Ayo Pergi Ke Dungeon !

Ayo Pergi Ke Dungeon !
Chapter 32


__ADS_3

"Jadi, ini ulah monster itu ? Yang membuat semua warga dikota menjadi panik" Ucap Lucia sembari memeriksa Einel yang masih belum sadarkan diri. Lucia memegang pergelangan tangan pria dengan rambut agak panjang itu, dan mencoba mencari denyut nadinya.


"Bagaimana, nona Lucia ? Apa dia baik-baik saja !?" Tanya Erin yang mendekat.


"Hmm... Aku tidak yakin, tapi dia masih hidup..." Jawab Lucia yang merasakan sedikit denyutan dari pembulu darah Einel dan juga meresa tidak begitu yakin. "Jika dilihat dari dampak yang ditimbulkan, hingga membentuk cekungan tanah ini. Dia seperti terlempar akibat pukulan yang sangat keras !" Ucap Lucia menambahkan.


"Apakah karena dia melawan monster itu ?" Sahut Carmen.


"Itu bisa saja, karena dilihat dari arah dia datang. Berasal dari arah makhluk besar itu berada !" Ucap Anna menyela dan mengamati.


"Hmm... Anna benar ! Karena aku kenal persis seperti apa sifat pria ini..." Balas Lucia yang sontak membuat kaget ketiga pegawainya itu.


"Apa ?! Senior kenal dengan pria ini..." Tanya Carmen.


"Aku tidak heran..." Ucap Erin yang nampak terbiasa.


"Hmm... Dia adalah salah satu anggota dari aliansi prajurit bayaran !" Jawab Lucia yang kemudian meminta sebotol potion dari Erin. "Erin, tolong aku ambilkan sebotol potion dibawah meja kasir !"


"Baik, nona...!" Erin bergegas mengambil sebuah potion tingkat sedang didalam kotak pertolongan pertama dibawah meja kasir. "Ini satu potionnya, nona Lucia !" Sahut Erin yang dengan cepat telah kembali ketempat Lucia saat ini.


"Terima kasih, Erin !" Ucap Lucia.


Kemudian gadis berambut pirang itu segera meminumkan potion tersebut kepada Einel. Perlahan dia menenggakkan kepala pria itu dan mendekatkan botol potion tersebut ke mulutnya.


Nampak Einel meminum perlahan potion itu hingga tidak tersisa. Setelah Lucia memberikan potion itu, tidak lama kemudian Einel terlihat sedikit membuka matanya. "Ugh... Dimana aku !?" Ucap Einel yang mulai sadarkan diri.


"Wahai dewiku... Apakah aku berada di surga ?!" Sahut Einel yang melihat dengan samar kearah Lucia dan bertanya kembali.


"Ehmm...!? Apa-apaan kau ini...?!" Balas Lucia kesal dan kemudian menampar pipi kanan Einel dengan keras.


"Splaasshh"


"Plaakk !"


"Argghh...!! Ampun...!!" Ucap Einel seketika saat merasa kesakitan.


"Sadar juga kau ?! Untung saja kau jatuh tidak jauh dari tempatku" Sahut Lucia yang masih merasa kesal.


"Eh !? Rupanya, Lucia ! Terima kasih sudah menolongku" Einel terduduk sedikit lemas dan sembari melihat sekitar seperti mencari sesuatu.


"Sedang apa kau ?" Tanya Lucia binggung. "Aku mencari tongkatku. Apa kau melihatnya ?!" Jawab Einel.


"Aku tidak melihat apapun disekitar sini. Apa kalian melihatnya ?!" Balas Lucia serta kembali bertanya kepada pegawainya.

__ADS_1


"Hmm..." Erin menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak melihatnya..." Jawab Carmen. "...Tidak juga !" Sahut Anna.


"Oh, baiklah... Terima kasih semua ! Akan aku panggil sendiri..." Einel kemudian mengacungkan tangan kanannya ketas kepala dan dengan sekejap kilatan petir muncul dari telapak tangannya.


"Wuuzzz"


"Silau sekali...!" Ucap Erin sekejap menutup matanya. "Aggh... Cahayanya menyilaukan !" Carmen juga menutup penglihatannya.


"Lihat...!!" Ucap Anna yang membuat kedua temannya itu menjadi kaget.


"Woahh !"


Kilauan cahaya berwarna kuning keemasan muncul bersamaan dengan datangnya sebuah tongkat ditangan Einel. Tongkat itu kemudian dibuat Einel sebagai penyangga untuk berdiri. "Aduhh-duhh...! Punggungku...!" Ucap Einel sembari tangan kirinya memegangi bagian pinggang.


"Dasar tua bangka...!" Sahut Lucia yang berdiri disampingnya.


"Eh ? Apa anda baik-baik saja ?!" Tanya Carmen yang terlihat memperhatikannya.


"Sudahlah, Carmen ! Dia baik-baik saja, bisa berdiri berarti dia sudah lebih baik" Balas Lucia datar.


"Maafkan aku... Jangan marah begitu, Lucia ! Hanya gara-gara hal kecil kau jadi marah kepadaku" Einel nampak tulus meminta maaf kepada Lucia. "Sebenarnya, apa hubungan kalian berdua ?" Tanya Anna menyela.


"Ya, kami cukup lama saling mengenal. Karena pria ini sebenarnya seumuran dengan master Geralf !" Sahut Lucia menjawab.


"Apa !?"


Ketiga pegawainya itu sontak kaget secara bersamaan dan menlontarkan sebuah pertanyaan yang sama juga.


.


.


"Sial, kita semakin terpojok !" Ucap petualang dengan busur panah yang nampak sudah kelelahan.


"Aku sudah berada dibatasanku ! Aku tidak sanggup lagi..." Sahut si gadis petualang pendukung yang tiba-tiba jatuh terduduk tak berdaya.


"Cih, bertahanlah kalian berdua..." Teriak si pria lain dengan dua kapak yang masih nampak bertahan dari serangan prajurit tulang beku.


"Wusshh !"


"Slaasshh"

__ADS_1


"Shriinkk"


Tiba-tiba dua prajurit tulang beku yang berada didepan ketiga petualang itu tumbang karena sebuah tebasan yang cukup cepat. Ace sontak berdiri dibelakang kedua prajurit tulang beku yang telah tumbang itu.


Hal tersebut membuat perhatian prajurit tulang yang lain teralih kepada Ace. "Belenggu Hutan..." Lorrain dari arah belakang Ace menyerang empat prajurit tulang lain disekitar tiga petualang itu.


"Kraakk"


Muncul empat akar yang melilit setiap prajurit tulang beku keudara, dan meremasnya hingga mereka remuk menjadi beberapa potong tulang yang berserakan ditanah.


"Apa yang terjadi ?!" Ucap si petualang dengan dua kapak.


"Lihat !! Itu mereka..." Sahut gadis pendukung yang menunjuk kearah kelompok kapten Helos.


Helos dan kelompoknya datang dari balik kabut dingin dan mereka segera menyerang prajurit tulang beku yang tersisa. "Bersihkan mereka...! Serang..." Ucap Helos memerintah para petualang lain untuk menyerang.


"Ya, kapten...! Hyaa..."


"Ayo semua kita bantu mereka..."


"Shriinnk"


"Kraakk"


Tidak lama kemudian mereka berhasil mengalahkan semua prajurit tulang beku yang mengepung ketiga petualang anggota dari kelompok Liria itu. "Sekarang kalian aman...! Dan... Bukankah, kalian anggota dari kelompok Liria ?!" Tanya Helos menyela.


"Ya, kami memang anggota dari kelompok kapten Liria" Jawab si pria dengan dua kapak.


"Mengapa kalian bisa berada sendirian disini ? Apa kalian terpisah ?!" Sahut Helos.


"Tidak, kami tidak tersesat..." Balas si gadis pendukung yang nampak selesai meminum potion pemberian Lorrain.


"Kami hanya ditugaskan untuk mengawasi keadaan disekitar. Dan sekarang kapten Liria dan lainnya mungkin sudah meninggalkan kami karena terlalu lama tidak kembali untuk melapor" Ucap pria lain yang membawa busur panah.


Mereka bertiga kemudian menjelaskan situasi tentang daerah disekitar dan juga memberitahukan rencana kapten Liria sebelumnya. Hingga mereka bertemu prajurit tulang beku dan terkepung disana.


"Oh, jadi begitu...!? Aku rasa, Liria juga sudah kembali melanjutkan pendakian. Tapi kabut ini memang sangat berbahaya, siapa pun, kapan pun, dan dimana pun seseorang bisa tersesat didalamnya" Ucap Helos berpendapat setelah mendengar penjelasan dari ketiga petualang itu.


"Kita hanya perlu bersama-sama. Jangan saling terpisah ! Firasatku mengatakan ada yang tidak beras dipuncak gunung es ini" Sahut Ace yang juga dari tadi menyimak.


"Benar, diambah lagi kita masih belum tau seperti apa jalan didepan nanti !" Ucap Lorrain menyela. "Benar juga, aku juga merasa ada sesuatu yang sangat kuat berada diatas sana !" Helos terlihat sedikit khawatir.


__ADS_1


__ADS_2