mas berhasil, berhasil dalam segi apapun, bukannya ayah ngga mampu tapi ayah pengen nunjukin kalo hidup ngga segampang ngangkat tangan, minta ke orang tua, dari SMA mas udah kerja di kantor ayah, dari mulai jadi OB sampai punya jabatan tinggi seperti sekarang, jadi Syifa ngga usah khawatir karena Syifa pertama dan terakhir dihati mas." Ucap Raihan membuat Asyifa bersemu, ia tidak tau harus menjawab apa.


"Jawab mas jujur, Syifa sayang sama mas?" Tanya Raihan.

__ADS_1



Syifa menunduk lantas mengangguk, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Dari kapan?" Tanya Raihan lagi.



"Da_dari akat, Syifa su_suka suara mas baca surah Al-Kahfi jadi Syifa mutusin buat sayang sama yang punya suara." Saat mengucapkan itu Syifa tidak berani menatap Raihan.



"Mas baper loh ini..." Asyifa mendongak menatap Raihan, ia bisa melihat mata suaminya itu berkaca kaca.



"Mas nangis Syifa ketawa." Ucap Asyifa membuat Raihan terkekeh.



"Masa di ketawain."



"Habisnya Syifa ngga suka lihat orang nangis."



"Ututut... manisnya..." Raihan menarik Syifa kedalam pelukannya.



Cup



"Udah ah ayo siap siap tidur udah malem." Raihan melepaskan pelukannya.


"Eh iya, sampo mas tadi pagi habis kok pas mandi sore udah baru lagi ya, Syifa belanja?"



"Syifa stock mas buat persediaan sebulan."



"Belanjanya sendiri?" Tanya Raihan, ia berpikir pasti ribet belanja sebanyak ini sendirian.



"Syifa belanjanya online mas." Selama beberapa bulan pernikahan Asyifa selalu belanja online, ia tidak pernah keluar rumah tanpa Raihan dan tanpa izin Raihan.



"Mulai besok belanjanya sama mas, ya udah mas ke kamar mandi dulu, kebelet." Raihan mengelus kepala Syifa sebelum beranjak.




__ADS_1


__ADS_2