Ayo Pergi Ke Dungeon !

Ayo Pergi Ke Dungeon !
Chapter 17


__ADS_3

Burung elang api itu nampak begitu sangat marah. Kobaran api ditubuhnya semakin membesar. Para petualang tersebut seakan bukan tandingannya. "Kita harus bisa bertahan, dan jangan khawatir. Kita masih menang jumlah dari dia !" Teriak Liria.


"Ya, benar. Kita masih memiliki peluang untuk menang" Sahut seorang petualang dengan pedang besar.


"Benar, jangan menyerah disini !" Balas salah satu pemanah dengan busur berwarna perak.


"Ayo kita serang secara bersama-sama lagi ! Jangan berikan celah...!" Ucap laki-laki ras elf dengan busur besarnya.


Mereka kembali menyerang secara bersamaan. Petualang dengan senjata jarak dekat menyerbu kearah burung itu. Sedangkan para petualang dengan senjata jarak jauhnya, membuka jalan untuk petualang lain.


Seperti sebelumnya, burung besar itu terbang menyambar kearah para petualang. Dengan cakar apinya, dia mementalkan semua petualang.


"Wooshh !"


"Arrggh...!"


"Terlalu kuat, kita butuh strategi lain...!" Ucap Liria sembari memikirkan sebuah rencana.


.


.


"Kapten, kita sudah berjalan cukup jauh. Dan suara itu juga sudah menghilang, keadaan cukup sulit didepan. Apa tidak sebaiknya kita istirahat saja dulu ?" Ucap seorang ahli sihir perempuan dari ras manusia.


"Hmm... Kau benar, kabut ini juga semakin mengganggu. Kita maju sedikit lagi dan segera beristirahat..." Sahut Helos dan memerintahkan.


Mereka terus berjalan kedepan, dan tidak lama kemudian Helos menginjakkan kakinya disebuah tempat. Dan tempat itu adalah reruntuhan altar es yang cukup lebar. Melingkar, dan setidaknya berdiameter 50 meter. Terdapat patung berbentuk singa di empat tempat.


"Lihat, ini sebuah altar..."


"Woah, hebat, Dungeon disini ternyata juga mempunyai tempat seperti ini..."


"Pastilah, disetiap Dungeon yang lain pasti memiliki tempat seperti ini juga..."


Para petualang yang lain begitu terpesona dengan tempat itu. Dan tiba-tiba suara aungan monster sebelumnya kembali terdengar. Serta kali ini berjarak sangat dekat dengan mereka. "Berhati-hatilah, suara ini semakin mendekat !" Ucap petualang perempuan itu.


"Semuanya, bersiap...!" Sahut Helos dan segera mengeluarkan pedang besarnya.

__ADS_1


"Rooarrr !"


"Grooaar !"


Dengan cepat turunlah singa es besar dari salah satu tebing es yang mengelilingi altar tersebut. Dia mendarat dengan empat kakinya, hingga menggetarkan seluruh altar.


"Akhirnya kau muncul juga. Aku sudah tidak sabar ingin menebas kepalamu !" Sahut salah satu petualang pria ras halfbeast serigala. Dengan membawa kapak besarnya, dia bersiap untuk menyerang.


"Singa ini cukup sulit dikalahkan, pertahanan dia sangat bagus. Kita butuh sihir pendukung agar dapat melahkannya" Balas perempuan ahli sihir sebelumnya.


"Kita memiliki cukup bangak ahli sihir, tapi kurang penyerang. Sebaiknya perhatikan baik-baik pergerakan singa itu terlebih dahulu" Ucap Helos mengingatkan.


"Baik, kapten !"


"Para ahli sihir, usahakan kalian mendapat ruang untuk menyerangnya. Sisanya buka jalan untuk para ahli sihir...!" Sahut Helos menambahkan.


Secara bersamaan mereka juga menyerbu kearah singa tersebut. Dengan dipimpin oleh Helos, mereka secara bergantian menebaskan dan menghantamkan senjata masing-masing kearah singa besar itu.


"Grooarr !"


Namun, semua serangan dapat ditahan oleh singa itu. Dengan tubuh diselimuti es, dan gerakan yang cukup lincah. Semua serangan seakan tertahan oleh kulit es yang dimilikinya. "Cih, sebesar kekuatan apapun yang dilancarkan. Dengan cepat kekuatan itu akan turun ketika mengenai kulit esnya" Ucap pria ras halfbeast serigala.


"Lepaskan sihir kalain...!"


"Serang...!"


Perempuan itu memberikan perintah dan semua ahli sihir secara bersamaan menembakkan kekuatan sihir mereka kearah singa es itu. Dengan sangat kuat sihir mereka langsung mengenai tubuh singa tersebut.


"Blasst !"


"Boomm !"


Sihir itu meledakan di tubuh singa es tersebut. Asap begitu pekat, dan kabut mulai menipis. "Apa berhasil ? Asap ini terlalu tebal..." Ucap si pria setengah serigala.


"Au harap serangan ini dapat melumpuhkannya !" Sahut Helos berharap.


Sembari asap menghilang, nampak sebuah bayangan didalamnya. Seketika suara aungan yang sangat kencang membuat asap itu menghilang dalam sekejap. "Astaga, dia bahkan tidak terjatuh sama sekali" Sahut si pria setengah serigala.

__ADS_1


"Cih, apa kita gagal...!" Balas Helos kesal.


"Aku rasa dampaknya cukup terasa. Namun, karena tubuhnya cukup kuat, dia terlihat baik-baik saja" Teriak perempuan si ahli sihir.


"Oh, begitukah. Hanya terlihat kuat diluarnya, ya ! Ayo kita serang sekali lagi...!" Ucap Helos dan segera menyerbu kearah singa es itu.


.


.


"Huh, rawa menyebalkan. Kecepatanku sudah penuh, dan aku hampir menggunakan separuh energiku. Dimana para petualang itu ?!" Ace kesal yang dari tadi tidak menemukan para petualang lain disana.


"Tadi sekilas aku mendengar sebuah pertarungan. Dan sekarang petualang yang lain saja aku tidak menemukannya, huh !" Ucap Ace menggerutu.


Dan tiba-tiba dia kembali mendengar suara pertarungan dari arah lain. "Tunggu dulu, apa angin disini selalu seperti ini ? Tadi, aku mendengar dari arah depan. Dan sekarang aku mendegar dari arah kiriku !? Berarti angin disini memang selalu berubah-ubah. Pantas aku tidak dapat menemukan mereka" Ace berhenti, dan segera merasakan angin yang berhembus mengelilinginya.


"Ugh, aku benci hal ini. Bukan ilusi melainkan gelombang angin, hanya ada satu cara untuk mengetahui apa yang terjadi. Dengan mengikuti sumber suara paling kuat, dan ini akan memakan waktu yang cukup lama. Sebaiknya aku segera bergegas !" Ace segera mengikuti suara angin tersebut.


Dia bagaikan ular yang tidak tentu arah dan tujuannya. Berlari lurus dan berbelok, mengikuti suara dalam angin dan sembari terus mencari sumber suara tersebut.


Tidak lama kemudian dia melihat sebuah kilatan cahaya berwarna kemerahan. "Apa itu api unggun...!?" Ucap Ace penasaran dengan cahaya tersebut.


Karena diarah yang sama dia mendengar suara pertarungan itu terjadi. Semakin mendekat dan ternyata dia melihat para petualang yang telah kelelahan. Dan seekor burung elang api besar bertengger diatas sebuah pohon besar tua. "Astaga, apa yang terjadi...?" Ace segera mendekat, dan melihat Liria yang kelelahan.


"Liria, apa yang terjadi !?" Tanya Ace mendekati Liria dan segera membantunya berdiri.


"Ace ? Kenapa kau bisa disini ? Ugh, ceritanya panjang..." Jawab Liria sembari berpegangan pada Ace.


"Pelan saja, aku melihat petualang disini setidaknya emas tingkat 6 dan ada beberapa dari mereka emas tingkat 7. Dan burung besar itu adalah monster langka tingkat 12. Kenapa bisa sampai seperti ini...?" Ucap Ace dan kembali bertanya.


"Tenang Ace, kami baik-baik saja. Hanya saja monster kali ini seperti bukan monster biasa. Kekuatan dan tingkatnya pun jauh berbeda" Jelas Liria dan segera Ace memberikan potion tingkat menengah kepada Liria.


"Minumlah, ini akan cepat memulihkan energimu" Sahut Ace.


"Tidak aku sangka, kau pun juga akan datang. Apa Zed yang memintamu untuk membantu ?" Balas Liria bertanya.


"Sebenarnya aku datang karena keinginanku sendiri. Bahkan aku tidak tau ternyata Zed sudah merencanakan hal seperti ini" Jawab Ace.

__ADS_1


"Meskipun kami sudah membawa banyak petualang. Aku rasa ini belum cukup, pengalaman mereka masih kurang" Ucap Liria terlihat khawatir.


__ADS_2