Ayo Pergi Ke Dungeon !

Ayo Pergi Ke Dungeon !
Chapter 29


__ADS_3

Makhluk besar itu kemudian mengamuk dan menghancurkan beberapa bangunan kota. Menggunakan cakarnya yang besar, dia menghantam bangunan itu dengan sangat mudah. Reruntuhan dari puing-puing bangunan menghujani para penduduk Eleanor disekitarnya.


"Rooaarrrgg...!"


"Boomm"


"Ini tidak bisa dibiarkan !" Ucap Einel kesal. "Gemuruh Petir..." Einel kembali mengeluarkan serangan petir miliknya.


Sambaran petir yang sangat kuat melaju dengan cepat kearah sosok besar dibawahnya itu. Namun, sosok besar tersebut langsung menahan serangan itu dengan kedua tangannya.


"Sraahkk"


"Woossh"


"Boomm"


Seketika sosok besar itu kemudian menatap tajam kearah Einel. Seakan marah karena telah diganggu oleh pria dengan awan yang terbang diatasnya itu. "Cih, tidak mempan..." Sahut Einel menggerutu.


"Hmm... Mencoba mengalahkan makhluk bayanganku hanya dengan kemampuan itu ?! Senior, kau terlalu bermimpi... Haha..." Ucap Dania yang melihat usaha Einel.


"Diam kau ! Aku hanya mencoba kekuatan makhluk yang kau panggil ini" Jawab Einel sedikit jengkel.


"Haha... Percuma saja, Senior. Kau tidak akan bisa mengalahkannya !" Balas Dania.


"Aku belum serius, dan kali ini aku akan sangat serius !" Ucap Einel mengelak. "Wahai dewiku...! Pinjamkan berkah langit kepadaku...!" Einel kemudian mengangkat tangan kirinya seperti menadah sesuatu dari langit.


Dan awan mulai menjadi gelap, serta angin berhembus dengan kencang kearah Einel dari segala penjuru Eleanor. Gumpalan awan hitam mulai terbentuk diatas Einel berdiri. "Apa yang kau lakukan, senior !? Apa kau akan menhancurkan Eleanor ?" Tanya Dania yang juga sedikit khawatir melihat kearah Einel.


"Hmm... Aku !? Tentu saja tidak..." Jawab Einel sembari mengumpulkan energi sihir miliknya.


"Jika terkena serangan ini, aku pasti tidak akan selamat. Harus segera menggunakan rencana itu sekarang, sial...!" Gumam Dania dengan cemas. Kemudian terlihat Dania kembali membuka halaman baru dibuku besar miliknya.


Nampak wanita itu merapalkan sebuah mantra yang tertulis dibuku tersebut. Sedangkan Einel telah cukup mengumpulkan kekuatannya. Gumpalan awan hitam berputar-putar diatas Einel, serta terlihat beberapa kilatan petir diantara awan hitam itu.


"Apa yang akan dilakukan Einel ? Mungkinkah harus menggunakan kemampuan itu...!?" Yuna melihat kearah langit dan bertanya pada diri sendiri sembari bertarung dengan beberapa prajurit bayangan.


"Itu kemampuan tuan Einel, jika dia menggunakan itu berarti situasinya sangat gawat !" Ucap salah satu pasukan kerajaan lain yang menatap kearah langit.


"Sebenarnya apa yang terjadi di Eleanor !?" Sahut pasukan kerajaan lain saling bertanya, dan sembari mempertahankan keadaan.

__ADS_1


"Boomm"


"Cih, dasar Einel ! Apa yang dia pikirkan sebenarnya !?" Ucap Aeria yang telah menghempaskan kapak besarnya untuk menerjang kerumunan prajurit bayangan didepannya.


"Yuna, apa rencanamu kali ini ?!" Tanya Aeria yang masih tidak terlalu jauh dengan barisan pertahanan dibelakangnya.


"Biar aku pikir dahulu...!" Jawab Yuna yang sibuk bertarung. "Aghh... Kau ini terlalu lama berpikir !" Balas Aeria yang juga kembali bertarung dengan petualang yang kerasukan.


"Shriinkk"


"Slasshh"


.


.


Diatas gunung es, didalam gua tempat kelompok Liria berada sudah kelima kalinya kemlompok pengawas keadaan berganti. Dan belum juga kabut dingin terlihat akan menipis, sedangkan Helos dan kelompoknya telah cukup jauh mendaki. Jalanan yang cukup licin membuat mereka harus terus berhati-hati.


"Kapten, sudah kelompok kelima. Dan kabut ini tidak menunjukkan perubahan sedikitpun..." Ucap pria elf yang terlihat sedang menghangatkan diri didepan api unggun.


"Ya, aku tau. Keadaan semakin memburuk !" Jawab Liria menyela. "Ini seperti yang dikhawatirkan, situasinya semakin memburuk !"


"Hmm... Ini situasi yang sulit, aku butuh informasi dari kelompok kelima" Ucap Liria mengelak. "Bisa atau tidak, kita akan melanjutkan perjalanan keatas setelah kelompok kelima kembali !" Sahut Liria menambahkan.


Kobaran api unggun mulai menipis, mereka kembali menambahkan kayu untuk mempertahankan nyala api. Terlihat mulai sedikit tumpukkan kayu disamping mereka, dan itu nampak tidak bertahan lama.


Sementara itu kelompok kapten Helos semakin jauh dari dasar gunung. Mereka menerjang kabut dingin yang datang. "Dingin juga, tapi tidak sedingin kalau kita tidak memakan pil pelindung" Ucap salah satu petualang.


"Ya, benar sekali..."


"Memang hebat kapten Zed bisa berpikiran seperti ini..."


"Hmm... Tentu saja kami sudah memikirkan hal sekecil ini sebelum berangkat !" Sahut Helos menyela. "Kami tidak ingin membuat masalah baru dengan mengorbankan para petualang dan pasukan kami" Helos menjelaskan.


"Kraakk !"


"Apa ini...?!" Tiba-tiba seorang petualang seperti menginjak sesuatu. Karena tebalnya kabut hingga dia tidak melihat benda itu.


"Ada apa ?! Apa yang kau temukan..." Tanya Helos memperhatikan.

__ADS_1


"Coba aku lihat dulu..." Kemudian si petualang tersebut menunduk untuk mengambil benda yang telah dia injak tadi.


Tidak lama dia kembali berdiri, sontak mereka dibuat kaget oleh benda yang baru saja mereka lihat. "Astaga, sejak kapan itu berada disini...?!" Tanya si perempun ahli sihir sebelumnya.


Nampak sebuah tulang yang telah membeku. Dan segera Helos memerintahkan untuk segera menyisir disekitar masing-masing. "Segera lihat kebawah masing-masing ! Jika menemukan benda yang sama segera laporkan..." Ucap Helos yang juga segera mencari dibawahnya.


"Ketemu...!" Ace tiba-tiba berdiri dan menunjukkan sebuah tulang beku dari salah satu bagian tubuh.


"Astaga...!" Helos juga menemukan salah satu tulang beku. "Segera berkumpul... Jangan berpisah dari siapapun !" Perintah Helos yang mulai khawatir.


.


.


"Apa yang dilakukan orang itu !?" Ucap sang ratu mengamati dari kejahuan gumpalan awan hitam ditengah kota.


"Yang mulia...! Ada berita terbaru...!" Seorang gadis pelayan yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan sang ratu.


"Tenangkan dirimu, ada berita apa wahai pelayanku ?!" Sahut sang ratu mencoba menenangkan si pelayan.


Kemudian pelayan itu menarik nafas dalam dan setelah itu menghampiri sang ratu yang berdiri dibalkon. "Dikota telah terjadi penyerbuan yang tidak kunjung berhenti. Dan muncul sosok makhluk hitam besar ditengah kota" Ucap si pelayan.


"Sekarang ini tuan Einel mencoba menghentikan makhluk besar itu !" Si pelayan menambahkan.


"Jadi karena makhluk besar itu...!?" Gumam sang ratu kembali menatap gumpalan awan tersebut. "Apa wilayah kerajaan sudah ditembus ?!" Tanya sang ratu kembali.


"Belum yang mulia... Para anggota aliansi prajurit bayaran masih terlihat mempertahankan keadaan !" Jawab si pelayan kembali.


"Baguslah !" Sahut sang ratu. "Ini tidak bisa dibiarkan... Aku ingin meminta laporan dari para kapten !"


"Soal itu...! Anu..." Balas si pelayan menyela dan sedikit merasa takut.


"Ada apa wahai pelayanku ?! Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka ?" Sang ratu kembali bertanya.


"Tidak yang mulia...! Namun..." Si pelayan nampak seperti menyembunyikan sesuatu. "Kenapa wahai pelayanku ?! Bicaralah..." Sang ratu menjadi semakin penasaran.


"Ketiga kapten sedang didalam Dungeon sekarang ini !" Jawab si pelayan dengan gugup.


"Apa...? Kenapa tidak ada yang memberitahu tetang itu kepada aku !?" Balas sang ratu keget mendengar hal itu dari si pelayan.

__ADS_1


__ADS_2