
"Amira, kamu sudah bertemu dengan ayahmu?" tanya Bu Diah saat Amira baru saja sampai ke rumah setelah seharian magang di kantor Alex karena dia yang diskros akibat perbuatannya kepada Sisil.
Amira yang mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya langsung menghentikan langkahnya. Dia tidak mengira jika Bu Diah akan bertanya seperti itu kepadanya padahal selama ini dia berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut dari wanita yang sangat dicintainya itu. Amira memang sengaja tidak bercerita mengenai hal tersebut kepada Bu Diah karena menurutnya hal itu adalah sesuatu yang sangat tidak penting sama sekali untuk diceritakan.
"Jawab Ibu, Amira, kamu sudah bertemu dengan ayahmu?" tany Bu Diah yang masih memaksa Amira untuk menjawab apa yang ditanyakan olehnya barusan.
"Kalau Ibu sudah mengetahui hal tersebut, lalu untuk apa Ibu bertanya kepadaku? Apakah akan mengubah sesuatu jika Ibu mengetahui hal itu? Aku rasa tidak akan bisa mengubah apa pun juga Ibu mengetahui hal tersebut ataupun tidak karena memang pada kenyataannya aku sudah bertemu dengan lelaki yang tidak tahu diri itu!"
"Bukan Ibu ingin mengubah sesuatu sehingga bertanya mengenai hal tersebut kepadamu, Ibu hanya ingin memastikan saja kalau kamu memang sudah bertemu dengannya!"
"Ya, aku sudah bertemu dengannya karena ternyata laki-laki itu adalah pemilik dari sekolah tempatku bersekolah saat ini!"
"Apa yang kamu lakukan ketika bertemu dengannya?"
Amira menyadarkan tubuhnya pada dinding yang ada di ruang keluarga dan mengingat kembali apa yang terjadi ketika dia tanpa sengaja bertabrakan dengan Pak Ferry. Satu hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya karena baru kemarin dia mengetahui mengenai hal tersebut dan keesokannya dia bertabrakan dengan lelaki yang sudah membuat hati ibunya hancur berkeping-keping.
Andai saat itu Amira mengikuti emosinya, maka dia pasti sudah mengajar laki-laki tersebut habis-habisan, tetapi sayangnya dia tidak melakukan hal tersebut karena menurutnya hal tersebut hanya membuang-buang waktu saja. Amira lebih memilih untuk menatap lelaki itu dengan tatapan tajam daripada berkata sesuatu yang akan membuatnya malu di hadapan teman-temannya.
"Apa yang kamu lakukan ketika bertemu dengannya, Amira?" tanya Bu Diah kembali yang menekankan kata-katanya karena dia benar-benar menginginkan jawaban dari putri semat wayangnya itu.
"Apa yang Ibu harapkan ketika aku bertemu dengannya? Apakah Ibu berpikir kalau aku akan menghajarnya habis-habisan ataukah Ibu berpikir aku akan memarahinya dan mengeluarkan semua rasa sakit yang aku rasakan atas apa yang sudah dia lakukan kepada Ibu dahulu?"
__ADS_1
Kali ini Bu Diah yang tersenyum puas dengan apa yang dikatakan oleh Amira kepadanya karena bagaimanapun juga dia mengetahui jika putrinya itu bukanlah seorang gadis yang arogan melainkan seorang gadis yang penuh dengan perhitungan. Dia tahu kalau anak gadisnya tersebut adalah seseorang yang bisa memainkan perannya dengan begitu apik dan dia juga tahu kalau anak gadisnya itu adalah seseorang yang bisa menyembunyikan semua rasa sakitnya dari orang lain.
"Ibu tahu kalau kamu adalah anak gadis Ibu dan kamu pasti akan bisa bersikap tepat dihadapan orang lain serta tidak akan pernah mempermalukan dirimu sendiri hanya karena sebuah ego yang kamu miliki!" kata Bu Diah yang masih tersenyum puas sampai melihat ke arah Amira.
"Mungkin kalau aku tidak ingat saat itu sedang berada di sekolah, maka aku pasti akan menghajarnya habis-habisan dan meluapkan semua emosi yang ada di dalam dadaku, tetapi sayangnya aku menyadari tempatku saat itu sehingga membuatku tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan!"
"Ibu sendiri tidak mengharapkan kamu melakukan hal tersebut karena apa yang sudah terjadi pada kita adalah sesuatu yang terjadi di masa lalu dan saat ini ayahmu sudah merasakan ke karmanya sendiri sehingga kita tidak perlu campur tangan untuk membuatnya benar-benar hancur dan merasakan penyesalan yang tidak akan pernah ada habisnya!"
"Apakah Ibu sudah bertemu dengannya sehingga Ibu bisa mengatakan hal tersebut? Karma apa yang sedang dia rasakan saat ini sehingga Ibu bisa begitu yakinnya mengatakan hal seperti itu?"
Bu Diah terdiam selama beberapa saat setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Amira kepadanya. Dia kembali mengingat apa yang sudah menjadi pembicaraannya bersama Pak Ferry, lelaki yang sebelumnya sudah menyakiti nya dengan begitu hebatnya, tetapi saat ini sedang menjalani karma yang menghampirinya meski tidak ada kata yang dia lontarkan mengenai hal tersebut. Namun sebagai seseorang yang pernah hidup lama bersama dengan lelaki yang satu itu, jelas Bu Diah sangat paham jika Pak Ferry sedang menjalani karma atas apa yang dilakukannya dahulu dan dia sedang menyesali apa yang sudah diperbuatnya dahulu.
"Dan dia mengetahui kalau Ibu sudah melahirkan putrinya?"
"Ayahmu adalah seseorang yang pintar dan dia juga adalah seseorang yang memiliki kekuasaan sehingga sekali saja bertemu denganmu, dia langsung mencari tahu identitas mengenai dirimu dan dengan mudahnya dia bisa mendapatkan identitasmu itu!"
"Lalu dia menemui ibu untuk mengkonfirmasi identitasku tersebut?"
"Lebih tepatnya berusaha untuk merebut hak asuh atasmu karena bagaimanapun juga dia adalah ayahmu dan dia merasa jika selama ini Ibu menyembunyikan dirimu darinya padahal dia sendiri yang pergi dari kehidupan Ibu dan juga dirimu!"
"Meminta hak asuh atas diriku? Untuk apa dia meminta hak asuh atas diriku? Aku bukan anak kecil yang yang bisa diperebutkan hak asuhnya oleh kalian yang sudah dewasa dan lagi aku sudah bisa menentukan jalan hidupku sendiri serta menentukan aku ingin tinggal dengan siapa!"
__ADS_1
"Ibu tidak ingin terlalu memikirkan mengenai hal tersebut karena seperti yang kamu katakan kalau kamu sudah dewasa dan kamu sudah bisa memilih sendiri mana yang baik dan juga mana yang buruk! Selain itu, Ibu juga merasa jika dia tidak memiliki hak sama sekali atas dirimu karena bagaimanapun juga dia yang sudah memutuskan untuk meninggalkan kita berdua dan bukan ibu yang berusaha untuk menyembunyikan kehadiranmu di antara kami!"
Amira tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh ibunya karena pada kenyataannya, menurut dirinya Pak Ferry tidak memiliki hak apa pun atas dirinya. Mungkin jika dirinya tidak bertemu secara tak sengaja bertemu dengan lelaki yang satu itu maka Pak Ferry juga tidak akan mengetahui mengenai keberadaannya sampai kapan pun.
"Kamu istirahatlah, jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi, tetap yang pasti, Ibu tidak akan pernah membiarkan ayahmu merebutmu dari Ibu!" kata Bu Diah setelah merasa jika dirinya sudah puas dengan jawaban yang diberikan oleh Amira kepadanya.
"Aku juga tidak menginginkan untuk tinggal bersamanya dan juga dengan perempuan yang tidak tahu diri itu bahkan jika dia berlutut di hadapanku sekalipun, aku tidak akan pernah mau tinggal dengannya dan juga perempuan itu!" kata Amira sebelum akhirnya dia pergi ke kamarnya.
Bu Diah menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskan nya secara perlahan serta melakukannya secara berkali-kali. Dia hanya ingin meredakan semua emosi yang ada di dalam dirinya terlebih setelah pertemuannya dengan mantan suaminya tadi siang. Tidak bisa dipungkiri, Bu Diah memang sangat khawatir jika putrinya itu akan diambil asuhnya oleh mantan suaminya tersebut karena bagaimanapun juga dia sadar jika harta dan juga kekuasaan mantan suaminya itu lebih berpengaruh daripada dirinya sedangkan dia tahu kalau hukum di negeri ini bisa dibeli dengan harta dan juga kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.
Namun, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Amira, Bu Diah bisa sedikit tenang dan tidak terlalu memikirkan mengenai hal tersebut terlebih karena putrinya sendiri mengatakan kalau dia tidak berminat untuk tinggal dengan ayah dan juga ibu tirinya. Jika suatu saat nanti mantan suaminya masih bersikeras untuk menuntut hak asuh Amira, maka dia akan menghadapinya dengan tegar dan dia juga tidak akan mundur sama sekali memenangkan pertarungan antara dirinya dan juga Pak Ferry.
"Aku tidak akan pernah mengalah lagi atas pertarungan yang harus aku hadapi denganmu saat ini! Cukuplah sekali aku mengalah kepadamu dan juga perempuan jallang itu, tetapi untuk saat ini aku tidak akan pernah melakukan kebodohan itu lagi!" kata Bu Diah yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Sementara itu di dalam kamar, Amira sedang menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di sana. Dia mengingat apa yang sudah terjadi di dalam kehidupannya selama beberapa minggu ini dan sungguh menurutnya hal tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali sebelumnya. Hal yang sudah membuatnya berubah 180 derajat, dari seorang anak baik-baik berubah menjadi seorang perempuan yang sedikit tidak tahu diri karena berani menggoda kepala sekolahnya sendiri.
Namun Amira jelas tidak menyesali hal tersebut sama sekali karena bagaimanapun juga menurutnya seseorang yang sudah melukai hati ibunya harus mendapatkan balasan yang sama atas apa yang sudah ditanam dahulu. Mungkin selama ini perempuan itu merasa menang karena sudah mendapatkan ayahnya dan juga sudah membuat ibunya terusir dari rumahnya sendiri. Namun kali ini Amira akan membuat putri kesayangan dari perempuan itu merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya sehingga dengan demikian skornya akan menjadi satu sama.
"Aku tidak peduli jika dianggap sebagai jallang oleh dunia, karena yang terpenting bagiku adalah membuat kalian merasakan apa yang dirasakan oleh ibu dahulu dan aku berjanji kalau kalian akan keluar dari rumah yang seharusnya menjadi milik ibuku dan aku juga berjanji akan mendapatkan semua harta yang kalian miliki selama ini karena sejatinya harta itu adalah hakku, bukan hak kalian yang sudah dengan tidak tahu dirinya merampas semua itu dari tangan ibuku!" kata Amira sambil menatap tajam ke arah pantulan dirinya.
Amira menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara kasar hanya untuk membuat dirinya yakin kalau dia mampu melakukan semua belah dendam tersebut dengan baik dan dia tidak akan pernah menyesali apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya nanti. Amira benar-benar bersiap dengan semua resiko yang akan ditanggungnya atas pilihan yang sudah diambilnya tersebut.
__ADS_1