
Goliath bayangan itu menatap tajam kearah Einel. Dengan cepat dia mengayunkan lengannya kearah pria berjubah putih itu. Telapak tangannya yang lebar dengan cepat mengarah ke tubuh Einel.
"Wuuzzz"
"Astaga...! Sial...! Perisai Sihir..."
Sontak Einel segera membentuk lingkaran pelindung sihir didepannya. Namun karena kerasnya hantam telapak tangan makhluk besar itu. Einel pun terlempar dari atas awan kecil miliinya.
"Kraakk"
"Braakk"
"Wuusshh"
Einel terlempar sangat cepat menuju ke permukaan tanah. Tubuhnya lemas karena menerima serangan telapak tangan dari makhluk besar itu. Dengan sangat keras pula tubuh Einel membentur permukaan tanah di kota Eleanor. Bersamaan jatuhnya Einel yang menghantam tanah, hingga menimbulkan suara gemuruh serta getaran yang sangat keras.
"Boomm"
Einel jatuh dijalanan kota Eleanor, hingga membentuk sebuah cekungan besar ditanah. "Kenapa lagi ini...? Ada apa diluar sana...!?" Ucap Carmen ketakutan yang masih berada dibawah meja.
"Tenangkan dirimu, Carmen !" Sahut Lucia menenangkan salah satu pegawainya itu.
"Akan aku periksa !" Erin dengan berani meninggalkan tempat berlindungnya, dan segera menuju pintu depan penginapan.
Erin membuka pintu dan melihat sekitar, sontak matanya dibuat kaget dengan kepulan asap diatas sebuah cekungan besar ditanah tidak jauh dari penginapan itu. "Nona Lucia, semuanya...! Cepat kalian lihat, ada seseorang yang sedang terluka !" Ucap Erin dengan keras.
"Eh ? Siapa itu Erin...?" Lucia segera menyusul Erin yang sudah keluar dari penginapan.
"Senior... Tunggu aku !" Sahut Carmen yang juga mengikuti Lucia. "Carmen, tunggu aku...!" Anna yang melihat Carmen kemudian segera mengikutinya.
Kini mereka berempat telah berada diluar, suara ledakan dan gemuruh pertarungan terdengar diseluruh sudut kota. "Dimana orang itu, Erin !?" Tanya Lucia penasaran.
"Dia ada disana !" Tunjuk Erin kearah gumpalan asap diatas tanah itu. "Eh !? Kau benar, Erin ! Ada seseorang tergeletak disana..." Sahut Carmen yang juga melihat sosok samar dibalik asap yang mengepul.
"Coba aku lihat dulu !" Ucap Lucia yang semakin penasaran. Kemudian dia mendekati cekungan tersebut. "Astaga ! Ini... Benar ada yang terluka disini...! Kalian cepat bantun..."
Lucia memasuki asap itu dan melihat Einel yang tergeletak lemas tidak berdaya didalam cekungan tersebut. Ketiga pegawai itu segera menghampiri Lucia setelah mendengar ucapaan dari gadis pemilik penginapan itu.
"Benar-benar ada yang terluka...! Kau benar, Erin" Ucap Anna yang juga kaget melihat Einel disana.
__ADS_1
"Grrooaarrgg"
"Rooaarrr"
Makhluk besar itu kembali mengaung dengan sangat keras hingga menggetarkan seluruh kota Eleanor. "Aggh... Suaranya terdengar sangat dekat sekali" Sahut Carmen yang seketika menutup telinganya.
Diikuti oleh ketiga gadis yang lain, mereka bersamaan menutup alat pengdengaran masing-masing. "Hmm... Dia ada disana ! Sepertinya dia sedang marah..." Balas Anna yang melihat kearah makhluk besar yang berdiri tegak ditengah kota.
"Astaga !" Lucia terperanga melihat sosok besar itu.
"Dia benar-benar besar..." Ucap Carmen.
"Tinggi sekali...!" Balas Erin.
.
.
"Bagus ! Haha... Senior ternyata juga bukan lawan yang berarti bagi Goliath Bayanganku" Dania nampak begitu puas dengan makhluk besar itu. "Hebat sekali, dengan begini recana ini akan berjalan dengan lancar ! Haha..." Ucap Dania sangat senang.
"Wahai seluruh prajuritku... Segera hancurkan istana, dan segera tangkap sang ratu !" Dania berbicara kepada semua prajurit bayangan dan sosok besar itu melalui telepatinya, serta segera memerintahkannya mereka kembali.
Seluruh prajurit bayangan kembali menyerbu kearah istana kerajaan. Dan nampak para petualang, dan pasukan kerajaan semakin memperketat penjagaan. Ditambah dengan bantuan para anggota aliansi prajurit bayaran menjaga dibeberapa titik.
"Yuna, ini semakin buruk ! Apa kau masih belum memiliki rencana ?!" Tanya Aeria yang semakin sibuk dengan prajurit bayaran yang menyerang.
"Huh, Ada... Satu...! Hyaa... Cara !" Jawab Yuna sembari dengan cepat menebas para prajurit bayangan yang datang. "Tapi, kita harus meminta bantuan dari sang ratu !" Yuna menambakan.
"Jangan bilang itu... adalah...!" Aeria kemudian menebak apa yang direncanakan oleh ketua dari aliansi prajurit bayaran itu.
"Hmm... Tidak ada jalan lain lagi !" Sahut Yuna menyakinkan. "Segera laporkan ini kepada sang ratu, dan sampaikan juga permintaan tolongku ini..." Yuna segera menghampiri salah satu pasukan kerajaan dibarisan paling belakang, dan memberikan sebuah surat yang dia tulis untuk sang ratu.
"Baik, ketua ! Akan segera saya sampaikan...!" Pasukan itu segera berlari menuju istana, dan Yuna kembali ke barisan depan.
"Bagaimana ? Sudah kau sampaikan...!?" Tanya Aeria kembali.
"Sudah, kita hanya perlu bertahan sembari menunggu disini !" Sahut Yuna menjawab.
"Baiklah, aku juga sudah muak dengan mereka semua !" Ucap Aeria menatap para prajurit bayangan yang berdatangan.
__ADS_1
"Hmm... Lepaskan saja ! Mengamuklah..." Balas Yuna yang nampak kembali memasukkan pedangnya kedalam sarung pedang miliknya.
"Ya, tanpa kau beritahu, aku akan mengamuk sepuasku !" Aeria menarik kapak besarnya dan mehantamkannya ketanah. "Hehe... Ini saatnya kalian enyah dari sini ! Hyaa...!" Aura kemerahan mulai menyelimuti tubuh Aeria. Tekanan energi disekitarnya mulai bertambah berat.
"Lihat ! Apa yang akan dilakukan nona Aeria !"
"Awas...! Kita juga harus menjaga jarak..."
Pasukan kerajaan yang melihat Aeria segera menjaga jarak dengannya. Dan memperhatikan dari kejahuan, apa yang akan dilakukan oleh Aeria. Tidak lama tubuh Aeria telah terselimuti oleh aura kemerahan yang pekat.
"Gooarrgg..."
"Arrgg..."
Prajurit bayangan secara bersamaan menyerbu kearah Aeria yang nampak sangat marah. Namun terlihat dari raut wajahnya, wanita itu begitu senang karena prajurit bayangan itu telah mendatanginya. "Kemarilah kalian semua...!" Ucap Aeria.
.
.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini !" Ucap seorang petualang dengan busur panah.
"Ya, aku tau itu ! Pertama, kita harus segera keluar dari kepungan mereka" Sahut petualang dengan dua kapak yang nampak sedang bertarung.
"Ini akan sulit ! Kita sudah terlalu lama berada disini..." Ucap seorang gadis petualang pendukung menyela.
Mereka terlihat begitu kelelahan, dan nampak beberapa prajurit tulang dingin sedang mengepung ketiga petualang itu. Didalam kabut dingin yang semakin menebal mereka mencoba bertahan sembari mencari jalan menuju tempat Liria.
Namun karena kuatnya prajurit tulang dingin itu, mereka masih belum bisa menemukan tempat Liri berada. "Kelompok kelima tidak kembali, segera persiapkan diri kalian. Kita akan melanjutkan pendakian !" Ucap Liria menggerakkan para petualang yang bersamaanya.
"Baik, kapten!"
Sementata itu ditempat kelompok Helos berada saat ini. "Kapten, aku mendengar ada petarungan dari arah sana !" Ucap Lorrain menunjuk kesuatu tempat dibalik kabut itu.
"Benarkah !?" Sahut Helos kaget bercampur penasaran.
"Hmm... Tidak salah lagi ! Aku yakin...!" Jawab Lorrain dengan yakin.
"Padahal aku sendiri tidak bisa mendegar apapun dari sini. Tapi dia bisa mendengar dengan jelas meski tehalang oleh suara gemuruh dari kabut ini. Benar-benar hebat wanita dari ras elf ini..." Gumam Helos kagum dengan kemampuan Lorrain.
__ADS_1