
Ace terlihat masih meratapi belatinya yang telah patah. Tidak lama setelah itu dia berdiri dan menghampiri Lorrain. "Terima kasih, senior. Berkat dirimu aku sadar, bahkan hal yang paling kita sayangi pasti bisa lepas dari kita kapan pun itu" Ucap Ace yang nampak telah merelakan belati miliknya.
"Uhmm... Terima kasih kembali. Sudah saatnya kau menjadi dirimu, dan lampauilah batasan didalam dirimu itu !" Sahut Lorrain menyemangati.
"Ya, aku mengerti. Nanti aku bisa mencari belati baru ditempat paman Ymir. Dan soal kekacauan disini, ayo segera kita selesaikan" Balas Ace menatap Lorrain dan Helos didepannya.
"Hmm... Baiklah !" Lorrain menggangguk.
"Semangat yang bagus... Tapi kau tidak mendapat banyak bagian dari kristal elixir itu, hanya 2 persen bagianmu" Ucap Helos kepada Ace. "Untuk nona Lorrain, anda berhak mendapat seperempat bagian dari kristal-kristal itu. Karena andalah yang telah mengalahkannya" Jelas Helos melanjutkan.
"Tidak perlu, aku akan mengambil sama seperti bagian Ace. Namun semua rune kuning itu menjadi milikku" Tunjuk Lorrain kearah rune kuning tingkat tinggi berjumlah 5 buah yang tergeletak diantara kristal elixir itu.
"Oh, baiklah. Tidak masalah, sesuai yang anda minta saja !" Sahut Helos mengizinkan. "Dan untuk kelompok yang baru saja tiba. Dengan berat hati, aku tidak bisa membagikan kristal ini kepada kalian" Ucap Helos memberitahu kepada petualang di kelompok bantuan yang baru saja tiba.
Kemudian Helos membarikan 5 rune kuning tingkat tinggi itu kepada Lorrain. Dan mereka semua dengan rata membagi kristal elixir tersebut, hingga semua kristal terserap habis tidak tersisa.
"Baiklah, sekarang kita lanjutkan perjalanan ini. Mungkin kelompok kapten Liria sudah berada diteritori berikutnya" Helos segera mengajak semua anggota dikelompoknya untuk bergegas.
"Baik, kapten !" Ucap salah satu petualang.
"Ayo cepat, sebelum terjadi sesuatu dengan kelompok kedua !" Ucap Ace kembali bersemangat.
"Ya, kau benar Ace. Aku mempunyai firasat buruk kali ini" Sahut Helos.
Kelompok tersebut kemudian segera berjalan meninggalkan altar es tersebut. Dan mulai memasuki hutan es yang gersang, serta penuh tertutup oleh tumpukan salju. Disepanjang perjalan mereka tidak menemukan halangan apapun.
"Kapten, hutan ini tidak biasa. Sepertinya telah terjadi sesuatu di Dungeon ini sebelumnya" Ace mengawasi sekitar sembari berjalan disamping Helos.
"Ya, aku juga merasa aneh. Tapi kita tidak boleh membuat yang lainnya panik !" Balas Helos berbisik kepada Ace.
Sepi dan sunyi, tidak lama berjalan mereka kini mulai menaiki jalanan setapak menuju puncak gunung es. Mereka saling membantu dikarenakan jalanan yang cukup licin. Perlahan mereka menaiki gunung es tersebut, dan kabut dingin mulai terlihat turun menutupi jalan mereka.
__ADS_1
.
.
"Makhluk ini bukan sekedar sosok yang biasa. Aku merasakan hal yang buruk akan datang" Gumam Einel berdiri diatas awan kecil miliknya.
"Haha... Bagaimana senior Einel ? Apa kau kagum dengan kemampuan baruku ?! Ini bukan apa-apa, masih banyak yang ingin aku tunjukkan kepada kalian" Ucap gadis misterius itu dengan kesombongannya.
"Hmm... Jangan sombong terlebih dahulu. Aku akan mengalahkan kau lagi ! Dania" Jawab Einel.
"Oh, aku takut... Haha... Itu tidak akan terjadi kali ini !" Balas Dania menggertak Einel.
Terlihat Dania mulai membaca mantra kembali dihalaman yang sama. Sebuah lingkaran sihir kecil muncul dari buku itu, kemudian Dania nampak meletakkan telapak kirinya diatas lingkaran sihir tersebut. Seketika sosok besar dibawahnya kembali mengaung dengan keras.
"Rooaarrr...!"
"Rooaaarrrgg...!"
"Suara ini lagi ! Sebenarnya makhluk seperti apa dia ?!" Aeria kembali menutup telinganya.
"Apa yang dilakukan Einel sekarang ? Apa dia sudah menemukan Dania !?" Sahut Yuna yang juga terganggu dengan suara keras itu.
"Jika benar ini disebabkan oleh wanita itu. Akan aku cincang tulang-tulangnya hingga menjadi abu !" Balas Aeria kesal.
Ditempat Einel dan Dania, terlihat sosok besar itu membuka lebar mulut besarnya. Dan mulailah dia menghisap para prajurit bayangan lainnya. Nampak begitu banyak prajurit bayangan yang berterbangan masuk kedalam mulut besarnya.
Seketika tubuhnya mulai ikut membesar, semakin banyak prajurit bayangan yang dia makan. Semakin besar pula tubuhnya berkembang dan menjadi besar.
"Ini tidak mungkin, aku tidak menyangka dia mampu melakukan hal semacam ini !" Ucap Einel bergumam.
"Haha... Terus makanlah, dan menjadi lebih kuat lagi !" Dania menetap senang kearah sosok bayangan besar dibawahnya.
__ADS_1
Sosok besar itu mulai tumbuh hingga melebihi bangunan tertinggi saat ini. Dan tinggi dari sosok tersebut sudah setara dengan menara tempat Dania bersembunyi. Sosok bayangan besar itu kini terlihat oleh semua penduduk di Eleanor.
"Itu... Lihat nona Yuna ! Di arah sana !" Ucap seorang pasukan kerajaan berteriak. Dan menunjuk kearah dimana sosok besar itu berada.
"Astaga, makhluk apa itu ?! Apa yang akan dilakukan Dania kali ini ?" Sahut Yuna yang melihat kearah sosok besar itu.
"Cih, dia benar-benar menantang kita...!" Aeria juga mengikuti Yuna, dan menggerutu kesal. "Ayo segera menyusul Einel disana, pasti saat ini wanita itu juga bersamanya" Ucap Aeria mengajak.
"Jangan, kita masih harus menahan prajurit bayangan ini. Jangan sampai mereka memasuki wilayah kerajaan lebih dari ini" Balas Yuna memerintahkan, sembari kembali mempertahankan keadaan.
"Cih, aku tidak bisa tinggal diam disini. Akan aku susul Einel sendiri..." Bantah Aeria dan segera menerjang kerumunan prajurit bayangan didepannya.
.
.
Sementara itu kelompok ketiga juga telah kembali kedalam gua, serta membawa beberapa dahan pohon untuk menambah nyala api unggun. "Kami kembali kapten, tidak ditemukan apapun diluar sana. Serta kabut semakin menebal" Ucap gadis elf dari kelompok itu.
"Ini akan sulit, jika kita memaksa untuk terus naik. Aku takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan" Sahut Liria.
"Tapi kapten, jika kita tidak segera bergegas mungkin kita juga tidak akan bisa keluar dari tempat ini" Ucap si pria elf pemanah sebelumnya.
"Ya aku tau, tapi hal yang lebih buruk juga masih bisa terjadi. Kita beruntung masih dapat melanjutkan perjalanan ini, jika kita gegabah seperti sebelumnya. Maka kita akan berakhir disini" Sahut Liria mengkhawatirkan para petualang didalam kelompoknya.
"Kapten, aku mengerti perasaan anda. Tapi kami juga telah bertekad untuk bisa membantu disini" Balas pria elf itu.
"Kalian...!" Liria sedikit terharu. "Baiklah, kelompok keempat segera amati keadaan sekitar. Jika kabut sudah cukup menipis kita akan segera melanjutkan perjalanan" Ucap Liria memerintahkan dengan bersemangat.
"Baik, kapten !"
"Kami permisi dulu..." Ucap salah satu anggota kelompok keempat.
__ADS_1
"Berhati-hatilah, dan kembalilah dengan selamat !" Sahut Liria mengingatkan.
Kemudian ketiga petualang itu segera pergi keluar dari dalam gua. Mereka menghilang diantara kabut dingin tebal didepan mulut gua. Jejak mereka pun ikut tertutup oleh butiran salju yang terbawa oleh kabut dingin.