
Berselang beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah terparkir rapi di dalam carport rumahnya Bu Sungkar. Alisha berjalan terburu-buru ke dalam rumah, ia berjalan cepat naik ke atas salah satu undakan tangga.
"Aku tidak boleh mudanya lebih lama lagi, menurut Aku lebih cepat lebih baik," gumamnya Alisha.
Alysha membuka pintu itu dengan sangat hati-hati. Ia mengedarkan pandangannya ke arah anak asuhnya. Tapi ternyata mereka sudah terlelap dalam tidurnya.
"Sebaiknya esok saja aku bicara dengan mereka," lirihnya Alisha sambil menutup rapat pintu tersebut dengan mimik wajahnya yang lesu dan tidak ada semangat dikit pun seperti biasanya.
Alisha bukannya masuk ke dalam kamarnya, tetapi ia perlahan melangkahkan kakinya ke atas undakan tangga.
"Ya Allah… semoga ketiga anaknya Tuan Muda Adnan protes, memberontak bahkan bertindak anarkis untuk menghentikan rencananya Nyonya Selma," batinnya Alisha.
Langkahnya cukup gontai, ia tidak habis pikir harus dihadapkan pada kejadian yang tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya.
"Aku bukannya tidak mau menikah ya Allah.. apa lagi menikah itu adalah bentuk ibadah yang paling terpanjang dalam hidup, aku juga masih muda dan rencananya tahun depan aku mau kuliah," Gumamnya Alisha yang sudah berada di ujung terakhir undakan tangga.
Bibi Ainun hari ini bertugas untuk menjaga ketiga anak itu karena Alisha yang seharusnya menjadi pengasuh harus berganti peran sebagai anak dari salah satu orang terkaya yang ada di ibu kota Jakarta. Rencana itu disusun oleh Najwa anak sulungnya Adnan dengan almarhumah Aurel.
Baru ingin memutar kenop pintu, ternyata pintu itu sudah terbuka dari dalam. Alisha menyunggingkan senyumnya ke orang tersebut. Ternyata yang buka pintu itu adalah Bibinya sendiri Bu Ainun.
"Kamu sudah pulang nak, bagaimana dengan kondisinya Tuan Muda Adnan?" Tanyanya Bu Ainun seraya menutup rapat pintu kamarnya Najwa dan kedua adik kembarnya.
__ADS_1
"Iya Bu, aku sudah pulang," jawabnya dengan nada suara yang loyo.
"Kalau gitu kamu sana, istirahat mereka sudah tidur dan beristirahat," ujarnya Bu Ainun dengan seulas senyumannya.
"Makasih Bu, aku ke kamar dulu," jawabnya Alisha yang sudah seperti seseorang yang belum makan dua hari saja.
Alisha berjalan menuruni tangga lalu berjalan ke arah kamar pribadinya sendiri. Ia sama sekali masih kebingungan dan sesekali tidak percaya dengan kejadian dan insiden yang luar biasa itu.
"Bagaimana apa bibi Ainun sudah pergi?" Tanyanya Nala saat mengerjapkan kedua matanya itu.
"Iya, bibi Ainun sudah menutup rapat pintunya, bagaimana kakak Najwa apa besok kita tetap melanjutkan rencana kita selanjutnya?" Tanyanya Nathan adik bungsunya itu.
"Aku akan melaksanakan semuanya sesuai dengan rencana awal kita dan pesan kakak jangan ada yang bergerak tanpa petunjuk dari aku, intinya kalian harus nurut saja dengan semua yang aku katakan sebelumnya," timpalnya Najwa dengan seringai liciknya yang terbit dari ujung bibirnya itu.
"Bersiaplah Ayah dan Mbak Alisha, kalian besok akan menghadapi kejutan yang luar biasa dari kami, jadi bersiaplah dan persiapkan mental kalian," batin Najwa seraya tersenyum penuh maksud lalu menarik selimutnya untuk bersiap tidur karena jam di dinding sudah menunjukkan angka pukul jam 11 malam.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Hanya sekedar baby Sitter judulnya ada dibawah ini:
__ADS_1
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Duren I Love You
Cinta pertama
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung Baby Sitter Pilihan dengan cara:
__ADS_1
like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi updatenya, dan tekan tombol gift poin atau koinnya serta iklannya juga kakak..
I love you all Readers…