
Entah keberanian dari mana sehingga Adnan ke toko perhiasan emas untuk memesan sebuah cincin emas pernikahan khusus untuknya dan Alisha.
Sesampainya di toko perhiasan kebetulan sang pemilik toko perhiasan yang sedang berjaga waktu itu. Kedatangan Afnan disambut hangat oleh pemilik toko.
"Siang pak ada yang bisa kami bantu?' tanya sang pemilik toko sekaligus yang berjaga siang menjelang sore itu.
"Saya pengen pesan cincin nikah yang tidak ada samanya dengan cincin lain di dunia ini khusus milikku seorang," pintanya Adnan.
"Kalau masalah itu gampang saya akan panggilkan desainer ternama yang kami miliki di toko kami dan saya jamin kamu pasti senang dengan hasil rancangan kami," ujarnya pria setengah paruh baya itu.
"Alhamdulillah kalau seperti itu," imbuhnya Adnan yang tersenyum bahagia karena apa yang diinginkannya akan terlaksana.
Berselang beberapa menit kemudian, desainer toko tersebut dan sekaligus istri dari pemilik toko itu sudah berbincang-bincang dengan Adnan. Dia pun menjelaskan semua yang diinginkannya bahkan ciri-cirinya Alisya dijelaskan secara rinci oleh Adnan.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu Bu karena saya ingin segera melamar kekasihku sebelum ditikung oleh laki-laki lain," pamitnya Adnan sambil tersenyum tipis.
"Kalau gitu kamu tunggu di rumah, karena kami akan langsung membawa ke rumah Anda satu bulan kedepannya,kami akan melakukan pelayanan ekstra bagi pelanggan spesial kami," ucapnya Bu Rasty Hanin Januar.
"Makasih banyak atas kunjungannya Pak semoga menyukai pelayanan kami ini," ucapnya pak Januar.
Adnan segera mengemudikan mobilnya ke suatu tempat tanpa ada yang direncanakan sebelumnya. Tanpa sengaja ia melajukan mobilnya ke kampusnya Alisah.
Berselang beberapa menit kemudian, Adnan sudah sampai di sekitar parkiran kampusnya Alisah. Adnan segera berjalan ke arah dalam kampus yang sengaja dilakukannya untuk memperhatikan lokasi area kampus.
"Lumayan juga kampus yang dipilihnya itu, anak desa tapi seleranya cukup bagus juga, terkadang membuatku terkagum-kagum dengan apa yang dilakukannya, kamu memang mampu membuatku terpesona dengan dirimu Alisa."
Adnan segera mengedarkan pandangannya ke arah kampus, hingga matanya menangkap dua sosok orang yang sedang bercanda bareng di sebuah bangku taman sambil menikmati makanan dan minumannya. Tatapan matanya semakin dipertajam,ia tidak ingin salah lihat dan salah sangka.
"Itukan Alisa dengan teman sok cakep nya itu, apa yang sedang mereka lakukan berduaan di tempat seperti itu?" Ketusnya Adnan.
Aldian menyuap makanan ke dalam mulutnya Alisa begitupun sebaliknya yang dilakukan oleh Alisha secara bergantian.
__ADS_1
Adnan mengepalkan kedua genggaman tangannya itu dengan kuat, tatapan matanya semakin memerah seolah akan melompat keluar dari tempatnya saja.
"Ini tidak boleh dibiarkan aku harus segera pulang ke rumah untuk mengatakan kepada Mama agar segera melamar Alisa saya tidak ingin ada pria lain yang menikungku," Adnan segera berbalik arah menuju mobilnya ia tidak jadi ke kantornya karena ia tidak menunda lebih lama lagi rencananya.
Beberapa menit kemudian, Adnan sudah berada di dalam rumahnya dan mencari keberadaan mamanya itu.
"Mama!" Teriak Adna sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
Bu Selma yang dicari dan mendengar teriakan dari putranya segera berjalan ke arah luar karena ia sedang berada di dapur membantu artnya untuk masak makanan siang hari itu.
"Apa yang terjadi Nak, kenapa meski berteriak-teriak segala apa ada yang genting gitu!?" Ucapnya Bu Selma yang penasaran dengan apa yang terjadi pada anak semata wayangnya itu.
Adnan segera menarik tangan mamanya itu, hingga ke salah satu sofa yang ada di ruang tengah rumahnya itu.
"Mama aku mohon segera lamar Alisa di kampung langsung di depan neneknya, saya tidak ingin menunda lebih lama lagi, karena saya tidak ingin sampai ada laki-laki lain yang merebut Alisa dariku," jawabnya Afnan dengan penuh kesungguhan hatinya.
"Alhamdulillah kenapa baru sekarang nyadarnya sih nak, padahal dari lima bulan lalu mama dan anak-anakmu merengek akan hal itu,"
"Mama,itukan dulu saya…" ucapannya terpotong oleh mamanya itu.
"Kalau Mama enggak mau, saya akan sendiri ke kampung halamannya untuk melamar Alisha," dengusnya Adnan yang merasa kesal dengan mendengar perkataan dari mulut mamanya itu.
"Hahaha kamu sabar mama yang akan meminta Ainun bibinya Alisa untuk menelpon neneknya Alisa Bu Maryamah dan Aida adik sepupunya Alisa," sarannya Bu Selma Kamil.
Tiga hari kemudian, Bu Maryaamah dan cucu bungsunya datang ke Jakarta atas undangan dari Bu Selma beliau sudah mengetahui jika Alisa akan dilamar oleh majikannya itu.
"Assalamualaikum," salamnya bibi Ainun bersama dengan Nenek Maryamah dan cucunya Aida.
Alisa yang sedang membantu mempersiapkan perlengkapan sekolahnya Nala, Nathan dan Najwa segera mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk.
Betapa terkejutnya melihat siapa yang datang, yaitu kedua keluarganya yang sudah lebih satu tahun tidak pernah ditemuinya.
__ADS_1
"Nenek!" Teriaknya Alisa yang segera berlari ke arah kedatangan nenek,bibi dan sepupu angkatnya itu.
Mereka berpelukan saling melepas rindu satu sama lainnya, mereka menangis tersedu-sedu dan terharu karena akhirnya bisa berkumpul lagi.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka semuanya sudah duduk saling berhadapan satu sama lainnya. Bu Selma pun mengutarakan niatnya memanggil Bu Maryamah untuk berkunjung ke Jakarta.
"Gini Bu Maryam, saya Nenek nya ketiga anak-anak yang diasuh oleh Alizah dan berniat untuk melamar Alisha sebagai calon mamanya ketiga cucuku Bu, semoga saja niat baikku ini diterima baik oleh kalian berdua, dan Alisa setuju menikah dengan duda ganteng putra satu-satunya yang aku miliki di dunia ini," ungkap Bu Selma dengan penuh harap.
"Kalau seperti itu, saya menerima niat baiknya Nyonya dan saya berharap minggu depan adalah hari akad nikahnya mereka,"
Alisa hanya terdiam saja tanpa ada niat untuk menyanggah, karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak dulu ia tidak akan pernah menolak apapun keinginan neneknya selama itu hal yang baik.
Bu Selma tersenyum tulus sambil menyentuh punggung tangan Alisa calon anak mantunya itu.
"Bagaimana Nak Alisha apa kamu setuju menikah dengan anakku papa dari ketiga anaknya?"
Alisa langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju tanpa banyak pikir lagi karena ia tidak punya pilihan untuk menolak atau melawan keputusan mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim insya Allah saya siap Nyonya," jawabnya Alisha.
"Alisa mulai detik ini kamu harus panggil saya Mama seperti Adnan menyapaku, karena tidak lama lagi kamu akan menikah dengan putra kandungku," ujarnya Ibu Selma.
Sudah disepakati satu minggu kemudian, Adnan dan Alisha akan menikah dengan acara yang hanya sederhana saja sesuai dengan keinginannya Alissa.
Keesokan harinya, Bu Selma menelpon nomor hpnya toko perhiasan emas untuk hadir di rumahnya karena sesuai dengan keinginannya dan penentuan sebelumnya, jika hari ini perhiasan cincin kawinnya Adnan sudah jadi.
Bu Rasti sebagai pemilik toko perhiasan sekaligus desainernya langsung datang berkunjung. Tetapi, apa yang terjadi Bu Rasti terkejut melihat siapa orang yang membuka pintu rumahnya itu.
"Nenek Maryamah," cicitnya Bu Rasti.
Bu Selma dan yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari Bu Rasty yang ternyata mereka saling mengenal.
__ADS_1
"Nenek apa mengenal Nyonya ini?" tanyanya Alisa yang berjalan ke arah neneknya berada.
"Alisa dia adalah Mama yang selalu kamu rindukan dan harapkan kedatangannya," jawab Bu Maryamah dengan pasti.