Asyifa (Proses Penerbitan)

Asyifa (Proses Penerbitan)
-


__ADS_3

"Bagaimana dok?" Raihan masuk kedalam ruang instalasi gawat darurat.


Disana ada Asyifa yang terbaring lemah diatas ranjang dengan selang infus dan kantong darah menancap di tangannya, rintihan sudah tidak terdengar dari bibirnya, matanya menatap sang suami sendu.


"Begini pak, malam ini juga kita harus melakukan operasi caesar, karena plasenta mulai memisahkan diri dari dinding rahim, saya takut jika menunggu hingga besok pagi nyawa salah satu dari ibu dan bayinya terancam, bahkan lebih parahnya nyawa keduanya, terlebih lagi pendarahan parah yang dialami bu Syifa juga tekanan darah yang melebihi batas membuat kemungkinan semakin besar, sementara ini sambil menunggu administrasi selesai bu Syifa saya suntik anti nyeri untuk mengurangi nyeri perutnya." Jelas dokter perempuan yang menangani Syifa.


"Selamatkan anak saya dok." Ucap Asyifa lirih.


"Kami akan berusaha semampu kami menyelamatkan ibu dan anak yang bu Syifa kandung."


"Utamakan keselamatan mereka, apapun yang terjadi, walaupun nyawa saya taruhannya tetap selamatkan mereka dok." Ucapan Syifa membuat hati Raihan mencelos.


"Diam yang." Sentak Raihan, kini kepalanya dipenuhi oleh sahutan sahutan terkutuk membuat kepalanya terasa ingin pecah.


"Siapakah alat alatnya dok saya akan mengurus administrasi secepatnya." Raihan langsung keluar dari ruangan.


Pria itu berlari secepatnya menuju mobil, bodoh, sangking paniknya ia lupa membawa handphone dan dompetnya, bagaimana ia dapat mengurus administrasi jika begini? Uang dp saja ia tak bisa membayarnya.


Raihan melajukan mobilnya menuju rumah abi, rumah yang paling cepat ia gapai.


Tok tok tok


"Assalamualaikum..."


Tok tok tok


"Assalamualaikum..."


Tok tok tok


"Waalaikumsalam... sebentar." Jawab seseorang dari dalam.


kreakk


"Bang, Raihan minta tolong bang." Ucap Raihan begini melihat abang iparnya keluar.


"Kenapa? Ini baju juga kenapa merah semua?" Azzam melihat keadaan iparnya sangat kacau, rambut yang acak acakan, muka khawatir bercampur tegang, terdapat bercak darah di kaos yang pria itu pakai.


"Syifa pendarahan bang."


"Ha?" Mata Azzam melotot.


"Sekarang di rumah sakit, malam ini juga harus operasi caesar, Raihan lupa nggak bawa dompet sama Hp, tolong bang_" ucapan Raihan terpotong.


"Biar abang yang urus administrasi, kamu bilang ke abi umi, ganti baju terus kesana, jangan lupa bawa perlengkapan Humaira yang ada disini." Azzam menepuk bahu iparnya langsung melesat memasuki rumah.


Raihan menghembuskan nafas panjang, ia ber istighfar menenangkan hati dan juga fikirannya sebelum bertemu kedua mertuanya.


Semua akan baik baik saja...


Itu adalah kata penenang yang Raihan ucapkan untuk dirinya sendiri, ia seperti sedang berbohong dengan dirinya sendiri.


Tok tok tok


"Assalamualaikum abi..."


Raihan mengetuk pintu kamar orangtua Syifa.


Kreakkk


"Waalaikumsalam, loh ada nak Raihan."


"Iya bi." Raihan mencium punggung tangan abi.


"Ada apa nak? Kenapa berantakan begini?" Tanya abi.


"Syifa pendarahan bi, sekarang ada di rumah sakit, Raihan kesini mau minta bantuan mengurus administrasi, tapi sekarang sudah ditangani abang." Mereka berbicara didepan pintu kamar abi.


"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, kenapa bisa pendarahan?" Abi kaget, orangtua mana yang tak kaget melihat anaknya sedang bertarung nyawa.


"Raihan kurang tau pastinya bi, waktu Raihan masuk kamar Syifa udah duduk kesakitan di kamar mandi, Raihan panik langsung bawa kerumah sakit sampai lupa nggak bawa dompet sama Hp." Terang Raihan.


"Terus sekarang keadaannya gimana?"


"Malam ini operasi caesar bi."


"Abi ikut ke rumah sakit." Ucap abi langsung.

__ADS_1


"Iya bi, Raihan ke kamar dulu mau ambil barang barang Syifa."


"Abi bangunin umi dulu."


Abi kembali memasuki kamar sedangkan Raihan menuju kamar istrinya untuk mengganti pakaian dan mengemasi beberapa baju istrinya.


🌸


Azzam keluar dari IGD bertepatan dengan datangnya Raihan beserta kedua orangtuanya.


"Gimana bang?" Tanya umi khawatir.


"Humaira istirahat didalam mi, 4 jam lagi operasi, kalau umi sama abi mau masuk silahkan tapi satu satu." Mata Azzam nampak memerah.


"Makasih ya bang."


Azzam tersenyum menanggapi ucapan Raihan.


"Humaira titip pesan kalau ketemu suaminya bilangin suruh obatin kakinya dulu sebelum ketemu dia."


"Udah nggak papa kok bang, luka kecil."


"Mana umi lihat." Umi mendekati menantunya.


"Nggak papa umi."


"Lihat dulu." Umi memaksa.


Raihan melepas sandalnya lalu memperlihatkan telapak kakinya.


"ya Allah... gitu dibilang nggak papa nak, umi mintain obat dulu biar nggak infeksi."


"Nggak usah umi." Tolak Raihan.


Umi tetap melangkah memasuki IGD tanpa mendengarkan ucapan Raihan.


"Duduk nak." Ucap abi, Raihan duduk diikuti oleh Azzam.


"Teh Husna dimana bang?"


"Dirumah abi, tadi pengen ikut tapi abang larang, keadaannya belum pulih total, orang harusnya nggak jadi ketempat abi karena badannya lemes tapi dia maksa."


"Abang pulang aja, kasihan teh Husna, kalau ada apa apa Raihan hubungi."


"Hubungi pakai apa? Handphone aja nggak bawa, dari hati ke hati?" Azzam tersenyum mengejek.


"Pakai hp abi bang hehehe." Raihan tertawa renyah.


"Nggak istri nggak suami sama aja nyuruh abang pergi, ya udah abang pulang dulu lah." Azzam bersiap bangkit.


"Bukan maksud ngusir bang."


"Iya paham, lagian mana tega abang ninggalin istri sendirian dirumah lama lama, bisa bisa tetehmu kangen sama Hubby nya." Azzam bangkit.


Hubby panggilan sayang untuk suami dalam bahasa arab, dari kata Hubun yang artinya cinta.


"Ya udah abang pamit ya Han."


"Iya bang."


"Pamit bi, kalau ada apa apa hubungi Azzam ya bi." Azzam mencium punggung tangan abinya.


"Hati hati."


Umi datang sambil membawa kotak yang berisi alat alat untuk mengobati luka di kaki Raihan.


"Nih di obatin dulu." Umi menyerahkan kotak ke Raihan.


"Terimakasih umi."


"Umi Azzam pulang dulu." Azzam mencium punggung tangan umi.


"Iya hati hati jangan ngebut."


"Iya umi, Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Azzam pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Umi masuk dulu ya."


"Silahkan umi."


"Umi masuk bi." Abi mengangguk lantas umi masuk kembali kedalam IGD untuk menemui sang putri.


"Assalamualaikum Humaira..."


"Waalaikumsalam umi..." Syifa tersenyum lembut.


"Gimana nak?"


"Humaira nggak papa umi."


"Sudah siap jadi ibu nak?" Umi membelai kepala Syifa dengan sayang.


"Insyaallah, Humaira minta maaf ya umi kalau selama ini banyak salah sama umi, belum bisa jadi putri yang diharapkan umi, maaf Humaira sering menyakiti perasaan umi dengan tingkah bodoh Humaira, sering pura pura nggak dengan waktu umi manggil, Humaira minta maaf umi... tak terhitung berapa banyak kesalahan yang sudah Humaira perbuat." Air mata Asyifa menetes.


"Terima kasih sudah melahirkan Humaira ke dunia, bertarung nyawa demi Humaira, membesarkan Humaira dengan penuh kasih sayang, umi yang paling mengerti kebutuhan Humaira, hiks um_umi selalu menjadi orang pertama yang siap menjadi sandaran ketika Humaira lelah, umi dokter dan pensehat terbaik Humaira, umi juga yang menjadi pendengar setia semua keluh kesah Humaira hiks, Humaira sayang umi... umi sehat sehat hiks doakan Humaira umi..." Syifa menangis tersedu sedu.


"Umi bangga memiliki putri seperti Humaira, umi juga sayang Humaira, umi sudah memaafkan semua kesalahan yang Humaira buat, maaf kalau umi ada salah saat mendidik Humaira."


"Umi nggak ada salah hiks Humaira yang banyak salah, ma_maaf hiks umi..." Asyifa membawa tangan uminya untuk ia cium.


"Udah ih jangan nangis malu sama anak, Humaira harus semangat, putri umi kan kuat, umi keluar dulu ya gantian sama abi." Umi mencium puncak kepala Asyifa lama kemudian keluar, umi tidak kuat lagi menahan tangisnya.


Tak lama setelah umi keluar abi masuk.


"Assalamualaikum putri abi."


"Waalaikumsalam abi..."


"Calon ummah nangis nih, mau saingan sama anaknya?." Goda abi.


"Abi..." rengek Syifa.


"Hehehe... Nggak nyangka tinggal hitungan jam Humaira udah jadi ummah ya, kayaknya baru aja abi kena ompol Humaira."


"Maafin Humaira ya bi, Humaira banyak salah, sering nggak nurut sama abi, terimakasih banyak atas keringat yang abi hasilkan demi kebutuhan Humaira yang nggak pernah selesai." Air mata Asyifa kembali menetes.


"Udah jadi tanggung jawab abi nak, jangan nangis lagi, abi mau keluar dulu ya, gantian sama mertua Humaira." Abi mengelus puncak kepala Asyifa.


"Bunda sama ayah kesini bi?"


"Iya, abi keluar dulu, semangat sebentar lagi abi ketemu cucu cucu abi." Abi mengepalkan tangannya, membuat Syifa terkekeh pelan.


"Doakan Humaira ya bi."


"Pasti nak, Abi keluar ya." Abi meninggalkan ruangan.


"Assalamualaikum... ya Allah nak kamu diapain Raihan? Bilang bunda biar bunda pukul dia nggak ada kapok kapoknya." Ucap bunda dalam satu tarikan nafas.


"Waalaikumsalam bunda... mas Raihan nggak salah bun, tiba tiba perut Syifa sakit mas Raihan nggak tau apa apa." Asyifa tersenyum lembut.


"Ya udah, kalau yang salah Raihan bilang bunda, nggak usah takut sama ancaman dia."


"Terimakasih ya bun sudah baik banget sama Syifa, maaf kalau selama menjadi menantu bunda Syifa banyak salah, suka ngerepotin bunda." Syifa meminta maaf atas semua perbuatannya, begitupula saat ayah masuk melihat keadaannya.


Sekarang giliran Raihan yang masuk kedalam, kaki pria itu sudah terbalut kasa, luka di kakinya lumayan banyak, bagaimana tidak, kaca pecah berceceran di lantai ia injak begitu saja.


"Assalamualaikum ummah..."


"Waalaikumsalam abah..."


"Semangat, sebentar lagi kita akan ketemu adek." Raihan mengelus perut buncit Asyifa.


"Syifa minta maaf ya mas kalau selama ini banyak salah sama mas, nggak bisa ngelayanin mas dengan baik, suka cengeng, suka ngerecokin mas nonton transformers hehehe..." Syifa terkekeh geli diakhir kalimatnya.


"Nggak perlu minta maaf yang, udah ya nggak usah ngomong yang kayak gini." Raihan menggenggam tangan sang istri.


"Terimakasih ya mas atas semua yang mas kasih buat Syifa, Syifa sayang sama mas, Syifa cinta sama mas, apapun yang terjadi mas harus ikhlas." tangan bebas Asyifa mengelus tangan Raihan yang menggenggam tangannya.


"Stttt... Udah ya, jangan ngomong yang aneh aneh mas nggak suka."


"Jaga dan rawat mereka dengan baik mas, Syifa selalu bersama mas dimanapun berada karena Syifa ada di diri mas." Syifa tetap melanjutkan ucapannya.


"Stop berhenti ya..." mata Raihan memanas.

__ADS_1


"Biarin Syifa ngomong mas." Raihan menangis memeluk lengan Asyifa, hal yang pernah terjadi padanya kini terulang lagi, ia tidak kuat mendengar ucapan Asyifa yang amat menyayat hati.


"Syifa janji akan berjuang agar tetap bisa bersama mas dan anak anak, tapi Syifa tak tau bagaimana akhirnya, kalau Syifa bisa memilih lebih baik Syifa bersama kalian tapi jika yang maha kuasa berkehendak Syifa nggak bisa menolaknya, Syifa hanya bisa berdoa dan meminta, mungkin Allah lebih sayang Syifa, Syifa hanya pesan mas harus bisa ikhlas dengan takdir yang telah di gariskan, doakan Syifa mas semoga istri mas ini masih bisa bersama mas merawat malaikat malaikat kecil kita." Tangan Asyifa terulur mengelus rambut suaminya, Raihan hanya menangis tersedu sedu enggan menanggapi ucapan Asyifa.


__ADS_2