Balas Dendam Sang Pelakor

Balas Dendam Sang Pelakor
Bab 46


__ADS_3

Amira dan juga Alex berjalan bersama-sama memasuki salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota mereka dengan tangan yang saling menakut satu sama lain. Keduanya terlihat menikmati hari dengan begitu indahnya tanpa ada seorangpun yang mengganggu kebersamaan mereka sama sekali sesekali.


Berapa pasang mata memang melihat ke arah Alex dan juga Amira, tetapi keduanya seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain mengenai mereka. Saat ini keduanya seolah-olah hanya ingin menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang mengganggu dan tidak ingin terlalu memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain mengenai mereka.


"Kamu ingin membeli apa, Bab? Apakah kamu ingin membeli salah satu tas dengan brand terkenal ataukah sesuatu yang berkilauan sesuai dengan apa yang kamu katakan tadi ketika kita masih berada di kantor?" tanya Alex setelah keduanya berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut dan Amira belum memasuki satu pun toko yang ada di sana.


"Hhhmmm ... aku masih memikirkan apa yang pantas untuk dijadikan sebagai bukti dari cintamu kepadaku dan sesuatu yang memang benar-benar bisa aku gunakan setiap hari untuk menarik perhatianmu sehingga kamu tidak akan tertarik dengan perempuan lain!"


"Kamu seperti saat ini saja sudah mampu membuatku tertarik kepadamu dan aku tidak mungkin meninggalkanmu karena kamu adalah satu-satunya perempuan yang aku inginkan saat ini dan kamu juga adalah satu-satunya perempuan yang mampu untuk membuatku bertekuk lutut di hadapanmu!"


"Uh aku benar-benar tersanjung dengan kata-katamu itu, Dad, tetapi aku sendiri tidak ingin besar kepala dahulu karena kamu bisa saja berbohong mengenai hal tersebut dan pada akhirnya aku sendiri yang akan merasakan rasa sakit atas kebohongan yang kamu lakukan kepadaku!"


"Aku tidak akan mungkin berbohong kepadamu karena kamu adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar aku inginkan saat ini."


Amira tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Alex dan dia hanya tersenyum mendengar pengakuan dari lelaki itu. Setidaknya saat ini dia benar-benar sudah berhasil membuat Alex bertekuk lutut di hadapannya dan Amira hanya tinggal melakukan beberapa langkah lagi hingga akhirnya laki-laki itu benar-benar meninggalkan Gabriella dan disaat tersebut dia akan berhasil melakukan balas dendam kepada perempuan yang satu itu.


Keduanya terus menyusuri pusat perbelanjaan dan menunjukkan kemesraan diantara keduanya. Amira bahkan beberapa kali bersikap manja kepada Alex sehingga membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka benar-benar memperhatikan keduanya dan Amira masih saja bersikap masa bodoh dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang mengenai dirinya. Menurutnya, orang-orang itu hanya memikirkan apa yang ada di dalam pikiran mereka dan hanya memikirkan mengenai pantas dan tidak pantasnya seseorang menjalin hubungan dengan perbedaan usia yang sangat jauh, tetapi mereka tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh dirinya ketika kebahagiaannya harus direnggut oleh perempuan yang tidak memiliki hati sama sekali.


"Kamu masih ingin berjalan-jalan ataukah kita akan diner saja?" tanya Alex ketika merasa kalau mereka sudah memutari pusat perbelanjaan tersebut dan Amira masih saja tidak masuk ke salah satu tokoh yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.


"Aku ingin itu!" kata Amira ketika keduanya mengamati salah satu atlet jam yang terkena memiliki harga cukup fantastis.


Alex mengikuti arah pandangan gadis yang sangat dicintainya itu dan dia memahami jika gadisnya itu menginginkan salah satu jam yang ada di dalam outlet jam tersebut. Alex sangat sadar kalau harga satu buah jam pada toko tersebut memiliki harga yang sangat fantastis, tetapi baginya hal tersebut tidaklah menjadi masalah yang besar karena dia meyakini ketika dirinya sudah menjatuhkan pilihan maka dia akan memberikan apa pun yang diinginkan oleh perempuan tersebut.


"Kamu yakin hanya ingin jam itu saja? Apakah kamu tidak menginginkan tas atau benda yang berkilauan?" tanya Alex yang seolah-olah meyakinkan Amira bahwa dia masih bisa memilih barang-barang yang lainnya selain jam tangan yang ada di toko tersebut.


"Aku tidak menginginkan yang lainnya dan menurutku apa yang ada di sana sesuai dengan apa yang aku inginkan. Sesuatu yang bisa aku kenakan setiap hari sebagai tanda kalau aku benar-benar menghargai setiap pemberianmu dan juga benda yang ada di sana cukup berkilauan, sama seperti yang disukai oleh para perempuan!"

__ADS_1


Alex tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang diinginkan oleh Amira hingga pada akhirnya keduanya memasuki kerajaan tersebut dan memilih salah satu jam yang ada di sana. Amira sendiri memilih jam dengan bentuk yang simpel dan terbuat dari lantai karena menurutnya bentuk seperti itu sangat cocok untuk dia kenakan ketika pergi bekerja dan juga ketika ke sekolah.


Setelah keluar dari toko jam, Amira mengajak Alex ke salah satu restoran yang ada di dalam pusat perbelanjaan tersebut untuk makan malam bersama. Kali ini dia berniat untuk menunjukkan kemesraan mereka lebih jauh lagi daripada apa yang sudah diperlihatkannya selama berjalan di dalam mall tersebut. Setidaknya Amira sangat yakin jika di dalam restoran tersebut akan ada begitu banyak orang yang memiliki jabatan penting dan kemungkinan besar salah satu pengunjung dari restoran tersebut adalah kolega bisnis atau karyawan yang ada di kantor sehingga mereka pasti akan menyadari mengenai kedekatan keduanya.


Ketika memasuki restoran yang dituju, Amira langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang tepat dan juga orang yang kemungkinan mengenal keduanya. Kali ini dia memang benar-benar ingin memanfaatkan keadaan dan juga situasi yang ada di sekitarnya agar apa yang dirinya dan juga Alex lakukan.


"Sepertinya aku mendapatkan mangsa yang tepat dan aku sangat yakin dia pasti akan bisa membuatku bisa mencapai apa yang aku inginkan dalam waktu dekat ini tanpa harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupku!" kata Amira di dalam hati ketika pandangannya jatuh kepada sesosok perempuan yang saat ini sedang duduk dengan seorang pria berpakaian formal.


"Kamu ingin duduk di mana?" tanya Alex kepada Amira karena keduanya belum mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan apa yang diinginkan.


"Aku ingin duduk di sana!" jawab Amira sampai menunjukkan salah satu meja yang tidak jauh dari seseorang yang dilihatnya dan dia sangat yakin kalau apa yang direncanakannya benar-benar akan berhasil 100%.


Alex melihat ke arah pandangan yang dituju oleh Amira dan dia melihat satu meja yang memang masih kosong. Alex melihat pada beberapa meja yang ada di dekat meja kosong tersebut hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengenalinya, dan setelah meyakini kalau dia tidak mengenal seorang pun yang ada di dekat meja tersebut maka dia mengikuti apa yang diinginkan oleh Amira.


Sejak duduk pada meja tersebut Amira berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang begitu lembut dan juga manja kepada Alex hanya untuk menarik perhatian seseorang yang akan menjadi pion dalam pertarungan terakhirnya ini. Bahkan Amira dengan sengaja mencari tempat duduk yang menurutnya posisinya saat ini akan terlihat dengan begitu jelas oleh orang yang dilihatnya beberapa saat yang lalu.


Alexi merasa kalau sifat manja yang ditunjukkan oleh Amira adalah sesuatu yang sangat wajar langsung melakukan apa yang diinginkan oleh gadisnya itu. Dia bahkan tidak merasa jika Apa yang dilakukan oleh keduanya saat ini menjadi perhatian dari salah seorang pengunjung restoran tersebut.


Setelah mendapatkan suapan dari Alex, Amira memberikan kecupan ringan pada pipi Alex dan Alex langsung membalas hal tersebut karena menurutnya Amira memang sedang ingin bersikap manja kepadanya dan juga karena gadisnya itu sedang ingin menunjukkan semua rasa cintanya kepada dirinya. Alex benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang sedang dilakukan oleh keduanya saat ini sedang direkam oleh pengunjung yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Amira terus-menerus bersikap manja secara natural dan berusaha untuk bersikap seolah-olah dirinya tidak mengetahui jika ada seseorang yang sedang mereka apa yang dilakukannya dengan Alex. Bagaimanapun juga Amira jelas tidak akan membuat kesalahan yang fatal untuk kali ini karena sekali saja dia melakukan sebuah kesalahan maka semua rencananya akan hancur berantakan.


"Dad, aku ke toilet dahulu!" kata Amira yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan dia sangat yakin kalau kesempatan tersebut akan digunakan oleh pengunjung yang tadi melihat aksinya untuk mengikuti langkah kakinya.


Amira Melangkah dengan begitu perlahan dan sesekali dia melihat ke arah belakang hanya untuk memastikan kalau orang yang melihat aksinya itu mengikuti setiap langkahnya. Meski orang tersebut berusaha untuk sembunyi setiap kali Amira melihat ke arah belakang, tetapi Amira benar-benar menyadari kalau orang itu mengikuti setiap langkahnya dan dia tersenyum simpul karena sadar bahwa dirinya sudah mendapatkan mangsa yang benar-benar tepat.


"Kita akan lihat siapa yang akan menang dalam pertarungan ini dan aku akan memastikannya bahwa kamu akan menjadi pion dalam pertarungan kali ini dan aku juga akan sangat berterima kasih kepadamu karena kamu sudah menjadi pionku dengan senang hati bahkan tanpa kamu menyadarinya sama sekali!" kata Amira dengan suara yang begitu pelan sambil terus berjalan ke arah toilet.

__ADS_1


Ketika sudah berada di dalam toilet, Amira memutuskan untuk memperbaiki riasannya sambil menunggu seseorang yang sejak tadi mengikutinya masuk ke dalam toilet dan dia juga menyiapkan diri dengan apa pun yang akan terjadi nantinya karena dia sangat yakin bahwa akan terjadi pertengkaran yang sangat hebat di dalam toilet ketika orang itu masuk ke sana.


"Dasar jallang tidak tahu diri!" kata seorang perempuan ketika melihat Amira sedang berdiri di depan cermin dan Amira langsung tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh orang tersebut.


Dengan perlahan Amira memberikan badannya dan melihat Jihan yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapannya. Senyuman yang tadi muncul di bibir Amira tidak juga menghilang dari bibir yang sangat menawan itu dan dia benar-benar merasa puas serta merasa menang atas apa yang akan terjadi kali ini.


"Aku jallang? Apa bedanya denganmu yang pergi makan malam dengan laki-laki lain padahal sepertinya setiap kali pulang kantor yang menjemputmu itu bukanlah laki-laki yang saat ini makan malam denganmu!" kata Amira dengan begitu santainya dan terlebih karena dia sendiri memiliki kartu As dari perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Setidaknya aku tidak seperti dirimu yang memilih menggoda bosmu sendiri dan juga suami dari seseorang karena aku masih memiliki harga diri untuk tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain!"


"Tidak ada yang tahu pasti apakah dia benar-benar lajang ataukah dia sudah memiliki seorang istri?"


"Jangan kurang ajar dan sok suci dengan mengatakan hal tersebut karena di sini jelas-jelas yang melakukan kesalahan itu adalah kamu bukan aku!"


"Ya sesama orang yang tidak suci sebaiknya kita saling menutupi dan kita juga tidak usah saling menjatuhkan satu sama lain!"


"Saling menutupi? Cih! Jangan harap aku akan menutupi apa yang kamu lakukan hari ini karena aku pasti akan memberitahukan kepada Bu Gabriella apa yang kamu lakukan itu!"


"Uuuhhh ... aku benar-benar takut dengan ancamanmu itu!"


"Ya, kamu memang sudah seharusnya takut dengan apa yang aku katakan karena aku tidak akan pernah main-main dengan hal tersebut dan kamu akan merasakan kehancuran yang begitu pedih ketika aku memberikan bukti yang aku miliki kepadanya!"


"Berikan saja bukti itu dan dengan demikian mereka akan bercerai sehingga aku bisa menguasai Pak Alex sepenuhnya tanpa harus berbagi dengan perempuan lain!"


"Jangan pernah mimpi kamu akan menguasai Pak Alex karena seorang suami pasti akan jauh lebih memilih untuk bisa bersama dengan anak dan juga istrinya daripada bersama dengan selingkuhannya!"


"Masa? Tapi sepertinya untuk kali ini dia akan memilih untuk dengan selingkuhannya daripada memilih dengan anak istrinya!"

__ADS_1


"Kita lihat saja!"


__ADS_2