Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"SYIFA... YANG..." teriak Raihan menggema di seluruh ruangan.



"DI BELAKANG MAS..." Raihan menuju ke sumber suara.



"Ngapain?" Tanya Raihan.



"Giling cucian." Syifa memasukkan sabun ke mesin cuci.



"Udahkan tinggal nunggu, ikut mas yuk." Syifa menenggok.



"Kemana?"



"Kita senam, mas udah siapin di halaman belakang, ayok." Raihan menarik tangan Syifa.



"Ngapain ke kamar? Katanya di halaman belakang." Tanya Syifa bingung.



"Kamu ganti dulu biar bebas gerakannya."



"Tapi Syifa ngga ada baju olahraga." Raihan berbalik menatap Syifa, kini mereka sudah berada di kamar.



"Ada celana?"



"Ada tapi yang biasa Syifa pakek daleman."



"Ada kaos?" Tanya Raihan lagi.



"Adanya panjang sampai sini." Syifa menunjuk di bagian pahanya.



"Pakek kaos mas aja ya..." Raihan menuju ke lemari.


"Nah ini, celananya pakek celana Syifa." Raihan menyodorkan kaos berwarna abu abu.



"Pakek ini?" Tanya Syifa memastikan, pasalnya Raihan memberikan kaos lengan pendek yang pastinya sangat besar di tubuhnya.



"Iya... tenang aja yang lihat cuma mas kok, pintu depan udah mas kunci jadi aman, cepet gih ganti keburu panas."



"Iya." Syifa mengiyakan dan segera masuk ke kamar mandi.



Raihan duduk di ranjang, ia tidak sabar melihat istrinya.


"Mas... Besar banget..." Syifa keluar sambil merentangkan tangannya.



Raihan mematung melihat tampilan istrinya, celana bahan panjang warna hitam, kaos abu abu miliknya yang pastinya sangat besar di tubuh Syifa, bahkan lingkar lengannya muat untuk 3 tangan, dan jangan lupakan rambut hitam panjang yang tergerai, errrr... ada plus plusnya gitu.



"Mas..."



"Ha?" Raihan tersadar.



"Bajunya kebesaran." Ucap Asyifa kembali.



"Ngga papa, cantik tau ngga yang... tambah semangat mas." Raihan menghampiri Asyifa.


"Mas beruntung kamu pakai gamis sama niqob, bener beruntung mas, kalo kamu keluar pakai ini mas ngga ikhlas, cantik banget soalnya... buat mas aja, Syifa kaya gini buat mas seorang." Raihan memeluk Syifa gemas.


"Oke kita meluncur..." Raihan mengangkat tubuh istrinya, menuju halaman belakang dengan sedikit berlari.



"Mas... Syifa bisa jalan sendiri." Muka Syifa memanas, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.



Raihan tidak membalas ucapan Asyifa malah berputar putar.


"Pusing..." Raihan berhenti mendengar keluh Syifa, ia menurunkan Syifa lalu memegang lengannya karena sempat oleng.



"Eh eh... ngga pusing? Maaf ya..." Raihan menangkup wajah Asyifa.



"Ngga papa mas." Syifa memejamkan mata menghilangkan kunang kunang di kepalanya.

__ADS_1



"Duduk dulu."



"Ngga mas, udah kok." Syifa tersenyum lembut ke Raihan.



"Bener?" Tanya Raihan.



"Iya..." Syifa mengangguk yakin.



"Oke sekarang kita mulai." Raihan mulai menyalahkan speaker aktif.



Raihan berniat hari ini akan ia habiskan dengan istri tercinta, karena besok pagi ia sudah harus ke kantor, Suara mba mba instruktur sudah mulai terdengar, Raihan memposisikan dirinya di hadapan Syifa.



"Tarik nafas... buang... tarik lagi... buang... ayo yang..." Syifa masih malu malu mengikuti arahan Raihan.


"Angkat tangan, satu... dua... tida... empat... ayo ih, Syifa mah malu malu." Raihan berjalan ke belakang istrinya.


"Tuju... delapan... satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tuju... delapan..." Raihan menggerakkan tangan Syifa.


"Kaya video klip Titanic hahaha...


Every night in my dreams



I see you, I feel you



That is how I know you go on



Far across the distance



And spaces between us



You have come to show you go on



Near, far, wherever you are




Hahaha..." Raihan girang, ia malah nyanyi mengabaikan suara instruktur yang terus berjalan, sedangkan Asyifa, ia menunduk menyembunyikan tawanya, sekuat tenaga Syifa menahan tawa.



Ini bukan karakter Raihan yang Syifa tau, atau ini karakter Raihan yang ia sembunyikan selama ini, pembawaan yang ringan, riang, senyum lebar, hilang sudah senyum sinis, tatapan tajam, raut wajah kaku, ternyata ucapan RASA MENGUBAH SEGALANYA benar adanya.



"Hahaha..." tawa Syifa pecah.



"Kenapa ketawa? Suara mas jelek ya? fals ya?" Tanya Raihan.



"Ngga kok, cuma hahaha... mas lucu hahaha..." Syifa jongko sambil memegangi perutnya, tawanya masih terdengar di telinga Raihan.



"Mas lucu cuman sama Syifa." Raihan ikut jongkok di depan istrinya.



"Mas dari pagi buat Syifa baper terus." Asyifa menyembunyikan muka di lipatan tangannya.



Raihan terkekeh lalu mengacak rambut Syifa.


"Gemes banget sih... kapan senamnya kalo gini, ayo senam Syifa yang mimpin." Raihan menarik Syifa berdiri.



"Mas aja, Syifa ngga pandai." Asyifa mulai terbiasa dengan Raihan, ia mulai meyakinkan dirinya untuk terbuka dan menghilangkan rasa takut yang masih menghantuinya.



"Tapi Syifa ikut yang bener ya..." Syifa mengangguk, ia mengikat rambutnya kebelakang jadi satu.



Raihan memulai gerakannya, mulai dari pemanasan, skot jump, hingga dansa berdua, Syifa hanya tertawa mengikuti suaminya.



"Hahhh... capek." Raihan duduk lesehan.



"Kopinya mas." Syifa membawakan kopi untuk sang suami.



"Makasih." Raihan menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1



"Sama sama, Syifa masak dulu ya mas." Raihan menahan tangan Syifa.



"Mas udah gofood, bentar lagi juga dateng, sini duduk Syifa pasti capek." Raihan menepuk tempat di sebelahnya.


"Kakinya jangan di tekuk." Syifa membenarkan kakinya.



"Kan Syifa bisa masak mas..."



"Syifa ngga boleh capek capek, ini juga udah jam 9."



"Syifa ngga capek kok."



"Di bilangin suami juga." Raihan mencubit hidung istrinya.



"Makasih ya mas..." Ucap Syifa tulus.



"Makasih buat apa?" Tanya Raihan.



"Buat semuanya."



"Baru gini aja, apapun bakal mas lakuin, kan mas sayang sama Syifa, lagian yang harus terimakasih itu mas."



"Tuh kan mas gombal lagi..." Syifa memukul pelan lengan Raihan.



"Cuma sama kamu..." Ucap Raihan dengan cengirannya.



"Syifa baper loh mas."



"Mas Raihanmu ini bakal tanggung jawab tenang aja." Raihan merangkul istrinya.


"Mas kok nyium bau asem ya." Raihan mengendus ke Syifa.



"Isss... mas juga asem." Syifa ke melepaskan rangkulan Raihan.



"Sesama asem harus saling menyayangi." Raihan kembali merangkul istrinya.



"Kata siapa?"



"Kata suaminya Asyifa Khumairoh Irta."



"Siapa suaminya? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?" Syifa mengikuti permainan Raihan.



"Karena dia benar benar menyayangi istrinya."



"Hahaha mas bisa aja." Syifa terkekeh mendengar penuturan suaminya.



"Hahaha... tawa Syifa nular." Raihan ikut tertawa.



"Receh."



"Dih biarin..." mereka tertawa bersama, entah apa yang lucu.



Dalam suatu pernikahan, bercandanya suami istri adalah ibadah. Ibadah jika dilakukan tentu akan mendatangkan pahala.



Memandang istri pun merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan pahala. Karena Allah memudahkan menikah, sebab menikah akan mengubah banyak hal dosa menjadi jika dilakukan berpahala. Ustad Hanan attaki menuturkan:



"Memandang pasangan itu seperti memandang kabah. Seperti pahala orang sholat selama 2 rakaat"



Halalnya suatu hubungan, tentu ketika berkegiatan didampingi istri hal ini akan membawa pahala. Mengapa demikian? ketika seseorang belum halal dan berkegiatan dengan bukan mahram akan mendatangkan dosa besar tentu itu setimpal dengan besarnya pahala yang akan dilakukan bersama istri. Maka setiap hari suami istri akan penuh pahala bersama.



__ADS_1


__ADS_2