
"Ehm." hanya terdengar suara deheman yang keluar dari mulut Bella yang merasa sedari tadi hanya dianggap obat nyamuk oleh sepasang manusia yang mulai mengenal cinta tetapi masih membesarkan keegoisannya saja
Selama acara makan siang tersebut antara mereka bertiga, tak ada sedikitpun yang bersuara dan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saja bergema di restoran tersebut
Karena sebenarnya sedari tadi penghuni restoran tersebut hanya tinggal mereka berempat, para pelanggan lainnya sudah disuru keluar meninggalkan restoran tersebut oleh John atas perintah bosnya yang menginginkan hanya mereka berempat menempati restoran tersebut
Sedangkan John masih tetap setia berdiri dibelakang Biru layaknya patung yang tak bernyawa dan tak memiliki hati nurani, setelah mengusir para pelanggan lainnya dan menyuru para pelayan meyiapkan makanan jika sudah disuru oleh bosnya tersebut
Bella yang lagi ngambek karena ingin tau apa yang terjadi dengan Vrianca, Biru yang lagi marah karena tak bisa menyudutkan Vrianca dan sedangkan Vrianca sendiri lagi murka dengan Biru yang seenaknya meminta keinginan yang dituruti seolah-olah dirinya adalah raja yang harus dipatuhi
Yang memang sebenarnya Vrianca, tidak mengenal apalagi mengetahui tentang sosok Biru yang sebenarnya dan seandainya pun tau, mungkin akan sangat membenci dengan sosok Biru
Setelah acara makan siang karena tak ada satupun yang berani membuka suara, akhirnya Vrianca mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan restoran tersebut bersama Bella
"Maaf Tuan, karena acara makan siangnya sudah selesai, saya dengan teman saya pamit undur diri." pinta Vrianca sambil pamit ingin pergi dari restoran tersebut sambil meraih tangan Bella untuk keluar dari restoran tersebut itu pula
"Baiklah, mari aku antar." kata Biru santai sambil ikut berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Vrianca
"Sekali lagi maaf Tuan, tapi saya sudah membawa kendaraan saya." tolak Vrianca halus agar Biru tak mengantarkannya pulang
"Tak apa, berikan kunci motormu. Biar nanti dibawa pulang dengan asistenku." pinta Biru agar Vrianca mau memberikan kuncinya pada John
__ADS_1
"Maβ¦af sekali lagi Tuan, saya menolak dengan keras permintaan Tuan." tolak Vrianca lagi dan lagi berusaha tetap value dan sopan dihadapan Biru
"Ok, kalau begitu sampai jumpa bertemu di rumahmu, beb." balas Biru santai berusaha mengajak Vrianca dengan sedikit memaksa dengan cara halus
"Huuuuffhβ¦" suara napas Vrianca sangat amat berat dan panjang yang mulai putus asa dengan pikirannya sendiri yang terus saja dipaksa oleh Biru
"Ok, saya ikut dengan anda." balas Vrianca menyerah dengan segala usahanya yang mulai sia-sia atas keinginan Biru
"Sorry Bel, lo langsung pulang saja ya." ucap Vrianca pada Bella agar bisa memaklumi keinginan Vrianca dan menyurunya pulangnya sendiri
"Nanti gw ceritain semuanya." ujar Vrianca lagi sambil berbisik ditelinga Bella
Dan Bella hanya bisa menjawab dengan anggukkan kepalanya saja pelan karena sesungguhnya Bella masih juga dirundung kebingungan, keheran dan kelinglungan oleh perbuatan temannya tersebut 'Vrianca'
lagi dan lagi Bella hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya saja
Sampainya di dalam mobilnya Biru, Biru langsung saja menyuru sopirnya untuk menuju sebuah butik busana langganannya
Sedangkan John disuru mengantarkan Bella sampai rumahnya dengan selamat tak sedikitpun yang lecet pada lukanya atas perintah bosnya dan juga keinginan Vrianca
"Ke tempat Tante Rani." perintah Biru pada sopirnya tegas dengan wajah dingin dan datarnya
__ADS_1
"Baik Tuan." balas sopir Biru patuh pada bosnya sambil menundukkan kepalanya pelan
"Tunggu, ngapain kita ke tempat Tante Rani?" tanya Vrianca bingung dan heran karena merasa tak asing dengan nama tersebut
Hening
Tak ada yang berani menjawabnya pertanyaan dari Vrianca, apalagi memberitahuinya
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Visual Tante Rani (Wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya juga oleh Biru setelah kepergian kedua orang tuanya)
ππππππππππππππ
Jangan lupa tetap tinggalkan dukunganmu, dengan cara:
voce, like and comment sebanyak-banyaknya
Aku tunggu jejak dari kalian semua
__ADS_1
Salam hangat dari author Alka π