
"Dia memang putri kandung Bu Diah dan dilahirkan sesuai dengan identitas yang Anda berikan, Pak!" kata salah seorang bodyguard yang disuruh oleh Pak Ferry untuk mencari tahu mengenai kelahiran Amira.
"Apakah dia menikah setelah pergi dari rumahku?"
"Menurut informasi yang kami dapatkan, setelah dia keluar dari rumah Anda saat itu, dia tidak kembali ke keluarganya dan dia tidak menikah sama sekali. Menurut keluarganya, mereka hanya mengetahui kalau Bu Diah sudah bercerai dari Anda tanpa mengatakan apa yang menjadi penyebab dari perceraian tersebut dan memutuskan untuk hidup berdua saja dengan putrinya tanpa pernah menikah lagi dengan siapa pun juga."
Pak Ferry terdiam dengan apa yang dikatakan oleh anak buahnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan informasi tersebut karena saat mereka bercerai dahulu Bu Diah dalam keadaan tidak hamil dan bahkan tidak ada tanda-tanda kehamilan pada perempuan itu. Lalu bagaimana mungkin Bu Diah melahirkan seorang anak perempuan tanpa menikah? Apakah Bu Diah sesungguhnya sudah memiliki fair dengan seorang lelaki yang tidak pernah dia ketahui sama sekali?
Namun, di satu sisi Pak Ferry sendiri merasa kalau mantan istrinya itu bukanlah seorang perempuan seperti itu dan bahkan dia tahu kalau mantan istrinya selalu menjunjung tinggi yang namanya nama baik dan harkat martabatnya, apa pun alasannya. Bahkan hal yang membuat mereka berpisah adalah karena Bu Diah yang tidak bisa memaafkan dirinya yang sudah berselingkuh dengan perempuan lain dan dia menganggapnya kalau hal tersebut adalah sebuah aib yang sangat memalukan dan dia tidak bisa memaafkan hal tersebut sama sekali.
"Kalian benar-benar yakin kalau tanggal kelahiran Amira adalah tanggal yang tertulis pada identitasnya di sekolah?" tanya Pak Ferry yang seorang ingin memastikan mengenai hal tersebut dan terlalu khawatir kalau dia salah dalam menghitung waktu.
"Iya, Pak, yang kami dapatkan memang sesuai dengan tanggal yang tertera pada identitasnya dan tidak ada yang disembunyikan atau dipalsukan! Kami meminta data tersebut langsung ke rumah sakit tempat Bu Diah melahirkan Amira dan bahkan kami sempat mengkonfirmasi hal tersebut kepada salah satu suster yang menangani kelahiran Amira saat itu."
"Dengan siapa dia datang ke sana saat itu? Apakah dia datang ke sana dengan seorang lelaki atau lainnya?"
"Tidak, Pak, dia datang seorang diri dan dia mengatakan kepada pihak rumah sakit kalau suaminya meninggal saat dia masih mengandung dua bulan serta dia di sana adalah perantauan sehingga tidak ada seorang pun keluarga yang menemaninya saat persalinan itu terjadi."
"Apakah ada kesulitan atau apa pun saat dia melahirkan?"
__ADS_1
Entah kenapa Pak Ferry tiba-tiba peduli dengan hal tersebut dan bahkan dia sangat khawatir apabila sesuatu yang buruk terjadi kepada Bu Diah dan juga Amira padahal dia sadar kalau hal tersebut sudah sangat lama berlalu. Namun, entah kenapa dia benar-benar mengkahwatirkan dua orang tersebut seolah-olah dua orang itu adalah orang-orang yang sangat penting dalam kehidupannya dan dia khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi saat itu.
"Saat itu tidak ada maslah apa pun yang perlu dikhawatirkan dari keduanya karena semuanya berjalan dengan baik dan lahir secara normal," kata sang anak buah memberitahukan apa yang dia ketahui mengenai kelahiran dari Amira saat itu.
"Kamu yakin kalau semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah apa pun? Misalnya masalah keuangan atau masalah lainnya?"
"Tidak ada masalah sama sekali karena biaya persalinan di cover oleh salah satu perusahaan terkenal dan sepertinya perusahaan itu memang benar-benar bonafid sehingga tidak masalah harus mengeluarkan sejumlah uang untuk karyawannya yang baru bekerja selama beberapa bulan saja di sana."
"Apa nama perusahaannya dan sudah berapa lama Diah bekerja di sana saat dia melahirkan?"
"RM Coorporate. Saat itu Bu Diah baru bekerja sekitar lima bulan saja dan bahkan informasinya sampai saat ini Bu Diah bekerja di sana sehingga perekonomiannya bisa dikatakan baik-baik saja dan tidak pernah mengalami kekurangan sama sekali!"
"Ya, dia bekerja di sana dengan jabatan yang cukup tinggi saat in dan jelas hal tersbeut juga membuat dia memiliki gaji yang tidak sedikit dan cukup untuk menghidupi dirinya dan juga anaknya itu."
Pak Ferry terdiam dengan apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu. Bagaimanapun juga dia ingat dengan baik jika perusahaan tersebut adalah perusahaan saingannya dan bahkan dia juga ingat jika istrinya itu memang sebelum menikah memang bekerja di sana. Andai saat itu istrinya tidak memutuskan untuk menikah dengannya, maka dia sangat yakin kalau jabatannya pasti sudah sangat tinggi dan bahkan mungkin tidak akan mudah baginya untuk mengejar keberhasilan istrinya itu.
Namun, saat itu Bu Diah memutuskan dengannya dan melepaskan semua karir yang sudah dirintisnya sejak awal, dan sepertinya perempuan yang satu itu kembali ke perusahaan tersebut saat sudah bercerai. Pak Ferry jelas sedikit menyesali hal tersebut karena ternyata dia salah ketika berpikir bahwa perempuan itu akan terseok ketika sudah bercerai darinya dan pasti akan kembali kepadanya karena tidak memiliki keuangan yang kuat untuk menghidupunya di ibu kota. Namun, ternyata dia salah karena ternyata sang istri kembali bekerja pada perusahaan yang selalu menghargai usahanya itu.
"Sekarang apa jabatan dia sehingga bisa begitu aman dalam masalah keuangan sejak dulu?" tanya Pak Ferry setelah terdiam selama beberapa saat dan dia benar-benar penasaran dengan hal tersebut.
__ADS_1
"Dia seorang manajer pemasaran, sempat ditawarkan menjadi seorang direktur, tetapi dia menolaknya dengan alasan dia akan lebih baik kalau tetap bekerja sebagai manajer pemasaran daripada menerima tawaran itu."
"Ditawarkan sebagai direktur?"
"Ya, menurut informasi yang saya dapatkan, keberhasilam RM Coorporate selama ini karena tangan dingin dari Bu Diah yang selalu berhasil dalam setiap program pemasarannya dan bahkan saat ini dia tinggal di slah satu perumahan elite."
Pak Ferry semakin terdiam dengan apa yang dikatakan oleh anak buahnya karena sungguh dia tidak pernah menyangka mengenai hal tersebut. Bu Diah benar-benar menjelam menjadi seorang perempuan mandiri dan juga tidak bisa dia gapai lagi meski dia menginginkannya. Namun, sepertinya perempuan itu tidak akan membiarkan dirinya menggapainya lagi terlebih setelah kesalahan yang dilakukan oleh Pak Ferry di masa lalunya.
"Lalu, bagaimana dengan ayah kandung dari Amira, apakah kalian mendapatkan titik terang dari hal tersebut?" tanya Pak Ferry yang pada akhirnya kembali bertanya mengenai hal tersebut meski dia sendiri harus menahan degup jantung yang sangat kencang saat ini dan menyiapkan diri dengan apa pun yang akan dikatakan oleh anak buahnya itu.
Anak buah Pak Ferry terdiam dengan apa yang ditanyakan oleh bosnya itu. Mereka benar-benar tidak tahu harus menjawab apa terkait dengan apa yang ditanyakan oleh Pak Ferry kepada mereka saat ini. Apakah mereka harus mengatakan semuanya dengan jujur ataukah memilih untuk tetap bungkam mengenai hal tersebut dan menganggap jika hal itu adalah sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui sama sekali?
"Kenapa kalian tetap bungkam dengan hal tersebut? Apa yang kalian ketahui mengenai hal tersebut?" desak pak Ferry yang benar-benar penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh anak buahnya itu meski dia sendiri sedikit ketakutan dengan hal tersebut
Pak Ferry jelas sudah memperhitungkan semuanya dan bahkan tanpa bertanya kepada anak buahnya pun dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu. Hanya saja dia ingin memastikan segala sesuatunya dan membuat dirinya benar-benar yakin dengan hal tersebut hingga nantinya tidak ada lagi keraguan di dalam dirinya mengenai hal tersebut.
"Kenapa kalian hanya bungkam saja dengan apa yang aku tanyakan? Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja dan aku tidak akan memarahi kalian hanya karena kalian mengatakan apa yang menjad kenyataan saat ini! Aku hanya membutuhkan jawaban dari kalian saja, bukan ingin memarahi kalian hanya karena kenyataan yang satu itu!'
"Maaf, Pak!"
__ADS_1