
Bola sihir berwarna ungu melesat kearah Einel, dan dengan mudah Einel menghindar dari serangan gadis misterius itu.
"Swoossh !"
"Boomm"
Bola sihir tersebut meledak dibelakang Einel, kemudian laki-laki dengan tongkat sihirnya itu membalas serangan tersebut. "Huh, tidak pernah berubah ! Serangan Halilintar..." Sahut Einel menyerang.
"Wuuzzz"
Sebuah sambaran petir yang kuat melaju kearah gadis misterius itu. Dan seketika prajurit bayangan tiba-tiba muncul untuk menahan serangan petir dari Einel. Bayangan itu kemudian hancur melebur karena terbakar oleh petir yang ditahannya.
"Boomm"
"Cih, masih bisa menahan seranganku, ya !?" Ucap Einel.
"Huh, seranganmu itu sudah tidak mempan lagi untukku. Aku sudah sering melihat pola seranganmu !" Balas gadis misterius itu.
"Cih, awas kau...! Akan aku pastikan, kau tidak akan bisa menahan seranganku kali ini ! Gemuruh Petir..." Sahut Einel sembari mengacungkan tongkat sihir miliknya kearah gadis itu.
Dan muncullah empat lingkaran sihir disekeliling Einel yang menghadap kearah gadis misterius itu. Dalam sekejap, sebuah petir secara bersamaan keluar dari lingkaran sihir tersebut. Menjadi sebuah empat serangan petir secara langsung kearah gadis misterius didalam menara.
"Hee... Kemampuan baru ya !? Hebat juga kau, Einel !" Ucap gadis misterius melihat serangan dari Einel. "Tapi, aku juga masih mempunyai kejutan untukmu..." Kemudian gadis itu dengan cepat membalik satu halaman di buku besar miliknya.
"Muncullah... Goliath Bayangan !" Ucap si gadis misterius.
"Boomm"
Dan ketika serangan petir mengenai gadis itu muncullah sosok makhluk bayangan besar yang menahan serangan tersebut. Asap hitam mengepul keluar dari dalam menara. "Rasakan itu, dasar pengganggu..." Ucap Einel menatap kearah gumpalan asap hitam didepannya itu.
"Woosshh"
"Rooaarr !"
Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang, perlahan menghilangkan gumpalan asap hitam dimenara itu. "Suara apa itu... ?! Apa yang dia lakukan sekarang ?" Sahut Einel sembari menutup telinganya karena mendengar aungan keras yang juga tiba-tiba muncul.
"Haha... Serangan yang lumayan hebat ! Tapi sangat disayangkan, itu masih belum cukup untuk melukaiku kali ini !" Ucap gadis misterius itu.
Ketika semua asap telah menghilang, nampak sosok besar bayangan hitam yang memiliki sepasang tanduk dikepalanya. Serta mempunyai mata merah yang menatap tajam. Setengah keluar dari dalam lingkaran sihir milik gadis misterius itu.
"Kali ini trik apalagi yang kau gunakan ?!" Tanya Einel yang terlihat kesal. "Cih, dia semakin kuat. Aku merasa ada kekuatan yang berbeda dari dalam dirinya yang sekarang !" Gumam Einel mengamati gadis itu.
__ADS_1
"Ini bukan trik... Melainkan senjata penghancurku !" Sahut gadis misterius itu kembali.
Perlahan lingkaran sihir tempat keluarnya sosok bayangan besar itu mulai melebar. Dan sosok besar itu mulai beranjak keluar dari dalam lingkaran. Tidak lama, sosok besar itu telah sepenuhnya keluar dari lingkaran dan terjatuh dalam dikota.
"Boomm"
Kaki besarnya menginjak tanah dikota Eleanor, sontak menimbulkan sebuah gelombang getaran keseluruh bagian kota. "Sial, makhluk itu besar sekali ?!" Ucap Einel menggerutu diatas awan miliknya.
Kepanikan mulai terjadi kembali, seluruh warga kota berlari menhindari makhluk besar hitam itu. Dan sekali lagi sosok besar tersebut mengaung dengan keras.
"Rooaarr !"
"Suara apa itu !?" Yuna yang mendengar suara itu langsung menutup telinganya.
"Aghh, apa lagi yang terjadi sekarang ?!" Ucap Aeria yang juga menutup telinganya.
Serta semua pasukan kerajaan yang bersama mereka juga menutup alat pendengarannya. Dan hal yang sama juga dilakukan para petualang yang telah kerasukan.
"Bagus sekali, ini akan menjadi acara utama kali ini !" Ucap si gadis misterius.
"Apa yang kau rencanakan kali ini ?!" Tanya Einel berteriak.
"Cih, percuma bertanya. Memang sudah pasti tidak akan dijawabnya !" Gumam Einel menggerutu dan kembali menatap sosok besar dibawahnya.
.
.
"Uhmm... Senior sudah cukup, ini memalukan" Ace mencoba melepas pelukan Lorrain.
"Hmm... Dasar kau, lain kali jangan buat khawatir lagi !" Ucap Lorrain yang melepaskan pelukannya.
"Iya tidak akan, ngomong-ngomong dimana belati milikku ?!" Tanya Ace.
"Sudah patah !" Jawab Lorrain datar.
"Apaa...!!? Benarkah itu...?!"
"Iya, aku melihatnya disana. Tergeletak seperti barang terbuang yang tidak berguna" Tunjuk Lorrain kearah belati yang sudah patah menjadi dua bagian.
"Tidakkk...!!"
__ADS_1
Ace segera menghampiri belati miliknya, dan mengambilnya dengan berat hati. "Belati kesayanganku... Hiks... Maaf Master, aku mematahkannya. Aku murid yang tidak berguna... Hiks...!" Ace merasa sedih karena kehilangan belati kesayangannya.
"Sudahlah, Ace. Nanti kau bisa memperbaikinya di tempat tuan Ymir !" Ucap Helos yang datang menghampiri.
"Hiks... Hmm... Terima kasih kapten Helos. Aku tau kau pasti mengetahui penyebabnya. Tapi sayangnya belati ini tidak bisa diperbaiki dengan mudah" Sahut Ace terharu.
"Eh ? Soal itu... Aku turut berduka untukmu !" Balas Helos kembali. "Maaf nona Lorrain, apa benar belati ini tidak bisa diperbaiki ?" Tanya Helos berbisik kepada Lorrain.
"Hmm... Materialnya langka. Tidak ada didunia ini" Jawab Lorrain pelan dengan mengangguk.
"Yang benar saja !? Jika materialnya tidak ada didunia ini, lantas, bagaimana bisa belati itu dibuat ?" Tanya Helos yang semakin penasaran.
"Singkat cerita, belati itu didapat master geralf ketika dia memasuki menara suci ! Dan diberikan kepada Ace sebagai muridnya" Sahut Lorrain menjawab.
"Oh, begitu rupanya. Cukup merepotkan juga, ya !?" Ucap Helos kembali sembari menatap Ace yang masih bersedih meratapi belati miliknya. Dan dibalas sebuah anggukkan oleh Lorrain disampingnya.
.
.
"Kapten, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dahulu ?!" Tanya gadis setengah kucing kepada Liria. "Hmm... Ide yang bagus, sembari kita mengawasi keadaan sekitar. Aku semakin merasa kurang nyaman berada digunung ini" Jawab Liria.
"Baiklah, kita berhenti disini. Sebelum melanjutkan perjalanan kita akan awasi situasi disini terlebih dahulu" Ucap Liria. "Kita akan beristirahat di gua itu" Tunjuk Liria kearah sebuah gua digunung es tersebut.
"Baik, kapten !"
"Ayo segera bergegas, nampaknya kabut dingin mulai datang kembali !" Ucap salah satu petualang.
"Hmm... Ayo cepat !" Sahut Liria.
Mereka secara bersamaan memasuki gua tersebut, gua itu terlihat cukup luas dan memiliki sumber air tersendiri dibagian dalam. Dan tidak lupa mereka membuat api unggun, untuk menerangi seluruh bagian gua serta menghangatkan ruangan gua.
"Mulai dari sini kita akan bergantian mengawasi keadaan sekitar. Akan dibentuk kelompok kecil dengan anggota masing-masing 3 petualang. Sembari mengamati situasi kalian cari bahan bakar api unggun juga" Ucap Liria menerangkan.
"Dan setiap kelompok akan bergantian setelah 30 menit. Jadi usahakan kalian untuk tetap waspada !" Sahut Liria menambahkan.
"Baiklah kapten, kalau begitu mari kita mulai pembagian kelompoknya !" Balas pria elf pemanah sebelumnya.
"Hmm... Baiklah !" Jawab Liria untuk memulai.
Mereka dengan kompak membentuk kelompok kecil dengan mengutamakan keseimbangan. Disini mereka saling mengenal satu dengan lainnya. Dan juga mereka semua terlihat sangat akrab sekali meski ada yang baru pertama bertemu.
__ADS_1