Baby Sitter Pilihan

Baby Sitter Pilihan
Bab. 25


__ADS_3

Bu Selma terus melangkahkan kakinya menuju ke ruangan praktek dokter Sananta. Dia sudah memantapkan hati dan pilihannya untuk memutuskan berkata jujur dan berterus terang di depannya dokter Sananta.


"Aku tidak ingin membawa rahasia ini sampai aku mati dan aku tidak ingin menjadi beban hingga akhir hayatku, ia percaya atau tidak itu haknya lah yang penting aku sudah jujur," cicitnya Bu Selma.


Pilihan yang sudah lama diputuskan oleh Bu Selma hari ini akan dia wujudkan.


"Semoga saja Mas Sananta bahagia mendengar kejujuran aku ini,"batinnya Bu Selma yang tersenyum penuh kegembiraan.


Bu Selma melupakan dimanakah ruangan praktek dokter Sananta. Untungnya sudut pandangnya melihat ada beberapa perawat yang berjalan ke arahnya.


"Maaf suster, aku mau tanya ruangan prakteknya dokter Sananta di bagian mana ya?" tanyanya Bu Selma.


Suster tersebut saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Selma tersebut," Ohh dokter Sananta yang dokter umum kan yang bertugas di ICU kan Nyonya?" Tanya balik salah satu suster tersebut.


"Betul sekali," jawabnya singkat.


"Ibu terus saja dari sini, pas di depan ujung lorong Ibu belok kanan pas dekat belokan ruangannya," jelasnya suster tersebut yang memakai hijab tersebut.


Bu Selma tersenyum sebelum mengucapkan terima kasih," Makasih banyak Suster atas bantuannya," ujarnya Bu Selma.


"Sama-sama Bu," jawab mereka bertiga.


Bu Selma segera melangkahkan kakinya menuju tempat keberadaan ruangan tersebut sesuai dengan petunjuk dari dokter tersebut.


Langkahnya semakin lebar, Ia seolah-olah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dokter Sananta sebagai dokter hebat di salah satu rumah sakit tersebut. Dokter yang sudah sejak beberapa puluh tahun lalamnya sudah menjadi pemilik dan pengisi relung hatinya yang terdalam.


"Ya Allah… bantulah aku untuk berbicara lancar dan jujur di hadapan Mas Sananta, aku tidak mungkin membunyikan, menyimpan dan menutupi kenyataan ini dari kamu Mas," gumamnya.

__ADS_1


Tepat di depan ruangan yang bertuliskan dr. Sananta Sungkar. Ia perlahan menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar dan menariknya perlahan agar udara segar kembali masuk ke dalam rongga hidungnya karena ia seolah-olah ketakutan, grogi dan salah tingkah.


"Bismillahirrahmanirrahim," Lirihnya sebelum meraih dan memutar handle pintu tersebut.


Tapi, tiba-tiba matanya melotot seakan-akan ingin keluar dari tempatnya saja, mulutnya menganga melihat apa yang terjadi di depan kedua matanya.


"Mas Sananta!!!" Pekiknya Bu Selma.


Bu Selma segera mempercepat langkah kakinya hingga sudah berlari ke arah dalam ruangan tersebut. Beliau melihat dokter Sananta sudah terbaring di atas lantai dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya.


"Ya Allah.. Mas apa yang terjadi sebenarnya padamu? Sadarlah Mas..


Ini aku Selma..," tuturnya Bu Selma yang berusaha untuk membangunkan dan menyadarkan Pak Sananta.


Bu Selma mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia mencoba berusaha mencari sesuatu penyebab Pak Sananta tidak sadarkan diri. Tapi, apa daya yang dia cari dan ingin ketahui sama sekali tidak ada.


Bu Selma celingak-celinguk mencari keberadaan orang lain di dalam ruangan tersebut tapi ternyata tidak ada orang lain di dalam sana kecuali ia berdua.


"Tolong!!!!" Jeritnya Bu Selma yang berusaha meminta tolong kepada siapa saja orang yang kebetulan melewati ruangan tersebut.


Tapi sekian kali percobaan ia lakukan tapi, hasilnya masih sama tidak ada perubahan dan pertolongan dikit pun.


"Aku harus keluar karena pintunya tertutup rapat sehingga, walaupun aku sudah berteriak setengah mati pun mereka tidak akan ada yang tahu kalau aku meminta tolong," batinnya Bu Selma yang meraih bantalan kursi lalu menaikan kepalanya Pak Sananta ke atas bantal tersebut.


"Mas! Tunggu aku yah aku akan segera mencari pertolongan secepatnya," ujarnya Bu Selma.


Bu Selma pun berlari ke arah luar, untung ia kembali melihat ada beberapa orang yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Pak!!! Bu!!! Tolong!!! teriaknya Bu Selma kearah beberapa rombongan orang tersebut.


Raut wajahnya semakin pucat disebabkan terlalu khawatir dan cemas. ia takut jika terjadi sesuatu kepada mantan kekasih sekaligus iparnya tersebut.


"Tolong saya!!!" pekiknya Bu Selma yang berjalan terburu-buru ke arah rombongan beberapa orang tersebut.


****************


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Hanya sekedar baby Sitter judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...

__ADS_1


I love you all Readers…


__ADS_2