
Fadlan menatap intens dan tak jemu ke arah Alisha yang berjalan meninggalkan Fadlan yang sudah mulai mendudukkan dirinya keatas sofa.
"Kenapa menurut aku ada kemiripan wajahnya dengan Alisha yah? Apa ini hanya perkiraan aku saja atau aku yang sudah merindukan Alisha yang baru sehari pulang kampung," lirihnya Fadlan.
"Apa aku harus telpon Nona Nawja yah atau pakai make up-nya sesuai kebiasaan aku saja," cicitnya sembari memutar otaknya untuk berfikir bagaimana caranya menyelesaikan permasalahan-permasalahan pelik dan rumit yang sedang melanda pikiran dan hatinya.
Alisha setelah mengambil beberapa paper bag dari tangannya Fadlan asisten pribadi dan kepercayaannya Adnan.
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan kalau sudah seperti ini, apa aku sebaiknya menghubungi nomor hpnya Nona Muda Najwa saja yah," gumamnya Alisha lalu mencari keberadaan hpnya.
Alisha sudah memutar dan mengangkat ujung gaun pestanya tapi, ternyata handbagnya ia lupa bawa saat tadi tergesa-gesa masuk ke dalam mobil yang membawa Adnan dan yang lainnya untuk bergegas ke rumah sakit.
Alisha menepuk jidatnya," ya Allah… aku baru ingat kalau hp baru yang dibelikan oleh Nona Muda Najwa tertinggal di dalam tas tersebut."
Raut wajahnya langsung berubah drastis, Alisha segera terduduk di atas lantai klosed untuk memutar otaknya agar mendapatkan segera solusi yang paling tepat dan terbaik dari permasalahannya tersebut.
Fadlan yang menjaga Adnan yang belum sadarkan diri ikut kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Alina di dalam kamar mandi.
"Nona Alina sedang apa yah kok lama banget di dalamnya, Nyonya Selma juga sampai sekarang belum pulang juga padahal katanya hanya sebentar doang," cicitnya Fadlan yang menyimpan majalah male yang sempat dia baca.
Alisha terus berusaha memecahkan sendiri permasalahannya tersebut," aku mandi saja dulu terus ganti pakaian, aku masih ingat sih sedikit saat tadi Mbak Yuni saat memoleskan make satu persatu ke atas wajahku, semoga saja aku bisa dan hasilnya baik," gumam Alisha yang sudah mendapatkan dan memutuskan langkah apa yang akan diambil dan ditempuhnya dengan permasalahan yang melandanya saat itu juga.
Alisha segera membersihkan tubuhnya dengan semua perlengkapan mandi yang sudah tersedia di dalam paper bag warna cokelat itu. Dengan terburu-buru ia segera menyelesaikan mandinya lalu memeriksa pakaian apa yang akan ia pakai yang pantas untuknya.
__ADS_1
Matanya Alysha terbelalak saat melihat model dan harga dari pakaian tersebut," ini kan sepuluh kali lipat dari gajiku sebulan, apa aku pantas untuk berpakaian seperti ini yah?"
Alisha kembali berfikir panjang dan langkah apa yang seharusnya dia tempuh. "Kalau seperti ini terus-menerus bisa-bisa Nyonya Selma sudah balik aku belum ganti baju," kesalnya karena baru kali ini pikirannya kalut dan buntu.
Alisha memakai pakaian tersebut dengan sangat hati-hati. Rok selutut dengan baju kaos atasan tanpa lengan dengan warna coklat muda itu sangat pas di tubuhnya. Alisha terpesona sendiri melihat penampilannya setelah berganti pakaian. Padahal potongan modelnya simpel saja tapi, begitulah kalau orang cantik yang memakainya. Model dan gaya apapun yang dipakainya akan tetap terkesan cantik jika dipakainya.
"Apa betul ini aku yah?" Tanyanya pada dirinya sendiri yang melihat dirinya nampak sudah seperti anak dari kalangan jetset.
Sehari-harinya ia hanya memakai pakaian seragam khusus pengasuh dengan rambut yang selalu dikuncir dua. Sehingga penampilannya terkesan jauh banget bedanya seperti bagaikan Cinderella yang berubah dalam sekejap mata dan hanya semalam saja.
Alisha mulai membuka membuka satu persatu dari alat makeup yang tersedia khusus untuknya. Ia berusaha untuk mengingat kembali saat Mbak perias memoles wajahnya sedemikian rupa hingga wujudnya mampu tidak dikenali.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga hasilnya tidak menor dan belepotan kemana-mana ini pengalaman pertama aku merias wajahku sendiri," cicitnya Alisha yang tangannya terus memoleskan beraneka macam makeup di atas wajahnya yang berbekal dengan ingatan saat tadi ia dibantu dirias oleh Mbak Yuni.
"Semoga saja Pak Fadlan dan Tuan Muda Adnan dengan Nyonya Besar Selma masih terkecoh dan tidak mengenalku, jadi repot jadinya kalau sedari dulu selalu disuruh belajar make up sama nenek tapi, jawabnya malas dan nanti," ketusnya.
Fadlan sudah mondar mandir di depan pintu kamar mandi,ia ragu antara mengetuk ataukah kembali duduk di sofa seperti yang dilakukannya tadi.
"Nona Alina baik-baik saja kah, kok hanya mandi dan berganti pakaian harus butuh waktu sekitar hampir satu jam,apa jangan-jangan dia ketiduran di dalam sana yah, Tuan Muda Adnan juga hingga detik ini belum sadarkan diri padahal kata dokter Sananta tadi tidak ada masalah yang serius yang dihadapi oleh Tuan Muda yang perlu kami khawatirkan," dengusnya Fadlan sambil berjalan kesana kemari seperti setrikaan saja.
Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan terbukanya kedua matanya Adnan sehingga pandangan matanya langsung tertuju pada Alisha yang berjalan ke arahnya dengan langkah kakinya yang sedikit ragu dan bimbang serta grogi dan salah tingkah menjadi ujian yang harus Ia pecahkan dan hadapi dalam rangka menyelesaikan misi dari anak asuhnya itu.
...****************...
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Hanya sekedar baby Sitter judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung Baby Sitter Pilihan dengan cara:
like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi updatenya, dan tekan tombol gift poin atau koinnya serta iklannya juga kakak..
__ADS_1
I love you all Readers…