Balas Dendam Sang Pelakor

Balas Dendam Sang Pelakor
Bab 42


__ADS_3

Bab 42


"Bab, aku sangat senang karena kamu belajar banyak dan kamu juga belajar dengan begitu cepat sehingga bisa memahami segala sesuatunya dengan cepat pulang dan memberikan hasil yang sangat memuaskan!" kata Alex setelah sesi tes selesai.


Amira tersenyum kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengalungkan tangannya pada leher Alex. Saat ini dia ingin menjadi seorang jallang untuk menggoda sang atasan yang saat ini sudah mulai bertekuk lutut di bawah pesonanya. Amira sadar kalau Alex sudah benar-benar menyukainya, tetapi dia sendiri tidak ingin begitu saja senang dengan hal tersebut karena tujuannya belum tercapai sama sekali dan dia belum boleh measa senang dengan apa pun juga saat ini.


"Dad, kamu tidak kecewakan bukan dengan hasil yang aku perlihatkan?" tanya Amira dengan suara yang begitu manja dan juga tatapan mata yang lembut untuk membuat Alex semakin terjatuh dalam pesona dirinya.


"Sebagai atasanmu, tentu saja aku tidak menyesal sama sekali, justru aku bangga dengan apa yang kamu capai saat ini!" Alex mengatakan hal tersebut sambil melngkarkan tangannya pada pinggang gadis yang ada di hadapannya. "Apalagi sebagai kekasihmu, aku lebih bangga lagi karena ternyata aku memilih gadis yang tepat untuk menjadi tambatan hatiku.


"Tambatan hatimu? Hhhmmm ... untuk yang satu itu entah kenapa aku sedikit tidak yakin dengan apa yang kamu katakan barusan, Dad!"


"Kamu tidak yakin kenapa, Baby? Apakah kamu ingin buki dariku atau apa?"


"Bukti? Hhhmmm ... sepertinya hal itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan aku harus bisa mendapatkan bukti mengenai apa yang kamu katakan, Dad."


"Kamu ingin bukti apa dariku agar kamu yakin kalau aku benar-benar jatuh cinta kepadamu dan kamu adalah orang yang tepat untuk mendampingiku!"


Amira melepaskan rangkulannya dan kemudian mundur beberapa langkah sehingga tercipta jarak antara dirinya dan juga Alex. Alex yang melihat hal tersebut hanya tersenyum simpul karena menganggap jika apa yang dilakukan oleh Amira hanyalah sebuah permainan yang dilakukan oleh gadis belia dan dia tidak terpikir mengenai hal lainnya.


Amira sendiri menatap tajam ke arah Alex dan berusaha untuk memikikan langkah apa yang bisa dia ambil saat ini. Dia merasa jika kali ini Alex sudah mulai larut dalam jeratannya dan dia harus memperkirakan apakah ini adalah saat yang tepat bagi dia untuk membuat lelaki itu semakin terperdaya dengan semuanya ataukah dia masih membutuhkan sedikit waktu lagi sebelum akhirnya mengatakan apa yang dia inginkan kepada lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa, Baby? Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan sehingga membuatmu memberi jarak antara kita?" tanya Alex yang tidak ingin mengambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh Amira karena dia sangat yakin kalau gadis kecilnya itu akan kembali ke dalam pelukannya karena sudah terjerat dengan pesonanya.


"Aku sedang memikirkan sesuatu terkait dengan apa yang kamu katakan tadi, Dad?"


"Yang aku katakan? Apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu sehingga membuatmu memilih untuk memberikan jarak di antara kita?"


"Ya, aku sedang memikirkan sesuatu, tetapi aku tidak yakin untuk mengatakannya!"

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak yakin untuk mengatakannya? Come on, Bab, kamu katakan kepadaku apa yang mengganggu pikiranmu itu sehingga aku bisa menyelesaikan hal tersebut dengan baik!"


"Aku tidak yakin kalau Dad akan mengabulkan apa yang aku katakan!"


Alex melangkah mendekat ke arah Amira dan kemudian memeluk tubuh gadis itu dengan erat sambil menatap mata gadis tersebut. Dia hanya ingin memberi keyakinan kepada gadisnya tersebut kalau dia akan selalu ada untuk gadisnya dan selalu mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu.


"Apa yang kamu iinginkan, Bab? Coba kamu katakan kepadaku dan aku akan berusaha untuk mengabulkan apa yang kamu inginkan itu!" kata Alex berusaha untuk meyakinkan Amira kalau dirinya benar-benar akan memberikan apa pun yang diinginkan oleh gadis kecilnya itu.


"Dad yakin akan mengabulkan apa yang aku inginkan?"


"Tentu saja aku akan memberikan apa yang kamu inginkan! Kamu mau apa? Apartemen? Mobil? Black card, atau apa?"


"Hhmm sepertinya hal tersebut terlalu biasa saja dan aku juga tidak terlalu membutuhkan hal tersebut karena bagaimanapun aku mau memiliki ibu yang akan memberikan apa yang aku inginkan!"


"Lalu apa yang kamu inginkan dariku sebagai bukti kalau aku benar-benar mencintaimu?"


"Dad yakin akan memberikan apa yang aku inginkan? Jika Dad tidak terlalu yakin akan memberikan hal tersebut, aku tidak akan mengatakan apa yang aku inginkan karena apa yang aku inginkan tersebut adalah sesuatu yang cukup bernilai dan sepertinya hal itu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar!"


Amira mengalungkan tangannya tersebut pada leher lelaki yang ada di hadapannya itu sambil menatap lembut pada manik coklat yang ada di hadapannya tersebut. Kali ini dia benar-benar sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau dia akan mengatakan hal tersebut dan dia akan melihat bagaimana reaksi Alex setelah mendengar apa yang diinginkan olehnya dari lelaki itu.


"Hhhmmm ... jadi apa yang kamu inginkan dariku, Baby?" desak Alex yang benar-benar penasaran dengan apa yang dinginkan oleh Amira darinya sebagai bukti atas perasaan cintanya itu.


"Dad, apakah dirimu ingin memilikiku seutuhnya dan merasa jika aku adalah orang yang tepat untuk mendampingimu?"


"Tentu saja! Apakah kamu kurang yakin dengan apa yang aku katakan tadi? Aku akan memberikan dunia dan seisinya jika kamu menginginkan hal tersebut dan aku tidak akan pernah menyesal dengan hal tersebut!"


"Aku tidak menginginkan dunia dan seisinya karena hal tersebut adalah sesuatu yang terlalu tidak mungkin dan hal yang tidak mungkin tidak akan pernah bisa menjadi bukti dari sebuah rasa cinta!"


"Kamu gadis yang sangat pintar, jadi apa yang kamu inginkan dariku sebagai bukti atas rasa cintaku kepadamu?"

__ADS_1


"Kalau kamu benar-benar yakin jika aku adalah orang yang tepat untuk mendampingimu dan kamu juga yakin dengan perasaan cintamu itu maka aku ingin kamu meninggalkannya, Dad, dan jadikanlah aku satu-satunya perempuan yang ada di dalam hidupmu!"


"Maksudmu? Kamu ingin aku bercerai dengan Gabriella?"


"Aku tidak mengatakan hal tersebut, tetapi aku hanya ingin menjadi satu-satunya perempuan yang ada di dalam kehidupanmu dan aku tidak suka berbagi dengan perempuan lainnya karena menurutku hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mengasyikkan!"


Alex yang paham dengan apa yang dikatakan oleh Amira langsung melepaskan pelukannya dari gadis itu dan mundur beberapa langkah sehingga ada jarak di antara mereka. Sungguh Alex tidak pernah mengira jika Amira akan meminta hal tersebut kepadanya karena selama ini setiap kali dia bermain dengan perempuan mana pun juga tidak ada yang meminta agar dirinya meninggalkan Gabriella dan perempuan-perempuan yang ada di dalam hidupnya itu hanya meminta harta saja tanpa menginginkan sebuah hubungan yang pasti karena rata-rata dari mereka menyadari kalau mereka hanyalah selingkuhan dan bukan seseorang yang bisa naik ke jenjang selanjutnya.


Namun berbeda dengan Amira, gadis belia yang sudah menarik perhatian Alex tersebut justru menginginkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Alex sebelumnya. Dia benar-benar ingin menguasai Alex seorang diri tanpa adanya perempuan lain di dalam kehidupan laki-laki itu dan jelas hal tersebut membuat Alex sedikit goyah dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.


"Dad tidak ingin melakukan hal tersebut untukku?" tanya Amira sambil menatap Alex dengan tetapan sedihnya karena dia merasa kalau apa yang diinginkannya itu sudah ditolak mentah-mentah oleh Alex.


"Bukan begitu, Bab, hanya saja kamu meminta sesuatu yang tidak bisa aku lakukan dan hal tersebut benar-benar membuatku dilema!"


"Aku tidak masalah jika Dad tidak bisa mengabulkan apa yang aku inginkan dan aku akan menganggap jika perasaan yang Dad tunjukkan kepadaku selama ini hanyalah sebuah main-main saja dan hanya untuk mendapatkan apa yang Dad inginkan diriku!"


Alex terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Amira karena Gadis itu benar-benar sangat lihai untuk mempermainkan segala sesuatunya dan bahkan dia benar-benar mati kutu sehingga tidak bisa menjawab perkataan gadis itu. Di satu sisi dia jelas sangat menginginkan Amira dan dia merasa jika Amira adalah seseorang yang tepat untuk dirinya. Namun di sisi lain dia juga sadar kalau dirinya tidak mungkin meninggalkan Gabriella karena bagaimanapun juga perempuan yang satu itu adalah ibu dari anak-anaknya dan sudah menemaninya sejak dia kesulitan hingga saat ini dia mencapai masa kesuksesannya.


Amira masih menatap Alexa dengan tatapan yang sangat menyedihkan dan juga jantung yang berdegup dengan begitu kencangnya menanti apa yang akan dikatakan oleh lelaki yang satu itu. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sedikit menyesali apa yang dikatakannya dan merasa jika belum saatnya dia mengatakan hal tersebut mengingat hubungan mereka masih baru beberapa hari saja dan Alex pasti belum merasakan perasaannya terlalu dalam.


Namun Amira sendiri tidak bisa menunggu terlalu lama lagi mengingat ayahnya sudah mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya dan dia terlalu khawatir jika lelaki yang satu itu akan membongkar apa yang sudah direncanakannya meski ayahnya tersebut tidak mengetahui mengenai rencananya itu. Kalau sampai rencananya terbongkar sebelum waktunya maka dia tidak akan membalas bisa membalaskan semua rasa sakit yang dirasakan oleh dirinya dan juga ibunya kepada orang yang bertanggung jawab atas hal tersebut.


"Ya sudah, aku cukup memahami semuanya dan aku tidak akan pernah bertanya mengenai hal tersebut lagi serta aku juga tidak akan melanjutkan hubungan yang ternyata tidak dianggap penting sama sekali!" kata Amira yang kemudian membelikan badannya dan berjalan ke arah pintu tanpa berharap Alex akan memanggilnya dan mengatakan sesuatu yang diinginkan oleh dirinya.


Sepeninggal Amira, Alex benar-benar memiliki pasangan sesuatunya karena dia memang tidak ingin kehilangan Amira sama sekali dan dia tahu jika dia hanya bisa melakukan sesuatu agar tidak kehilangan gadis tersebut, tetapi dia sendiri tidak yakin kalau dia bisa melakukan hal itu mengingat selama ini Gabriella selalu ada di sampingnya baik dalam suka maupun duka.


"Kenapa kamu harus meminta hal tersebut, Bab? Bagaimanapun hal itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk aku kabulkan meski selama beberapa bulan ini hubunganku dengan Gabriella jauh dari kata baik-baik saja, tetapi tetap saja aku tidak pernah terpikir untuk melepaskannya Karena bagaimanapun ada anak-anak yang harus kami pikirkan!" Alex bermonolog dan kemudian berjalan ke arah jendela ruangannya.


Dari tempatnya saat ini Alex bisa melihat pemandangan kota yang begitu ramai dengan kendaraan dan juga gedung-gedung tinggi. Dia menatap jauh pada pemandangan kota dan mulai memikirkan segala sesuatunya dari apa yang akan dia putuskan nanti. Bagaimanapun juga dia tidak bisa asal mengambil keputusan mengingat hal tersebut akan mempengaruhi kehidupannya dan juga kehidupan anak-anaknya nanti.

__ADS_1


Mungkin di satu sisi dia bisa melepaskan Gabriella, tetapi di sisi lain jelas dia tidak bisa melakukan hal tersebut karena anak-anaknya masih membutuhkan kasih sayang secara lengkap.


"Kamu perempuan baik-baik kita juga kamu adalah seseorang yang sangat tangguh, tetapi di satu sisi aku sendiri sadar kalau kamu masih membutuhkan pelajaranku untuk bisa melewati semua problem yang terjadi di dalam kehidupan nanti. Namun aku juga tidak bisa memungkiri kalau perasaanku memang sudah berubah kepadamu dan aku terlalu yakin jika gadis kecil itu adalah seseorang yang sangat tepat untuk bisa menemaniku dalam mengarungi kehidupan saat ini!" kata Alex sambil terus menatap pada pemandangan yang ada di hadapannya dengan hati yang semakin gundah gulana karena dia tidak bisa mengambil keputusan secara tepat saat ini.


__ADS_2