
Ace bersembunyi dan menyaksikan pasukan Kerajaan tersebut dari balik batuan tidak jauh dari mereka.
"Lebih baik aku lihat situasinya terlebih dahulu." Gumam Ace sembari menyembunyikan dirinya.
"Pertahankan posisi, monster itu akan menyerang!" Ucap si gadis itu.
"Baik kapten!"
"Beezzz!"
Kupu-kupu tersebut menghempaskan sayapnya dan membuat sebuah gelombang ungu beracun yang besar. "Astaga, ini serangan beracun!" Ucap Ace dan segera menutup pernafasannya.
"Perkuat perisai!"
[Dinding Suci]
Pasukan Kerajaan membentuk sebuah formasi perisai yang tersusun dengan cermat. Si gadis itu kemudian menggunakan kemampuannya untuk memperkuat perisai pertahanan para pasukan. Sebuah dinding perisai kuning transparan nampak berkilau menahan serangan kupu-kupu tersebut.
"Wuuzz!"
"Wuuzz!"
Gelombang beracun itu tertahan dan mereka sedikit pun tidak terluka oleh serangan tersebut. Bahkan mereka tidak bergerak sedikit pun.
"Hebat, sungguh pertahanan yang sempurna." Gumam Ace kagum.
"Pasukan Pemanah, bersiap menyerang Para Ahli sihir, perkuat serangan!" Ucap gadis itu dengan lantang.
"Kami siap, kapten!" Ucap para pasukan pemanah.
"Daya rusak telah ditingkatkan!" Sahut para ahli sihir.
"Sekarang, tembak!"
Gadis tersebut dengan keras berteriak. Sontak para pemanah langsung melepaskan anak panahnya. Anak panah tersebut dengan kuat melaju kearah kupu-kupu beracun itu.
Diselimuti api dan dengan tekanan yang kuat, membentuk sebuah kilauan cahaya yang terang. Namun, kupu-kupu beracun tersebut seketika menutupkan kedua sayapnya.
Membentuk sebuah pertahanan yang cukup kuat. Hingga memental kan serangan para pasukan kerajaan di sana. "Sial, masih belum cukup!" Ucap gadis itu dengan kesal.
"Gagal, bagaimana ini kapten?" Tanya salah satu ahli sihir.
"Semuanya, tetap diposisi kalian. Kita pulihkan tenaga terlebih dahulu. Para pasukan perisai tetap dalam posisi pertahanan." Sahut gadis itu memerintahkan.
"Baik, kapten!" Jawab si ahli sihir.
Enam pasukan berperisai menjaga posisi mereka, sembari menunggu pasukan lain mengisi tenaga. Empat pemanah nampak mempersiapkan busur-busur mereka. Dan Empat ahli sihir terlihat sedang mengumpulkan tenaga.
Kupu-kupu itu kembali membuka sayapnya, sontak para pasukan terlihat panik. "Semua, tetap tenang. Kita pasti bisa mengalahkan monster ini!" Ucap gadis itu memberi dukungan moral kepada pasukannya.
.
__ADS_1
.
"Selain memiliki serangan yang kuat, juga memiliki pertahanan yang cukup rapat. Namun, dari gerakannya terbilang cukup lambat." Gumam Ace sembari mengamati.
"Kapten, kami belum selesai mengisi tenaga. Apa rencana selanjutnya?" Tanya salah seorang ahli sihir.
"Terus isi tenaga kalian, pasukan pemanah. Tolong bantu aku mengulur waktu." Balas gadis itu.
"Awas kapten!" Sahut salah satu pasukan berperisai di barisan depan.
Kupu-kupu tersebut nampak menghempaskan sayapnya kembali. Tapi hanya sebuah serangan biasa, namun terlihat cukup kuat. Angin berhembus kencang kearah para pasukan kerajaan.
Angin tersebut terlihat berhasil menghancurkan pertahanan pasukan-pasukan itu. "Arrggh...! Awas, kapten!" Sahut seorang pasukan yang masih menahan serangan tersebut.
"Tenang, aku baik-baik saja." Si gadis itu terlihat menahan angin tersebut dengan perisainya juga.
"Dia sungguh kuat! Untuk seorang perempuan." Ucap Ace bergumam.
Serangan tersebut berlalu dengan cepat, dampak yang ditimbulkan cukup besar hingga Ace pun terkena sedikit hembusannya.
"Sial, kuat juga serangannya. Tidak aku sangka ini hanya serangan biasa." Gumam Ace menggerutu.
Salah satu lentera jiwa yang dibawa oleh ahli sihir redup. Dan kabut berpasir itu sedikit kembali menebal.
Area tersebut nampak buram dikarenakan pasir yang semakin banyak. "Astaga, pertahankan dirimu. Jangan sampai cahaya lentera itu padam!" Ucap seorang ahli sihir kepada sesama ahli sihir lainnya.
"Maaf, maafkan aku..." Balas si ahli sihir itu, dan segera dia kembali menjaga aliran energinya. Agar cahaya lentera itu tidak redup.
"Baik kapten..." Sahut semua pasukan.
"Lentera jiwa, sebuah artefak kuno yang mampu menerangi jalan seseorang meski dia didalam pekatnya kegelapan. Bahkan, mampu menembus sebuah medan ilusi sekali pun.
Namun, seperti namanya, cahayanya akan muncul berdasarkan keteguhan jiwa si pemakainya." Ucap Ace bergumam.
"Hebat, bahkan mereka telah mempersiapkan benda semacam itu." Tambah Ace kagum.
.
.
"Pertarungan ini tidak akan ada hasilnya. Aku harus membantu mereka." Ace segera menampakkan diri, dan bersiap menerima segala teguran terhadap dirinya.
"Hay-...Semua, sepertinya kalian dalam masalah?" Ucap Ace menyapa, sembari keluar dari persembunyiannya.
"Hey kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya seorang pemanah kepada Ace.
"Eh...Sejak kapan ada petualang lain disini?" Balas tanya si gadis itu. "Maaf, apa kamu sedang terjebak disini?"
"Tidak, aku hanya lewat. Dan tiba-tiba ada kabut berpasir ini, dari kejauhan aku melihat sebuah cahaya. Kemudian aku menghampirinya. Ternyata ada kalian di sini, hehe..."
"Hmm... Untuk keselamatanmu, lebih baik kamu pergi dari sini." Ucap si gadis dengan sopan.
__ADS_1
"Tidak aku sangka, pasukan kerajaan ada yang sopan seperti ini. Aku terharu..." Balas Ace menjawab sedikit dengan bumbu homoris.
"Hey, anak muda, apa kamu tuli atau bagaimana? Ini bukan urusanmu, cepat tinggalkan tempat ini." Gertak salah seorang ahli sihir.
"Woah...Tenang teman, aku kesini menawarkan bantuan. Aku lihat kalian sangat kekurangan penyerang jarak dekat." Ucap Ace memojokkan.
"Iya, kamu benar sekali. Aku tidak punya penyerang yang kuat selain pasukan pemanah ku. Lantas bagaimana cara kamu ingin membantu kami?" Sahut si gadis tersebut.
"Itu mudah, tentu saja. Dengan menyerangnya dari dekat." Balas Ace sedikit bercanda.
"Kamu pikir kami ini main-main?" Sahut salah satu ahli sihir. "Sudah cukup, tenangkan dirimu." Jawab si gadis itu menyelanya.
"Menyerangnya dari dekat? Kamu tahu dia monster terbangkan, bagaimana kamu akan mendekatinya?" Ucap gadis tersebut mulai penasaran.
"Baiklah, ini rencanaku. Kalian memiliki ahli sihir, pusatkan semua tenaga kalian kepadaku. Sementara itu, pasukan lain mengulur waktu untuk kami. Sisanya akan aku selesaikan sendiri. Bagaimana?" Ace menjelaskan.
"Bisa dimengerti, kalau begitu aku dan pasukan perisai akan menahan serangan monster itu." Balas gadis itu menyetujui rencana Ace. "Para pemanah, kecoh serangga itu dengan anak panah kalian."
"Baiklah, kita mulai rencana ini!"
Keenam pasukan perisai bersiap digaris depan dan si gadis itu berada dibelakangnya. Sedangkan empat pasukan pemanah menembakkan anak panahnya kearah kupu-kupu tersebut secara bergantian.
Sementara itu keempat para ahli sihir mengkonsentrasikan energinya kearah Ace. Dan Ace bersiap dengan kuda-kudanya, seperti biasa dia mengeluarkan dua belatinya bersiap untuk menerkam monster tersebut.
"Baiklah, kami akan mulai mengalirkan energi kami kepadamu." Sahut salah satu ahli sihir.
"Hmm...Aku siap!" Ace bersiap dan bekonsentrasi.
"Semuanya, bersiap untuk serangan kupu-kupu itu." Teriak gadis itu, bersamaan datangnya hembusan angin dari kupu-kupu tersebut.
"Wuuzzz!"
"Wuuzzz!"
"Pertahankan, kita pasti bisa mengalahkannya!"
"Yaa...!"
"Bhoom!"
"Dia memang bisa dihandalkan, tidak salah aku memberanikan diri membantu mereka." Ucap Ace bergumam.
"Anak muda, kami telah selesai mengalirkan energi kepadamu. Sekarang giliranmu!"
"Haah-...Terima kasih banyak. Akan aku bunuh monster itu untuk kalian."
"Para pemanah, gunakan panah api. Buka jalan untuk anak itu!" Sahut gadis itu.
"Baik...! [Flame Arrow] Ditembakkan !" Para pemanah secara bersamaan melancarkan serangan panah berapi mereka.
Sontak kupu-kupu tersebut menghentikan serangannya dan menutup kedua sayapnya.
__ADS_1