
Bab 25
"Kalian cari tahu mengenai gadis ini dan juga mantan istri saya, ada hubungan apa mereka! Apakah benar gadis ini adalah putri semata wayang dari mantan istri saya dan kalian juga pastikan siapa sesungguhnya ayah dari gadis ini!" kata Pak Ferry kepada beberapa orang anak buahnya yang ada di hadapannya.
Kesuksesan yang dimiliki oleh Pak Ferry membuatnya memiliki beberapa orang bodyguard meski orang-orang tersebut bekerja tanpa sepengetahuan keluarga dari lelaki yang satu itu. Dia memang sengaja tidak mengatakan mengenai hal tersebut kepada keluarganya karena dia meyakini kalau dirinya akan memiliki beberapa pekerjaan yang tidak perlu diketahui oleh keluarganya, seperti saat ini.
Anak buah Pak Ferry langsung mengambil file yang diberikan oleh bos mereka dan mulai membacanya dengan perlahan agar tidak ada satu pun informasi yang mereka lewatkan mengenai gadis tersebut. Bagaimanapun juga mereka terlalu khawatir kalau ada kesalahan dalam menganalisa maka akan berpengaruh pada pekerjaan mereka nantinya.
"Tidak ada foto dari gadis itu dan juga mantan istri Anda, Pak?" tanya salah seorang bodyguard pak Ferry. "Jika ada foto mereka, mungkin hal tersebut bisa memudahkan pekerjaan kami sehingga kami bisa memberikan hasil terbaik kepada Anda!"
Pak Ferry mengambil sesuatu dari laci yang ada pada meja kerjanya di kantor dan memberikan benda tersebut kepada anak buahnya.
"Itu adalah foto lama mantan istri saya, tetapi saya sangat yakin kalau dia tidak akan terlalu banyak berubah karena dia bukan seseorang yang suka mengenakan make up sehingga wajahnya pasti akan tetap sama seperti saat itu!" kata Pak Ferry yang masih mengingat dengan baik kebiasaan dari mantan istrinya itu.
Pak Ferry memang masih menyimpan foto dari mantan istrinya tersebut pada laci kantornya itu. Ada penyesalan yang sangat besar di dalam hidupnya karena dahulu sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar, tetapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki kesalahan tersebut selain hanya memandangi wajah mantan istrinya itu melalui foto yang masih di simpannya tersebut.
"Kalau gadis itu?"
"Aku tidak memiliki foto gadis itu, tetapi kalau kalian menginginkan foto gadis itu, maka kalian bisa berpura-pura datang ke sekolah untuk mengajukan wawancara terhadap gadis itu karena dia memiliki banyak prestasi. Atau kalau kalian merasa tidak bisa menggunakan cara yang satu itu, maka aku menyarankan kalian untuk datang ke kantor menantuku saat jam pulang sekolah sudah usai karena dia magang di sana sebagai sekertaris menantuku!"
"Baik, Pak, kami akan berusaha untuk mencari tahu mengenai informasi dua orang tersebut dan kami akan berusaha untuk memberikan laporan secepatnya mengenai hal itu!"
"Satu lagi, kalian hanya boleh melapor ketika saya sedang berada di kantor dan kalau ada sesuatu yang sangat penting maka kalian bisa mengirim pesan kepadaku seperti biasanya dan jangan sampai keluargaku mengetahui mengenai hal ini!"
__ADS_1
"Baik, Pak, kami akan berusaha untuk menjaga kerahasiaan dari perintah yang Bapak berikan kepada kami!"
Bodyguard Pak Ferry sudah meninggalkan ruangan yang di desain sangat maskulin dengan foto keluarga yang terpajang dengan begitu rapi pada salah satu dinding ruangan tersebut. Lelaki paruh baya itu melihat pada foto yang terpajang dengan begitu rapinya dan dia mulai membayangkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pak Ferry mulai berangan-angan kalau Amira adalah benar-benar putrinya dan dia akan memiliki foto keluarga baru yang dipajang di sana. Selain itu, setidaknya dia memiliki seorang penurus meski hal tersebut akan membuatnya semakin menyesali apa yang sudah terjadi di masa lalunya.
"Maaf karena aku sudah pernah menyakitimu dan maaf juga karena aku sudah dengan bodohnya bermain api padahal aku hanya perlu berbicara denganmu dari hati ke hati dan juga perusahaan lebih keras lagi untuk mendapatkan seorang keturunan bukan melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar seperti yang telah aku lakukan beberapa waktu yang lalu!" kata pak Ferry saat tanpa sengaja matanya melihat pada foto yang ada di atas mejanya dan belum dia simpan kembali.
Saat ini Pak Ferry benar-benar merasakan penyesalan yang begitu hebatnya dan dia merasa sangat bersalah kepada mantan istrinya karena dia sudah menyakiti perempuan tersebut dengan begitu hebatnya. Seseorang yang selalu ada baik di dalam suka maupun duka, tetapi dengan tidak tahu dirinya dia menyukai perempuan tersebut dengan sebuah penghianatan yang tidak akan pernah dibayangkan sama sekali oleh siapa pun juga.
***
"Ada kemajuan apa antara kamu dengan Pak Alex?" tanya Sonia ketika dirinya bertemu dengan Amira ketika jam sekolah belum dimulai.
Amira mengerlingkan matanya sesaat untuk membuat sahabatnya tersebut semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Alex. Bagaimanapun juga dia tidak ingin langsung memberikan kabar yang sangat menyenangkan itu kepada sahabatnya tersebut karena dia masih ingin sedikit bermain-main dengan sahabatnya itu. Bagi Amira, bermain-main dengan Sonia adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan bisa menjadi sebuah hiburan dari semua rasa sakit yang dirasakannya selama ini dan juga dalam upayanya membalaskan dendam atas semua rasa sakit itu.
"Jangan keras-keras nanti yang lain kamu dan aku tidak ingin jika orang lain mengetahui mengenai apa yang sedang aku lakukan saat ini!"
"Ups, sorry! Habisnya kamu terlalu banyak teka-teki denganku sehingga membuatku semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara dirimu dan juga dirinya!"
Sonia menunjukkan penyesalannya atas apa yang sudah dilakukan beberapa saat yang lalu dan dia masih terus mendesak Amira untuk mengatakan mengenai apa yang terjadi antara sahabatnya tersebut dengan Alex.
"Aku sudah berhasil membuat dia masuk ke dalam perangkapku dan aku hanya tinggal menjalankan semua rencana yang sudah aku susun dengan rapi!"
"Kamu bener-bener yakin kalau kamu akan balas dendam atas semua rasa sakit yang kamu rasakan selama ini?"
__ADS_1
Amira terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sonia kepadanya barusan. Dia tahu kalau apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan dan tidak seharusnya seseorang yang tidak melakukan kesalahan kepadanya harus menerima hukuman atas apa yang dilakukan oleh ibunya kepada dirinya dan juga kepada ibunya. Namun Amira tidak memiliki pilihan lain karena rasa sakit yang dideritanya selama ini sudah benar-benar mendarah daging meski dia baru mengetahui kenyataan tersebut beberapa bulan yang lalu.
"Aku tahu kalau hal tersebut adalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya aku lakukan, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal tersebut karena bagaimanapun juga mereka harus merasakan apa yang aku dan juga Ibu rasakan selama ini!"
"Kamu baru mengetahui beberapa bulan ini, tidak bisakah kamu menganggap kalau hal tersebut tidak pernah terjadi di dalam hidupmu? Aku mengatakan hal ini bukan karena aku tidak mendukung apa yang kamu lakukan kepada mereka, hanya saja aku terlalu khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu hanya karena dendam yang kamu rasakan selama ini!"
Amira tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Dia benar-benar menertawakan semua kepedihan yang dirasakannya dan juga menertawakan kebodohannya karena baru merasakan sakit atas penghianatan itu sama beberapa bulan ini dan dia sudah berusaha untuk membalaskan semua rasa sakit itu. Lalu bagaimana dengan ibunya yang sama ini memilih untuk tetap bungkam atas semua rasa sakit yang dilakukannya?"
"Sayangnya aku bukanlah Ibu yang akan tetap diam ketika dia dikhianati dengan begitu! Aku adalah Amira, gadis yang tidak akan pernah bisa memaafkan orang orang yang sudah menyakiti Ibu dengan begitu hebatnya karena bagaimanapun juga di dunia ini aku hanya memiliki Ibu!"
Amira terdiam selama beberapa saat dan memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada sahabatnya itu. Bagaimanapun juga dia ingin membuat sahabatnya tersebut paham dengan apa yang dirasakannya selama ini sehingga sahabatnya itu tidak lagi berusaha untuk menghalang-halanginya dalam membalaskan semua dendam yang dirasakannya.
"Kamu memang tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan dan kamu juga tidak pernah melukai seseorang hanya karena hubunganmu dengan seseorang yang sedang kamu jalin saat ini! Hanya saja rasanya begitu menyakitkan ketika kita mengetahui jika Ibu kita dihancurkan dengan begitu hebatnya oleh orang yang sangat dicintainya dan orang tersebut dengan begitu tegaknya menghianati cinta yang begitu tulus yang Ibu berikan kepadanya!"
"Kamu sendiri tidak berpikir jika kamu melakukan apa yang sedang kamu lakukan saat ini maka kamu sama saja dengan perempuan itu?"
"Aku tahu jika saat ini aku tidak jauh beda dengan perempuan itu dan aku memang sengaja membuat diriku sama seperti perempuan itu hanya untuk membuat perempuan itu merasakan apa yang kami rasakan selama ini! Dia sudah menyakiti ibu dengan begitu hebatnya maka saat ini biarkan aku yang menyakiti putri kesayangannya agar dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ibu selama ini!"
"Bukankah dia tidak tahu menahu mengenai apa yang dilakukan oleh ibunya? Apakah adil jika kamu membalaskan dendammu kepadanya?"
"Ini bukan masalah adil atau tidak, tetapi membayarkan semua luka yang sudah ditorehkan oleh ibunya kepada Ibu dan aku hanya mengembalikan apa yang sudah mereka mulai sebelumnya!"
Amira memang tidak ingin dibantah sama sekali atas keputusan yang sudah diambilnya saat ini dan dia tidak peduli sama sekali jika dianggap sebagai seseorang yang terlalu keras kepala karena tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain karena saat ini yang paling penting di dalam hidupnya adalah membalasakan semua rasa sakit yang dirasakan oleh dirinya dan juga ibunya.
__ADS_1
"Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu, dan aku sudah berusaha untuk mengingatkanmu, tetapi jika kamu masih berkeras pada keputusanmu, maka sebagai seorang sahabat aku hanya bisa membantumu untuk melancarkan semua balas dendam itu!"