Ayo Pergi Ke Dungeon !

Ayo Pergi Ke Dungeon !
Chapter 26


__ADS_3

Ditempat Liria, terlihat mereka sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Dipimpin oleh salah satu kapten pasukan kerajaan itu, kelompok tersebut kembali bergerak.


"Baiklah, semuanya... Ayo kita segera bergerak ! Dan untuk kelompok bantuan selamat bergabung" Ucap Liria dan segera bergerak melanjutkan perjalanan.


"Baik kapten !"


"Ya, kapten... Mohon bantuannya juga !" Sahut salah satu petualang yang baru bergabung.


Mereka dengan cepat meninggalkan tempat itu, dan segera menuju teritori berikutnya. Mulai meninggalkan daerah rawa es, mereka kini memasuki sebuah hutan tandus yang dipenuhi oleh tumpukan salju.


Disepanjang jalan hanya terlihat pepohonan yang tertimbun oleh salju. "Tempat ini mengerikan..." Ucap seorang gadis dari ras setengah kucing, terlihat bahwa dia seorang petualang pendukung.


"Aku juga baru pertama kali kesini..." Sahut salah satu petualang lain.


"Monster apalagi yang akan muncul, ya ?!" Pria dari ras manusia dengan dua pedang menyela.


"Tenangkan diri kalian, perjalanan kita masih jauh. Dan ingatlah, ini bukan teritori terakhir..." Ucap Liria mencoba menenangkan mereka.


"Baik, kapten..."


"Ayo cepat, jangan sampai kita tersesat dihutan ini..." Liria kembali memerintahkan. "Dan satu lagi, jangan pernah terpisah dari yang lain"


"Ya, kapten...!"


Sontak mereka menjawab bersamaan, karena mereka juga tidak ingin tertinggal dan tersesat dari yang lain. Kelompok tersebut kemudian kembali melanjutkan perjalanan, tidak lama berjalan mereka telah keluar dari hutan itu. Namun suatu hal yang mengejutkan telah menunggu mereka, sebuah gunung es yang sangat tinggi.


"Woah, lihat itu. Apa ini teritori terakhir dari Dungeon tingkat 7 ?" Tanya gadis setengah kucing sebelumnya.


"Benar sekali, kita akan naik keatas sana ! Dan mungkin kita akan mengetahui penyebab monster-monster disini menjadi sangat agresif" Balas Liria menjawab.


"Kalau begitu ayo kita segera naik..." Sahut petualang lain.


"Ya, ayo kapten..."


"Jangan buang waktu, ayo segera naik..."


"Tenangkan diri kalian, kita masih belum tau kondisi didepan sana ! Aku peringatkan, dan tetaplah berhati-hati" Teriak Liria.


Segera mereka berjalan menaiki jalan setapak yang cukup lebar menuju keatas puncak gunung es itu. Terlihat kelompok Liria begitu sangat bersemangat, namun didalam pikiran Liria masih ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa tenang.


"Kapten, ada apa ? Kau terlihat murung..." Tanya si gadis ras setengah kucing.


"Eh ? Tidak apa, haha... Aku baik-baik saja !" Jawab Liria mengelak.

__ADS_1


"Oh, tapi kapten. Semenjak naik tadi, kita belum bertemu monster satu pun. Bagaimana menurut anda kapten ?!" Ucap gadis setengah kucing itu.


"Ya, aku juga merasa aneh dari tadi. Tapi aku tidak ingin membuat petualang lain menjadi panik" Sahut Liria.


"Oh, begitu... Anda benar-benar bijaksana kapten ! Aku senang bisa ikut membantumu..." Balas gadis itu.


"Eh... Aku bukan orang yang seperti itu" Liria sedikit malu dan menyela perkataan gadis itu.


.


.


"Ace, terima kasih telah datang membantu kami !" Ucap Helos menghampiri Ace.


"Eh, soal itu... Bahkan aku tidak ingat apa pun tentang hal itu kapten !" Jawab Ace yang masih lupa kejadian sebelumnya.


"Dan untuk nona Lorrain, aku sangat senang dan terima kasih telah datang. Kami memang tidak bisa mengalahkan monster itu meski jumlah kami lebih banyak. Berkat anda kami terselamatkan" Sahut Helos kepada wanita elf didepannya itu.


"Sudahlah kapten, ini bukan apa-apa. Aku datang karena dia..." Balas Lorrain dan menunjuk kearah Ace.


"Eh ? Kenapa aku... Memangnya ada apa denganku ?!" Tanya Ace.


"Tidak, bukan apa-apa..." Jawab Lorrain mengelak.


"Ah ? Aku tidak terluka, bahkan tidak ada luka ditubuhku..." Ace mengelak untuk diobati oleh Lorrain.


"Hmm... Aku masih penasaran dengan anak ini. Bahkan aliansi prajurit bayaran seperti menutupi sesuatu hal dari kami" Gumam Helos didalam pikirannya.


Melihat keakraban mereka Helos menjadi ingin tertawa. Seperti seorang anak yang selalu dilindungi oleh ibunya. Mungkin ikatan mereka jauh lebih dalam daripada hal semacam itu. "Huh... Baiklah semua ! Ada banyak kristal elixir. Segera bagi dengan rata dan jangan berebut, kalian juga harus berterima kasih kepada nona Lorrain yang telah mengalahkan singa es itu" Ucap Helos memerintahkan.


"Eh ? Dimana belatiku..." Tiba-tiba Ace ingat belatinya yang sudah patah.


"Anu... Itu yang ingin aku bilang dari tadi" Ucap Helos sedikit menjaga jaraknya.


"Eh ? Anda tau... Dimana itu kapten !?"


"Soal itu... Seseorang tidak ingin aku membicarakannya" Jawab Helos.


"Siapa orang itu, beritahu aku kapten !"


"Itu... Aku rasa dia sedang menatapku" Tunjuk Helos kearah Lorrain yang berdiri dibelakang Ace. Wanita itu menatap dengan tajam kearah Helos seperti akan menerkamnya.


"Eh ? Senior... Apa benar kau juga tau dimana belatiku ?!" Ace segera menghampiri Lorrain.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau...!" Ucap Lorrain.


"Anu... Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus membagi rata kristal-kristal elixir ini" Helos yang tidak ingin terlibat masalah dengan mereka, dia segera pergi meninggalkan Ace dan Lorrain.


"Ayolah, senior dimana belatiku...!?" Ace merengek meminta belatinya.


"Tidak, nanti kau bisa teluka lagi. Lebih baik kau melupakan belati itu !" Sahut Lorrain dengan nada dingin.


"Tidak bisa ! Benda itu adalah pemberian master, aku tidak akan melupakannya" Balas Ace tetap memaksa.


"Huft... Kau ini !" Lorrain kemudian memeluk Ace, sontak hal itu membuat Ace kaget. "Kenapa kau suka membuat khawatir orang !" Ucap Lorrain tepat ditelinga kiri Ace.


"Eh ? Senior...!?"


.


.


Diatas kota Eleanor, laki-laki dengan mengendarai sebuah gumpalan awan kecil terlihat sedang mencari sesuatu. "Sial, dimana dia... Aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Aku khawatir dengan ketua dan yang lainnya" Ucap pria berpenampilan serba kuning keemasan itu. Dia memakai jubah dengan penutup kepala, dan membawa sebuah tongkat yang memiliki ujung sebuah batu berwarna merah delima.


"Aku harus cepat menemukan pengganggu itu !" Dia kembali mengelilingi langit Eleanor, sembari melihat kearah bangunan dikota.


Sekilas dia melihat kearah bangunan menara ditengah kota, nampak samar sebuah cahaya berwarna keunguan. "Apa itu...?!" Dan dia memeriksa dengan seksama kearah cahaya itu berasal.


"Oh, disana kau rupanya ! Awas saja kau..." Laki-laki itu segera melaju dengan cepat kearah sumber cahaya tersebut.


"Wuusshh !"


"Serangan Halilintar...!" Tiba-tiba laki-laki itu menyerang dengan kuat menggunakan sihir petir miliknya. Kearah seorang gadis misterius didalam menara tersebut.


"Wuuzzz"


"Boomm !"


"Cih, pengganggu !" Ucap gadis misterius yang masih menggunakan penutup kepalanya itu. Dan berhasil menghindari serangan petir dari laki-laki yang terbang menghampirinya.


"Kau bersembunyi disini rupanya ! Hah, apa kau tidak bosan kalah ?! Kenapa kau kembali lagi kesini ?" Tanya laki-laki itu.


"Huh, kalah ? Tidak ada kata itu didalam kamusku !" Gadis mistrius itu kemudian menembakkan bola sihir ungu kearah laki-laki tersebut. "Rasakan ini, Einel...! Bola sihir gelap..."


"Woosshh..."


"Serangan seperti itu tidak akan mempan untuk melukaiku !" Ucap Einel sedikit sombong.

__ADS_1


__ADS_2