Balas Dendam Sang Pelakor

Balas Dendam Sang Pelakor
Bab 36


__ADS_3

"Apakah Anda tidak pernah berpikir jika keinginan Anda tersebut terlalu egois dan tidak memikirkan Bagaimana perasaan pasangan Anda?" tanya Amira yang masih sangat enggan untuk memanggil Pak Ferry dengan sebutan ayah.


Ditanya seperti itu Pak Ferry hanya bisa terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh putrinya tersebut. Bagaimanapun juga dia sadar jika dirinya sudah melakukan sebuah kesalahan meski selama ini dia selalu berpikir bahwa kesalahan tersebut adalah sesuatu yang benar dan tidak ada salahnya sama sekali mengingat dia melakukan semua itu karena keinginannya meski pada akhirnya dia tidak mendapatkan keinginannya itu. Namun kini Amira justru menganggap bahwa keinginannya tersebut adalah sebuah keegoisan semata dan tidak memikirkan bagaimana perasaan pasangannya saat itu.


"Kamu belum mengerti mengenai keinginan tersebut karena kamu masih sangat belia dan kamu juga belum terlalu mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga dan bagaimana orang yang sudah menjalani kehidupan tersebut akan menganggap bahwa keturunan adalah sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan mereka!" kata Pak Ferry yang akhirnya mengatakan sesuatu sebagai pembelaan atas apa yang dilakukannya dan dia berharap jika Amira mengerti dengan hal tersebut dan tidak lagi menghakiminya secara satu pihak.


"Aku belum mengerti mengenai hal tersebut? Jika memang keturunan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan pernikahan, lalu kenapa ada begitu banyak orang yang memutuskan untuk childfree atau ada juga yang memutuskan untuk tidak mempermasalahkan mengenai ketidak adanya turunan dalam pernikahan mereka karena yang terpenting bagi mereka adalah bisa hidup bersama-sama dengan orang yang mereka cintai dan juga mereka sayangi."


"Kenyataannya tidak semudah itu, Ra, dan untuk saat ini kamu belum mengerti sama sekali mengenai hal tersebut sehingga kamu memandang apa yang ayah inginkan sebagai sebuah keegoisan dari ayah. Padahal hal tersebut adalah sesuatu yang sangat wajar bagi orang-orang yang sudah menikah."


Amira tertawa dan begitu kerasnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya barusan. Menurutnya pembicaraan mereka saat ini tidak akan pernah berakhir dengan baik karena lelaki yang seharusnya dipanggil Ayah tersebut tidak akan pernah mau mengalah dan juga tidak ingin mengakui kesalahan yang sudah dilakukannya dahulu karena dia akan terus-menerus membela diri dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baik dan tidak menjadi sebuah masalah yang sangat besar.


"Semua itu bukanlah karena keinginan semata dan bukan juga karena sebuah kebutuhan, tetapi hanya karena nafsu saja untuk membenarkan apa yang Anda lakukan dengan perempuan tidak tahu diri itu!"

__ADS_1


"Kalau memang semuanya hanya untuk pembenaran saja, lalu kenapa aku tidak mencari perempuan lain dan lebih memilih untuk menerima jika pada kenyataannya aku tidak memiliki seorang anak sama sekali?"


"Rasa bersalah Anda yang membuatmu tidak mencari perempuan lain agar Anda bisa mendapatkan keturunan! Hanya saja di mataku tetap saja apa yang Anda lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar dan tidak seharusnya anda melakukan hal tersebut karena seperti yang anda katakan bahwa ketika anda memutuskan untuk menikahi perempuan tidak tahu diri itu, usaha yang anda dan juga ibu kau lakukan belum lah maksimal karena kalian belum melakukan yang namanya bayi tabung di mana hal tersebut bukan sesuatu yang tabu untuk dilakukan saat ini!"


"Ayah tahu kalau hal tersebut bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan saat ini, tetapi memiliki anak secara normal akan jauh lebih indah daripada menggunakan kemajuan teknologi seperti saat ini.


Amira menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara kasar karena dia sadar kalau apa yang menjadi pembicaraan kali ini tidak akan pernah sampai pada satu keputusan yang akan membuat keduanya saling bertemu pada satu titik. Namun pembicaraan mereka kali ini hanya akan membuat permasalahan yang ada di antara mereka semakin meruncing dan pada akhirnya Amira benar-benar tidak bisa mengakui jika lelaki yang ada di dekatnya itu adalah ayahnya dan tidak akan pernah bisa memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh laki-laki itu dahulu.


"Sudahlah! Apa yang kita bicarakan tidak akan pernah bisa sampai pada kata sepakat karena cara pandang kita berdua jelas sudah sangat berbeda dan akan jauh lebih baik apabila kita tidak perlu bertemu lagi dan juga tidak perlu terlibat pembicaraan yang serius lagi karena bagaimanapun hal itu hanya akan membuang-buang waktuku saja!" kata Amira sambil membalikkan badannya dan menatap ke arah Pak Ferry untuk menilai raut wajah lelaki yang satu itu.


"Anda terus-menerus membelah diri atas kesalahan yang sudah anda lakukan di masa lalu padahal anda hanya perlu mengakui Kalau anda sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal di masa lalu dan tidak perlu berusaha membela diri dengan cara menyembunyikan semua tersebut dibalik kata karena menginginkan seorang keturunan!"


"Ayah memang menginginkan seorang keturunan sehingga membuat Ayah memutuskan untuk mencari perempuan lain yang sekiranya bisa memberikan Ayah seorang keturunan dan ayah juga tidak pernah berniat untuk membuang ibumu karena perceraian tersebut terjadi atas keinginan Ibumu dan bukan atas keinginan ayah!"

__ADS_1


"Mau atas keinginan siapa pun perceraian tersebut terjadi, tetap saja tidak bisa membenarkan apa yang anda lakukan saat itu Karena pada dasarnya tidak akan ada perempuan yang mau berbagi dengan perempuan lainnya termasuk ibuku!"


Setelah mengatakan hal tersebut Amira segera berlalu begitu saja dari hadapan Pak Ferry tanpa berniat untuk mengatakan hal lain lagi. Dia sadar kalau tidak ada gunanya dia mengatakan hal lain lagi karena ayahnya tersebut jelas akan selalu menyangka semua kata-katanya dan akan selalu menganggap bahwa apa yang dilakukannya dahulu adalah sesuatu yang benar dan tidak melukai hati siapapun juga. Sangat egois dan tidak memiliki hati sama sekali, tetapi memang pada kenyataannya hal tersebut yang sudah terjadi di masa lalu dan sudah berhasil menyakiti perasaan ibunya serta dirinya yang baru mengetahui mengenai kenyataan itu beberapa waktu yang lalu.


Sepeninggal Amira, Pak Ferry hanya bisa terdiam sambil menatap pada hamparan kebun teh yang ada di hadapannya. Sesekali di dalam otaknya bermain-main bayangan ketika kebersamaan dirinya dengan Bu Diah masih berlangsung dahulu. Selama ini dia memang selalu menjaga dengan baik setiap kenangan antara dirinya dengan mantan istrinya tersebut hanya karena dia masih belum rela untuk kehilangan perempuan itu meski pada kenyataannya dia sendiri yang sudah membuat kehilangan perempuan yang sangat disayanginya itu.


Namun kini Pak Ferry benar-benar tertampar dengan begitu kerasnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Amira bahwa tidak ada gunanya dirinya terus-menerus merawat apa yang menjadikan kenangan terindah ketika dia masih bersama dengan mantan istrinya itu jika pada kenyataannya dia tidak bisa menjaga hubungan mereka dengan baik. Satu kesalahan yang selama ini selalu dia sembunyikan dengan kata-kata bahwa dia tidak melakukan kesalahan karena dia hanya menginginkan seorang keturunan dan dia tidak pernah menceraikan Bu Diah sama sekali, tetapi perempuan cantik itulah yang telah memilih jalan tersebut dan menyisakan luka yang sangat mendalam pada hati mereka dan juga putri semata wayang mereka.


"Andai saja saat itu kamu tidak memilih untuk pergi dariku mungkin keadaannya tidak akan menjadi seperti saat ini dan mungkin kita bisa membesarkan Amira bersama-sama sehingga dia tidak perlu merasakan luka yang begitu mendalam seperti saat ini!" Pak Ferry bermonolog sambil terus menatap pada hamparan teh yang ada di hadapannya.


Pak Ferry menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan serta mengulanginya selama beberapa kali hanya untuk menetralkan semua sesak yang ada di dalam dadanya. Dia akui jika apa yang dikatakan oleh Amira benar-benar membuatnya berpikir atas apa yang sudah terjadi di masa lalu dan saat inilah Ddia benar-benar merasakan penyesalan yang begitu hebatnya serta mengakui kalau dirinya memang sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal dahulu. Andai dia bisa mengulang waktu maka dia akan mengulang waktu dan tidak akan melakukan kesalahan tersebut serta akan jauh lebih memilih mencari alternatif lain agar mereka bisa memiliki keturunan tanpa harus menyakiti perasaan perempuan yang sangat dicintainya itu.


Namun sayangnya penyesalan tidak ada gunanya lagi ketika dia sudah benar-benar kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya itu dan bahkan dia juga kehilangan putri semata wayangnya yang baru diketahuinya beberapa waktu lalu. Amira memang masih ada di sekitarnya dan gadis tersebut tidak pergi jauh dari kehidupannya, tetapi tetap saja Pak Ferry tidak bisa menjamah gadis itu sama sekali bahkan tidak bisa mengajaknya mengobrol meski hanya sesaat saja karena sepertinya gadis itu sudah benar-benar enggan untuk bertemu dengannya lagi.

__ADS_1


"Aku pikir ketika kamu mengatakan bahwa aku akan menyesali semua keputusan yang sudah aku perbuat dahulu adalah isapan jempol semata yang kamu katakan ketika kamu marah karena mengetahui perselingkuhanku dengannya, tetapi ternyata justru hal tersebutlah yang memang terjadi saat ini dan akulah yang salah karena tidak peka jika saat itu kamu sedang mengandung buah cinta kita!" kata pak Ferry saat tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bu Diah ketika perempuan yang satu itu mengetahui perselingkuhannya dengan Indi.


Pak Ferry kemudian memejamkan matanya selama beberapa saat dan membiarkan semua kenangan yang telah terjadi di masa lalu mampir ke dalam otak dan juga hatinya sehingga membuat dia bisa merasakan semua kesalahan yang begitu hebatnya serta penyesalan yang tidak bisa dia pungkiri saat ini. Satu mantra yang diucapkan secara berulang kali di dalam hatinya ketika mengingat semua itu yaitu, andai dirinya bisa mengulang waktu maka dia tidak melakukan kesalahan yang sangat fatal itu dan saat ini dia hanya ingin meminta maaf kepada putri dan juga mantan istrinya meski dia tahu kalau dua perempuan itu tidak akan pernah bisa memaafkan apa yang sudah dilakukannya di masa lalu.


__ADS_2