
"Assalamualaikum..." Syifa dan Raihan memasuki rumah.
"Kok bersih rumahnya." Syifa kaget melihat rumahnya sudah bersih, perasaan ia belum bersih bersih semenjak pulang dari Arab.
"Bibi tadi pagi kesini." Jelas Raihan.
"Lohhh kok malah kita tinggal, harusnya Syifa tadi pulang nggak malah ikut mas ke kantor kasihan bibi bersih bersih sendirian, di kantor juga mas malah sama Syifa terus nggak kerja." Syifa menghadap ke suaminya.
"Sengaja biar Syifa istirahat dulu."
"Tapi kan kasihan bibi mas, Syifa capek loh bersihin serumah apalagi bibi yang sudah berumur." Ucap Asyifa sedikit kesal, ia membayangkan bibi yang sudah berkepala 5 membersihkan rumah sebesar ini sendirian.
"Bibi sampai rumah langsung istirahat yang, udah nggak papa kita mandi terus istirahat yuk." Raihan merangkul istrinya.
"Syifa nggak enak sama bibi, mas sih nggak bilang bibi kesini, harusnya bilang setidaknya kan Syifa bisa nyiapin cemilan atau apa gitu."
"Isss lucu banget sih kalo lagi ngomel gini." Ada setitik kebahagiaan melihat istrinya berani mengomelinya seperti ini, jika dibayangkan pasti lucu setiap hari mendengar omelan sayang dari istrinya ini.
"Syifa serius mas..." rengek Syifa manja.
"Iya iya... kita telpon bibi mau?" Tawar Raihan.
"Mau." Syifa mengangguk.
"Sini duduk dulu." Raihan membawa istrinya duduk di sofa ruang tamu.
"Mana Handphone mas?" Syifa mengambilkan hp Raihan yang ada didalam tasnya.
Jari jari Raihan menarik diatas layar mencari nomor bibi.
"Nih." Raihan menyodorkan handphonenya.
__ADS_1
"Tuttt... tuttt..." tak lama telpon itu tersambung.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam bi, bibi sehat? Maaf ya bi tadi Syifa nggak ada di rumah, mas Raihan sih nggak bilang jadi kesel Syifanya pengen gigit." Cerocos Asyifa.
"Hahaha... Alhamdulillah bibi sehat non, tadi bibi dibantu sama ibu jadi nggak begitu capek."
"Bunda ikut bantu?" Tanya Syifa tidak percaya.
"Iya non."
"Ya udah bibi istirahat ya, titip salam buat semua, Syifa tutup bi Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Tut.
"Astagfirullah mas... Syifa malu sama bunda kalau kayak gini, sebegitu nggak pecusnya Syifa ngurusin rumah sampai sampai bunda yang beresin, Syifa benci dengan diri Syifa yang lemah bisanya hanya menyusahkan orang lain, nggak tau diri sekali Syifa jadi menantu, andai Syifa nggak sakit." Mata Syifa mulai mengembun, ia benar benar merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Istighfar yang... mas nggak suka ya kalau Syifa gini." Raihan menarik Syifa kedalam pelukannya.
"Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih, Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih, Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih." Asyifa memejamkan mata sambil ber istighfar.
"Istri mas nggak lemah, bagi mas Syifa wanita terkuat yang pernah mas temui setelah bunda, manusia nggak ada yang sempurna sayang, manusia mahluk sosial yang pastinya membutuhkan pertolongan, nah ini mungkin salah satu bentuk bantuan yang bunda berikan ke Syifa, jangan pernah nyalahin diri Syifa sendiri karena itu sama aja Syifa nyalahin mas yang bertanggung jawab penuh atas Syifa." Raihan mengelus punggung istrinya berharap dapat menyalurkan ketenangan.
"Maaf mas..." Ucap Syifa lirih.
"Nggak papa, mas ngerti perasaan Syifa."
"Besok kerumah bunda ya mas." Asyifa mendongak menatap suaminya.
__ADS_1
"Iya... tapi besok ke rumah sakit dulu ya."
"Ngapain ke RS?" Tanya Syifa.
"Abi tadi bilang ke mas beliau menyarankan kita cek keadaan Syifa apakah baik baik saja jika mengandung, takutnya ada hal yang tidak diinginkan jika memang harus nunda demi kebaikan nanti kita persiapkan dengan baik, mas nanti juga cek kok, Syifa nggak menunda momongan kan?." Raihan berusaha memilih kalimat yang tidak menyinggung perasaan wanita dihadapannya ini.
"Syifa nggak menunda mas, sedikasihnya aja, tapi kalau emmm... Syifa nggak bisa hamil mas bisa mempersunting wanita lain Syifa ikhlas." Dalam hati kecil Syifa berteriak menolak hal itu terjadi namun melihat dirinya yang sekarang tidak sesempurna dulu ia tidak boleh egois.
"Jangan ngomong kayak gini lagi ya, mas bener bener nggak suka, hati mas ngilu dengan Syifa ngomong gitu, apapun yang terjadi Syifa punya mas sebaliknya mas punya Syifa, nggak akan mas izinin orang lain masuk ditengah tengah kita."
"Syifa punya Allah mas." Asyifa menyandarkan kepalanya ke dada bidang Raihan.
"Iya Syifa punya Allah yang dititipkan ke abi dan umi sekarang beralih ke mas jadi mas harus menjaga titipan-Nya yang sangat berharga ini." Raihan mengecup puncak kepala Asyifa dengan sayang.
"Syifa sayang mas Raihan." Ucap Asyifa pelan yang masih bisa didengar oleh Raihan.
"Alhamdulillah... Mas juga sayang sama Humaira satu ini, udah ah mas mau mandi dulu bauk acem, udah lengket juga badan mas."
"Padahal keteknya harum." Syifa mengendus ketiak suaminya.
"Emang cuma Syifa seorang yang bilang ketek kecut gini harum." Raihan mengacak puncak kepala Asyifa yang tertutup jilbab.
"Ayo ke kamar bersih bersih terus istirahat sebentar." Raihan bangkit dan membantu istrinya bangkit, mereka lalu pergi menuju kamar.
Pagi tadi setelah dari rumah orang tua Syifa mereka langsung pergi ke kantor Raihan, awalnya Syifa menolak dan lebih memilih pulang kerumah tapi Raihan melarang dengan alasan ingin kerja sambil ditemani istri tercinta padahal aslinya tidak mau istri kecapekan karena dapat ia pastikan istrinya itu akan membantu membersihkan rumah, Syifa tidak punya pilihan lain, rumah orangtuanya juga sepi karena abi dan uminya pergi ke acara pembukaan restoran milik teman abi sedangkan bang Azzam dan teh Husna kerumah teh Husna mengambil barang barang yang akan dibawa pindah kerumah baru.
Raihan mengerjakan pekerjaannya hanya dalam waktu 2 jam sisanya digunakan untuk menemani Syifa sampai jam makan siang hingga Raihan menciptakan sebuah quotes yang cocok dengan tema novel yang sedang Asyifa buat setelah itu ia bekerja kembali sambil sesekali bersenda gurau dengan Humairanya.
Kalian ingin tau quotes apa yang dibuat Raihan? Simak dibawah ini baik baik.
Malam memang kian sunyi, tapi yang bermalam di kepala kini kian bising dengan argumen argumen yang ku ciptakan sendiri, dapat ku saksikan setitik cahaya yang begitu redup mulai menerang kala ku temukan sebuah jalan cerita yang kuidam idamkan benar benar menjadi jalan hidupku, berlagak menjadi sutradara dalam cerita klasik yang tercipta dari suasana hati, itu memang tidak terlalu buruk, namun sayangnya hanya khayal belakang jika teringat ada pagi yang menunggu gilirannya hadir, aku bukan sutradara didalam hidup ini melainkan hanyalah peran utama dari sudut pandang ku sendiri yang mengikuti semua alur yang telah dituliskan oleh sutradara terhandal sejagat raya.
__ADS_1