Balas Dendam Sang Pelakor

Balas Dendam Sang Pelakor
Bab 24


__ADS_3

Bab 24


Amira melangkahkan kakinya kelua dari kantor dan sesaat dia terdiam mengingat apa yang terjadi kemarin. Pada tempat yang sama dan waktu yang sama, dia tanpa sengaja menabrak seorang lelaki yang seharusnya selalu mendekapkan ketika dia berada dalam masalah, tetapi sayangnya justru lelaki yang satu itu memberi sebuah luka yang sadangat dalam dan membuatnya berada dalam masalah seperti saat ini. Andai saja dia bisa mengulang waktu, maka dia akan menumpahkan semua amarah yang dirasakannya kepada lelaki yang satu itu. Sayangnya dia tidak bisa melakukan hal tersebut karena dia jauh lebih memilih untuk membalas dendam pada sumber masalahnya daripada menampar lelaki yang memberikan rasa sakit itu.


"Mungkin aku salah karena lebih memilih untuk balas dendam, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain dan aku tidak akan pernah berhenti meski hanya untuk sesaat saja!" kata Amira setelah menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan.


"Wow, siapa yang belum pulang ni?" kata sebuah suara yang membuat Amira langsung membalikkan badannya dan melihat ke arah suara itu berasal. "Pasti mau ngelonnte dulu makanya jam segini belum pulang."


Amira sadar kalau apa yang dikatakan oleh Jihan tertuju kepada dirinya. Namun kali ini dia tidak ingin meladeni apa yang dikatakan oleh perempuan itu karena kalau dia meladeni apa yang dikatakan oleh Jihan maka akan terjadi perdebatan yang sangat sengit dan bisa jadi akan terjadi duel yang sangat menegangkan nantinya.


"Kenapa tidak mengatakan sesuatu? Kamu tidak berani meladeniku?" tanya Jihan yang semakin semena-mena terhadap Amira dan dia benar-benar berharap kalau gadis itu akan mengatakan sesuatu kepada dirinya, terlebih saat dia melihat Amira justru memilih untuk pergi dari hadapannya.


Amira sedikit kesal dengan apa yang dikatakan oleh Jihan sehingga membuatnya membalikkan badan dan berjalan ke arah seniornya itu. Katakan kalau dia tidak memiliki pengendalian emosi yang baik sehingga meladeni apa yang dikatakan oleh orang yang tidak penting seperti Jihan.


"Aku tidak berani meladenimu? Sepertinya kamu harus melihat ke dirimu sendiri, apakah kamu mampu untuk melawanku atau tidak?" kata Amira sambil menatap tajam ke arah Jihan.


"Jangan terlalu sombong kamu! Di sini semua tahu kalau aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan dan tidak ada yang berani untuk melawanku!"


"Oh ya? Lalu kenapa aku tidak takut sama sekali kepadamu?"


Jihan benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh Amira, bahkan dia tidak pernah mengira jika gadis yang satu itu akan seberani itu kepada dirinya padahal dia berharap kalau Amira akan takut kepada dirinya. Namun, sepertinya gadis muda itu benar-benar tidak menganggapnya sama sekali.


"Kamu belum tahu siapaa aku, kalau kamu tahu siapa aku maka kamu pasti tidak akan seberani itu kepadaku!"

__ADS_1


"Oh ya? Namun sayangnya aku sungguh tidak peduli sama sekali siapa pun dirimu dan aku tidak takut dengan hal tersebut!"


"Kamu!"


"Aku tidak seperti karyawan lainnya yang akan takut dengan semua ancaman yang kamu berikan kepadaku! Sekali kamu mengusikku maka kamu yang akan mendapatkan masalah yang sangat besar dan nantinya kamu yang akan menyesal karena hal tersebut!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Amira kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jihan dan tidak peduli lagi dengan apa pun yang dikatakan oleh perempuan yang satu itu. Menurutnya, jika dia meladeni omongan dari orang yang sangat tidak penting tersebut maka hal itu hanya akan membuat moodnya menjadi tidak baik dan juga menambah masalah di dalam hidupnya.


"Aku sedang bicara denganmu! Amira! Mau ke mana kamu?" teriak Jihan yang benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh Amira saat ini kepadanya.


***


"Kamu sudah mendapatkan apa yang Papa inginkan?" tanya Pak Ferry kepada Alex saat hadirnya bertemu dengan menantunya tersebut di salah satu restoran yang cukup terkenal yang ada di kota tersebut.


Alex mengambil sebuah map yang ada di dalam tasnya dan kemudian menyerahkan map tersebut kepada Pak Ferry. Dia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan alasan yang diberikan oleh mertuanya tersebut kemarin ketika meminta identitas Amira secara lengkap, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena dia sendiri tidak bisa membantah apa yang diperintahkan oleh mertuanya itu dan terlebih mertuanya adalah pemegang saham tertinggi pada perusahaan yang dipimpinnya dan juga pemilik dari sekolah di mana Amira bersekolah.


Pak Ferry tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Alex kepadanya barusan, tetapi dia lebih memilih untuk membaca dengan detail identitas dari Amira. Gadis yang memiliki wajah serta senyuman yang mirip dengan seseorang yang sangat disayanginya dahulu, membuat Pak Ferry mencari alasan agar bisa mendapatkan identitas gadis tersebut untuk memastikan bahwa Amira bukanlah putri dari perempuan yang sangat disayanginya itu. Namun jika pada kenyataannya Amira adalah putri dari perempuan yang sangat disayanginya tersebut maka dia akan berusaha untuk mencari tahu mengenai hal tersebut lebih detail lagi dan dia akan menemui wanita yang pernah ada di dalam kehidupannya dahulu.


"Amira Khairani Putri, nama yang sangat cantik!" Puji Pak Ferry saat dia membaca nama gadis tersebut yang tertulis pada file yang diberikan oleh menantunya itu.


"Ya, namanya memang sangat cantik dan bahkan wajahnya juga sangat cantik ditambah lagi dengan otaknya yang benar-benar cerdas sehingga menurutku dia pasti menjadi idola diantara para siswa yang ada di sekolah!"


"Cantik dan cerdas, sepertinya sudah menjadi hukum alam jika perempuan yang memiliki dua ciri tersebut akan menjadi incaran para siswa yang ada di sekolah dan kemungkinan juga dia menjadi primadona di sekolah serta menjadi incaran dari siswa sekolah lain!"

__ADS_1


Alex tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh mertuanya tersebut dan dia juga meyakini jika hal itu memang terjadi di sekolah yang dipimpinnya. Amira, gadis yang sangat pintar dan juga ceria serta berwajah cantik menjadikannya sebagai seorang gadis yang spesial dan bahkan dirinya pun bertekuk lutut pada pesona yang dikeluarkan oleh gadis itu. Andai gadis tersebut tidak memiliki pesona sebesar itu maka Alex sangat yakin kalau dirinya tidak akan tertarik terhadap gadis tersebut.


"Kenapa di sini tidak tertulis nama ayah dari gadis itu?" tanya Pak Ferry setelah membaca identitas Amira lebih jauh lagi dan dia cukup kaget dengan kenyataan yang satu itu karena menurutnya setiap anak pasti memiliki identitas nama sang ayah, kecuali anak yang terlahir bukan dari pernikahan resmi.


"Aku tidak tahu, Pa, karena data yang ada di sekolahannya tertulis seperti itu saja dan aku juga belum bertanya kepada para guru yang ada di sana mengenai hal tersebut karena sungguh aku baru membaca file mengenai Amira ketika Papa meminta identitas dari gadis itu!"


"Apakah jadi situ lahir bukan dari pernikahan resmi?"


"Aku tidak tahu, Pa, hanya saja dari beberapa rumor yang aku dengar ibunya adalah seorang janda dan ayahnya meninggal ketika Amira berada di dalam kandungan, selebihnya aku tidak mengetahui apa-apa mengenai gadis itu!"


Pak Ferrry mengurutkan dahi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alex barusan karena menurutnya hal tersebut adalah sesuatu yang sangat ganjil. Kalau memang Amira memiliki seorang ayah meskipun ayahnya tersebut meninggal ketika dia masih berada di dalam kandungan, maka seharusnya nama dari ayahnya tersebut tertulis dalam identitas yang dimilikinya. Namun di sana jelas-jelas tidak tertulis sama sekali dan hal tersebut justru membuat Pak Ferry semakin bertanya-tanya mengenai identitas Amira yang sesungguhnya.


"Apakah terjadi pembully-an terhadap garis itu karena setahu Papa, jika anak yang terlahir tanpa identitas ayah maka anak tersebut akan dianggap sebagai anak haram dan sudah barang pasti dia akan menjadi korban pembully-an dari kawan-kawannya yang ada di sekolah!"


"Mengenai hal tersebut sepertinya tidak terjadi sama sekali atau bisa jadi sudah terjadi, tetapi karena selama ini Amira selalu melawan orang-orang yang melakukan pembully-an kepadanya maka orang-orang tersebut tidak berani lagi untuk melakukan hal itu!"


"Alasan yang sangat masuk akal dan mungkin bisa jadi pada kenyataannya memang seperti itu, hanya saja kita tidak mengetahui hal tersebut dan kali ini Papa memintamu untuk mengawasi mengenai hal itu karena bagaimanapun juga jangan sampai ada pembully-an yang terjadi di sekolah kita!"


Alex hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh mertuanya tersebut dan dia mulai memikirkan mengenai informasi yang diberikan oleh Amira kepadanya tadi. Dia benar-benar dilema antara memberitahukan kenyataan yang sesungguhnya kepada mertuanya tersebut ataukah menyimpan sendiri kenyataan itu. Kalau dia memberitahukan mengenai informasi yang diberikan oleh Amira maka hal tersebut sama saja dengan membuat dirinya berada di dalam masalah yang sangat besar, karena bagaimanapun juga saat ini dia sudah menjadi sugar daddy di dari salah satu siswanya.


"Diah Anggrahini!" kata Pak Ferry yang cukup paket dengan apa yang dibacanya saat ini.


"Kenapa, Pa? Apakah Papa mengenal perempuan tersebut?"

__ADS_1


Alex sedikit kaget dengan apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya tersebut karena nada suara dari ayat mertuanya itu sedikit meninggi dan dia mulai curiga dengan apa yang sesungguhnya terjadi meski dia sendiri tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Namun bagaimanapun juga Alex tidak pernah mendapati ayah mertuanya tersebut berbicara dengan nada suara yang lebih tinggi daripada biasanya.


"Tidak! Papa kira namanya Diah Anggraeni, karena kalau namanya itu maka dia adalah putri dari kawan baik Papa ketika semasa sekolah dahulu, tetapi ternyata Papa yang salah membaca nama tersebut!" kata Pak Ferry yang berusaha untuk menyembunyikan sebuah kenyataan besar dari menantunya tersebut karena bagaimanapun juga dia khawatir jika menantunya itu mengetahui apa yang sesungguhnya sedang dia cari, maka menantunya itu akan mengatakan hal tersebut kepada Gabriella dan juga ibu mertuanya.


__ADS_2