
"Ayah boleh berbicara denganmu?" tanya Pak Ferry saat melihat Amira sedang berjalan dengan mengenakan pakaian sekolahnya meski dia tidak akan ke sekolah karena masih diskors.
Amira yang sedang berjalan langsung melihat ke arah sumber suara dan dia melihat seorang lelaki sedang berdiri di samping sebuah mobil sport yang sangat mewah. Apa yang dikenakan lelaki itu jelas menunjukkan kelasnya sebagai pemilik beberapa perusahaan dan juga dan juga sekolah tempat Amira menuntut ilmu. Namun, Amira jelas tidak terfokus dengan hal tersebut karena bagaimanapun juga baginya apa yang dimiliki oleh lelaki yang satu itu tidak membuatnya silau sama sekali.
Setelah melihat ke arah Pak Ferry, Amira kembali melangkahkan kakinya dan berusaha untuk tidak peduli sama sekali dengan orang yang memanggilnya itu. Bagaimanapun juga dia tidak bisa memungkiri kalau hatinya masih sangat marah dan juga kesal kepada ayahnya tersebut. Apa yang dikatakan oleh ibunya terus menerus terngiang-ngiang di dalam telinganya sehingga membuat semua rasa benci yang dirasakannya semakin meninggi saja.
"Amira, Ayah ingin bicara!" kata Pak Ferry sambil berusaha untuk mengejar langkah kaki Amira dan berusaha untuk menghindarinya.
Amira masih saja berusaha untuk tidak memperdulikan panggilan tersebut karena menurutnya hal itu adalah sesuatu yang sangat tidak penting sama sekali. Bukan hanya karena merasa kalau panggilan tersebut tidak penting saja, tetapi Amira juga memang benar-benar enggan untuk berbicara dengan ayahnya tersebut karena dikhawatir apabila dia berbicara dengan lelaki itu maka dia akan semakin marah dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.
"Amira, Ayah ingin berbicara denganmu!" kata Pak Ferry sambil menarik tangan Amira dengan begitu eratnya dan berharap jika Amira akan mengikuti apa yang diinginkan.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda sama sekali sudah saya juga harus segera pergi ke sekolah karena saya khawatir akan telat sampai ke sekolah!"
"Ayah sudah menelpon dan mereka mengatakan kalau kamu kan masih diskors karena bertengkar bertengkar dengan salah satu kawanmu dan sepertinya ibumu tidak tahu sama sekali mengenai hal tersebut!"
Amira terdiam dengan apa yang dikatakan Pak Ferry karena dia tidak menyangka jika lelaki yang satu itu mengetahui mengenai hal tersebut. Sepertinya dia lupa kalau laki-laki itu adalah pemilik sekolah tempatnya mencari ilmu sehingga bisa dengan begitu mudahnya dia mendapatkan informasi mengenai dirinya.
"Jika aku mau, aku bisa mengatakan hal tersebut kepada ibumu dan aku sangat yakin dia pasti akan mati kepadamu karena selama beberapa hari ini kamu tidak jujur kepadanya!" ancam Pak Ferry yang masih saja berusaha agar Amira mengikuti apa yang menjadi kemauannya.
"Anda mengancam saya agar saya mengikuti apa yang menjadi keinginan Anda? Sungguh hebat sekali sikap dari ketua yayasan yang satu ini!"
"Saya tidak peduli kamu mau mengatakan apa pun juga karena yang terpenting bagi saya saat ini adalah kamu mau mengikuti apa yang menjadi keinginan saya!"
__ADS_1
Amira tersenyum sinis dengan apa yang dikatakan oleh Pak Ferry barusan. Menurutnya sikap lelaki yang ada di hadapannya itu sudah menunjukkan bagaimana perangai dari lelaki itu.
"Sayangnya saya tidak takut dengan ancaman yang Anda berikan kepada saya barusan!" kata Amira yang memang tidak takut sama sekali dengan ancaman yang diberikan oleh Pak Ferry kepada dirinya.
"Ayah hanya ingin berbicara denganmu saja dan ayah benar-benar memohon waktumu agar kamu mau berbicara dengan ayah karena ada begitu banyak hal yang harus kita bicarakan!"
"Ayah? Tapi maaf sekali, ayah saya sudah meninggal sejak saya masih berada di dalam kandungan ibu saya!"
"Amira, kamu sudah mengetahui semuanya dan kamu masih mengatakan hal seperti itu?"
"Karena memang pada kenyataannya ayah saya sudah meninggal sejak saya masih berada dalam kandungan, sejak dia memutuskan untuk memilih bersama dengan perempuan lain!"
Pak Ferry terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Amira karena dia memang tidak bisa mengatakan apa-apa mengenai hal tersebut dan bagaimanapun juga memang hal tersebut sudah dia lakukan dahulu. Sebuah kesalahan yang justru menjadi penyesalan terbesarnya saat ini. Andai dia bisa memutar waktu maka dia akan memutar waktu dan memperbaiki segala sesuatunya.
Pak Ferry yang menyadari jika Amira tidak ingin berbicara dengannya, tidak menyerah begitu saja melainkan terus berusaha untuk membujuk putri semata wayangnya itu agar mau berbicara dengan dirinya. Dia sadar kalau hal tersebut pastilah bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, tetapi bagaimanapun juga dia akan terus berusaha untuk bisa membuat Amira luluh dan mengikuti keinginannya. Pak Ferry sangat yakin jika sekali saja mereka memiliki sedikit waktu untuk saling berbicara dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka maka keduanya bisa dekat dan dia tidak perlu kehilangan sosok seorang putri yang selama ini dirindukannya.
"Amira, Ayah mohon, kita harus berbicara dan kamu harus mendengarkan apa yang ingin ayah jelaskan terkait dengan apa yang terjadi di masa lalu!" kata Pak Ferry yang masih saja berusaha untuk membujuk Amira agar mau berbicara dengannya.
Amira yang mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya langsung membalikkan badan dan melihat ke arah lelaki yang satu itu. Dia menatap tajam pada Pak Ferry yang hanya berjarak beberapa meter saja darinya dan dia bersiap dengan semua yang ingin dikatakannya serta berharap jika Pak Ferry tidak akan lagi memaksanya.
"Apalagi yang ingin dibicarakan dan apakah hal tersebut bisa mengubah keadaan?" tanya Amira dengan tatapan tajamnya dan saat ini dia benar-benar tidak peduli apabila apa yang sedang dilakukannya saat ini menjadi tontonan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Pak Ferry yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa terdiam karena dia memang tidak mengetahui harus di menjawab apa terhadap pertanyaan yang dipancarkan oleh Amira. Satu hal yang pasti, apa pun yang akan dia katakan kepada Amira jelas hal tersebut tidak akan pernah bisa mengubah apa pun juga yang sudah terjadi di masa lalu. Bahkan saat ini dia menyadari jika permintaannya untuk berbicara dengan Amira hanya sekedar untuk mencari pembenaran dirinya saja dan dia juga hanya sekedar ingin melihat wajah anak gadisnya jauh lebih dekat lagi.
__ADS_1
Pak Ferry melihat ke arah sekitarnya dan dia mulai menyadari jika dirinya dan juga Amira mulai menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Dia jelas menyadari jika hal tersebut akan berakibat buruk kepadanya dan terlebih apabila kabar tersebut sampai ke telinga keluarganya karena bagaimanapun juga saat ini disuruh memiliki keluarga dan dia harus bisa menjaga perasaan keluarganya. Selain itu, Pak Ferry juga terlalu khawatir apabila kabar tersebut sampai kepada pihak media dan pada akhirnya akan membuat dia mengalami kerugian dalam bisnis.
"Kita berbicara di suatu tempat dan kali ini ayah bukan meminta persetujuanmu, tetapi ayah memaksamu untuk ikut dengan ayah dan kita akan berbicara dengan tenang tanpa ada emosi sama sekali dan bahkan jika kamu ingin melakukan sesuatu di tempat itu maka Ayah persilakan!" kata Pak Ferry dengan suara penuh penekanan dan dia benar-benar berharap agar putrinya itu mau mengikuti apa yang dikatakannya.
Amira menarik nafas dalam tes kemudian menembus kerja kasar karena dia pada pernah tidak menyangka jika ayahnya tersebut akan mengatakan setelah seperti itu. Padahal dia berpikir jika ayahnya akan membiarkan dia pergi begitu saja dan tidak terus-menerus memaksakan sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Amira, Pak Ferry langsung menarik tangan gadis itu dan membantunya masuk ke dalam mobil sport yang dikendarainya seorang diri. Pak Ferry memang sengaja menggunakan mobil tersebut agar dia tidak memerlukan sopir sehingga dengan demikian tidak akan ada yang mengetahui mengenai pertemuannya dengan Amira. Bagaimanapun juga pak Ferry terlalu khawatir apabila keluarganya mengetahui mengenai Amira dan sesuatu yang buruk terjadi kepada putri semata wayangnya itu.
Selama di dalam perjalanan, baik Pak Ferry maupun Amira memilih untuk sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jika Amira sudah memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melakukan semua emosi yang ada di dalam dirinya selama ini dan juga membuat lelaki yang ada di sampingnya itu benar-benar menyesal, maka Pak Ferry justru sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan maaf dari putri semata wayangnya itu.
Pak Ferry jelas menyadari kalau dirinya sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal di masa lalu dan saat ini dia harus bisa memperbaiki kesalahan tersebut meski dia sendiri sadar kalau apa yang akan dilakukannya tidak akan pernah bisa menghilangkan luka yang ada di dalam hati putri semata wayangnya itu. Namun bagaimanapun juga diharapkan dari berharap jika hubungannya dengan Amira bisa selayaknya seorang ayah dan juga anak, tidak seperti saat ini yang menunjukkan adanya jarak yang begitu jauh di antara dirinya dengan putrinya tersebut.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Pak Ferry yang berusaha untuk memecahkan dengan diantara dirinya dengan Amira dan dia berharap jika Amira akan menanggapi apa yang dikatakan olehnya.
Amira mengabaikan apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut dan dia tetap melihat ke arah jalanan seolah-olah lalu lalang mobil yang ada di jalanan jauh lebih menarik daripada apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Pak Ferry yang menyadari jika apa yang dikatakannya tidak dipedulikan sama sekali oleh Amira hanya bisa menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara kasar. Dia sadar kalau apa yang dilakukan oleh putrinya itu adalah sesuatu yang sangat wajar karena bagaimanapun juga dia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada hati putri semata wayangnya itu. Namun untuk menyesal pun rasanya saat ini sudah sangat terlambat karena dia sudah benar-benar kehilangan begitu banyak waktu untuk bersama dengan putrinya tersebut.
"Jika kamu sudah sarapan, Ayah tidak akan memesankan menu sarapan untukmu ketika kita sampai pada tempat yang akan dituju nanti, tetapi kalau kamu belum sarapan maka ayah akan memesankan menu sarapan untukmu!" kata Pak Ferry tanpa mempedulikan apakah kata-katanya akan ditanggapi oleh Amira ataukah tidak.
"Tidak perlu repot-repot memikirkan mengenai apakah aku sudah sarapan atau tidak, karena selalu memastikan segala sesuatu mengenai keadaanku juga kebutuhanku!"
"Ayah tahu kalau dia ada seseorang yang memiliki hati begitu lembut dan ayah juga tahu kalau dia adalah seseorang yang selalu pengertian dan juga perhatian terhadap orang yang sangat disayanginya."
__ADS_1
"Kalau Ibu sebaik itu, lalu kenapa Anda berani untuk menyakitinya?"