
Sejak malam itu, Nala, Nathan dan Najwa mulai menjaga jarak kepada ayahnya itu. Alisha pun demikian harga dirinya sudah diinjak-injak oleh pria yang sayangnya ganteng dan terkadang membuat jantungnya berdebar-debar dan berdegup kencang hingga pasokan udara yang masuk ke dalam rongga hidungnya terbatas.
Itulah yang dirasakan oleh Alisha jika berdekatan dengan ayah dari ketiga anak asuhnya Tuan Muda Adnan. Hubungan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi renggang setelah penolakan terang-terangan yang dilakukan oleh Adnan di depan orang banyak ketika mereka makan malam.
Satu minggu kemudian…
Adnan yang melihat ketiga anaknya sedang menikmati santapan sarapan paginya yang lagi asyik menyantapnya karena kebetulan makanan yang mereka makan adalah hasil dari buatannya sendiri Alisha sehingga mereka makan begitu lahapnya.
Adnan berjalan perlahan menuju meja makan dimana ketiga buah hatinya sudah duduk di kursi masing-masing yang masih makan saat ini. Bu Sungkar mamanya Adnan neneknya ketiga anaknya Adnan menolehkan kepalanya ke arah kedatangan putra semata wayangnya itu ketika menyadari kedatangannya.
"Tumben berangkatnya pagi banget," sapanya Bu Sungkar yang sengaja menyapa putranya yang hanya ingin melihat reaksi dari ketiga cucu kesayangannya.
__ADS_1
"Ada meeting yang sangat penting dengan pengusaha dari luar negeri sehingga saya diminta harus cepat datang oleh atasan Ma," jawabnya Andan sambil duduk di sampingnya Nathan.
Alisa sama sekali tidak melirik walau hanya sekilas ke arah tuan mudanya itu
Nathan anak satu-satunya laki-lakinya segera mengakhiri acara sarapannya dan bergegas meninggalkan ruangan meja makan dengan menyimpan dan menaruh sendok dan garpu makannya dengan cukup kuat hingga menimbulkan suara nyaring.
Prang!!
"Nathan sayang,kok cepat banget selesai makannya, makanannya kan belom habis Nak," imbuhnya Bu Naurah Sungkar.
Najwa pun mengikuti apa yang dilakukan oleh adik bungsunya itu," saya juga tidak sanggup menghabiskan makanan yang terlalu enak di depan pria sok alim dan sok suci seperti dia!" Cibirnya Najwa anak sulungnya Adnan.
__ADS_1
Adnan hanya terdiam tanpa berniat untuk menyanggah ataupun mencela perkataan dari mulut anaknya itu. Najwa mengambil piringnya yang masih banyak itu ke dalam kamarnya yang sebenarnya sudah berpakaian lengkap dan rapi siap ke sekolahnya di salah satu sekolah menengah pertama. Bu Naura mengarahkan tatapannya ke arah cucu keduanya yaitu Nala.
"Entah apa dan bagaimana reaksinya anak ini," ibu Naurah berharap cucunya juga memperlihatkan sikap tidak sukanya.
"Nala habiskan yah makanannya, ada Mbak Alisha bersamamu, walaupun adik dan kakakmu sudah berangkat duluan," ujarnya Bu Naurah.
"Maafkan Nala Nek, entah kenapa tiba-tiba perutku mules setelah melihat ayah datang, apa jangan-jangan sihir dan guna-gunanya Tante Yuanita masih ada sehingga menjalar dan menular padaku yah Nek?" Sindir nya Nala yang berpura-pura dan berakting seperti orang lemah yang kesakitan perut saja.
Ketiga anaknya satu persatu meninggalkan ruangan makan, Alisha pun mengikuti ke3 anak asuhnya itu yang nampak khawatir melihat reaksi ketiganya yang menganggap mereka seriusan dan beneran sedang tidak enak badan.
"Alisha kamu belum makan apa-apa loh, apa kamu juga terkontaminasi oleh obat guna-gunanya Yuanita?" Tanyanya Bu Sungkar yang sangat ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Adnan yang seperti seseorang yang menahan buang air besarnya itu saja.
__ADS_1
Adnan menghembuskan nafasnya dengan cukup keras," astagfirullah aladzim kenapa anakku menjadi seperti ini, apa aku sudah salah asuh dan didik mereka yah," lirihnya Afnan.
Nyonya Sungkar mendengar perkataan dari mulut putranya itu," itu wajar mereka bersikap seperti itu dan memperlakukan ayahnya dengan cukup kasar karena kesalahanmu sendiri Nak, tolong introspeksi diri beberapa hari kamu akan menyadari semuanya," ujarnya Bu Naura sambil menepuk pundaknya Adnan anak kebanggaannya yang sudah bodoh karena ulah mantan kekasihnya.