
"Ra, sampai kapan kamu akan tetap berada di sini dan tidak pulang ke negerimu sendiri?" tanya Sonia ketika tersambung melalui jaringan telepon dengan sahabatnya, Amira.
Sejak Kejadian beberapa tahun yang lalu di kantor Alex, Amira memang memutuskan untuk bersekolah di luar negeri dan dia menganggap jika hal tersebut menjadi pilihan terbaik bagi kehidupannya setelah beras dendam yang direncanakannya tercapai dengan sempurna. Gabriella dan juga ibunya mendapatkan balasan atas semua yang dilakukan oleh Bu Indy dan juga Bu Diah di masa lalu. Sementara itu, Alex yang ternyata hanya dijadikan sebagai pion oleh Amira memilih untuk hidup seorang diri dan tetap melanjutkan perceraiannya dengan Gabriella karena dia merasa jika pernikahan mereka memang benar-benar tidak bisa diselamatkan.
"Aku mendapat kabar dari tante kalau ayahmu sudah membuat surat wasiat bahwa semua harta yang dimilikinya akan jatuh ke tanganmu karena kamu ada satu-satunya anak dari Pak Ferry," kata Sonia jangan kasih saja berusaha untuk membujuk Amira agar bisa segera pulang ke negerinya sendiri.
"Aku dari awal tidak pernah memikirkan mengenai harta yang akan diberikan olehnya atau harta yang bisa aku dapatkan dengan fakta yang aku miliki karena menurutku hal tersebut tidak penting sama sekali dan aku masih bisa mencari harta itu seorang diri!"
"Tapi, Ra, mau sampai kapan kamu terus-menerus pergi seperti ini sedangkan di sini tante pasti sangat merindukanmu dan mengharapkan agar kamu segera kembali ke rumahnya sehingga kalian bisa bersama-sama lagi seperti dahulu?"
"Kalau Ibu memang rindu kepadaku maka dia bisa datang ke sini dan biasanya juga dia memang datang ke sini untuk menemuiku dan menghabiskan waktu bersama-sama sehingga menurutku bukan alasan lagi aku tinggal di mana dan ibu tinggal di mana!"
Sonia menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan karena ia sadar untuk membujuk sahabatnya tersebut adalah sesuatu yang sangat sulit dan membutuhkan kesabaran ekstra agar sahabatnya tersebut bisa mengikuti apa keinginannya. Namun Sonia sangat sadar jika membujuk Amira bukanlah sesuatu yang mudah dan kemungkinan besar dia tidak akan bisa dibujuk sama sekali.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin menemuiku? Aku tidak memiliki uang yang cukup banyak sehingga bisa menemuimu di luar negeri sana berbeda dengan tante yang bisa pergi ke sana kapanpun dia mau karena dia memiliki uang yang cukup untuk pergi ke sana!" kata Sonia yang pada akhirnya menggunakan dirinya sendiri sebagai senjata untuk membujuk Amira agar gadis itu bisa kembali ke negeri kelahirannya.
Amira tertawa dalam begitu kerasnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Sejak dirinya memutuskan untuk bersekolah di Prancis, Amira memang hanya bertemu dengan Sonia melalui telepon ataupun video call yang mereka lakukan. Untuk bertemu secara langsung jelas tidak bisa dilakukannya karena terbentang jarak yang begitu jauh dan selama ini Amira memang tidak pernah pulang meski hanya sesaat saja.
"Kalau kamu memang benar-benar kangen kepadaku, Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi dan justru mengatakan beberapa hal lain yang tidak penting sama sekali? Mungkin kalau kamu mengatakan hal tersebut sejak awal, aku akan bisa mempertimbangkannya!" kata Amira setelah puas tertawa.
"Karena aku terlalu gengsi untuk mengatakan hal tersebut dan aku benar-benar berharap kalau kamu akan mengerti dengan perasaanku tanpa aku mengatakan hal tersebut secara langsung!"
"Berdamailah dengan masa lalumu sehingga kamu bisa melupakan semua rasa sakit itu dan kamu bisa benar-benar melangkah jauh ke depan tanpa harus memikirkan apa yang sudah terjadi di dalam kehidupanmu dulu!"
"Aku inginnya seperti itu, tetapi entah kenapa rasanya terlalu sulit untuk melakukan hal tersebut terlebih ketika aku mengingat kembali apa yang sudah dilakukan oleh mereka kepada ibu dan juga kepadaku!"
"Mereka sudah mendapatkan balasan yang tertimpa sehingga kamu tidak perlu memikirkan mengenai hal tersebut dan menurutku akan jauh lebih baik kalau kamu benar-benar memilih untuk berdamai dengan masa lalumu itu dan merupakan semua rasa sakit tersebut karena rasa sakit itu hanya akan membuatmu hidup tidak tenang sampai kapanpun juga!"
__ADS_1
Amira terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sonia barusan karena disadari atau tidak selama ini dirinya memang tidak pernah merasa tenang dan selalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang sangat menyakitkan. Dia memang sudah berhasil membalas dendam atas semua rasa sakit yang dirasakannya dahulu, tetapi tetap saja pada kenyataannya dia selalu saja di bayang-bayangi dengan semua rasa sakit itu dan bahkan membuatnya enggan untuk menjelma hubungan dengan seorang lelaki karena selalu berpikir bahwa dia pasti akan menyakitinya sama seperti ayahnya ketika menyakiti ibunya.
"Ya, mungkin ada baiknya kalau aku melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan mengikuti apa yang kamu sarankan kepadaku barusan! Namun kalau kamu memintaku untuk bertemu kembali dengan Ayahku dan menerima semua harta yang diberikannya kepadaku, sepertinya aku tidak akan bisa melakukannya untuk saat ini karena hal tersebut adalah sesuatu yang kemungkinan besar akan membuat rasa sakit yang ada di dalam hatiku kembali muncul ke permukaan!" kata Amira setelah berhasil membuat dirinya berdamai dengan masa lalu dan memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan serta tidak seharusnya dia lakukan.
"Ra, ketika kamu memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu maka saat itu kamu juga menghilangkan semua rasa benci dan juga rasa sakit kepada orang-orang yang sudah membuatmu merasakan rasa sakit itu, jadi seharusnya bukan sebuah masalah besar apabila kamu harus kembali bertemu dengan ayahmu dan juga menerima semua yang diberikan olehnya kepada mbak sebagai bukti penyesalan atas apa yang dilakukannya kepadamu!"
"Apakah aku benar-benar harus memaafkan mereka dan juga biasa saja ketika bertemu dengan mereka? Apakah hatiku akan baik-baik saja apabila aku bertemu dengan mereka nanti?"
"Aku sangat yakin kalau kamu pasti bisa melakukan hal tersebut karena kamu adalah sahabatku, seseorang yang memiliki hati seluas samudra dan tidak pernah menyimpan rasa sakit terlalu lama serta terbiasa untuk memaafkan orang-orang yang melakukan salah kepadamu! Lagi pula, balas dendam sudah usai dan kini saatnya melepaskan semua masa lalu itu dan jangan pernah lagi memikirkan apa yang terjadi di masa lalu serta melangkahlah dengan penuh senyuman!"
Amira menarik nafas dalam dan kemudian mengucapkan matanya sejenak untuk memikirkan segala sesuatu yang sudah terjadi di dalam kehidupannya. Benar apa yang dikatakan oleh Sonia bahwa semua balas dendamnya sudah terbayarkan dengan lunas dan seharusnya hal tersebut cukup menjadi alasan bagi dia untuk melangkah ke masa depan dan melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Baiklah, mulai saat ini aku akan benar-benar melupakan rasa sakit itu dan aku akan melangkah ke depan tanpa mengingat apa yang sudah terjadi di dalam hidupku dahulu!" kata Amira sambil tersenyum karena saat ini dia benar-benar merasa tenang dan juga merasa siap untuk melupakan semua rasa sakitnya. "Terima kasih karena kamu mau memperingatkanku mengenai hal tersebut. Kamu memang sahabat terbaikku!"
__ADS_1