
"Jadi, Amira adalah putriku?" tanya Pak Ferry yang saat ini sedang menikmati makan siangnya bersama dengan Bu Diah.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Ferry tidak membuat Bu Diah terkejut sedikit pun. Dia jelas sudah mempersiapkan diri dengan hal tersebut sejak pertama kali putrinya menemukan foto dirinya dengan Pak Ferry, hanya saja dia tidak menyangka kalau waktunya akan secepat ini Bu Diah berpikir jika hal tersebut mungkin akan terjadi beberapa hari lagi atau beberapa saat lagi, bukan sekarang.
Pak Ferry justru kaget dengan sikap Bu Diah yang terlihat biasa saja menghadapi pertanyaan yang baru saja dilontarkannya. Dia tahu kalau perempuan yang ada di hadapannya itu adalah seorang perempuan luar biasa yang memiliki ketenangan di atas rata-rata. Namun Pak Ferry tidak menyangka jika Bu Diah akan benar-benar setenang itu setelah dirinya mengatakan sebuah kenyataan yang selama ini mencoba untuk disembunyikan oleh Bu Diah dari dirinya.
"Kamu tidak kaget dengan apa yang aku tanyakan kepadamu barusan?" tanya Pak Ferry yang berusaha untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati lawan bicaranya saat ini.
"Kenapa aku harus kaget dengan hal tersebut? Bukankah cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahui mengenai hal tersebut?" kata Bu Diah dengan begitu santainya sambil menikmati hidangan yang ada di hadapannya seolah-olah apa yang ditanyakan oleh mantan suaminya itu adalah sesuatu yang biasa saja.
Pak Ferry benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Bu Diah saat ini. Perempuan itu benar-benar tenang dan tidak tergoyahkan sama sekali dengan apa pun yang dikatakannya. Padahal Pak Ferry berpikir jika Bu Diah seharusnya sedikit kaget atau khawatir jika dirinya akan mengambil hak asuh putrinya itu.
"Kamu benar-benar tidak kaget dengan apa yang aku tanyakan kepadamu?" tanya Pak Ferry sambil menatap Bu Diah tidak percaya.
"Kenapa aku harus kaget dengan hal tersebut? Ketika Amira menemukan foto kenangan dahulu, maka di saat yang bersamaan aku tahu kalau hal ini akan terjadi dan aku harus siap dengan apa pun yang akan terjadi nantinya."
"Kamu masih menyimpan foto kita berdua?"
"Ya, hanya sekedar untuk mengingatkanku bahwa aku harus bekerja keras menghidupi putriku dan membuktikan kepadamu kalau aku masih bisa berdiri di atas kakiku sendiri bahwa aku tidak membutuhkanmu lagi dalam hidupku dan juga persiapan jika suatu saat nanti Amira bertanya mengenai siapa ayahnya dan ingin melihat foto dari ayahnya."
"Jadi, selama ini kamu tidak pernah mengatakan kepada dia kalau aku masih ada? Lalu kamu mengatakan seperti apa kepadanya?"
__ADS_1
Pak Ferry memang sengaja bertanya seperti itu kepada Bu Diah untuk mengetahui mengenai hal tersebut langsung dari bibir mantan istrinya itu Bagaimanapun juga dia merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh anak buahnya dan ingin memastikan hal tersebut sendiri.
"Aku mengatakan kepadanya kalau ayahnya sudah meninggal ketika dia masih berada di dalam kandungan!"
"Kenapa kamu mau kenal tersebut? Bukankah kamu sendiri tahu kalau aku masih hidup?"
Bu Diah tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh mantan suaminya. Baginya, apa yang dikatakan oleh mantan suaminya itu hanyalah sebuah lelucon yang sangat wajar apabila dia tertawa kan seperti saat ini.
"Tidak bisakah kamu menghargaiku sebagai ayahnya? Minimalnya kamu memberitahuku mengenai kehamilan tersebut dan aku pasti akan bertanggung jawab atas Amira!" kata Pak Ferry yang sangat keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Bu Diah karena menurutnya apa yang dilakukan oleh mantan istrinya tersebut sama saja dengan tidak menghargainya sama sekali.
"Bagiku, ketika kamu melakukan kesalahan itu maka disaat yang bersamaan aku sudah menganggap mu mati dan tidak perlu lagi aku mengingatmu sama sekali bahkan tidak perlu aku mengatakan mengenai keberadaan mu kepada Amira!"
"Bagaimanapun juga kamu tidak bisa menyangkal kalau aku ada ayahnya dan cepat atau lambat dia pasti akan mencari ku dan mengatakan kebenaran itu kepadaku!"
"Kamu benar-benar keterlaluan, Diah!"
Bu Diah tersenyum ketika mendengar mantan suaminya itu sedikit meninggikan suaranya. Dia benar-benar puas dengan mimik dari mantan suaminya itu karena bagaimana sang mantan suami yang selama ini selalu merasa berkuasa pada akhirnya tidak bisa melakukan apa pun atas apa yang sudah dilakukan oleh Bu Diah.
"Kamu tidak perlu meninggikan suaramu seperti itu karena aku hanya memberitahukan kebenarannya kepada Amira dan aku sangat yakin dia adalah seorang gadis yang sangat pintar sehingga dia pasti sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang buruk serta dia pasti sudah tahu bagaimana caranya bersikap!" kata Bu Diah yang benar-benar puas karena sudah membuat mantan suaminya merasa tidak dianggap sama sekali oleh dirinya.
"Kamu tidak bisa sedikit saja berkata yang baik-baik mengenai ku kepadanya?"
__ADS_1
"Amira bukan anak kecil lagi sehingga aku tidak perlu menyembunyikan apa yang terjadi di masa lalu dan dia juga berhak mengetahui mengenai apa yang sudah terjadi di masa lalu!"
Pak Ferry terdiam dengan apa yang dikatakan oleh mantan istrinya itu karena dia memang tidak tahu harus mengatakan apalagi mengenai hal tersebut. Di satu sisi dia ingin memprotes apa yang sudah dilakukan oleh mantan istrinya itu, tetapi di sisi lain dia juga sadar kalau dirinya terus memprotes hal tersebut maka yang akan semakin terpojok adalah dirinya, bukan Bu Diah.
"Kamu tahu kalau Amira saat ini bersekolah pada sekolah yang aku miliki dan bahkan dia sudah pernah melihatku dua kali!" kata Pak Ferry yang berharap mendapatkan respons yang sedikit berlebihan dari mantan istrinya itu.
Alih-alih marah dan kaget dengan apa yang dikatakan oleh mantan suaminya tersebut, Bu Diah justru mengumbar senyuman yang sangat manis dan seolah-olah tidak terganggu sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh mantan suaminya itu.
"Bagus dong kalau kalian sudah bertemu dan bagus juga kalau dia bersekolah di sekolah sehingga setidaknya dia mendapatkan keringanan di sekolah atau bisa jadi kamu menggratiskan biaya sekolahnya sebagai bentuk tanggung jawabmu sebagai seorang ayah!"
"Kamu tidak marah dan tidak kaget dengan apa yang aku katakan barusan?"
"Kenapa aku harus kaget dengan hal tersebut? Aku sudah mengatakannya kepadamu kalau aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan apa yang akan terjadi ketika Amira menemukan foto itu."
"Kamu tidak bertanya bagaimana respon Amira ketika bertemu denganku?"
"Aku tidak perlu bertanya mengenai hal tersebut karena aku cukup paham bagaimana putriku dan aku juga cukup tahu kalau dia tidak mungkin menyapamu dengan sapaan yang seharusnya dia katakan kepadamu!"
Pak Ferry benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh mantan istrinya tersebut karena semuanya benar-benar di luar ekspektasinya. Sebelumnya dia berharap jika sang mantan istri akan kaget dengan apa yang dikatakannya dan bahkan dia juga berharap jika Bu Diah akan ketakutan karena khawatir jika dirinya akan meminta keasuhan Amira hingga menuntutnya ke pengadilan. Namun sepertinya yang dia dapatkan justru hal sebaliknya dan dia benar-benar tidak mempersiapkan hal tersebut padahal selama ini dia tahu jika mantan istrinya itu adalah seseorang yang sangat tenang.
"Kalau kamu mengharapkan aku bersikap berlebihan maka hal tersebut hanya ada di dalam pikiranku saja karena aku tidak akan pernah melakukan hal tersebut dan aku juga tidak perlu ketakutan dengan sesuatu yang perlu terjadi mengingat aku sudah mendidik anakku dengan begitu baik dan bahkan dia kasih tahu bagaimana harus bersikap kepada seorang pengkhianat!" kata Bu Diah dengan penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah mantan suaminya itu.
__ADS_1
"Aku akan mengajukan hak asuh anak kepada pengadilan meski hal tersebut sudah terjadi lebih dari 17 tahun dan akan aku pastikan kalau hak asuh tersebut akan jatuh ke tanganku!"
"Silakan saja kamu melakukan hal tersebut, tetapi aku perlu mengingatkanmu kalau kamu tidak akan pernah berhasil dengan hal tersebut!"